
Jangan takut!
Kisah sampah ini akan mencapai bait klimaks.
'Hurt', sebuah lagu yang berasal dari suara merdu Christina Aguilera terdengar mendayu-dayu. Boleh katakan bahwa dia kini sedikit melow, dan melenceng dari julukan machonya. Masa bodo!
Karena tak elak, semua yang macho, keren, bahkan sangar pun, juga memiliki titik dimana hati itu menjumpai rapuhnya. Tepiskan munafik!
Kenzie.
Meresapi setiap bait lagu itu seraya terus memutar lingkar stirnya, membelah jalanan menuju tempat dimana keluarga Hana berada. Rumah singgah.
Ia melenggang pulang dari kantor Gavin, usai berkutat dengan segala gawainya yang dikerjakannya sekena dan sesuka hati. Karena terbentur dengan segala masalah pribadinya.
Pencarian Hana masih dilakoninya, secara personal juga dengan bantuan Gavin dan lainnya. Namun usaha itu, masih tetap menjadi perjuangan. Karena bahkan untuk sekelebat bayangannya pun, keberadaan Hana masih menjadi misteri.
Poor ....
Disela keresahan itu, ada suara tak biasa yang berasal dari perut pria tegap nan tampan itu. Musik bergenre kroncong berteriak meminta sumbangan. Hhu ... sang cacing menuntut hak dan jatahnya.
Tujuannya sebenarnya sudah tak lagi jauh, namun perhatiannya tertuju pada sebuah plang membentuk anak panah bertuliskan nama sebuah resto. Diikutinya kemana arah plang itu terarah. "Kenapa aku baru mengetahui ada resto di sekitar sini? Sepertinya baru," gumamnya seraya terus melaju. Dilaluinya sebuah jalanan yang hanya muat untuk satu mobil dan satu sepeda motor saja.
Selang beberapa menit, akhirnya ia sampai ditujuannya. Diparkirkannya mobil ditempat yang sudah tersedia. Dan mulai turun melangkah memasuki resto sederhana namun sangat nyaman dengan segala dekorasinya.
Cukup ramai pengunjung untuk sebuah resto baru.
Dipilihnya satu kursi kosong dipojok ruangan. Satu lambaian tangannya dimengerti seorang perempuan muda berseragam pelayan.
"Ini saja, Tuan?" tanya waitress itu usai menerima pesanan Kenzie, seraya mencatatnya pada sebuah nota kecil yang digenggamnya.
"Iya."
"Baik. Pesanan Anda akan segera tiba. Mohon sabar menunggu." Hanya sebuah anggukkan di gerakkan Kenzie.
Mengedar pandangannya ke sekeliling. "Cukup nyaman." Kenzie tersenyum.
Beberapa pasang mata milik wanita-wanita pengunjung tak lepas memendar kagum pada sosoknya. Kicauan-kicauan dengan wajah berbunga seolah melihat sosok Legollas, si peri hutan dengan busur panah dalam gendongannya, berada ditengah-tengah mereka.
Ssstttt ... padahal penulis receh ini yang syuka Babang Orlando. wkwk!
Oh, God ... it's a great day!
Dia tampan sekali ....
Berutung kita datang kesini hari ini....
Pekikan-pekikan itu terdengar sangat jelas. Kenzie hanya tersenyum menanggapinya. Bukan lagi lakon langka baginya. Terlalu biasa.
Tak lama, pesanan itu datang dan mulai dihidangkan dimeja Kenzie. Ia mulai menyantapnya dengan elegant dan penuh perasaan. Belum habis makanan itu seluruhnya, ia sudah menaruh sendok itu ke piring makanannya hingga menghasilkan suara berdenting. Lalu melanjutkan dengan menyantap secomot dessert sebagai penutup.
Hingga sebuah suara bariton berhasil mengusik irama tenangnya.
"Tuan Kenzie."
Kenzie pun mendongak. Sesaat menelisik pria yang berdiri dihadapannya. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pria itu tersenyum. "Ya, kita pernah bertemu. Tapi memang Anda tidak akan mengenali saya," ujarnya. "Boleh saya duduk?"
"Silahkan."
"Terima kasih," balasnya. "Oh maaf, kita belum bersalaman," ujarnya seraya menjulurkan telapak tangannya, yang kemudian diterima Kenzie. "Saya Jian, mahasiswa yang dulu pernah mengikuti seminar Anda di gedung putih dalam rangka merangkul anak-anak jalanan yang terlantar. Saya sangat kagum pada Anda."
Kenzie tersenyum. "Oh, itu sudah lama sekali. Tapi Anda masih mengingat saya."
