
Suara deru mobil terdengar keras di halaman sebuah rumah sederhana yang di tinggali kakek Usman, beserta anak dan cucunya.
Murni menyibakkan sedikit gordeng depan rumahnya, mencari tahu siapa yang datang ke rumahnya itu. "Bukannya itu...?" gumam Murni. Kemudian ia menutup kembali gordeng itu.
Tak lama dua orang pria bertubuh tegap keluar dari dalam mobil itu. Dengan salah satu dari mereka memakai kaos ketat berwarna hitam, dan satu orang lainnya mengenakan jaket kulit berwarna coklat.
Tok... tok... tok....
Pria berkaos hitam mulai mengetuk pintu rumah itu.
Kreeett... ( Suara daun pintu usang itu terbuka perlahan)
"Kalian pasti mau jemput kami, kan?" tanya Murni tanpa basa-basi. Ia tersenyum sumringah. Kedua pria itu menatapnya bingung.
"Siapa yang datang, Bu?" suara Hana muncul dari dalam rumah.
"Hana cepat kamu siap-siap, dandan yang cantik. Kita sudah di jemput," kata murni tanpa menjawab pertanyaan Hana.
Kedua pria itu masih terdiam mengamati kelakuan Murni.
"Di jemput siapa, Bu? Memangnya kita mau kemana?" tanya Hana bingung.
"Kamu ini bagaimana, kita akan menghadiri upacara sakral."
"Upacara sakral apa, Bu?"
"Pernikahan Nilam dan Juragan Dahlan, Hana. Mereka akan menikah hari ini. Apa kamu lupa?"
Wajah Hana terpelongo kaget.
Ya, Tuhan... kak Nilam. Apa dia benar-benar akan menikah dengan Juragan itu? Kasian sekali kamu, kak.
Murni mendorong tubuh Hana yang masih diam terpaku, masuk ke dalam kamarnya kembali untuk segera berdandan. "Ayo cepat, kita bisa terlambat, Hana."
"Tunggu! Siapa yang akan menjemput kalian?" potong si pria berjaket coklat, menghentikan langkah ibu dan anak itu.
"Kami ke sini mencari Nilam. Dia melarikan diri dari rumah Juragan Dahlan, semalam." Satu orang lainnya memperjelas.
Wajah Murni terperangah tak percaya. "Ma-maksud ka-kalian, Nilam kabur?" tanya Murni terbata.
"Benar. Jadi, apa dia kembali ke sini?" tanya lelaki berjaket coklat tersebut.
Murni menggeleng lemah. "Tidak ada. Dia tidak kembali ke sini."
Kak Nilam. Syukurlah kakak bisa lepas dari juragan sinting itu. Terima kasih, Tuhan.... Batin Hana.
Ia menyembunyikan senyumnya dari ketiga orang di hadapannya. Kemudian berlari masuk ke dalam rumah untuk memberitahu kabar gembira itu pada kakek Usman, yang tergolek sakit sepeninggal Nilam.
"Baiklah kami akan kembali lagi nanti," ucap salah satu anak buah Dahlan berkaos hitam itu. Mereka memutar tubuh kembali ke arah mobil mereka yang terparkir di depan rumah itu.
Namun tiba-tiba....
Kring... kring... kring.... (Anggap saja suara nada dering ponsel)
"Cepat kau angkat, sebelum Juragan lebih marah lagi," ucap si kaos hitam.
"Iya, Juragan.... Tidak ada.... Nona Nilam tidak kembali ke rumahnya." Air wajah lelaki ini sedikit meringis ketakutan. "Baik, Juragan. Kami akan lakukan."
Ia memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
"Apa katanya?" tanya lelaki satunya.
"Kita harus membawa anak gadis dari wanita gila harta itu, sebagai ganti Nona Nilam yang kabur."
__ADS_1
"Baiklah. Ayo. Telingaku sudah hangus mendengar teriakan Juragan terus menerus."
Mereka berdua kembali melangkah ke arah pintu rumah itu dan langsung masuk tanpa permisi. Karena keadaan pintu yang memang belum di tutup oleh Murni.
"Kalian mau apa lagi?" tanya Murni terkejut, mendapati kedua pria itu sudah berada di dalam rumahnya.
"Sesuai perintah Juragan Dahlan, kami harus membawa anakmu sebagai ganti Nona Nilam yang hilang."
"Apa?!!" teriak Murni. Terkejut sekaligus takut.
"Ada apa lagi, Bu?" tanya Hana yang
muncul dari arah kamar kakeknya.
"Ini dia orangnya," ucap pria berjaket itu.
"Kamu harus ikut kami, Nona."
"Jangan! Jangan bawa anakku!" Murni histeris. "Hana, pergilah."
"Ibu...."
"Ayo, Nona. Kau ikut kami dengan sukarela, atau kami seret dengan cara paksa?!"
"Tidak, aku tidak mau, Ibu aku tidak mau ikut mereka, Ibu." Hana mulai menangis. Kedua lengannya sudah si cekal kedua pria suruhan Dahlan itu.
"Jangan, Tuan. Aku mohon, jangan bawa anakku."
"Tidak boleh ada yang membawa cucuku!" teriak kakek tiba-tiba muncul dengan wajah pucatnya.
"Kakek, tolong Hana, Kek." Hana berusaha melepaskan lengannya dari cekalan kedua pria itu. Namun usahanya hanya sia-sia.
Kedua pria itu, mulai memboyong tubuh Hana keluar dari rumah itu, dan membawanya ke arah mobil mereka.
Murni yang mengikuti Hana keluar, terus meronta-ronta, meminta kepada kedua lelaki itu, untuk melepaskan anaknya.
