
"Aku tidak menyangka, bahwa wanita yang di bicarakan orang - orang di lobby itu adalah kamu." Kenzie terkekeh.
"Benarkah? tanya Nilam. "Aku benar - benar jadi bahan gunjingan orang - orang di kantor ini." Ia menunduk muram.
"Tidak apa - apa. Mereka hanya membicarakan kerudung yang kamu pakai."
"Kerudung?" Nilam menyentuh kepalanya.
Benar, ia memang belum menceritakan tentang pertemuannya dengan Nenek Samiah pada Kenzie.
"Iya, kalau aku boleh tahu, kenapa kamu menggunakan penutup kepala seperti itu? Bukankah rambutmu sangat indah."
"Eh...." Nilam terdiam sesaat. "Ini karena...."
"Karena apa? Ceritakan saja. Sepertinya masih banyak cerita yang belum aku ketahui tentangmu. Tidak usah ragu. Aku bisa menjadi pendengar yang baik."
Nilam menatap Kenzie sesaat. Lalu mulai membuka mulutnya perlahan. "Usai pelarianku dari rumah Juragan Dahlan...."
Di batas waktu yang singkat, Nilam mulai menceritakan segala yang terjadi padanya tanpa sensor sedikutpun pada Kenzie.
Entah mengapa, baginya Kenzie seperti sebuah oase yang bisa melepaskannya dari panas dan dahaga. Hingga sebuah kepercayaan bisa dengan mudah di sematkannya pada pria itu.
"Aku tidak menyangka, hidupmu sepelik itu. Sebenarnya aku sudah mendengar sebagian cerita tentangmu dari Hana. Tapi... setelah aku mendengar seluruhnya darimu, aku merasa, aku memiliki kewajiban untuk melindungimu. Dari apapun dan dari siapapun." Tatapan mata Kenzie berbalut kesungguhan.
Degg!!
Seolah dejavu, Nilam merasakan kalimat terakhir lelaki itu pernah di dengarnya dari mulut seseorang sebelumnya.
Umm.... Gavin! Iya, Gavin. Baru kemarin siang lelaki itu juga menuturkan kalimat yang sama persis seperti yang di ucapkan Kenzie barusan. Kenapa bisa begitu?
Dan kini... ada dua lelaki tampan yang memasang badan, bersedia menjadi tameng pelindung baginya. Ya, Tuhan... aku harus apa? Antara bersyukur dan bingung. Begitulah yang di rasakan Nilam kini.
"Te- terima kasih, Ken." Sebuah jawaban ragu yang di hadiahkan Nilam untuk lelaki di hadapannya.
Kenzie tersenyum tanpa melihat sirat kebimbangan di wajah cantik itu. "Sama - sama, Nilam."
Ya, Kenzie memutuskan untuk tetap memanggil nama asli gadis itu, lain halnya jika di hadapan Gavin atau siapapun, barulah ia akan memanggilnya dengan sebutan Nuri, sesuai permintaan sang mpunya nama.
__ADS_1
Seketika itu Nilam mengingat sesuatu. "Oiya, Ken, tadi kamu bilang Hana. Apa itu artinya kamu sudah bertemu dia kembali, setelah pertemuan kita waktu itu?" tanya Nilam antusias.
Kenzie mengangguk dalam ritme yang pelan. "Ya... bahkan, aku sempat membawa kakekmu ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Memangnya kakek kenapa, Ken?" Perasaan rindu dan cemas berbaur menjadi satu.
"Saat itu...." Selanjutnya Kenzie menggelar cerita alur mundur, mengangkat kembali ingatannya tentang tujuannya datang ke rumah kakek Usman saat itu, dan tentang Hana yang di paksa menggantikan Nilam untuk di nikahi Juragan Dahlan, hingga kakek renta itu berakhir di rumah sakit. "Aku rasa kakekmu jatuh sakit karena dia mengkhawatirkanmu," ucap Kenzie di akhir ceritanya.
Nilam menatap Kenzie sendu. Sebuah tatapan yang melukiskan perasaan takut, cemas, dan rindu yang bergabung menjadi sebuah paket lengkap terlukis dengan nyata di wajah itu. Ingin pulang, begitu kesimpulannya.
"Aku bisa mengantarmu pulang ke desamu, jika kamu mau," ucap Kenzie memahami benar air muka gadis itu.
Nilam terperangah tak percaya, namun sangat jelas terselip binar harapan disana. "Benarkah, Ken?"
"Tentu saja."
"Aku mau, Ken. Aku mau...."
"Kamu mau apa, Nuri?" Suara Gavin tiba - tiba mengudara di ruangan itu, memecah kedamaian adu cakap Nilam dan Kenzie. Hingga keduanya menoleh ke arah asal suara bermode bass tersebut. Lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu, dengan tatapan seolah akan menelan kedua manusia beda gender itu hidup - hidup.
