Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Pengusik Receh


__ADS_3

Setelah melalui perdebatan yang tak panjang namun mampu menurunkan arogansi Briana , Gavin akhirnya membawa Nilam pergi meninggalkan sang ibu yang terpaku dengan kekalahan telaknya.


Memacu mobilnya dengan kecepatan medium, ia berlalu dari rumah megahnya. Membelah jalanan di akhir senja.


Setelah menghabiskan beberapa jam perjalanan, akhirnya sampailah ia dan Nilam di sebuah tempat.


"Kita akan kemana, Gav? Kenapa mataku di tutup seperti ini?"


"Sebentar lagi sampai."


Gavin terus melangkah menuntun Nilam yang berjalan kaku, karena kedua mata gadis itu di tutupinya dengan sehelai kain. Entah apa yang akan di lakukan pria itu.


Hingga beberapa saat kemudian ....


"Kita sampai."


Gavin mulai membuka simpul tali di belakang kepala Nilam dan melepasnya.


Setelah mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya, Nilam di buat takjub dan menganga oleh apa yang di suguhkan Gavin di hadapannya.


Sebuah hamparan danau yang luas nan indah. Dengan jejeran pohon cemara yang berbaris di sekeliling tepian. Di tengahnya, bayangan bulan yang bercermin menambah syahdunya irama malam itu.


"Gavin .... ini dimana?" Mata indah Nilam masih enggan untuk berkedip. "Cantik."


Gavin tersenyum. Tubuhnya yang semula berdiri di samping Nilam, kini bergeser ke belakangnya. Perlahan mulai melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping kekasihnya tersebut. Dan pundak gadis itu menjadi sanggaan dagunya. "Bagaimana, suka?"


Nilam melirik lelakinya. Seulas senyuman manis menjadi satu jawaban pembuka. "Sangat. Sangat suka. Terima kasih."


Membalas senyum seraya merekatkan pelukannya. "Syukurlah kalau kamu suka."


Malam dan gelap itu adalah satu kesatuan.


Bulan dan bintang juga tak ingin di pisahkan.


Dua pasang suratan Tuhan yang menjadi background termanis untuk dua sejoli yang kini tengah berdiri saling bertaut di atas pijak sama.


Air danau yang tenang, sesekali di goda angin. Menyapu membentuk ombak-ombak kecil yang seolah saling mengejar.


Nilam dan Gavin. Keduanya menikmati sang waktu dalam rengkuhan cinta yang mengalun semakin indah dan membuai.


Sungguh romantisme yang menyejukkan. Namun menggerahkan bagi yang tidak memiliki pasangan.


Ups!


Setelah beberapa lama.


"Gav ...."


"Hmm...."


"Kita akan sampai kapan begini?"


"Biarkan sebentar lagi."


"Tapi ini sudah terlalu malam."


"Apa kamu mengantuk?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku kedinginan."


"Benarkah?" Gavin melepaskan pelukannya. Membalikkan tubuh gadis itu menghadapkan ke arahnya. Ia menangkup kedua pipi Nilam yang memang sudah selayaknya es. "Benar, kulitmu dingin sekali. Baiklah, ayo kita pulang."


"Pulang?"

__ADS_1


Gavin mengernyit. "Ya ... ya pulang. Bukankah kamu sudah kedinginan dan ingin pulang?"


"Ma- maksudku ... apa kamu akan membawaku kembali pulang ke rumahmu?"


Untuk sejenak Gavin berpikir. Cukup di fahaminya maksud dari ucapan Nilam, yang pasti masih belum siap untuk bertemu Briana kembali. "Kita ke apartemenku saja," jawaban akhirnya.


Raut kelegaan terpancar di wajah Nilam. "Baiklah."


"Ayo."


****


Sesampainya di tempat tujuan.


Gavin menekan passcode pintu apartemennya.


"Ayo masuk," ajaknya. Dan anggukan Nilam menjadi jawaban.


Mengedar pandangan ke sekeliling, Nilam terpana melihat setiap detail kekinian yang terpasang di ruangan itu. Meskipun jauh lebih kecil dari rumah megah Gavin, namun hunian ini pun juga tak kalah mewah bagi dirinya yang terbiasa tinggal di rumah sederhana milik Kakek Usman.


Ia terus berjalan mengikuti Gavin yang menuntunnya menuju sebuah kamar. "Ini kamarmu, Gav?"


"Iya." Gavin berjongkok di hadapan Nilam yang sudah mendudukkan dirinya di atas sebuah ranjang. "Maafkan aku."


Dan pernyataannya itu jelas membuat Nilam terheran. "Kenapa minta maaf?"


Menyambut belaian halus Nilam di pipinya, Gavin menggenggam pergelangan tangan gadis itu. "Maaf, membawamu ke sini." Guratan sendu terpampang di wajah tampannya.


"Lalu kenapa?"


"Karena tempat ini adalah tempat yang pernah di tinggali Anita tiga tahun yang lalu itu."


Di luar dugaaan Gavin, sebuah senyuman tulus malah di sunggingkan bibir manis Nilam. Gadis itu menariknya untuk bangkit. Lalu meminta sang pujaan untuk duduk di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa. Masa lalumu tidak akan berpengaruh apapun padaku. Aku hanya melihatmu yang sekarang," tutur Nilam lembut. "Tapi sepertinya malah kamu yang merasa tidak nyaman dengan tempat ini?"


