
Di sebuah apartemen milik Shinta.
Kedua sejoli dadakan itu sudah berdiri saling berhadapan diambang pintu.
"Beristirahatlah. Aku akan pulang ke apartemenku," ucap Gavin pada Shinta.
Shinta yang merasa menang dengan hari ini, memberengut wajah, bergelayut manja dilengan Gavin. "Kenapa harus pulang? Aku masih rindu. Menginap saja, ya? Kita kan bisa bermesraan sepanjang malam."
Di usapnya rambut curly Shinta. "Sayang... ada banyak pekerjaan yang belum sempat ku selesaikan."
"Kamu kan bisa kerjakan besok?" Shinta berusaha bernegosiasi. Semoga lelaki itu mengabulkan keinginannya. Begitulah harap hatinya.
"Tidak bisa, Sayang. Besok ada meeting pagi."
"Kamu kan bisa kerjakan disini?" Lagi-lagi dengan wajah sok imutnya.
"Laptopku ada di apartemen."
"Kalau begitu aku ikut ke apartemenmu." Masih dengan usahanya.
"Tidak bisa, Sayang. Kamu akan kelelahan. Lagipula kalau ada dirimu, aku pasti tidak akan bisa berkonsentrasi," goda Gavin seraya mencubit gemas hidung gadis itu.
"Baiklah." Akhirnya, Shinta mengangguk pasrah dengan wajah cemberutnya.
"Jangan cemberut seperti itu." Direngkuhnya gadis itu kedalam pelukannya. Kecupan bertubi-tubi didaratkannya di pucuk kepala Shinta.
Aut kok pen muntah ya, nulis part ini?
Haduwh....😵
"Aku pulang. Dan untuk masalah ibuku, jangan kamu pikirkan."
"Iya, Sayang. Hati-hati dijalan ...."
Vin ... sebenernya lo di cekokin paan seh? Wkwk.
Sepeninggal Gavin.
"Aaaaa ...!!!" Teriakan Shinta terdengar seperti orang kesurupan. Namun tidak demikian kenyataannya. Teriakan itu lahir dari rasa bahagianya, karena apa yang diimpikannya terkabul hari ini.
Sony datang tergopoh. "Nona, ada apa?!"
Shinta memutar-mutar tubuhnya dengan senyuman lebar. Seolah sedang berperan di film India. "Aku sedang bahagia, Sony."
"Bahagia? Nona menang lotre?" tanya Sony bloon.
Gerakan aktif Shinta sontak terhenti. "Sialan, kamu!" serunya seraya menoyor kening pemuda ber- IQ pas-pasan itu. "Eh tapi kamu benar juga. Aku memang baru saja memenangkan lotre." Ia kembali memutar tubuhnya. Namun kali ini ia menggaet lengan Sony.
Dan terjadilah Mega Bollywood ala-ala Sule itu.
"Benarkah, Nona?"
"Iya, Sony."
Dan tarian tanpa nama itupun terhenti. Shinta menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"Apa yang Nona dapatkan? Mobil atau uang tunai?" Sony masih dalam tema lotrenya.
"Lebih dari itu, Sony!"
__ADS_1
"Oya? Rumah?" Sony dengan mata terbelalak.
Namun yang ia lihat selanjutnya adalah kepala Shinta yang menggeleng.
"Lalu?"
"Aku berhasil menaklukkan Gavin, Sony!" Shinta kembali dengan tawa gemas, bahagia, dan sumringahnya.
Lain halnya dengan Sony, ia malah dalam mode bengongnya. Yang seperti itu dibilang menang lotre melebihi doorprize uang tunai, mobil, dan rumah? Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Oya? Bagaimana caranya? Bukankah lelaki itu sudah memiliki kekasih?" Sony mencoba menanggapi, meskipun dengan sedikit raut malas diwajahnya.
Shinta terlihat meraih tasnya yang tergeletak dimeja. Dan mengambil sesuatu dari dalamnya. "Ini Sony." Sebuah botol kecil sebesar ibu jari yang berisi cairan berwarna bening didalamnya, diacungkan kedepan wajah Sony.
Sony mengernyit. "Apa ini, Nona?" tanyanya ingin tahu.
"Entahlah." Shinta mengangkat bahu. Ditatapnya botol kecil itu. "Tapi berkat cairan ini, aku bisa menaklukkan Gavin hanya dalam hitungan menit.
Sony terperanjat. "Benarkah?"
"Ya ... darimana Nona mendapatkannya?"
"Ayah. Ayahku yang hebat itu yang memberikannya padaku."
Sony manggut-manggut. "Lalu bagaimana cara Nona menggunakannya pada pria bernama Gavin itu?" Kali ini ia cukup penasaran.
Sebuah seringai terpulas diwajah Shinta.
Flashback lage yok...
Pagi tadi ....
Sekitar pukul 08.
Namun kali ini, ia terpaksa mengiyakan, karena wanita itu cukup memaksa.
"Baiklah Nona Shinta, apa hal penting yang ingin Anda bicarakan itu?" Gavin tanpa basa-basi, usai beberapa detik Shinta mendaratkan bokongnya dikursi putar yang berseberangan dengannya.