"Gavin...." suara lemah Nilam.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Ken?" tanya Gavin masih dengan tatapan tak suka.
Kenzie terkekeh kecil. "Tadinya aku ke sini untuk mengambil berkas yang ku butuhkan, tapi aku malah menemukan gadis lucu itu," jawan Kenzie jujur. Lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Gavin. "Aku hanya mengajaknya makan siang, Gav. Dan seperti yang kau lihat, Sobat. Dia begitu bersemangat. Kau tahu karena apa?"
"Apa?"
"Karena aku memperlihatkan padanya menu - menu makanan di ponselku, yang bahkan namanya pun belum pernah dia dengar. Lucu sekali kan gadismu itu," bisik Kenzie di telinga Gavin, ia lalu terkekeh seolah merasa lucu.
Dan ajaib, Gavin dengan mudah mempercayai kilah sang penopeng. "Benarkah Nuri?" Ia mulai melangkah ke arah gadis itu.
"Eh...?" Yang di tanya tentu saja mengerjap keheranan. "Ma- maksudmu?"
"Kamu lapar?" tanya Gavin lagi yang kini sudah terduduk di samping Nilam.
Satu kedipan mata Kenzie, langsung di fahami Nilam. "I- iya, Gav. Aku memang lapar," jawab Nilam malu - malu.
__ADS_1
"Ya, Tuhan.... Apa sarapanmu tadi pagi di rumahku itu belum cukup?" Gavin tak habis pikir.
"Dia hanya tergiur makanan Jepang yang aku perlihatkan tadi, Gav." Lagi - lagi, Kenzie memberi kode ajaib yang langsung di fahami Nilam.
"Benar begitu, Nuri?"
Nilam melirik Kenzie sekilas, dan terlihat pria itu mengangguk. "I- iya, Gav. A- aku ingin makan makanan itu." Lalu tersenyum kikuk.
Gavin terkekeh. "Baiklah, siang ini kita cari restoran Jepang. Aku akan belikan apapun yang ingin kamu makan." Ia lalu mengasak gemas pucuk kepala Nilam.
"Benarkah?" tanya Nilam tak percaya. Niat hati mencari alasan, namun lelaki di hadapannya itu malah dengan serius mengabulkan. Timbul sedikit rasa bersalah dalam hatinya, karena tak pernah berterus terang pada lelaki itu tentang siapa dirinya sebenarnya.
Entah mengapa, melihat sikap penuh perhatian Gavin yang di tujukan pada Nilam, membuat hati Kenzie sedikit berdesir perih.
Aku melihat tatapan cinta itu dari wajahmu, Gav. Terlebih jika kau mengetahui bahwa Nurimu itu adalah Nilam yang kau rindukan selama ini. Begitupun sebaliknya, jika Nilam menyadari siapa dirimu sebenarnya. Aku yakin, aku akan kalah sebelum memulai. Tapi aku akan tetap berusaha, untuk menguasai hati Nilam tanpa sepengetahuanmu, Gav....
"Ken... apa kau akan terus berdiri di situ?" Sepertinya hari ini Gavin dalam mode senang mengejutkan orang - orang di sekitarnya.
Keluar dari dunia lamunannya, Kenzie memasang kembali topeng santainya. Ia memasukan kedua telapak tangan ke dalam saku celananya, seraya memasang senyum yang jelas hanya sebuah klise. "Baiklah, aku tidak akan menjadi pengganggu. Lanjutkan apa yang ingin kalian lakukan."
"Baguslah jika kau mengerti." Gavin dengan seringainya.
"Baiklah, aku pergi. Aku titip salam pada shasimi dan sukiyaki nanti siang."
"Oke, dengan senang hati. Untuk berkas yang kau butuhkan, aku akan meminta Asty mengantarkannya ke ruanganmu."
Kenzie mengangguk tersenyum seraya mengibaskan sedikit telapak tangannya di ujung pelipisnya ke arah Nilam.
Nilam di landa bimbang. Ingin sekai ia mengejar Kenzie yang mulai hilang di balik pintu, untuk memastikan bahwa lelaki itu benar - benar bisa mengantarkannya pada sang kakek di desa.
Sebenarnya bisa saja ia meminta bantuan Gavin. Namun karena Kenzie sudah lebih banyak mengetahui sisi kehidupannya di banding Gavin, maka dari itu ia lebih memilih Kenzie sebagai wadah segala kebimbangannya.
...****************...
Bersambung zeyenkkk...
*Tuangkan cinta kalian untuk ceritaku ini, y**a*...
__ADS_1
Dengan meninggalkan jejak like and coment, juga save dikolom Favorite.. Untuk yang mau ngevote mah, anggep aja Bonusssss....😁🤗🤗😗