Sedangkan tubuh kakek Usman sudah ambruk tak sadarkan diri, di depan pintu rumahnya, saat hendak mengejar Hana keluar.
"Lepaskan dia!" teriak seseorang yang baru saja keluar dari dalam sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari mobil milik anak buah Dahlan.
Ia membuka kaca mata hitamnya, dan berjalan menghampiri Hana yang hendak di masukkan ke dalam mobil anak buah Dahlan itu.
Hana dan Murni melirik ke arah orang itu.
Dia ini, kan, pria yang sudah menolong kak Nilam waktu pinsan di perkebunan itu. Kalau tidak salah, namanya Kenzie, iya, Kenzie. Kata hati Hana.
"Siapa kau?" tanya si pria berkaos hitam yang masih mencekal sebelah lengan Hana.
"Aku? Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Aku minta sekarang, kalian lepaskan gadis ini," pinta pria itu, yang tak lain adalah Kenzie.
"Atas dasar apa, kami harus mengikuti keinginanmu?" tanya pria suruhan Dahlan.
Kenzie tersenyum miring. "Baiklah, jika kalian tidak ingin melepaskan dia, berarti kalian lebih memilih untuk...." Kenzie mengeluarkan sebuah senjata api berjenis glock 20 dari saku bagian dalam jasnya.
Kedua lelaki suruhan Dahlan itu terkejut luar biasa. Mereka menelan salivanya dengan susah payah, melihat benda yang di keluarkan Kenzie dari sakunya itu.
Pun dengan Murni dan Hana, mereka berdua membulatkan mata sempurna.
Siapa anak muda ini? Darimana asalnya? Batin Murni.
Siapa lelaki ini sebenarnya? sepertinya dia bukan orang sembarangan. Kata hati Hana.
"Baiklah. Bagian tubuh kalian yang mana, yang menurut kalian paling enak untuk peluru ku ini, tembus? Agar kalian tidak kesakitan terlalu lama," ucap Kenzie dengan seringainya.
__ADS_1
Ia mengusap-usap lembut senjata api itu di tangannya, lalu menodongkannya ke arah salah satu lelaki itu. "Lepaskan dia, cepaatt!" lanjut Kenzie membentak.
Kedua lelaki suruhan Dahlan itu, mulai melepaskan kedua tangan Hana secara perlahan. Kemudian mereka mengangkat kedua tangannya hingga melewati kepala. "Ampun, Tuan.
Hana langsung berhambur ke arah ibunya.
"Pergi dari sini, sebelum peluruku ini menembus kepala kalian," ucap Kenzie penuh penekanan.
Tanpa babibu, kedua orang anak buah Dahlan itu masuk ke dalam mobilnya. Satu di antaranya, langsung menancap pedal gasnya, kemudian melaju cepat meninggalkan kediaman Hana tersebut, dengan ketakutan.
Kenzie memasukkan kembali senjatanya ke dalam saku dalam jasnya.
"Terima kasih, Tuan Kenzie," ucap Hana lembut.
"Sama-sama, Hana. Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Kenzie.
Hana mengangguk tersenyum. "Aku baik-baik saja, Tuan."
Murni mengernyit Heran. "Hana, kamu kenal dia?" tanya Murni menatap wajah anaknya kemudian beralih menatap Kenzie.
"Dia yang telah menolong kak Nilam sewaktu pinsan di perkebunan itu, Ibu."
"Benarkah?"
"Iya, Bu," jawab Hana. Dan Kenzie hanya tersenyum.
"Lalu, dimana Nilam?" tanya Kenzie.
Hana dan Murni saling beradu pandang.
"Kak Nilam...." Hana menunduk, sesaat kemudian isakkan tangisnya mulai terdengar.
"Hana, kenapa menangis?" tanya Kenzie bingung.
Murni hanya terdiam, ia bingung harus menjawab apa.
"Kak Nilam di bawa paksa oleh Juragan Dahlan, untuk di nikahinya. Tapi sekarang, kak Nilam malah menghilang. Karena itu, tadi Juragan Dahlan meminta anak buahnya untuk membawaku padanya, sebagai ganti kak Nilam yang melarikan diri darinya," jelas Hana.
Kenzie terkejut mendengar penuturan Hana. "Juragan Dahlan...?"
Bukankah itu adalah nama pria tua pemilik perkebunan teh, yang baru saja menanda tangani kerjasama dengan perusahaan milik Gavin itu, bersamaku?
"Iya Tuan," jawab Hana. Ia kemudian melirik ke arah Murni.
"Ini semua gara-gara ibu. Ibu yang telah memaksa kak Nilam menikahi bandot tua itu, demi uang."
Kenzie tersentak mendengar kata-kata Hana. Ia melihat ke arah Murni dengan tatapan setengah tak percaya.
"Kakek, dimana kakek?" Hana baru mengingat sosok kakek Usman yang sejak tadi tak terlihat dalam pandangannya.
Ia kemudian berlari ke arah rumah.
"Kakek!" Hanya terkejut setelah mendapati sang kakek tergeletak tak sadarkan diri di ambang pintu.
"Bapak," ucap Murni sama-sama terkejut.
Hana langsung berhambur mendekati tubuh kakek Usman, kemudian menepuk-nepuk pipi renta itu pelan. "Kakek bangun, Kek," ucap Hana cemas.
"Sebaiknya kita bawa kakek ke rumah sakit," usul Kenzie yang sudah berjongkok di samping Hana.
Hana mengangguk mengiyakan.
Kenzie di bantu Hana dan Murni membopong tubuh lemah kakek Usman ke dalam mobilnya. Kemudian sesegera mungkin mereka melarikan kakek tua itu ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Bersambung....