
Rindu itu sakit....
Rindu itu lelah....
Dan rindu... juga resah.
Namun tidak dengan saat ini, pertemuan tak sengaja, namun telah di atur Tuhan itu, membuat hati Nilam dan Gavin bersorak penuh bahagia.
Masih di ruang kerja Kenzie.
Gavin melepas pelukannya perlahan. Kedua telapak tangannya beralih ke pundak Nilam. Ia menatap wajah teduh itu lekat. "Aku minta maaf atas perbuatan burukku tadi. Demi Tuhan aku menyesal. Ku mohon, maafkan aku," pinta Gavin sendu di sertai penyesalan.
Nilam mengusap sebulir air mata yang menetes di pipi halusnya. Sudut bibirnya tertarik, membentuk seulas senyuman tulus. "Aku sudah memaafkan kamu, Gavin."
"Benarkah? Kamu tidak marah lagi padaku?" tanya Gavin penuh harap.
Nilam mengangguk, tetap dengan senyumnya. "Iya, Gav."
"Terimakasih, Nilam."
*****
Gerak langkah kaki mengayun bergantian.
Butir halus pasir laut, menjejak di telapak si penapak yang telanjang.
Ya, Gavin dan Nilam kini berada di hamparan luas sebuah pantai.
Lelaki itu membawa Nilam pergi dari kantornya saat itu juga, meninggalkan segala beban pekerjaannya demi melepas rindu pada sang dinanti.
Berjalan beriringan. Telapak tangan kanan milik Gavin dan kiri milik Nilam saling bertaut, seolah tak ingin terlepas. Deburan ombak menjadi saksi setia dua sejoli yang tengah menikmati pelepasan kerinduan itu.
Angin membelai rambut panjang Nilam yang terburai berayun-ayun, hingga lagi dan lagi, pipi halusnya harus rela tertampar helaian yang di goda sang element alam tersebut.
Si kain hitam penutup kepalanya itu telah di tanggalkannya di dalam mobil milik Gavin. Dan tentu saja atas permintaan pria itu.
Langkah lambat keduanya mulai berhenti. Mengubah posisi menjadi saling berhadapan. Gavin menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah Nilam. Di tatapnya wajah yang dulu mungil itu, kini menjelma menjadi durja nan ayu membius mata.
"Aku bahagia. Tuhan begitu baik mempertemukan kita kembali. Walaupun dengan cara yang tak biasa," ujar Gavin tersenyum.
"Aku juga, Gav. Aku juga bahagia." Nilam membalas senyum.
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
__ADS_1
Mendengar itu, seketika air muka Nilam berubah menjadi muram. "Jangan berjanji apapun dulu. Karena sepertinya kejadian tadi siang, memperlihatkan bahwa kamu masih memikirkan wanita itu."
Gavin terhenyak, meskipun bukan itu balasan kalimat yang ingin di dengarnya, namun sepertinya ucapan Nilam itu juga tak bisa di sangkalnya.
"Maafkan aku .... Aku tidak bermaksud melampiasknnya padamu. Emosi telah menguasai kesadaranku."
"Apa yang menyebabkan kamu seperti itu?"
Gavin melepas genggaman tangannya, lalu berjalan ke depan menghadap samudera. "Dia adalah mantan kekasihku. Anak dari kolega bisnis Papaku." Ia memasukan dua telapak tangannya ke dalam saku celana. "Mama yang mengenalkannya padaku, tepat saat aku hendak mencarimu ke desa. Dan aku tak bisa menolak itu," lanjutnya.
"Lalu?" tanya Nilam seraya berjalan menghampiri Gavin, lalu berdiri disampingnya menghadap pada satu titik yang sama.
"Namanya Anita. Gadis itu begitu manis, lembut dan penuh senyuman. Jujur saja, saat itu aku terjerat pesonanya. Aku jatuh cinta padanya. Pun dengan dia. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjalin sebuah ikatan. Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja. Bahkan kami sudah bertunangan. Namun pada suatu waktu...."
Flashback on
Gavin berjalan dengan penuh semangat, menuju sebuah pintu apartemen. Sebuket besar bunga mawar putih dalam genggaman tangan kanannya, di kirinya sebuah paperbag berisi gaun cantik yang baru saja di belinya di sebuah butik, terayun-terayun dengan gembira.
Sesekali ia menciumi aroma menyenangkan dari seikat bunga di genggamannya itu. "Semoga kamu suka, Anita," gumam Gavin tanpa melepas senyuman yang terus menerus menghiasi wajahnya.
Sesampainya di tempat yang di tujunya. Ia menekan passcode pintu apartement yang memang di ketahuinya. Karena memang ia sendiri adalah pemilik yang sebenarnya. Namun sang Mama yang meminta Anita untuk menghuninya. Dengan tujuan agar gadis itu lebih dekat dengan putera kesayangannya itu.
Gavin masuk perlahan, meminimalisir suara derap langkah kakinya. Dengan niat ingin memberi kejutan pada gadis pujaan hatinya. Telapak tangan yang baru saja hendak di gunakannya untuk membuka pintu kamar Anita, seketika terhenti.
