Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Segaris takdir


__ADS_3

Kelokan tajam dan suram telah dipilih sebagai jalan. Maka resiko dan bahayanya ... nikmatilah!


Di ruangan kecil itu, Hana baru saja sadar dari kembara jiwanya yang entah darimana.


"Jian ...." Nama itu yang di ucapnya pertama kali. Karena pria itu masih tetap duduk setia memandanginya dengan raut cemas.


"Bagaimana, masih pusing? Perutmu masih mual?"


Hana mulai mengangkat tubuhnya. Tak nyaman baginya jika terbaring, sementara disampingnya Jian duduk menghadapnya, seperti seorang suami yang mencemaskan isterinya. Kaku!


"Aku sudah merasa lebih baik." Hana menjawab dengan raut tak nyaman.


"Syukurlah kalau begitu." Senyum Jian layaknya coklat. Perpaduan antara rasa manis dan juga pahit.


Manis dari perasaannya yang mulai bersemi untuk gadis itu. Tapi pahit karena ternyata ... Hana kini tengah mengandung seonggok daging didalam rahimnya. Yang sudah pasti ada lelaki lain yang menaunginya sebelumnya.


Menaungi?


Remeh! Terlalu indah untuk sebuah kenyataan yang lahir dari kata 'terpaksa'. Bagi Hana.


"Umm ... Jian."


"Ya, Hana. Ada apa?"


"Aku ingin minta maaf, karena lagi-lagi aku merepotkanmu."


Jian, pria hitam manis layaknya kecap itu, tersenyum. "Tidak, Hana. Aku tidak merasa kerepotan sama sekali." Cukup terdengar tulus. "Umm ... aku ingin bertanya padamu. Boleh?" Dalam sebersit keraguan.


"Ya. Kenapa tidak." Hana tersenyum.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu sedang mengandung?"


DEG !


JRENGGGG!!


"Apa maksudmu, Jian?" Mata yang membola itu cukup mewakilkan keterkejutan Hana.


"Kamu sedang hamil, kan? Tadi aku memanggil seorang dokter untuk memeriksakan keadaanmu. Dan dia mengatakan bahwa dari pengamatannya berdasarkan ciri-ciri yang ada, kamu sedang mengandung."


Sekali lagi, ucapan Jian lebih dari sekedar menohok. "Ha- hamil?" Dua tetesan sudah menjatuhkan diri dari netranya. Hana tersentak. Hamil? Kenzie....


Melihat ekspresi itu, Jian, tentu saja terkejut. "Hana, apa kamu tidak tahu bahwa kamu sedang hamil?"


Dan dengan perlahan Hana menggeleng. "Tidak."


"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Hana?" Cukup sulit Jian menyikapi situasi yang di alami gadis itu.


Mulai menyuarakan tangisnya sesenggukkan. Hana masih belum bisa mencerna kenyataan yang sedang berlaku untuk dirinya. "Jian ... katakan itu tidak benar?!" Ditatapnya mata itu meminta kepastian.


"Kamu ikut aku. Kita ke rumah sakit sekarang."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk memastikan semuanya." Jian mulai mengangkat tubuhnya untuk berdiri.


"Tapi Jian ...."


"Apa?"


Dihapusnya air mata itu, lalu mendongak menatap lurus lelaki yang menjulang dihadapannya. "Kamu tidak perlu melakukan apapun lagi. Sudah cukup banyak aku merepotkanmu. Aku akan pergi dari sini."


Tersentak! Jian kembali menurunkan tubuhnya berjongkok didepan Hana. "Tidak, kau tidak boleh pergi. Jika kamu merasa aku terbebani. Maka kamu salah. Aku sungguh tulus melakukan apapun untukmu." Diraihnya kedua telapak tangan Hana. "Kita ke dokter kandungan sekarang. Untuk memastikan, ada atau tidak bayi itu didalam rahimmu."


Sejenak Hana terdiam. Dan benar, dia juga butuh kepastian dari keadaannya. "Baiklah."


"Ayo."


...•••...


Sebuah rumah sakit sudah dijejaki kedua muda-mudi itu. Jian tak lepas menggenggam tangan Hana yang terasa dingin. Menuntunnya menuju sebuah ruangan yang akan menjawab semua pertanyaan dalam segumpal keraguan ... juga ketakutan.


"Selamat sore." Sapaan ramah seorang dokter wanita dengan kisaran usia kepala lima yang sudah terduduk manis di kursi kebesarannya.


"Sore."


"Silahkan duduk."


"Terima kasih, Dok." Mengikuti ucapan wanita itu, keduanyapun mulai mendaratkan bokong dikursi dihadapannya.


"Kalian pasangan muda yang manis." Dokter itu tersenyum.


Menanggapi itu, Hana dan Jian hanya saling melempar pandang dalam kekakuan.


Hingga tibalah kesimpulan sang dokter yang mereka dengerkan sebagai keputusan.


Dengan senyum merekah, dokter itu menjulurkan telapak tangannya ke arah Hana dan Jian yang juga diterima keduanya dengan kaku. "Selamat, Tuan, Nona. Kalian akan segera memiliki seorang anak."


DEG!


Hana ....hari ini sebuah kenyataan baru menyapanya. Cinta sepihak itu sudah menuai hasilnya. Ya, Tuhan ... aku benar-benar hamil.