"Sabarlah Tuan Gavin. Aku baru saja sampai. Aku masih harus mengatur nafasku terlebih dahulu," kilah Shinta.
Gavin tersenyum kecut. Jauh dilubuk hatinya, ia sangat jengah dengan keberadaan wanita itu. "Baiklah."
Shinta mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjingnya.
Dan entah apa yang akan dilakukannya, ia berdiri dan berjalan menghitari meja kerja Gavin, lalu mendekat ke arah lelaki yang kini menatapnya itu.
"Tuan Gavin ...." suara itu bernada menggoda. Ia sudah berdiri tepat disamping lelaki itu. Telapak tangannya mulai bekerja.
"Anda mau apa, Nona Shinta?" Gavin mulai merasa risih dan terusik.
Tanpa diduganya, Shinta mencium pipinya dan mencipratkan seseuatu pada jas yang di kenakan Gavin.
Gavin? Tentu saja ia berontak. Di dorongnya tubuh langsing itu ke lantai. Namun sesaat kemudian, wajahnya yang semula geram kini berubah menjadi ringisan. Ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing, manakala semilir aroma menyengat menusuk indera penciumannya. Dan ...
BRUKK!
Sebagian tubuhnya melumbruk diatas meja, dalam keadaan tetap terduduk di atas kursi kebesarannya. Gavin kehilangan kesadarannya.
Shinta yang masih berleseh ria di atas lantai, tersenyum. Lalu mulai menuntun tubuhnya untuk bangkit. Ditatapnya wajah Gavin yang menyamping dan terpejam.
"Semoga ini berhasil, seperti yang dikatakan ayah," gumam Shinta penuh harap.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ....
Suasana masih nampak sepi, tak ada seorangpun yang masuk ke dalam ruangan itu.
Dan katup mata Gavin pun mulai terbuka.
Dengan tetap memegangi kepalanya yang masih terasa pening, ia menegakkan kembali tubuhnya.
"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya.
Semua gerak-geriknya tak luput dari pengawasan Shinta. Gadis itu tetap berdiri dalam harap dan cemasnya. Kalau sampai ini tidak berhasil, maka habislah ia ....
Ada kilatan ketakutan diwajahnya.
Gavin yang sudah merasa lebih baik, menjuruskan tatapannya pada wanita yang berdiri beberapa langkah di samping kanannya. Dan ....
"Shinta, Sayang. Kamu ada disini?"
Duaaarrr....
Shinta membulatkan matanya sempurna.
Apa?! Sayang? Gavin memanggilku sayang?
"Shinta ...." Lelaki itu mulai bangun dari duduknya. Dan melangkah mendekat ke arah dimana Shinta berdiri kaku dengan segala ketidak percayaannya. Tanpa sedikitpun diduga Shinta, Gavin menariknya kedalam rengkuh peluknya. "Aku rinduu..." ucapnya lembut.
Shinta yang masih terbengong, akhirnya mengerjap. Sungguh masih belum dipercayanya, lelaki itu kini memeluknya, seraya mengucap rindu. Tuhaaannn....
Tanpa berpikir lagi, ia membalas pelukan Gavin erat, seerat-eratnya. "Aku juga rindu kamu."
Melepas pelukannya, telapak tangan Gavin beralih menangkup kedua pipi itu. "Kamu kemana saja, hmm? Aku sangat merindukanmu."
Senyum mengembang tersungging dibibir Shinta. "Aku ... aku pergi karena kamu bersama wanita lain," kelakarnya.
"Apa?!" Gavin tersentak. "Aku, bersama wanita lain? Siapa?"
"Kalau tidak salah namanya Nilam."
"Nilam?" gumamnya seraya berpikir. Hingga .... "Ahh iya aku ingat. Dia ... tapi kenapa aku bersama dia? Sedangkan yang ku cintai itu kamu."
Selanjutnya Shinta melontarkan berbagai kalimat yang berisi keburukan tentang Nilam. Karena ia tahu pasti, Gavin pasti akan bertemu kembali dengan wanita itu. Dan sebelum itu terjadi ia terus menjejali isi kepala Gavin, dengan segala hal tentangnya, tentang perjalanan cintanya yang disusun dadakan itu. Dan tentu saja .. membuat Nilam menjadi minus dalam pandangan pria itu.
"Benarkah? Aku sebodoh itu dengan menyisihkanmu?"
Dengan wajah muram Shinta mengangguk. "Iya, Tu-- eh, Gavin." Kikuk.
"Ya, Tuhaaannn...." Dipeluknya kembali tubuh wanita itu. "Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji, akan mengembalikan semua yang sempat hilang darimu."
"Iya, Sayang ... aku percaya padamu." Shinta tersenyum bahagia. Terima kasih, Ayah ... gendam ini benar-benar manjur. Sekarang Gavin menjadi milikku. Dan itu berjalan dengan sangat mudah.
Ada rasa puas yang tak bisa dijelaskan Shinta dalam hatinya.
Dasar Siluman Tokek!!!!
Flash back end
°°°°°
Ayooo ... Mana jempol merahmu ....🤓❤❤❤
__ADS_1