"Ayo, Sayang. Keraskan lagi suara desahanmu .... Aaaaa ...." Terdengar balasan dari suara bariton seorang lelaki.
(Swear ya genkkss, Author paling kliyengan nihh kalo nulis part beginian 🤕😢 Kagak bener ini mah... wkwkwk)
Degg! Jantung Gavin seakan terlepas dari tempatnya. Si buket bunga dan paperbag jatuh merosot dari tangannya.
Anita, dan seorang lelaki? Kedua suara itu berasal dari dalam kamar yang di huni wanita itu. "Sedang bersama siapa dia?" gumam Gavin dalam ketidak percayaannya.
Kemudian tanpa babibu, Gavin memutar knop pintu tersebut. Dan....
Braaakkk!! Ia menendang daun pintu itu keras.
Seketika wajah manis itu berubah murka dan memerah. Namun tak semerah Hellboy apalagi bertanduk. Tatapan tajamnya terhunus lurus ke arah Anita dan lelaki yang baru saja mengangkat kungkungannya dari tubuh polos Anita.
"Ga- Gavin...." Anita terbelalak. Tak serta merta, ia langsung menarik selimut di tepi ranjangnya dan langsung menutupi tubuhnya yang tak berbalut apapun itu. "Bukankah kamu di luar kota?" tanyanya takut-takut.
"Siapa kau? Berani-beraninya mengganggu kesenangku dan gadisku?" tanya pria asing itu geram.
Gavin tersenyum kecut. "Seharusnya aku yang bertanya padamu. Siapa kau? Seenaknya bercinta di apartement milikku dengan...." Gavin menghentikan kalimatnya. Mulutnya terasa enggan untuk mengakui bahwa wanita yang kini tengah di tatapnya tajam itu, sebagai kekasihnya. Atau lebih tepatnya ... ia merasa jijik. "Dan kamu ... wanita sampah, jadi ini kelakuanmu, saat aku tidak ada?"
__ADS_1
Anita menggeleng. "Tidak, Ga--"
"Pergi kalian berdua dari sini," usir Gavin dengan nada geram berbalut amarah.
Pria asing yang kini sudah mengenakan boxernya itu menatap bingung pada Anita. "Sayang ... benarkah ini tempat miliknya?"
Anita tertunduk dalam. Tak menjawab sedikitpun pertanyaan si lelaki patgulipatnya. Menangis dalam diam, mungkin saja. Karena pundak nya terlihat berguncang kecil.
"Pergi kalian berdua dari sini," usir Gavin dengan nada geram berbalut amarah.
Anita mendongak menatap Gavin. Dan benar saja, wajahnya sudah memerah berhias tumpahan air mata yang di keluarkannya karena menahan malu yang tak terperi. "Kamu mengusirku, Gav?" tanyanya belum percaya.
Lelaki asing itu menatap Anita terkejut.
"Kamu? Siapa lelaki ini, Nita? Bukankah kamu bilang ini apartement milikmu?" tanya rival Gavin itu tak mengerti.
Oh, tidak. Ralat! Gavin jelas tak sudi menganggap lelaki sampah itu sebagai rivalnya.
"Dia ... dia tunanganku, Mark."
"Apa...?! Jadi kamu membohongiku, Nita. Kamu bilang aku lelaki satu-satunya milikmu," ujar lelaki bernama Mark itu kecewa.
"Hentikan drama menjijikan kalian! Pergi dari tempatku ini, sekarang!!" teriak Gavin keras.
Memunguti sisa busananya yang tercecer di lantai, Mark kemudian pergi meninggalkan tempat itu cepat, tanpa perduli pada gadis yang baru saja bergulat keringat dengannya. (Meskipun belum tuntas. Hhiii)
"Ayo, tunggu apalagi? Cepat kejar kekasih satu-satunya milikmu itu, wanita sampah!" seru Gavin pada Anita yang masih terdiam di tempatnya.
"Maafkan aku, Gav ... maafkan aku...."
"Pergi!!!!!"
Dalam getar ketakutan, Anita turun dari ranjangnya, dan memapah langkahnya tergesa. Tanpa mengenakan kembali busananya dan hanya berbalut selimut yang di lilitkannya sembarangan, ia keluar dari kamar itu.
"Setan! Aaarrrggghhh ...!!!" Gavin mengacak rambutnya frustasi. Ia menghancurkan benda apapun yang berada di sekitarnya.
Brukk ...!! Brak ...!! Pranggg ...!!
Setelah puas mengeluarkan segala amarahnya, ia memerosotkan tubuhnya ke lantai. Pundak bidang miliknya mulai berguncang. Ia menangis. Namun tangisnya bukan karena lemah. Lemah yang tercipta dari sebuah pengkhianatan. Bukan! Lebih tepatnya, ia menangis karena sebuah sesal. Sesal karena telah tertipu oleh kepolosan palsu si ular sawah.
😃😃😃
Flashback off
__ADS_1