Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Sampai pada batasnya


__ADS_3

"Tetap disana! Jangan bergerak! Atau ku tancapkan pisau ini dilehernya!"


"Gav... Kakak ...."


"Nilam," gumam Gavin. Lalu pandangannya jatuh pada kedua lengan gadis itu. Lengan yang bermandi keringat dan darah, mengalir melewati sela-sela jari hingga ke ujung kukunya. "Apa yang sudah kau lakukan padanya, Dahlan!!' Teriak Gavin membahana, hingga menghasilkan gaung berulang di udara. Rasa sakit dan cemas dalam dadanya membentuk satu kesatuan hingga menghasilkan terjangan amarah yang meletup.


"Jangan gegabah, Gav!" Kenzie menarik tubuh Gavin yang hendak melangkah maju ke arah sang Tirani. "Kau bisa membunuh Nilam!"


Dua orang polisi mengarahkan senjatanya ke arah Dahlan, siap menarik pelatuknya.


"Jangan!!!" Teriak Kenzie. "Kalian bisa membahayakan adikku!"


Dua aparat itu tunduk menurunkan senjata. Lalu kembali pada siaganya.


Nilam, gadis itu hanya bisa menangis. Rengkuhan kuat lengan kekar Dahlan dari belakang tubuhnya, juga pisau yang tertodong di lehernya, membuatnya sulit bergerak, apalagi melawan. Terlalu beresiko.


"Apa yang kau inginkan?" Kenzie berusaha tenang ditengah gemuruh kecemasan dalam dadanya.


"Bebaskan aku dari hukum! Biarkan aku pergi jauh."


"Kalau kami tidak mau?" timpal Gavin.


"Ckk... berarti kalian rela, nyawa gadis kesayangan kalian ini, pergi menyusul kedua orang tuanya ke neraka."


Kenzie tersenyum remeh. "Neraka itu bagianmu, Biadaaab!!!"


Teriring suara teriakan amarah Kenzie....


BUG!


BRUKK!


Lelaki itu terkapar seketika!


"Hh ... hh ... hh...."


Mona, dengan nafas memburu, keringat bercucur disekujur tubuh serta wajah berpulas darah, berdiri memaku. Ditatapnya tubuh Dahlan yang tertelungkup dibawah kakinya, nanar. BRAK! Sebilah kayu yang digunakannya memukul punggung belakang Dahlan, dilemparnya kesamping tanpa tenaga.


Nilam membalik tubuh. "Mona."


Kenzie dan Gavin melesat ke arah pusat perhatian diikuti dua aparat polisi yang masih dalam sigapnya.


"Sayang!" Tanpa peduli apapun, Gavin menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Di kecupnya sekujur wajah hingga kepala kekasihnya itu bertubi-tubi. "Maafkan aku. Aku kembali gagal menjagamu."


"Aku tidak apa-apa, Gav." Membalas pelukan itu penuh kerinduan. "Aku baik-baik saja."


"Tapi tanganmu terluka." Mengalihkan pelukannya pada pundak Nilam, lalu menyentuh hasil goresan buah karya Dahlan dilengan kekasihnya tersebut.


"Ini hanya luka kecil, Gav."


"Apanya yang kecil, Sayang?! Ini cukup dalam!"

__ADS_1


"Kita akan obati segera." Kenzie memungkas. Lalu mengalihkan pandang pada titik lain. "Mona kau tidak apa-apa?" Ia berjongkok menyeimbangkan diri didepan Mona yang kini duduk melumbruk diatas tanah dengan tubuh bergetar.


"Ken ...." Mona tersenyum menatap wajah tampan itu. "Apakah yang ku lakukan sudah bisa membayar hutang budiku padamu?"


Kenzie terdiam dalam getir. Rasa bersalah mulai merayap merayu hatinya membentuk penyesalan. Bagaimana bisa ia mengirim wanita itu ke sarang beruang yang kelaparan? "Maafkan aku, Mona. Aku tidak pernah menganggap semua yang ku lakukan dulu padamu adalah hutang. Tapi sekarang aku malah membuatmu hampir terbunuh karena ide konyolku mengirimmu ke neraka itu. Maaf."


"Tidak, Ken. Aku malah merasa bahagia. Karena ada hal berguna yang bisa ku lakukan untukmu. Meskipun nyawaku taruhannya."


Kenzie tersenyum. "Terima kasih. Jika tidak ada dirimu ...." Mendongak pada Nilam yang berdiri menjulang dalam pelukan Gavin yang kini juga menatapnya dan Mona penuh haru. "... mungkin aku tidak akan bisa menyelamatkan adikku."


"Adik...." Masih dengan senyumnya. "Aku tidak menyangka, kau memiliki adik semanis dia."


"Ya, Mona. Aku sendiri masih tidak percaya."


"Karena Tuhan memiliki aturan, yang bahkan tak pernah kita pikirkan sekalipun." Nilam menyergah dengan senyumnya.