__ADS_1
"Seperti gunung, yang meskipun meletus dan hancur, tapi akan selalu dikenang. Begitulah filosofi orang hebat dan baik seperti Anda."
"Anda terlalu memuji, Tuan Jian. Aku tidak sehebat itu." Tetap dengan senyumnya.
"Tidak. Itu memang fakta. Anda memang orang hebat."
"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas pujian Anda," ucap Kenzie. "Oiya, Tuan Jian, Anda ingin pesan makanan atau minuman? Biar saya pesankan."
Kali ini Jian memasang sebuah senyuman geli. "Tidak, tidak perlu, Tuan. Kebetulan saya pemilik resto ini."
"Oya?"
Jian mengangguk. "Benar, Tuan. Resto ini baru kurang dari dua bulan saya dirikan. Masih dalam tahap promosi dan pengembangan."
"Tapi ini cukup ramai untuk permulaan. Mungkin kedepannya akan lebih meledak lagi. Dan makanannyapun sangat enak."
"Wow, terima kasih. Saya senang Anda menyukainya."
"Lain waktu saya akan membawa keluarga saya kesini," ujar Kenzie.
"Akan sangat menjadi kehormatan untuk sa--"
"Jian! Tolong, Ji. Dia terus saja muntah-muntah. Tubuhnya semakin lemah. Aku kasian melihatnya." Ami, datang tergopoh dengan seragam koki lengkap dengan penutup kepalanya, memungkas telak kalimat Jian dengan raut cemas diwajah tembemnya.
Jian? Tentu saja tak kalah cemas. "Oke aku kesana." Lalu beralih kembali pada Kenzie yang cukup terkejut. "Tuan Kenzie maaf, aku ke dalam dulu. Temanku sakit."
"Boleh aku ikut melihatnya?"
Sejenak Jian terdiam. "Baiklah. Mari, Tuan."
Ketiganya melangkah tergesa menuju sebuah ruangan dimana Ami berada sebelumnya.
Sebuah pemandangan mengenaskan. Hana, bersandar mengikuti bentuk sebuah kursi rotan yang memanjang dengan sandaran sedikit dimiringkan. Wajah pucat bermandi keringat menunjukkan segala yang dirasakannya.
Namun tak ada jawaban, Hana mematung. Tatapannya terjurus lurus pada sosok yang berdiri disamping Ami, dengan bola mata membulat sempurna. Kenzie....
Dan pria yang disebutkan Hana didalam hatinya itu, juga tak kalah membelalak. Sosok itu ... sosok yang dicarinya selama hampir sebulan ini, hingga mencapai level frustasi tingkat akhir itu, kini ada dihadapannya.
Sepelik inikah takdir memainkan perannya? Tempat ini hanya beberapa kilo saja dari rumah singgah. Dan ia mencari gadis itu bahkan hingga ke bandara dan pelabuhan. Ya, Tuhan ....
Sungguh ironi.
"Hana...."
Mendengar Kenzie menyebutkan nama itu, juga tatapan bulat Hana, membuat Jian dan Ami memandangi kedua orang itu bergantian dengan tatapan Heran.
Jian mengangkat tubuhnya lalu berdiri. "Tuan Kenzie, Anda mengenalinya?" Dalam terjangan keterkejutan.
Tanpa mengindahkan pertanyaan Jian, Kenzie menghambur diri ke arah Hana, lalu menarik dan memeluk tubuh lemah itu erat, seerat-eratnya. "Maafkan aku ... maaf." Beriring gumpalan penyesalan tiada tanding. "Aku mencarimu selama ini. Kenapa kamu harus lari?" Dan tangis itupun pecah menghias wajahnya.
Hana masih terdiam. Hanya buliran air yang mengalir menganak sungai, yang bisa disuarakannya. Terlalu mengejutkan!
Jian dan Ami masih bergeming ditempatnya. Tak ada bait kata yang terucap. Tak ada gerak untuk terlibat. Silent!
Pelukan itu dilepas Kenzie perlahan. Diusapnya air mata dikedua belahan pipi Hana. "Maafkan aku. Aku sangat berdosa padamu. Sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu. Ak--"
Ucapan penuh rasa bersalah itu, terpotong, karena Hana menutupkan tiga jarinya menyumbat laju kalimat Kenzie. "Ini bukan salahmu. Aku yang terlalu terbuai perasaan."
"Tidak! Aku yang salah. Aku menjadikanmu pelampiasan dari patah hatiku. Maaf ...."
