Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Rantai cinta yang berbelit


__ADS_3

"Siapa Dahlan yang kalian bicarakan itu?" Seiring penasaran yang membumbung dihati Dalia.


"Dia itu kolega bisnis kami, Bu. Banyak sekali bisnis hitam yang digelutinya. Mulai dari psikotropika, peminjaman uang dengan bunga yang tak sebanding dan lain-lain."


"Apa?!" Dalia sontak terkejut. "Kenapa kalian memilih manusia seperti itu untuk diajak kerjasama?"


"Itulah kesalahan kami, Bu," ucap Kenzie menyesali. "Aku dan Gavin mengetahui semuanya setelah perjanjian kerjasama itu resmi ditanda tangani. Kariernya sangat bersih dalam buku dunia bisnis. Hingga kami tertarik untuk mengajaknya bekerja sama. Karena memang daun-daun teh yang dihasilkan perkebunannya sangat bagus dan memuhi syarat untuk kelangsungan produksi perusahaan Gavin, yang dasarnya mengutamakan kualitas."


"Lalu bagaimana dengan Gavin? Kenapa dia malah memperkeruh keadaan dengan memilih anaknya lelaki itu sebagai pasangan? Tidak bisakah ia mencari wanita lain?" Oktaf suara Dalia sedikit meninggi.


Nilam menuntun kepalanya untuk menunduk. Perasaan gusar yang terlahir dari kalimat Dalia, sungguh tak mampu ditepisnya. Dan ia sungguh merasa bodoh karena sirat itu ditunjukkan pula dihadapan Kenzie. Lelaki yang baru saja ia berikan harapan. Ya Tuhaaannn ....


"Aku belum mendapatkan solusi tentang itu, Bu. Terlebih ...." Ditatapnya Nilam yang masih dalam tunduk dan bisunya. "Mereka akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini."


DEG DEG DEG.


Tanpa mengangkat kepala, Nilam merasa jantung dan hatinya seolah tersetrum oleh ribuan volt listrik. Kedua bola matanya mulai memanas. Lahar bening itu siap meleleh dikedua bilah pipinya.


Tahan ... tahan ...


Air mata, kumohon jangan keluar. Aku harus menghargai perasaan Kenzie.


Sayangnya, harapan sudah diujung tanduk. Satu kedipan sudah membuat buliran-buliran bening itu terjun bebas tanpa hambatan.


Menyadari itu. "Nilam ... kamu kenapa, Nak?" Dalia mendekati gadis itu dan duduk disampingnya.


Kenzie.


Jika tangis itu perlu, maka keluarkankanlah.


Sakit kita memang tak sehaluan. Tak terjurus pada satu titik yang sama.


Tangismu untuknya. Dan tangisku untukmu. Tapi akan ku sembunyikan darimu. Agar tak ada rasa bersalah dalam hatimu untukku.


"Aku ... aku tidak apa-apa, Bu." Nilam mulai mengangkat kepalanya. "Gavin itu temanku juga. Aku hanya merasa khawatir terhadapnya."


Mengusap dadanya dengan bayangan. Mencoba tetap terlihat tegar dihadapan gadis yang dicintainya. "Iya, Bu. Nilam hanya mengkhawatirkan Gavin," timpal Kenzie.


"Begitu...." Dalia dalam kelegaan. "Ibu juga sama khawatirnya denganmu. Gavin itu sudah seperti anak ibu sendiri."


"Dan dia juga sahabat sekaligus saudara untukku." Kenzie menimpali. "Semoga Tuhan selalu melindunginya."


"Amin."


Rasa bersalah seketika menyeruak didada Nilam. Ia bukan orang bodoh yang tak mengerti dengan perasaan lelaki itu. Ditatapnya netra coklat itu sendu. Maafkan aku, Ken.


"Oiya, Bu. Tujuan kami kesini, bukan untuk membahas Gavin, melainkan ...." Diliriknya Nilam dengan senyuman. Lalu digenggamnya telapak tangan dinginnya. "Aku dan Nilam akan menikah."

__ADS_1


"Apa?!" Dalia membelalak. "Benarkah?"


"Iya, Bu." Nilam mulai bisa mengatur nafasnya.


Benar, ia telah mengambil keputusan. Keputusan untuk menerima Kenzie menjadi pasangan hidupnya. Dan melupakan Gavin, meskipun itu sulit. Tapi ia harus melakukannya.


Kenzie terlalu istimewa untuk ia lukai. Jadi biarlah. Mulai detik ini, ia akan berusaha mengganti peran sahabat untuk lelaki itu, menjadi sosok kekasih yang akan dicintainya setulus hati.


"Kalau begitu Ibu sangat senang mendengarnya. Akhirnya rumah ini akan memiliki seorang puteri." Satu tetesan penuh haru menitik dari mata Dalia.


"Ibu ...." Kenzie mengusap telapak tangan yang mulai menua itu lembut.


"Ibu tidak apa-apa, Ken. Ibu hanya terlalu bahagia." Memandang Nilam sejenak, lalu dipeluknya gadis itu erat. "Kamu akan menjadi menantu Ibu, Nak. Dan itu artinya Ibu tidak akan kesepian lagi. Karena kelak kamu akan menghadirkan cucu-cucu yang lucu untuk Ibu."


