
"Panggil juga Mamanya Gavin ini ...." Gerry melirik Briana. "Mama."
"Apa?!"
Nilam dan Briana sama-sama tersentak. Saling memandang ragu. Lalu saling membuang muka secara bersamaan.
Aduhaaii, kalian ini kenapa?
"Iya, kan, Ma?" tanya Gerry lagi memastikan.
Melirik suaminya itu dengan tatapan bingung. Kemudian satu anggukan meyakinkan Gerry, seolah menyetrum Briana untuk ikut mengangguk, meskipun terlihat kaku. "Iya, dia boleh memanggilku Mama."
Tentu saja, keputusan akhirnya itu, membuat senyum Gavin semakin merekah lebar. "Apa itu artinya Mama merestui pernikahanku dengan Nilam?" tanyanya penuh harap.
Sesaat Briana terdiam, ia menatap wajah Nilam yang menunduk dengan wajah harap dan cemas. "Iya, Gav, Mama restui hubungan kalian berdua.
Seketika, Nilam dan Gavin saling mengadu pandang. Di susul senyuman manis di bibir keduanya.
"Terimakasih, Ma," ucap Gavin.
" Te- terima kasih, sudah mau menerimaku ... Mama."
Sukses, ucapan terima kasih Nilam itu membuat hati Briana sedikit berdesir perih. Sebersit penyesalan akan penghinaan yang pernah di lontarkannya pada gadis itu, sungguh membuatnya merasakan malu yang hakiki. "Sama-sama, Nak. Maafkan Mama pernah berbuat salah pada kalian. Mama benar-benar menyesal," ucapnya sungguh-sungguh.
Gavin mendekati ibunya. "Tidak ada yang perlu disesali, aku tahu Mama melakukan itu, demi aku, demi kebahagiaanku. Dan sekarang ... Nilamlah kebahagiaanku."
"Iya, Sayang. Mama restui kalian. Semoga kalian berbahagia selalu."
Nilam hanya mengangguk dalam senyuman.
Menegakkan tubuhnya yang semula santai, Gerry merangkul anak dan isterinya menyamping. Kemudian melambaikan tangannya pada Nilam. "Kemarilah, Nilam," pintanya.
Menatap Gerry yang mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya pada Gavin dengan tatapan seolah meminta pendapat. Dan satu anggukan kecil Gavin menuntun tubuh Nilam untuk bergerak mendekat ke samping Gerry.
Kedua pasang manusia berbeda generasi itu berjejer saling melempar senyum.
Tuhan ... terima kasih atas segala kemurahanmu.
Batin Nilam penuh syukur.
"Baiklah, kalau begitu, kapan rencananya kalian akan melangsungkan pernikahan?" Gerry membuka pertanyaan.
"Iya, Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu," timpal Briana penuh harap.
__ADS_1
"Aku sebenarnya ingin secepatnya, Ma, Pa. Tapi sepertinya masih ada satu urusan lagi yang belum terselesaikan. Jadi aku memutuskan, aku dan Nilam akan bertunangan saja terlebih dahulu."
Gerry mengernyit heran. "Urusan? Urusan apa, Gav? Apa itu penting?"
"Iya, Pa."
"Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Gerry lagi.
"Bukan, Pa. Tapi masalah orang tua Nilam"
"Maksudmu? Ada apa dengan orang tua Nilam?" Gerry melirik Nilam yang masih terdiam di sampingnya. "Apakah mereka tidak merestui hubungan kalian?" Ia semakin penasaran.
"Gav ... bukankah kamu bilang Nilam seorang yatim piatu? Kenapa kamu tiba-tiba membahas masalah tentang orang tua Nilam?" Briana membuka suara.
Hembusan nafas kasar Gavin semakin membuat kedua orang tuanya penasaran. "Itu dia masalahnya, Ma. Tiga tahun yang lalu, kedua orang tua Nilam di temukan tak bernyawa di tengah hutan."
"Apa?!" Gerry terperanjat. "Maksudmu mereka di bunuh?" Kemudian mengalihkan wajahnya pada Nilam meminta penjelasan. "Benar itu Nilam?"
Sesaat Nilam menatap Gerry, lalu menundukkan wajahnya. Satu tetesan bening terlihat jatuh di telapak tangannya yang di taruhnya di atas paha. Disusul sebuah anggukan yang membuat Gerry dan Briana terhenyak.
"Ya, Tuhan ...." Gerry menarik kembali tubuh Nilam ke dalam pelukannya. "Kehidupanmu pasti sangat berat, usai kepergian kedua orang tuamu."
