Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Hari pernikahan - Menghilang


__ADS_3

Ini bukan tentang sebuah benda yang digadaikan lalu di tebus.


Ini bukan karangan bahasa yang kemudian mendapat nilai.


Ini....


Adalah sebuah ketentuan mutlak, yang tak bisa dibantah!


...••••...


Hari pernikahan itupun tiba....


Semua berbahagia dan larut dalam iramanya masing-masing.


Muda-mudi yang bersatu lewat jalan yang tak biasa itu, terlihat anggun dan menawan diatas singgasananya.


Hana dan Kenzie, hari ini berperan seperti putri angsa dan pangerannya. Sangat cocok dengan balutan baju pengantin berwarna senada.


Nilam dan Gavin terlihat serasi dengan penampilan terbaiknya. Hingga tak sedikit yang menatapnya penuh kagum. Juga tak lenyap yang memandang dengan rasa iri.


Didy dan Kedasih juga turut hadir meski agak terlambat dan mengambil waktu malam hari. Tak tertiggal Edrick, pria kebule-bulean yang tak lain adalah anak tiri Kedasih, atau kakak tiri Didy itu juga ikut mendampingi.


Untuk Edrick ini ... dia juga akan memainkan perannya suatu saat. Just wait!


Jumlah tamu undangan semakin malam semakin bergemuruh. Pesta pernikahan yang diadakan di rumah utama Kenzie itu terlihat sangat meriah. Puluhan kendaraan terparkir memenuhi jalanan sekitar rumah mewah bergaya klasik itu. Sesak!


"Gav ... aku ke toilet sebentar." Beban kandung kemih Nilam sepertinya sudah mencapai garis penghujung.


"Mau aku antar?" Gavin menawarkan.


"Tidak, tidak perlu," tolak Nilam seraya menggeleng.


"Benar?"


"Iya."


"Tapi aku khawatir. Aku antar saja, ya?"


"Tidak usah. Tidak enak pada para kolega bisnismu kalau kamu tinggal."


Sejenak Gavin berpikir. "Benar juga," ucapnya. "Kalau begitu aku minta Chaka menemanimu."


"Tidak usah, Gav. Ini rumah orang tuaku. Aku akan baik-baik saja," ujar Nilam. "Ya, sudah aku sudah tidak tahan."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu hati-hati."


"Iya." Nilam melesat meninggalkan Gavin untuk menunaikan hajatnya yang terus memaksa.


Jika mengambil toilet didalam kamarnya yang terletak dilantai dua, tidak memungkinkan bagi Nilam untuk bisa menahan tong air miliknya yang semakin meluber tak terkendali. Akhirnya ia memilih toilet yang terletak di belakang dapur utama rumah besar itu.


Cukup sepi.


"Ahh, lega sekali," ucapnya setelah bebannya terbuang, seraya merapikan kembali maxi dress yang dikenakannya. Setelah cukup sempurna dirasanya, ia kembali melangkah menuju tempat dimana Gavin dan lainnya berada.


Seketika tiba-tiba....


BUG!


Seseorang menarik tubuhnya.


Lebih dari sekedar terkejut, irama jantung Nilam berpacu dengan sangat cepat. Sangat sinkron dengan bola matanya yang juga membelalak meminta terlepas dari tengkoraknya. "Ka-kamu...."


"Hay, Nilam." Pria itu tersenyum. Tubuhnya dan Nilam nyaris tak berjarak. Karena pinggang ramping itu ditariknya hingga membentur tubuh tegapnya. Saling berhadapan. "Kamu cantik sekali malam ini."


"Lepaskan! Aku mohon jangan seperti ini." Nilam terus meronta.


"Hey, tenanglah. Aku tidak akan macam-macam." Memutar tubuh Nilam dan memojokannya ke dinding dibelakangnya. "Aku suka aroma tubuhmu."


Suara teriakan Nilam kembali tertelan. Pria itu membungkamkan sebelah telapak tangannya pada mulut kecilnya. "Tidak usah begitu. Aku akan berbuat kasar jika kamu berani berteriak. Aku hanya ingin dekat seperti ini," ancamnya seraya menarik kembali telapak tangannya. Lalu menempelkannya pada dinding disamping kepala Nilam mengikuti lengan lainnya. "Aku menyukaimu, sejak pertama kali bertemu denganmu waktu itu di supermarket. Kamu cantik."


"Aku mohon lepaskan aku. Aku ingin kembali ke dalam. Tolong, keluargaku pasti mencariku." Dalam seulas sirat penuh permohonan.


"Hh... keluarga?" Tersenyum kecut. "Maksudmu priamu yang arogan itu?"


"Ku mohon ...."


Wajah sendu Nilam sepertinya ajaib membuatnya tak tega. "Oke, baiklah. Kali ini akan ku lepaskan. Kita pasti akan bertemu kembali nanti," ujarnya dengan seringai, seraya menarik diri lalu pergi meninggalkan Nilam yang masih terpaku ketakutan.


Didalam keramaian pesta.


"Kenapa lama sekali?" Gavin mulai khawatir.


"Ada apa, Bos?" Cukup peka untuk Chaka melihat kegusaran diwajah Gavin.


"Kebetulan kau disini, Chak. Bantu aku mencari Nilam."


"Nona Nilam? Memang kemana dia?"

__ADS_1


"Tadi dia minta izin padaku untuk pergi ke toilet. Tapi sampai sekarang belum juga kembali. Ini sudah hampir satu jam." Sembari mengintip jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan wajah gusar.


"Baik, Bos! Aku bantu mencari."


"Oke. Aku ke atas. Kau cari dia dibawah."


"Siap, Bos!"


Keduanya mulai berpencar mencari. Setiap pintu kamar mandi disibak. Seluruh bagian rumah tak lepas dari pencarian. Tak ada!


Kenzie mulai mencium yang tak beres dari Gavin yang terlihat kelimpungan. "Hana, aku temui Gavin sebentar." Hana hanya mengangguk.


"Gav ... ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?"


"Ken ... Nilam tidak ada," jawaban dalam kalutnya.


"Apa maksudmu?" Kenzie tertular cemas.


"Dia tadi minta izinku ke toilet. Tapi hingga saat ini belum juga terlihat."


"Kenapa tidak kau temani?!"


"Dia menolak. Dia kukuh tidak mau kuantar, Ken!"


"Bodoh! Sudah berapa lama dia menghilang?"


"Lebih dari satu jam."


"Sudah kau susur semua sudut?"


"Sudah, Ken. Aku dan Chaka sudah memutari seluruh rumah hingga ke belakang. Nilam tetap tidak ada."


"Ya, Tuhan.... Kita susur ulang."


Malam semakin larut, hampir seluruh tamu undangan sudah meninggalkan acara. Menyisakan keluarga besar yang kini tengah berkubang dalam cemas. Karena mengetahui Nilam tiba-tiba raib entah kemana.


Selalu saja!


Kebahagiaan itu harus diselingi kekacauan ketengangan semacam ini.


Apakah penulis ini terlalu kejam??


•••••

__ADS_1


__ADS_2