Merengutkan wajah. "Patah hati? Maksudmu?" tanya Hana heran.
Sesaat Kenzie terdiam. "Aku tidak jadi menikah dengan Nilam."
__ADS_1
"Apa?!" Hana tersentak. "Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Dihari yang sama saat ... saat aku ...." Ada kilatan menyakitkan saat ia mengingat semua yang telah dilakukannya terhadap gadis dihadapannya kala itu. "Saat aku melakukan kebodohan itu terhadapmu. Aku mengetahui kenyataan, bahwa Nilam adalah adik kandungku," terangnya.
"Apa katamu?!" Dan Hana, terang saja terlonjak dengan segala bentuk ekspresi dan perasaan terkejutnya. Ia menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya dengan mata membola. "Kak Nilam ... adikmu?"
Kenzie mengangguk membenarkan. "Ya, Nilam adikku. Adik yang selama 22 tahun lamanya menghilang."
"Tapi dari mana kamu mengetahui bahwa Kak Nilam itu adikmu yang hilang?"
"Ibuku menemukan semua buktinya dari tangan kakek Usman."
Lebih dari luar biasa. Kenyataan ini sungguh membuat Hana tak lagi mampu berkata.
"Hana, ikutlah pulang denganku. Aku akan mempertanggung jawabkan semua kesalahanku terhadapmu." Kedua telapak tangan Hana sudah digenggam Kenzie dengan raut penuh permohonan.
"Tap- tapi ...."
"Aku mohon. Semua sangat merindukanmu. Terlebih Ibu, kakekmu dan juga Nilam."
Nama yang diabsen Kenzie itu seperti sebuah sihir untuk Hana. "Aku juga rindu mereka."
"Maka dari itu, kita pulang."
Pandangan Hana kini berlabuh pada Jian, pria itu dengan segala harapannya, kini sudah pasti hancur berkeping-keping. Ada kilatan tak tega dalam hatinya, mengingat semua kebaikan pria itu terhadapnya. Meskipun iya, penolakkan sudah di lontarkannya secara gamblang dan penuh kejujuran.
Kenzie mengikuti arah pandang Hana. "Tuan Jian, apakah Anda yang merawat Hana selama ini?"
Jian tersenyum. "Benar, Tuan. Saat itu saya menolongnya karena dia sempat pingsan. Saat sadar dan saya tanya kemana tujuannya, dia menjawab bingung dan tak punya arah. Akhirnya saya menawarkannya untuk bekerja disini," tutur Jian menjelaskan.
"Benarkah? Kalau begitu aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Anda, Tuan Jian. Dia ini calon isteriku. Ada kesalahan yang ku perbuat, yang membuatnya pergi."
Penuturan Kenzie itu, cukup menimbulkan gelenyar hangat dihati Hana. Calon isteri....
"Oh, kalo begitu, ini adalah sebuah kebetulan yang membahagiakan," ujar Jian dengan senyuman getirnya. Namun tak cukup disadari Kenzie.
"Anda benar. Kalau begitu hari ini saya akan membawanya kembali pulang. Kamu mau, kan, Hana?"
Untuk beberapa detik Hana terdiam, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Di akhiri dengan senyuman. "Aku mau, Ken. Tapi ...." Secara tiba-tiba wajahnya berubah sendu dan muram.
"Tapi apa?"
"Aku ...."
"Jangan takut. Ada aku. Bicaralah."
"Hana sedang mengandung, Tuan." Suara Ami tiba-tiba mengudara. Bibirnya terlalu gatal untuk tidak melanjutkan tujuan kalimat Hana yang cukup dimengertinya.
Sontak! Kenzie menoleh ke arahnya. "Maksudmu?"
"Hana sedang hamil. Mungkin itu yang membuatnya cukup ragu untuk kembali." Jian mengambil jawaban.
"Hamil?" Pandangan Kenzie sudah beralih pada Hana. "Benarkah itu, Hana?!" Di pegangnya kedua pundak ringkih itu.
Lalu sebuah anggukkan tipis Hana, membuat perasaan Kenzie seketika mengembang penuh haru. Tanpa babibu, diraihnya kembali tubuh itu untuk dipeluknya. "Itu artinya aku akan menjadi seorang ayah." Tangisan haru menyeruak meliputi muda-mudi prahalal itu.
Hmmm .... nikah dulu lah!
Jian ....
Jika orang itu adalah Tuan Kenzie, maka aku sudah pasti kalah , bahkan sebelum aku berjuang mendapatkan hatimu, Hana. Dia terlalu sempurna.
Ahh... sudahlah.
__ADS_1
...°°°°°...