Kalimat yang di ucapkan ayah Gavin itu, membuat air mata Nilam menderas. Bayangan tentang tubuh Marni dan Wisnu yang di temukan sudah dalam keadaan berbau busuk, mencuatkan kembali luka dihatinya yang hampir tiga tahun ini berusaha di lupakannya dengan susah payah.
Tunggu! Orang tua angkat. Betul juga. Wisnu dan Marni hanyalah orang tua sambung Nilam. Jadi masih ada kemungkinan, orang tua kandungnya masih dalam keadaan hidup. Benar! Tapi siapa ya, kira-kira? Umm ....
Mohon bersabar. Episodenya masih panjang. He ....
Nilam tersentak mendengar penuturan Gavin. Juga Gerry dan Briana.
"Kamu tahu?" tanya Nilam terkejut.
Gavin mengangguk membenarkan. "Kenzie yang menceritakannya padaku. Dan dia mengetahuinya dari adik sepupumu."
"Hana?"
"Ya."
"Tunggu Gav, jadi yang terbunuh itu, orang tua angkat Nilam? Lalu dimana orang tua kandungmu, Nak?" Tentu saja pertanyaan itu diarahkan Gerry pada Nilam.
Dan seketika itu, irama jantung Nilam berdentam sangat kencang. Kenapa harus ada bahasan seperti ini? Pertanyaannya bukan lagi dimana, melainkan ia bahkan tak tahu siapa orang tuanya.
Gavin tentu menyadari perasaan gadisnya. Ia lalu mengambil alih penjelasan tentang sisi lain kehidupan Nilam, bermodal cerita yang di dapatnya dari Kenzie.
__ADS_1
Bla ... bla .... bla ....
(SKIP)
"Begitulah, Ma, Pa." Itulah kalimat penutup usai Gavin menceritakan segala yang di ketahuinya tentang Nilam.
Kedua insan paruh baya itu, kini menatap Nilam dengan tatapan iba.
"Sabarlah, Nak. Hidup itu tidak ada yang mudah. Papa dan juga Gavin tentunya, pasti akan membantumu memecahkan misteri dibalik kematian kedua orang tua angkatmu. Kami juga akan menyelidiki masa lalumu, untuk mencari titik terang, tentang siapa orang tua kandungmu sebenarnya." Gerry meyakinkan.
"Iya, Sayang. Aku akan lakukan apapun untukmu. Jadi jangan lagi membuang air mata mu yang berharga itu. Karena mulai sekarang, aku akan selalu membuatmu tersenyum."
Senyuman haru di pendarkan Nilam, dengan menatap satu persatu ketiga orang di hadapannya bergantian. "Terima kasih, Semuanya."
Sumpah demi apapun, saat ini kebahagiaan tengah menyelimuti hatinya. Perasaan di cintai dan di hargai bertahta dalam jiwanya. Dan untuk kesekian kalinya .... Terima kasih, Tuhan.
****
Malam mulai tiba, menutup tirai oranye senja dengan ceria. Mengembalikan berjuta insan ke peraduan lelahnya untuk sekedar bersantai dan istirahat.
Ke empat orang itu, kini tengah duduk melingkar di meja makan. Gavin dan Nilam, juga Gerry dan Briana, mereka dalam ritual rutin pengisian lambung.
Senyum tak lepas menghiasi wajah Briana. Ada yang lain dari moment makan malamnya kini, selain kepulangan Gerry sang suami, Gavin yang pulang dengan senyuman, dan sebagai penyempurna, ada Nilam yang kini menjadi pusat kebahagiaan putera semata wayangnya itu.
Andai ia tak pernah egois, mungkin ia takkan pernah merasa kesepian. Namun beruntung, karena semua itu kini berubah. Seiring restu yang di hadiahkannya untuk Gavin. Semoga selamanya seperti ini, Tuhan ....
"Permisi, Nyonya. Di luar ada Nona Shinta mencari Anda."
Berhasil! Notifikasi yang dituturkan oleh seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantu di rumah itu, membuat ke empat wajah itu mendongak ke arahnya.
"Anita? Mencari saya?" tanya Briana dengan kernyitan diwajahnya.
"Iya, Nyonya. Dia bilang ingin bicara dengan Anda sebentar."
"Baiklah, suruh dia menunggu di ruang tamu," titah Briana.
"Baik, Nyonya." Wanita itu melenggang pergi menunaikan perintah sang Nyonya.
"Anita? Mau apa dia kesini?" Gavin mulai di landa perasaan tak tenang. Ia kemudian melirik Nilam yang juga tengah menatapnya.
"Kalian tunggu di sini saja. Biar Mama temui dia dulu," ucap Briana seraya bangkit dari tempatnya.
Masih bersambung .....
__ADS_1