
Teriakkan-teriakkan Nilam sepertinya sudah dianggap backsound underground oleh Dahlan. Lelaki tua itu terus mengikuti insting dan hasratnya tanpa mengenal perduli. Masa bodo! Terkam, geluti, puas!
Namun baru saja garis spasi itu mengetik kata 'terkam', tiba-tiba....
JLEB!
"Aarrrrrgggghhhh...!!" Teriakkan histeris lelaki tua itu menggema di seantero ruangan. Satu tusukkan benda tajam membentuk pisau lipat seukuran kelingking anak kecil itu, menghujam punggung kirinya.
Diangkatnya tubuhnya perlahan, lalu menoleh ke belakang seraya mencabut benda yang tertancap tak cukup dalam dipunggung sampingnya. "Mo- Mona ... a-apa yang kau lakukaan...?!" Wajah memerah dengan urat-urat yang timbul mengikuti alurnya, memperlihatkan kesakitan tanpa tipuan.
"Ayo, cepat bangun, kita tinggalkan tempat ini!" Seruan Mona itu tertuju pada Nilam yang masih bergeming dalam lingkar kejutnya. "Ayo!"
Ulangan seruan Mona berhasil membuat Nilam mengerjap. Dengan cepat menggeser tubuhnya menuruni ranjang itu, namun....
"Lepaskan!" Nilam meronta menarik lengannya yang kembali dicekal Dahlan.
"Kau tidak akan bisa membawanya pergi, Mona!" Terus berusaha mempertahankan cekalannya. Walaupun berhias ringisan diwajahnya menahan sakit dari luka nya. Ia berusaha berdiri menegakkan tubuh. Darah segar terus mengalir, hingga tubuh bagian kirinya yang berbalut busana berwarna tosca, kini berganti pekat memerah. "Kau tidak bisa lari dariku, Nilam!"
BUG!
Satu terjangan dari heels yang dikenakan Mona, berhasil melepas cekalan Dahlan. Pria itu jatuh terpental ke belakang.
BRAK!
PRANG!
Barang-barang diatas nakas berjatuhan tertimpa tubuh limbung sang Tiran.
"Ayo!" Ditariknya lengan Nilam untuk sesegera mungkin meninggalkan tempat itu.
"Mona!! Wanita sampaahhh!!!"
Teriring suara logam dan lubangnya yang saling mengisi bekerja sama, pintu dikunci Mona dari luar.
Cukup aneh, penjaga yang selalu sigap berjaga didekat Dahlan, tak satupun menampakkan lubang hidungnya. Kemana mereka?
"Mereka ...?" Mengejutkan! Nilam menatap satu persatu pria-pria kekar yang tergolek itu dengan mata terbelalak.
"Ya, aku meracuni mereka!" Mona menunjuk tiga gelas kopi yang terhidang diatas meja.
"Apakah mereka mati?"
"Tidak! Aku hanya membubuhkan sedikit obat penenang," sahut Mona. "Ayo, mereka akan sadar dalam beberapa waktu."
Maxi dress yang membalut tubuh Nilam hingga ke mata kaki itu, cukup membuatnya sulit untuk berlari. Di tarik dan diremasnya hingga tergulung sedikit melewati betisnya. "Kita akan kemana?" tanyanya masih terus berusaha melangkah cepat.
"Kemana saja, asal kita bisa meninggalkan dan menjauh dari tempat ini secepatnya!"
Menoleh ke arah Mona berkali-kali, beragam pertanyaan sudah menjejali pikiran Nilam. Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia menolongnya?
Tanpa terasa, mereka sudah berlari cukup jauh.
"Kita berhenti dulu." Mona menarik lengan Nilam yang masih melangkah dengan sisa tenaganya. Nafas memburu dengan tubuh dibungkukkan dan telapak tangan yang bertumpu pada kedua lututnya, mulai mencapai titik letihnya. "Aku lelah."
Menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon besar yang berdiri menjulang, Nilam mulai mengatur nafasnya yang tak kalah memburu. Gaun sialan itu sudah kembali menjuntai menutupi kakinya. Lagi-lagi ia harus dihadapkan pada situasi semacam ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mona yang kini sudah berleseh ria di atas rerumputan yang masih lembab karena hari masih menjejak pagi.
__ADS_1
"Ya." Ikut mendudukkan diri disamping Mona. "Kenapa menolongku?" Tak perduli basa dan basi, Nilam menembak kata teriring rasa penasaran yang membumbung didadanya.
Mona, menjatuhkan pandang pada Nilam yang terus menatapnya ingin tahu. Sejenak menelisik wajah cantik itu, lalu tersenyum. "Kau kenal Kenzie?"
Cukup mengejutkan bagi Nilam. Wanita dihadapannya itu terlihat bar-bar, dengan tingkah dan penampilan minimnya. Terhubung dari jalur mana, hingga tiba-tiba ia mendengar nama Kenzie dari mulut gadis itu? "Kau mengenal kakakku?" Menjawab dengan pertanyaan berpulas kernyitan diwajahnya.
"Kakak?" Mona menyusul dengan herannya. "Kenzie kakakmu?"
"Ya, dia kakakku. Kakak kandungku." Nilam menegaskan.
"Aku baru tahu, Kenzie memiliki seorang adik perempuan."
"Karena kami baru saja dipertemukan, setelah 22 tahun lamanya terpisah."
"Wow! 22 tahun? Benarkah itu?"
"Ya," jawab singkat Nilam. "Lalu dirimu? Sejak kapan mengenal kakakku? Dan apa hubungan kalian?" cecar gadis itu.
Memasang senyuman kecut seraya mengalihkan wajah pada lain arah. "Aku dan dia ... teman. Kami dipertemukan secara tak sengaja, saat dia melakukan perjalanan bisnis di LN."
"LN?"
"Ya. Aku tidak bisa menceritakannya padamu sekarang. Kita harus segera menjauh, sebelum mereka berhasil menyusul."
"Ah, kau benar."
"Ayo."
Keduanya pun bangkit dan mulai memapah langkah tanpa alas kaki yang membalut.
Jauh ... semakin jauh.
"Ada apa, Nilam?"
Tepukkan Mona dipundaknya menghentikan gerak mengedar Nilam. Matanya terjurus lurus ke wajah Mona dengan dahi mengernyit. "Kamu ... tahu namaku?" Tanpa menggubris pertanyaan wanita itu, ia berbalik tanya.
Senyuman Mona cukup membuatnya heran. "Sedikit banyak tentangmu, aku tahu dari mulut kotor Dahlan. Dan direktur muda bernama Gavin itu, kekasihmu, kan?"
"Kau juga mengenal Gavin?"
"Ya, aku pernah bertemu dia beberapa kali." Mona menyahut santai.
"Siapa kamu sebenarnya?" Pertanyaan puncak Nilam. Ada sekelebat ketakutan yang menggoda titik hatinya.
Mengawali kalimat dengan senyuman, Mona sepertinya menyadari ketakutan gadis dihadapannya itu. "Aku hanya seorang wanita penghibur."
"A-apa?!" Benar-benar sebuah kejutan untuk Nilam. Bagaimana bisa Gavin dan Kenzie mengenal seorang wanita penghibur? Meresahkan!
"Jangan buat pikiranmu meradang dulu. Aku tidak mengenal Gavinmu. Aku hanya tahu bahwa dia adalah lelaki yang gagal dinikahi Shinta," jelasnya. "Dan untuk Kenzie ... aku banyak berhutang padanya."
Seperti nafas tercekat yang menemukan jalan berhembus, Nilam cukup lega mendengar bahwa wanita itu tak ada kaitan apapun dengan Gavin. "Berhutang? Maksudmu?"