"Itu benar, Nilam," imbuh Mona. Lalu kembali menatap Kenzie. "Apakah sekarang kita impas?"


Kenzie terdiam sesaat. "Tentu. Meskipun aku tidak pernah menganggapnya hutang."


"Baiklah. Ayo kita pulang. Kalian harus segera mendapatkan penanganan medis." Suara Gavin mengudara.


"Iya. Kau benar, Gav," sahut Kenzie. "Ayo, Mona. Ku bantu."


"Terima kasih."


Dan keempatnyapun mulai memapah langkah menuju helli yang sudah bergemuruh menanti.


DOOORRR !!


Sontak, Nilam dan lainnya menoleh kebelakang dengan raut terkejut tingkat akut.


"Tidaaaakkk...!!!!" Teriakkan Dahlan menggema diseantero hutan. Ia yang sebelumnya sudah sadar dan berada dalam cekalan polisi, tiba-tiba bangkit dan merebut pistol dari tangan salah satu diantara dua aparat hukum yang mencekalnya. Lalu mengarahkannya ke arah empat orang yang berjalan didepannya. Entah siapa tujuannya.


Namun naas. Rani, puteri dari isteri keduanya itu tiba-tiba muncul dari balik pohon. Dan berlari, memasang badan, mengorbankan dirinya untuk menahan laju peluru itu dengan tubuhnya.


"Rani... puteriku!!" Dahlan menangis histeris. Mengguncang tubuh Rani yang kini terkulai dipangkuannya.


"Hentikan kejahatanmu, Ayah. Hentikan...." Suara itu terdengar lirih dan menyakitkan.


"Rani ... kamu Rani." Nilam menurunkan tubuh, duduk dihadapan Dahlan yang tak henti meraung menangisi hasil kebodohannya.


"Sayang, kamu mengenalnya?" Gavin ikut berjongkok. Merangkulkan lengannya dipundak Nilam.


"Dia pernah menolongku melarikan diri dari rumahnya."


"Benarkah?"


"Iya, Gav. Dan dia mengulangnya lagi saat ini." Nilam mulai menangis.


Rani tersenyum. "Kak Nilam, maafkan Ayahku, ya, Kak." Dengan suara lirih, dan wajah yang semakin memucat, seiring darah yang terus keluar dari lubang dimana peluru menembus bagian perutnya.

__ADS_1


Digenggamnya tangan gadis itu. "Iya, Rani. Bertahanlah. Kita akan segera menolongmu," ujar Nilam dalam cemasnya. "Gav, Kakak ... ayo bantu angkat dia!"


Namun ...


GEP! Rani meraih tangan Nilam yang hendak bangkit. "Tidak perlu, Kak. Aku sudah tidak kuat. Aku ingin pulang." Nafasnya mulai tersengal dan terbatuk.


"Rani... maafkan Ayah, Nak.... Kamu jangan tinggalkan Ayah! Shinta sudah gila. Ayah tidak mau kehilanganmu juga!" Dahlan semakin menunjukkan sisi rapuhnya sebagai seorang ayah. Pangkat psikopat berlebel gold itu seketika meleleh menjadi cairan muda yang baru dituang.


"A- Ay..ah, pe- pertang-gung ja- jawab... kan se-se-mua, per-perbu..atan ...." Menarik nafas dalam dengan tubuh meronta dan mata mendelik keatas, Rani mulai melihat penjemputnya. "... mu ...." Lalu terkulai dengan mata yang sudah terpejam. Ia sampai pada batas kesanggupan dan takdirnya.


"Tidaaaaakkkkk....!!!!" Dahlan terus mengguncang tubuh anak gadisnya yang kini telah tak bernyawa.


"Rani ...." Nilam mulai terisak.


Gadis berambut bondol itu menjadi salah satu yang mengisi baris kenangannya.


Kala itu ... Rani membantunya melarikan diri dari rencana Dahlan untuk menikahinya. Disuasana yang temaram, berjalan mengendap layaknya penyusup, teriring suara lonceng dari jam dinding di tengah malam yang sunyi, dengan debaran jantung yang terus bertabuh.


Hingga pelukan hangat kala berhasil membawa dirinya keluar dari rumah neraka itu, berkeliling menyakitkan dalam pikirnya.


Gadis pemberani.


Kini ia menurunkan katup matanya.


Katup yang tidak akan pernah terbuka kembali.


Malaikat maut menyongsongnya diusia yang masih sangat muda.


Menghetikan aliran darahnya.


Menghentikan pompa jantungnya.


Menghentikan kerja otaknya.


Dan menghentikan seluruh geraknya.


Diam, untuk selamanya.


Kematian... mengintai semua yang bernyawa setiap saat.


Didunia yang hanya drama ini ....


Semua ada batas dan akhirnya.


Setiap pertemuan, pasti menuai perpisahan.


Setiap awal, pasti menemukan akhir.


Dan inilah akhirnya....


Rest in peace ... Rani.

__ADS_1


__ADS_2