
Waktu mengajak terus beranjak.
Dua minggu sudah berlalu.
Kenzie dan juga Gavin beserta Nilam, masih belum bisa menemukan Hana. Desa asal Hana, bandara, stasiun, dan hampir semua tempat sudah mereka susur. Namun hasilnya masih tetap sama, nihil.
Awalna Kenzie akan menceritakan semua kebodohannya itu pada kedua orang tuanya, juga keluarga kecil Hana, setelah gadis itu berhasil ia temukan. Namun semakin lama, rasa bersalah itu, semakin menyiksanya, seiring hasil pencarian yang masih belum menunjukkan titik terang.
Hingga akhirnya, dengan segenap keyakinan yang sudah dipupuknya, ia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada orang-orang yang berkaitan dengan dirinya dan juga Hana.
Mengumpulkan orang-orang itu dirumah utamanya.
Dan inilah hasilnya....
"Hana .... Puteriku...." Murni tak mampu menahan tangisnya. Di benamkannya wajahnya di dada kakek Usman.
Semua yang terlibat dalam percakapan itu memasang wajah yang sama. Terkejut digaris keras. Penuturan Kenzie benar-benar sulit untuk mereka percaya. Kecuali Gavin dan Nilam yang sudah lebih dulu tahu.
"Dasar anak kurang ajar! Ayah tidak pernah mencontohkan perbuatan bejat seperti itu padamu, Ken!" Emosi Kevin meluap-luap. Wajahnya sudah pekat memerah dalam geram.
"Tenang, Ayah. Jaga emosimu." Sesejuk oase ditengah gurun, tak ada raut kebencian dan tak ada amarah, Dalia tetap dalam tenangnya. Meskipun jauh di lubuk hatinya, ia juga merasakan kecewa tiada tara atas perbuatan tak senonoh Kenzie. Namun rasa iba yang terlahir dari patah hati karena kenyataan sedarah itu, membuatnya cukup memaklumi tindakan ajaib sang putera kesayangan.
"Maafkan aku, semuanya. Terlebih padamu, Bibi Murni. Aku benar-benar tidak ada maksud melampiaskan kekecewaanku pada Hana."
Menyesal, cukup tabu untuk sebuah luka yang sudah tertoreh.
Murni, ibunya Hana itu masih dalam tangis pilunya. Andai ia bisa, ingin sekali ia meluapkan segala amarahnya, mencakar-cakar wajah Kenzie atapun menyiramnya dengan air got, tapi kenyataan bahwa lelaki itu pernah menyelamatkannya dan Hana berkali-kali, membuatnya bak ketjoa terinjak. Teriak dalam diam.
Selain itu, kelaliman yang pernah dilakukannya terhadap Nilam yang faktanya adalah adiknya Kenzie itupun juga tak mampu membuatnya berontak. Terlalu menumpuk kesalahannya, jika dibandingkan dengan yang kini menimpa Hana. Hanya bulir yang sudah menganak sungai itulah yang kini hanya mampu di suarakannya.
Mungkinkah karma?!
I think so.
"Kami akan berusaha mencari Hana. Dan Kenzie pasti akan mempertanggung jawabkan perbuatannya, Nyonya Murni. Tolong maafkan kesalahan anakku." Dalia mengudara, dengan segala sesalan.
"Kami sudah memaafkannya, Nyonya Dalia. Dan saya juga sangat menghargai kejujurannya. Untuk saat ini kami hanya berharap, Hana bisa cepat ditemukan." Suara bijak kakek Usman.
"Terima kasih atas kewibawaan Anda Pak Usman." Dalia penuh syukur.
__ADS_1
"Aku akan berusaha menemukannya, Kek." Kenzie meyakinkan. Meskipun keyakinan itu masih terasa samar.
...••••...
Disuatu tempat, Hana yang mencoba memulai kehidupan barunya seorang diri tanpa dampingan keluarganya, kini mulai terbiasa, meskipun rasa rindu selalu menyerangnya tanpa permisi.
Selain Kakek Usman, Murni dan Nilam, Hana juga merindukan lelaki itu. Lelaki yang membuatnya tunduk pada kebodohan.
Kenzie.
