
Pukul 07.00 di meja makan.
"Umm, sedaapp ... aku rindu masakan Kak Nilam," ujar Hana seraya menghirup aroma semangkuk sayur yang baru saja di hidangkan Nilam.
"Benarkah?" Nilam tersenyum. "Kalau begitu ayo makan."
"Siap, Kak!" Semangat Hana mengundang tarikan senyuman dari ketiga orang di hadapannya.
Hening ... tak ada suara percakapan. Semua larut dalam kekhusyuan menikmati santapan. Hanya terdengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu tanpa selisih, dalam kerjasama yang hakiki.
Beberapa saat kemudian ....
"Umm, Kakek ... dan juga Hana." Gavin membuka suara setelah selesai dengan sesi pengisian lambungnya. "Ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian berdua."
Pemilik nama yang di sebut mendongak ke arahnya, tak terkecuali Nilam.
"Ada apa, Gavin?" Kakek memberi ruang.
"Iya, Tuan, ada apa? Sepertinya serius sekali?"
Sapaan Hana sepertinya cukup menggelikan di telinga Gavin. "Panggil saja aku, Gavin, Hana. Tidak usah terlalu formal."
"Hhee, baiklah. Aku masih tak percaya saja, kalau Tu--, eh, maksudku kamu ... Gavin. Kamu adalah orang yang sama dengan teman kecil Kak Nilam itu."
Gavin memulas senyum. "Mungkin waktu menata wajahku dengan sangat hati-hati dan apik, hingga ia merubahku jadi setampan ini."
"Singkirkan sikap jumawamu itu, Tuan." Nilam mendelik sebal. Berbalas kekehan dari bibir pemuda itu.
"Baiklah, jadi apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?" ulang Kakek Usman ingin tahu segera.
Gavin menarik nafas sesaat, lalu melirik Nilam yang menunggu jawaban, meskipun bukan dirinya yang mengajukan pertanyaan. Namun di lihat dari mimik wajahnya, gadis itu juga tak mengetahui apa yang akan dikatakan lelaki di sampingnya itu.
Gavin kembali menarik senyum. "Aku ingin menikahi Nilam, Kek," lanjutnya, wajahnya di alihkan kepada Kakek dan Hana bergantian. "Aku mohon restu dari kalian."
Nilam terperangah. Lelaki itu, kenapa gercep sekali? Mungkin bisa menandingi kecepatan Jorge Lorenzo.
O wuaw !
Jaka Sembung pergi ke kantor.
Hey Author, kenapa makin gak nyambung?
Hana...? Tentu saja ia terkejut. Mulut mungilnya refleks terbuka dan menganga. Apa?! Lelaki tampan yang baru di lihatnya hari itu, akan meminang sang kakak? Aduhai, beruntung sekali ....
__ADS_1
Namun tidak untuk Kakek, ia lebih terlihat santai dengan senyuman yang terpulas penuh arti. "Kakek setuju."
"Benarkah, Kek?"
"Iya, Gav."
Namun sesaat kemudian air wajahnya berubah muram. Terdiam sesaat, menanggapi kepingan bayangan yang sepertinya begitu miris di rasakannya.
"Kakek, ada apa?" Hana menepuk pundak pria lansia di sampingnya itu.
"Kakek tidak apa-apa, Hana."
"Apa yang mengganggu pikiran Kakek?" Gavin menangkap sirat tak biasa dari wajah Kakek Usman.
Namun tatapan kakek malah di arahkan pada Nilam, yang juga tengah menatapnya khawatir. "Sudah terlalu banyak kepahitan dan penderitaan yang kamu geluti dan kamu lalui, Nak. Terlalu banyak yang kamu korbankan untuk keluarga ini. Sudah cukup rasanya. Dan mungkin sekaranglah saatnya kamu mengecap kebahagiaanmu sendiri."
"Kakek ...." Nilam memandang sendu wajah renta itu.
Kakek hanya tersenyum seraya mengelus lembut pipi halus cucu angkatnya itu. Lalu beralih pandang pada Gavin. "Kakek percayakan semuanya padamu, Gavin. Karena Kakek tahu, Nilam membutuhkan orang sepertimu."
Gavin dengan tatapan heran. "Kakek percaya padaku? Semudah itu? Apa tidak ada syarat yang ingin Kakek ajukan padaku?" tanyanya tak percaya.
"Hanya satu."
"Jangan pernah sakiti dia."
Gavin tersenyum. "Tentu, Kek." Melirik Nilam sekilas. "Aku akan menjaga dan membahagiakannya dengan sepenuh jiwa dan ragaku." Telapak tangannya terjulur meraih telapak tangan Nilam yang terasa dingin dalam genggamannya.
Kakek membalas senyum. "Kakek percaya padamu."
"Terimakasih, Kek."
"Sama-sa-- , tapi tunggu dulu, Gavin. Kakek ada satu permintaan lagi untukmu. Karena Kakek merasa, kamu yang bisa melakukan ini."
