
Dalam mode kesal, Gavin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaan benci dan cemburu berbaur menjadi satu kesatuan.
"Gav ... pelankan mobilmu. Aku takut!" seru Nilam.
"Aku benci tatapan pria itu padamu. Aku tidak suka!"
"Lalu jika pria itu menyukaiku, apakah kamu akan membunuhku sekarang?!"
Menginjak pedal remnya seketika, menghentikan laju mobilnya. Gavin mengusap wajahnya kasar. Lalu menoleh Nilam yang terengah ketakutan. "Maafkan aku." Menarik tubuh ramping itu ke dalam lingkaran peluknya. "Maaf."
"Gav ... aku bisa apa jika lelaki itu menyukaiku. Apakah aku harus merusak wajahku agar tak ada lagi yang menarik dariku?"
"Sssttt ...." Menempelkan telunjuknya dibibir Nilam. "Aku minta maaf. Aku mungkin egois, karena aku hanya ingin ... cukup aku yang menikmati semua anugerah yang ada padamu. Aku tidak mau berbagi dengan siapapun," akunya.
Nilam memendar senyum. "Aku mengerti. Karena aku juga hanya menginginkan dirimu, sebagai satu-satunya laki-laki yang ...."
"Yang? Yang apa?" goda Gavin tersenyum licik. Ia sedikit menjauhkan tubuh Nilam dari dadanya. Dan tentu saja, pertanyaan itu membuat gadis itu berubah menjadi salah tingkah. "Ayo lanjutkan kalimatmu."
"Ti- tidak jadi," ujar Nilam membuang muka, berusaha menyembunyikan raut merahnya.
Kekehan renyah Gavin mulai terdengar. Ia menyentuh wajah yang membelakanginya itu, lalu menghadapkan ke arahnya.
Nilam tak mampu menolak. Wajah merah itu malah terlihat semakin memukau dalam pandangan Gavin. Perlahan tapi pasti dagu belah itu di tariknya mendekat ke wajahnya.
Dan ....
Terjadilah satu sentuhan yang memabukkan itu. Jiwa kelelakian Gavin mulai meronta perlahan. sepasang bulat penglihatan itupun mulai meredup.
Namun entah ... Nilam tak pernah bisa setenang Gavin. Hatinya selalu di landa risau kala moment semacam itu menggodanya. Dua tahun menjalani kasih dengan Danupun tak pernah sekalipun ia membiarkan bibirnya di sentuh lelaki itu.
Sungguh aneh untuk zaman Fir'aun seperti sekarang ini.
Gavin masih mengikuti nalurinya. Telapak tangannya sudah berada ditengkuk gadis itu.
Hingga ....
Tid ... tid ... tid ....
Puas! Decitan suara klakson yang berasal dari mobil yang telah berjejer di belakangnya, sukses membuat Gavin tersentak, terkejut, dan paling utama ... kesal bukan kepalang.
Sial!
Kenapa juga ia tidak sadar, bahwa mobilnya kini terparkir begitu saja di tengah jalan. Bodoh!
Bibirnya tak henti berkomat-kamit. Dan dengan kesal dia mulai melajukan mobilnya kembali. Satu lambaian telapak tangannya di luar kaca mobilnya menandakan permintaan maafnya pada para pengendara di belakangnya.
Nilam menutup mulutnya menahan tawa.
Tingkal konyol Gavin cukup menjadi hiburan baginya.
"Kenapa tertawa?" tanya Gavin.
"Tidak."
"Itu wajahmu mesem-mesem begitu. Apakah aku terlihat seperti badut?"
"Umm ... mungkin."
__ADS_1
"Apa kamu bilang?"
"Tidak, tidak. Aku tidak bilang apa-apa."
"Awas kamu ya ...."
*****
Di kediaman Dahlan
"Juragan, di luar ada seorang wanita ingin bertemu dengan Anda."
Ucapan sang upik abu wanita itu, berhasil menciptakan kerutan di wajah Dahlan yang tengah sibuk berkutat dengan kertas-kertas di ruang kerjanya. "Wanita? Siapa? Malam-malam begini?"
"Saya tidak tahu, Juragan. Saya baru melihatnya."
"Bawa dia kemari!" perintah tegas Dahlan.
"Baik, Juragan." Sang pesuruh pun mulai berlalu.
Beberapa saat kemudian ....
"Ini orangnya, Juragan."
Dahlan hanya menggerakkan matanya untuk melihat wujud wanita yang di maksud si pesuruh.
"Selamat malam, Juragan," sapaan lembut wanita itu. Suara halusnya cukup memancing sisi kelelakian Dahlan.
Terlebih pemiliknya adalah seorang wanita, yang meskipun berpenampilan sederhana dengan hanya balutan dress coklat polos selutut, dan rambut yang di ikat sembarangan, namun tak bisa dipungkiri, wajah cantik dan bentuk tubuh layaknya model itu, membuat Dahlan cukup tergoda.
Barang antik!
Setelah pintu tertutup, Dahlan mulai membuka suaranya, "Ada keperluan apa Anda mencari saya, Nona?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Saya ingin melamar pekerjaan pada Anda, Juragan," jawab wanita yang berusia sekitar 30 tahunan itu.