Tatapan nyalang tertuju pada satu arah. Tangannya memegang sehelai lap yang kini tengah digunakannya untuk membersihkan meja yang baru saja di tinggal pengunjung.
"Hana."
Suara dan tepukkan dipundaknya membuatnya tersentak. "Jian."
"Kenapa melamun?" Lelaki itu bertanya lembut.
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Benarkah?"
"Baiklah." Sepertinya begitu banyak beban dalam dirinya, batin Jian.
Baru saja kakinya menjejak beberapa langkah, Hana kembali terdiam, ia merasakan sesuatu yang tak mengenakkan dalam dirinya. Dipegangnya perut yang masih rata itu. Dan ....
Huek ... huek ... huek....
"Hana, ada apa denganmu?" Jian menghampiri kilat.
Berlari menuju arah toilet, sepertinya Hana ingin memuntahkan isi lambungnya.
Kalau memuntahkan isi perut, berarti lambung juga ikut dimuntahkan. Betul tak?
Mengikuti dibelakang, Jian dengan pulasan wajah cemas. Hana terus berhoek ria didepan wastafel. Semua makanan yang masuk kelambungnya tersembur kembali keluar dalam bentuk yang berbeda. Wajahnya mulai pucat.
Hingga....
GEP...
__ADS_1
Seolah dejavu, Jian menangkap tubuh ringkih yang limbung itu refleks. Hana pingsan.
"Ya, Tuhan, Hana!" Tanpa babibu, sekeren Zorro, Jian mengendong tubuh lemah Hana, ala bridal style. Membawanya langsung kesebuah kamar yang ditinggali Hana bersama Ami.
Melihat itu, Ami si koki sekaligus sahabat Jian itu menghampiri dengan tergesa. "Ada apa dengannya, Ji?"
"Tadi dia muntah-muntah. Wajahnya pucat, lalu pingsan," jelas Jian. Hana sudah dibaringkannya diatas matras medium tanpa ranjang didalam ruangan itu. "Am, tolong panggil dokter klinik yang ada di ujung jalan. Minta dia kemari."
"Oke, Ji." Gadis tomboy itu berlalu secepat turbo.
Jian mendudukan dirinya disamping Hana yang terkulai dalam pejamnya. Diusapnya kepala wanita itu lembut. "Kenyataan apa yang sebenarnya menaungimu? Kenapa kamu tetap tidak mau terbuka padaku?" Berbaris pertanyaan yang tak mungkin menuai jawaban. Hana masih setia dalam katup rapatnya.
Selang beberapa waktu.
"Ini dia, Dokter. Tolong periksa keadaannya." Ami datang tergopoh. Seorang dokter wanita mengikuti dibelakangnya.
"Permisi, biar saya periksa dulu," pinta sang dokter.
"Silahkan, Dok." Jian beringsut lalu berdiri disamping Ami. Mengamati setiap gerak periksa yang dilakukan wanita itu.
Stetoskop itu sudah kalungkannya kembali kelehernya. "Dia pucat sekali," gumamnya.
"Bagaimana, Dokter?" Jian bertanya ingin tahu.
"Diagnosa awal saya, sesuai keterangan yang Nona koki ini bilang tadi, sepertinya Nona ini sedang mengandung, Tuan. Trimester awal."
DEG
Jantung Jian seolah melompat menertawakan. Ia dan Ami saling beradu pandang, dengan wajah sama-sama terkejut. "Hamil?"
Dokter itu mulai berdiri. "Untuk lebih jelasnya, bawa saja Nona itu ke rumah sakit. Untuk mendapatkan hasil akurat," terangnya.
"Baik, Dokter. Saya akan membawanya segera." Suara yang cukup terdengar mengambang dari jawaban Jian.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, Dok. Terima kasih. Am, urus semuanya. Antarkan kembali."
"Oke, Ji."
__ADS_1
Selepas kepergian dokter dan cheff itu, pandangan Jian terhunus lurus ke arah Hana yang masih tenang dalam pejamnya. "Hamil, dia sedang hamil," gumamnya getir. Berbagai spekulasi mulai memenuhi rongga pikirnya. Cukup menyakitkan untuk sebuah tunas yang baru saja tumbuh dalam hatinya. Gaslauuu.....