"Ya. Hutang budi ... juga hutang nyawa. Dia selalu berharap aku bisa hidup dengan baik." Menunduk, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi aku tidak bisa. Masa lalu itu seperti sebuah kutukan bagiku." Air mata Mona sukses terjatuh.
"Maaf. Aku memang tidak mengerti apa yang kau alami dimasa lalu. Dan aku juga tidak cukup berhak untuk mengetahuinya. Yang ingin aku tahu, apa yang kamu lakukan dirumah Juragan Dahlan? Kenapa kamu bisa sampai ada disana?"
Mona mengusap jejak air dipipinya. "Kakakmu yang mengirimku kesana."
__ADS_1
"Apa?!"
"Ya. Begitulah kenyataannya."
"Apa alasannya?"
"Untuk mencari bukti kejahatan Dahlan," jawab tegas Mona.
"Kenapa kakakku memilihmu?"
"Ada banyak hal. Dan menyelamatkanmu, semoga termasuk caraku membalas kebaikannya. Sudahlah belum saatnya berumpi ria. Kita harus segera pergi."
Terdiam bererapa saat. "Baiklah. Ayo." Beruntai pertanyaan yang mengantri dibenak Nilam, terpaksa pupus terlontar. Mona benar, mereka harus segera meninggalkan tempat itu.
"Semoga kakakmu berhasil menemukan kita." Mona berujar seraya terus berjalan.
Nilam menolehnya, tak cukup mengerti. "Maksudmu?"
"Aku sudah memberitahunya perihal keberadaanmu, sebelum aku menggagalkan perbuatan keji Dahlan terhadapmu tadi."
"Benarkah? Lalu?"
"Sayangnya ponselku tertinggal. Jadi harapan kita satu-satunya hanyalah benda penyadap di antingku ini." Mona menyentuh benda yang dimaksudnya. "Kenzie akan mendengar setiap percakapan kita."
Cukup membingungkan. Nilam hanya mengangguk menanggapi.
KRAK KRAK KRAK
Suara daun-daun kering yang terinjak, membuat keduanya sadar, bahwa mereka semakin jauh berjalan hingga ke dalam hutan.
"Ah, aku lupa bertanya, siapa namamu, Nona?" tanya Nilam.
"Namaku Mona."
"Oh, Mona. Sepertinya kita berjalan semakin jauh."
"Ya, tapi tidak menutup kemungkinan Dahlan dan orang-orangnya akan bisa menemukan kita."
"Kau benar," balas Nilam. Dan didetik itu juga, langkahnya terhenti tiba-tiba. Wajahnya menengok kesamping. Menatap, terperangah dan tersentak. "Nenek Samiah." Sosok itu berdiri dibawah pohon rindang beberapa meter disamping kirinya.
Tanpa memperdulikan Mona yang sudah berjalan cukup jauh didepan, Nilam mendekati sosok yang terus menatap mengikuti geraknya itu tanpa ekspresi.
Dekat dan semakin dekat.
"Nenek."
"Nilam." Suara itu terdengar seperti sebuah bisikkan.
"Nenek disini?" Tanpa menunggu jawaban, Nilam langsung menghambur memeluk tubuh renta itu. "Aku rindu Nenek." Dalam haru penuh kerinduan, Nilam merasakan ada seseuatu yang aneh pada sosok yang di peluknya. Kenapa tubuh Nenek terasa dingin sekali?
Tunggu! Danu pernah bercerita, cerita tentang Bibi Kedasih, ibunya Didy yang didengarnya dari Almarhumah Mbok Parmi sesaat sebelum ajalnya menjemput. Danu mengatakan pada Nilam kala itu, bahwa ibunya Bibi Kedasih sudah tewas ditangan Dahlan.
Dan dari mimpi yang berulang kali dialaminya, Nenek Samiah mengatakan bahwa Didy adalah cucu kandungnya. Dengan kata lain ... Bibi Kedasih adalah anak dari Nenek Samiah. Dan itu berarti, Nenek Samiah ....
Sudah mati !
...••••...
__ADS_1
Bersambung....