Tak disadarinya, air mata sudah menuruni pipi halusnya cukup deras.


"Nona, ada apa?" Dokter itu cukup dibuat heran dengan respon yang diberikan Hana.


Sementara Jian cukup memahami, walaupun akar kenyataannya belum bisa di angkatnya. "Ouh, isteri saya ini hanya terlalu senang, Dok. Karena ini anak pertama yang sudah lama kami nantikan," kelakarnya, seraya merangkul pundak Hana. "Benarkan, Sayang?"


Cukup terkejut dengan seuntai alasan yang di lontarkan Jian untuk memungkas keheranan dokter wanita itu, kini kalimat terakhir lelaki itu lebih membuatnya seolah tersetrum. Tanpa sadar, ia menatap lelaki itu tak lepas. Hingga sebuah kode cubitan kecil Jian dipunggung tangannya membuatnya mengerjap. "I-iya, Dok. Sa-saya terlampau bahagia. Itu sebabnya saya menangis."


"Oh, sangat manis. Kalian masih sangat muda. Masih banyak waktu. Baiklah, tolong dijaga kandungannya baik-baik, Nona. Pilih makanan yang baik untuk perkembangan janin Anda. Ini resep obatnya. Silahkan di tebus."


"Baiklah, Dokter, terima kasih." Jian mengambil jawaban, seraya meraih secarik kertas yang disodorkan dokter itu. "Kalau begitu kami permisi, Dok."


"Silahkan."


..........

__ADS_1


Diperjalanan.


Tak ada percakapan. Senyap!


Hingga tak terasa, mobil itu berhenti disebuah tempat.


"Ayo turun," ajak Jian. Ia yang sudah keluar lebih dulu membukakan pintu mobilnya untuk Hana.


"Eh?" Bingung.


"Ayo." Di ulurkannya telapak tangannya ke arah Hana.


Dengan kaku Hana meraihnya. Setelah diluar, diedarnya pandangan ke sekeliling. "Kenapa kesini?"


"Ini tempat pavorite ku. Kamu suka?" Tanpa menyahuti pertanyaan Hana, diliriknya gadis yang berjalan disampingnya itu.


Sebuah tempat, yang berdiri diantaranya bambu-bambu yang terjuntai saling bersalaman. Jalanan setapak yang mengolong diantaranya, dijejaki mereka dengan santai, seraya menikmati sejuknya udara yang membelai teriring dahan dan daun-daun bambu yang melambai.


"Sangat suka. Disini sejuk." Hana tersenyum.


Jian menggeser tubuhnya menghadap gadis itu. Dipegangnya kedua pundaknya. "Hana, sekarang ... bisakah ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Terucap penuh harap.


Hana tercenung. Lelaki itu ... kenapa kini seolah mengintimidasinya? Tatapan itu .... "A-aku...."


"Apa kau sudah menikah?" Dalam bait sebuah harap yang entah apa, Jian menatap cemas. Lalu satu gelengan kepala Hana cukup membuatnya faham. "Lalu siapa ayah dari anakmu?" lanjutnya mencecar.


Dalam tunduk sendunya, pundak Hana mulai terlihat berguncang. Bayangan wajah Kenzie kembali berputar memenuhi pikirnya.


Ya, Kenzie. Lelaki itu ... benihnya kini bersarang didalam rahimnya.


"Siapa, Hana?" ulang Jian tetap dengan keingintahuannya. Jawaban Hana seolah menjadi penentu sebuah harap yang belum lama ini dirasakannya. Ia telah jatuh cinta.


"Aku ... aku tidak bisa mengatakannya, Jian." Masih dengan isaknya.


"Apakan kamu ingin lelaki itu mempertanggung jawabkan perbuatannya?"


Sekali lagi. Pertanyaan Jian itu cukup menimbulkan sesak didadanya. Bagaimana tidak, ayah dari anak yang dikandungnya, adalah calon suami dari Nilam, wanita yang selalu menjadi sosok kakak untuknya. Pikirnya dalam ketiadak tahuan. Bahwa segaris takdir yang lain, baru saja diberlakukan Tuhan.


Tak lama, setelah bermain keras dengan batinnya, ia menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengharapkan pertanggung jawaban lelaki itu sama sekali."


Namun dibening matanya jelas menggambarkan, rasa untuk lelaki itu, masih terpatri kuat dalam hatinya. Belum tergoyahkan. Karena cinta sejati, akan tetap memberi, tanpa harus menerima. Terlalu lemah!


Terkejut? Tentu saja. "Hana ... apakah kamu korban pelecehan?"


Menanggapi asumsi Jian, Hana menggeleng cepat. "Tidak. Bukan seperti itu."


"Lalu?" Cukup sakit bagi Jian. Dengan kata lain, Hana melakukan itu dengan keinginannya sendiri, bukan karena paksaan.


"Jangan tanya apapun lagi," sergah Hana tegas. "Jian, sepertinya sudah saatnya aku pergi. Sebelum aku lebih banyak menyusahkanmu," ujarnya sendu.


Lelaki itu menggeleng tanda ketidak setujuannya. "Tidak!" Diraihnya telapak tangan itu. "Izinkan aku menjadi penjagamu," pintanya. "Hana, aku menyukaimu."


"Jian...."

__ADS_1


"Aku tidak perduli dengan keadaanmu. Kita besarkan anak itu bersama-sama."


...•••••...


__ADS_2