Gavin menautkan kedua alisnya. "Apa itu, Kek? Selama aku bisa, maka aku akan lakukan. Apapun itu demi Nilam." Tulus, sungguh-sungguh. Tak ada siasat ataupun menjilat, begitulah sikap pemuda itu saat ini.
"Bisakah bantu Murni keluar dari rumah Juragan Dahlan?" Tanpa basa-basi, Kakek dengan wajah penuh permohonan.
"Benar, Gavin. Tolonglah ibuku. Aku khawatir, apakah dia baik-baik saja atau tidak. Apakah dia bisa makan dengan baik, atau hanya di beri makanan sisa." Wajah memelas milik Hana cukup membuat nurani Gavin tersentuh.
"Hana, jangan berpikiran buruk dulu. Do'akan saja yang terbaik untuk bibi Murni." Nilam berusaha menenangkan.
Gavin terdiam beberapa saat. Meminta bantuan pada Author serbatahu, termasuk menelusup ke dalam hati dan pikirannya, untuk memberinya ide menghadapi Dahlan. Sungguh ia adalah tokoh fiksi yang sangat tahu diri. Sadar karena dasarnya ia adalah robot ciptaan Author sendiri, yang terlahir dari halusinasi tingkat ajip. Wkwk ....
__ADS_1
Tentu saja! Gavin sudah memikirkan ini sebelumnya. Murni, mungkin ia kini dalam hukuman kepongahannya sendiri. Namun Gavin tak mungkin berbahagia sementara satu yang di perdulikan Nilam itu dalam kesusahan. Meskipun ia tahu, wanita itu adalah sumber utama penderitaan gadis yang kini menjadi kekasihnya itu.
"Aku akan berusaha, Kek. Tapi aku tidak janji akan berhasil secepatnya. Karena Dahlan ini bukanlah orang sembarangan yang mudah di luluhkan hanya dengan sebentuk ucapan dan permohonan."
Kening kakek berkerut dalam. "Sebentar, Gavin, kamu mengenali Dahlan?"
Gavin mengangguk perlahan. "Aku memang belum pernah bertemu dengannya. Tapi Kenzie, rekanku, sudah menyelediki banyak perangai orang itu, Kek."
"Kenzie?" Kakek mulai di rayapi bingung.
"Dia orang yang telah menolongku ketika aku pinsan di perkebunan itu, Kek." Sergahan Nilam ini mendapat tatapan tak biasa dari Gavin. Sebuah tatapan yang menyiratkan antara rasa penyesalan dan ... cemburu.
"Kenzie juga yang telah menyelamatkan aku ketika bandot tua itu menyeretku untuk menggantikan Kak Nilam yang hilang waktu itu, Kek. Dan ia juga yang membawa Kakek ke rumah saat Kakek tak sadarkan diri."
"Benarkah? Kalau begitu Kakek berhutang banyak pada orang yang bernama Kenzie itu."
Ucapan Kakek cukup mencubit setitik perasaan Gavin. Begitu banyak yang telah di lakukan Kenzie pada Nilam dan keluarganya. Sementara dirinya ... kemana saja? Sungguh begitu kerdil perasaannya kini. Hhufftt ... bodoh!
"Suatu saat kalian pasti bertemu dengannya. Di acara pernikahanku dan Nilam." Selipan candaan Gavin berbalut senyuman. Berusaha setenang mungkin untuk menutupi kegusaran dalam hatinya.
Kakek tersenyum. "Kamu benar, Gav. Kalau Kakek boleh tahu, apa hubungan kalian dengan Dahlan?"
"Dahlan adalah salah satu kolega bisnis ku, Kek. Kenzie sudah melakukan penandatanganan kerjasama dengannya. Ia adalah pemasok teh tunggal di perusahaanku."
"Teh?"
"Iya, Kek. Perusahaanku sedang mencoba memproduksi minuman beraroma teh. Dan teh milik Dahlan lah, yang paling bisa memenuhi standar kualitas dan kuantitas untuk kelangsungan produksi minuman itu," jelas Gavin.
Kakek tersentak. "Jadi benar, kalian rekan bisnis?"
"Benar, Kek. Aku harus sehati-hati mungkin menghadapi orang ini."
Kakek menghembuskan nafas kasar. "Kamu benar, Gavin. Menghadapi manusia licik seperti Dahlan, sejengkal saja salah melangkah, maka fatal akibatnya, untuk perusahaanmu. Apalagi kalau sampai dia tahu, Nilam sekarang bersamamu."
"Kakek benar, aku harus membutuhkan bantuan Kenzie untuk mengeluarkan bibi Murni dari tempat itu."
"Apapun caranya, berhati-hatilah. Kakek do'akan yang terbaik."
"Iya, Kek, terima kasih."
*****
Hadeuh... Nulis part ini dalam mode Gabut.
__ADS_1
Pengen maen ujan-ujanan gak di izinin Mama😂