Membalas pelukan wanita itu, Nilam dalam irama terharu yang mendalam. "Iya, Bu. Cucu-cucu yang lucu itu akan aku lahirkan untuk menghilangkan kesepianmu."


Ditatapnya kedua wanita yang sangat dicintainya itu lekat. Ada kebahagiaan dan ada sebersit rasa bersalah. Karena benar, ia telah membuat Ibunya kesepian selama ini. Dan tentang cucu ... kenapa kata itu sangat menggelitik perasaannya.


Bagaimana kenyataanya, ketika Nilam benar-benar melahirkan keturunan untuknya? Hhuufftt.... Semoga.


*****


Hari-hari berlalu....


Pernikahan Nilam dan Kenzie pun sudah sampai ke telinga Kakek Usman dan lainnya. Mereka terlihat menyambut dengan bahagia. Karena Kenzie adalah sosok lelaki dengan segala kesempurnaan, kebaikan juga tanggung jawabnya. Nilam pasti akan bahagia jika berdampingan dengan lelaki itu. Kecuali Hana.


"Kak Nilam akhirnya kamu yang yang dipilih Kenzie," gumamnya getir. "Tapi kamu memang pantas. Dia itu lelaki sempurna, sesempurna dirimu. Kalian sangat cocok." Diusapnya lelehan itu kembali.


TOK TOK TOK.


Seiring suara ketukan pintu, Hana mengerjap. Dihapusnya dengan cepat kedua pipi basahnya. "Siapa?!"


"Ini Kak Nilam, Hana!" sahutan dari luar.


Menuruni single bed itu tergesa, Hana mulai berjalan ke arah pintu lalu membukanya. "Kak Nilam, ada apa, Kak?"


Menelisik raut tak biasa dari Hana. "Hana, apakah kamu habis menangis?" Nilam ingin tahu.


Tersentak. Kenapa bekas tangis bodoh itu terlihat, sih? "Ti-tidak, Kak," kilah Hana terbata.


"Benarkah?"


"Iya." Hana meyakinkan.


"Kalau begitu syukurlah." Nilam merasa lega. "Oiya Hana, apa kamu mau ikut Kakak ke butik?"


Hana mengernyit. "Butik? Untuk?"

__ADS_1


"Kakak dan Kenzie akan memilih baju pengantin."


DEG!


"Oh." Terdiam beberapa waktu. Ucapan Nilam seolah menjadi sihir yang membuatnya sulit untuk bicara.


Hana ... dan inilah saatnya ia meruntuhkan dinding pertahanan cintanya untuk Kenzie.


Kalau dipikir-pikir... rantai cinta yang terjadi antara Nilam, Gavin, Hana dan Kenzie, sungguh berbelit dan membuat pusing. Haduh! Lagi-lagi tepuk jidat.


"Hana..." Dikibaskan Nilam telapak tangannya didepan wajah Hana yang masih terbengong. "Hana," ulangnya.


Dan berhasil, wajah itupun kembali pada fokusnya. "I-iya, Kak. Aku mau."


"Benarkah? Kamu serius tidak apa-apa?"


"Tidak, Kak. Memangnya Kakak pikir aku kenapa?" Dengan balutan kekehan kecil, Hana menyembunyikan kegalauannya.


"Hana, bisa jawab Kakak, jujur?"


"Eh?" Kenapa wajah Nilam tiba-tiba serius? "Memang apa yang ingin Kakak tanyakan?" tanya Hana heran.


Ditatapnya wajah adiknya itu lekat-lekat. "Apa kamu menyukai Kenzie?"


DEG!


Kenapa Nilam kini sama cerdasnya dengan Kenzie yang mampu menebak isi hati orang lain? "Kak Nilam ini, ada-ada saja. Mana mungkin aku menyukainya? Apalagi dia sekarang calon suami Kakak."


"Kalau dulu?"


Haduh! Kenapa Nilam berubah jadi wartawan, sih? "Tidak, Kak. Aku tidak memiliki perasaan yang spesial pada calon suami Kakak itu." Ia membalikkan badan dan menuntun langkahnya masuk kedalam kamar. Sebagai usaha peralihan atas kebohongannya.


Ya, sedari tadi mereka berbicara dan berdiri diambang pintu. Author jehet!


"Syukurlah." Nilam mengikuti langkah Hana, dan mendudukkan tubuhnya diatas ranjang kecil itu. "Kakak tidak menyangka, Kakak akan segera menikah dengannya. Awalnya Kakak sangat menginginkan dia bersamamu." Pandangan nyalang dibenturkannya pada dinding kamar itu.


Kalimat terakhir itu, sungguh menohok perasaan Hana. Harapan itu juga ada didadaku, Kak. Bahkan sampai detik ini.


"Tapi sepertinya Tuhan malah membelokkan harapan Kakak. Dia menjauhkan Gavin, lalu mendekatkan Kakak dengan Kenzie. Pria yang slalu Kakak harapkan bisa bersamamu, Hana."


"Kak... Sebaik-baiknya rencana, tetap rencana Tuhan yang paling baik. "Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk Kakak." Hana berujar tulus.


Setulus senyuman Nilam. Ditatapnya gadis yang kini duduk disampingnya itu. "Terima kasih, Hana. Kakak akan selalu berdo'a, semoga kamu segera mendapatkan lelaki yang kamu cintai juga mencintaimu."


"Amin."


Dan diakhiri dengan saling berpelukan.

__ADS_1


♡♡♡♡


__ADS_2