Dahlan terkekeh. "Melamar pekerjaan? Siapa yang merekomendasikanmu datang padaku?"
"Anda cukup tersohor di dunia bisnis. Semua orang pasti mengetahui itu, termasuk saya. Jadi saya datang kesini atas kemauan saya sendiri."
"Baiklah aku mengerti. Lalu apa keahlianmu?"
"Sebelumnya saya pernah menjadi sekretaris di sebuah perusahaan di luar negeri. Tapi saya berhenti. Karena ...."
"Karena apa?" Dahlan mulai melangkah mendekat ke arah wanita itu. Ia lalu menyandarkan bokongnya pada meja kerjanya yang berada tepat didepan wanita yang belum di ketahui namanya itu, hingga jarak keduanya cukup berdekatan.
"Karena saya pernah di lecehkan oleh direktur perusahaan itu." Tak ada kebohongan dari jawaban itu.
Tirani itu mulai tertarik. "Lalu?"
"Saya sempat hamil. Lalu ketika saya meminta pertanggung jawabannya, dia menolak. Dan malah menuduh saya mengarang cerita di media. Semua itu membuat nama dan reputasi saya hancur. Dan alhasil, hampir semua perusahaan menolak untuk memakai jasa saya," ungkapnya sendu.
"Kasian sekali kamu," ucap Dahlan seolah iba. "Kapan kejadian itu berlangsung?"
"Tiga tahun yang lalu, Juragan."
"Lalu dimana anakmu?"
__ADS_1
Sukses, pertanyaan Dahlan itu membuat air mata wanita itu menetes. "Dia sudah meninggal, Juragan." Lalu menunduk.
"Oh, maaf. Aku tidak bermak--"
"Tidak apa-apa. Saya terlalu terbawa suasana." Mengusap sisa tetesan air dipipinya. "Lalu bagaimana apa saya di terima bekerja di sini?"
"Umm... melihat dari riwayat hidupmu...."
Sebelum mendengar kalimat Dahlan selanjutnya, wanita itu bersimpuh dihadapannya. Kedua tangannya menggenggam sebelah telapak tangan Dahlan. "Tolong, Juragan. Terima saya bekerja di sini. Apapun akan saya lakukan. Asalkan saya bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan juga untuk pengobatan ibu saya yang sedang sakit," pintanya penuh permohonan.
Seringai senyuman iblis Dahlan mulai muncul ke permukaan wajahnya, yang meskipun sudah hampir berkepala enam, namun garis wajahnya tetap tegas, tanpa sedikitpun kerutan penuaan. "Hey, bangkitlah. Tidak perlu seperti itu. Aku tidak sama seperti mereka."
Dusta! Dalam hatinya ia sangat bersorak senang.
Wanita itu mulai bangkit, mengikuti telapak tangan Dahlan yang menariknya. "Apa itu artinya Juragan mau menerima saya bekerja disini?" tanyanya penuh harap.
Sesaat Dahlan terdiam. "Baiklah. Karena basicmu sekretaris, sepertinya kamu bisa membantuku mengurus data perkebunan."
"Benarkah, Juragan?"
"Iya. Selain itu juga aku bisa memberikanmu upah yang berlimpah, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Juragan?" tanyanya penuh binar.
"Kamu harus mau ...." Dahlan melanjutkan kalimatnya dengan berbisik.
Mendengar kalimat lanjutan Dahlan yang berdesis di telinganya, wanita itu terperanjat.
Ternyata semua laki-laki semacam ini sama saja. Sama-sama bejat!
"Jangan takut, aku tidak akan lari seperti orang itu. Aku pasti bertanggung jawab.'' Suara Dahlan meyakinkan.
"Tapi Juragan, bukankah Anda sudah memiliki tiga orang isteri?"
Berjalan menuju sebuah jendela kaca. "Ya ... itu benar. Tapi ...." Berbalik menghadap wanita itu. "Aku sudah tidak pernah menyentuh mereka."
"Kenapa? Apa karena mereka sudah mulai berumur, dan tidak lagi memuaskan Anda?" Terselip perasaan jijik dari pertanyaan bernada sarkas itu.
"Tidak, bukan itu. Aku selalu memuliakan mereka apapun keadaannya."
"Lalu?"
Wajah Dahlan berubah muram. Dan jangan salah, ini hanya TOPENG!
"Salahku karena terlalu memanjakan mereka dengan uang. Hingga mereka lupa akan kewajibannya terhadapku."
"Benarkah itu, Juragan?"
"Begitulah."
Wanita itu mendekati Dahlan. Dekat ... dan sangat dekat .... "Maafkan saya karena sempat salah faham pada Anda, Juragan."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Dahlan merengkuh pinggang ramping itu, menempelkan ke tubuhnya. "Kamu sangat cantik." Libido di dalam tubuhnya mulai menyerang. Dan tanpa JKL, ia meraup bibir merekah wanita itu, yang tentu saja berbalas.
Setelah beberapa waktu saling berpagut mesra, akhirnya kegiatan memabukkan itu terhenti.
"Aku lupa bertanya, siapa namamu, Sayang?"
__ADS_1
"Namaku .... Mona."