"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Apa kita harus keluar dari sini sekarang? Agar kamu merasa nyaman," pungkas Nilam.


Gavin menggeleng cepat. "Tidak, tidak perlu. Ini sudah terlalu larut. Biar saja untuk malam ini kita di sini. Sekarang beristirahatlah. Aku akan tidur di kamar satunya."


"Benar kamu tidak apa-apa?"


"Iya." Gavin berdiri, lalu menuntun Nilam untuk berbaring. Membalutkan selimut tebal itu ke tubuh kekasihnya tersebut. "Tidurlah." Mengecup keningnya dalam.


Sesaat saling menatap. Tatapan berhias senyum. Senyuman penuh bahagia, penuh cinta ... dalam satu bingkai yang sama.


"Selamat malam," ucap Gavin mengakhiri iramanya.


"Selamat malam."


****


Keesokan harinya.


Usai sarapan pagi, Gavin mengajak Nilam kembali pergi ke kantornya.


Dan setibanya di kantor, tepatnya di lobby.


"Pak Gavin," panggil Asty yang sudah berdiri di depan meja resepsionis. Ada mimik tak biasa dari irasnya. Sebuah tampilan kebingungan.


"Ada apa, Asty?"


"Itu, Pak. Anu .... Tadi pagi-pagi Nona Shinta datang mencari Bapak."


"Shinta? Siapa?"


"Itu, Pak, model iklan itu."

__ADS_1


Sejenak Gavin mengingat. "Oh, dia. Ada apa dia mencariku? Bukankah kontraknya sudah di urus Kenzie?"


"Saya ti--"


"Hallo, Tuan Gavin," sapa seorang wanita cantik dengan tampilan seksinya. Melangkah berlenggok ke arah Gavin layaknya Nagin, di ikuti seorang pria di belakangnya. Shinta!


"Nona Shinta. Ada yang bisa saya bantu?" sahut Gavin setelah berbalik badan melihat si penyapa.


Shinta memasang senyum semanis mungkin. "Akhirnya kita bertemu juga. Ini saya bawakan makanan untuk sarapan." Menyodorkan satu paperbag kecil berisi kotak makanan. Menjilat apapun yang bisa di jilat layaknya seekor anjing.


Menjijikan!


Tanpa memperlihatkan sirat malasnya, Gavin menerima kantong kertas itu. "Terimaksih, Nona Shinta."


"Sama-sa--, aww!" pekik Shinta. Ia menoleh ke belakang, memastikan siapa yang telah menepuk pundaknya sekeras itu. "Sony! Ada apa?!" tanyanya keras.


"Nona Shinta ... di- dia ...." Tatapannya terjurus lurus ke arah Nilam.


Shinta mengikuti arah pandang lelaki yang ternyata adalah pengawal pribadinya itu. "Ada apa dengan dia?"


Nilam dan Gavin juga Asty menatap heran ke arah lelaki bernama Sony itu.


"Ada apa dengan calon isteriku?" tanya Gavin.


"A- apa calon isteri?" Shinta dengan ekspresi terkejut.


Tak terkecuali Asty. Nuri calon isteri Pak Gavin...?


"Iya, dia kekasihku, calon isteriku."


Tanpa memperhatikan keterkejutan Shinta, dan ucapan Gavin, mata Nilam malah saling beradu tajam dengan lelaki pengawal Shinta tersebut. Keduanya dengan mimik yang sama-sama membelalak.


"Di- dia ...." Bukankah dia lelaki yang menyeretku di pasar waktu itu?


"Nona Shinta, aku tahu perempuan itu."


Ucapan sang bodyguard sukses mengalihkan perhatian Shinta. "Kau mengenalnya?"


"I- iya. Dia gadis belatung itu."


"Brengsek! Apa maksudmu menyebutnya gadis belatung?!" Dengan marah Gavin maju dan menarik kerah kemeja yang di kenakan Sony.


"I- iya, Tuan. Aku tidak bohong. Dia memang gadis belatung yang di pasar itu."


"Tuan Gavin, tolong lepaskan pengawalku. Biarkan dia menjelaskan dulu," pinta Shinta. "Sony, tolong jelaskan apa maksudmu?"


Dengan kasar Gavin melepaskan cengkramannya. "Katakan!"


"Benar, Nona Shinta, aku pernah bertemu wanita itu di pasar desa."


"Lalu?"


"Waktu itu, bosku, preman pasar, memintaku dan kedua temanku untuk membawanya ke markas kami. Dan setelah di markas, karena penasaran, bos membuka paksa kain hitam di kepalanya itu. Dan setelah terbuka...." Bergidik jijik. "Seluruh kepalanya di penuhi belatung yang menakutkan. Hingga bos melepaskannya karena jijik."


"Apa katamu?!" Gavin mulai geram. Dan ....


Bugh!! Satu pukulan keras di hadiahkannya di perut Sony. Hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Gavin, jangan!" teriak Nilam menahan tubuh Gavin yang berniat menghajar kembali pemuda itu.


Semua penghuni kantor mulai berkerumun.


"Berhenti, Tuan Gavin. Kita buktikan saja ucapan Sony," ujar Shinta. Ia lalu menarik lengan Nilam dan menjauhkannya dari Gavin. "Aku ingin tahu kebenarannya," sejenak ia menelisik penampilan Nilam dari atas hingga ke bawah. Hingga kemudian telapak tangannya mulai melayang mendekati wajah Nilam.


Dan ....


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2