
Pukul 09.30 malam.
Mobil BMW i3 yang di kendarai Gavin terhenti di halaman sebuah bangunan berlantai dua yang berbentuk memanjang. Dengan beberapa pintu terjejer di bagiannya.
Nilam turun lebih dulu sebelum Gavin menyibakkan pintu mobil itu untuknya.
"Sayang, kenapa turun duluan?!"
Tanpa mengindahkan seruan Gavin, gadis itu terus melangkah. Tubuhnya berputar mengedar sekeliling. Pohon-pohom cemara yang berdiri rindang tumbuh berjejer dengan jarak yang selaras di sekitarnya.
Daun-daunnya menari meliuk-liuk dibelai terpaan angin yang melintas selembut kapas.
Seolah menyambut kedatangan sang peri kecil yang siap bertandang dan bertengger di tangkainya.
Hiasan lampu-lampu bundar memutih yang berdiri menjulang, membuat suasana semakin kontras dengan pekat milik sang malam.
Disetiap sudut, warna-warni bunga dengan variasi beragam, menambah kesempurnaan pemandangan yang terlahir dari sebuah keagungan itu.
"Disini indah sekali, Gav ...."
Dengan pandang tak henti beredar, dan senyuman yang tak henti berpendar, Nilam dalam alunan kekaguman yang hakiki.
"Kamu suka?"
Melirik Gavin yang sudah berdiri di sampingnya. "Sangat."
"Syukurlah." Senyuman tersungging di bibir pemuda itu. "Tapi disini dingin, ayo masuk."
"Eh? Tapi Gav ... ini tempat apa? Kenapa bentuk rumahnya memanjang seperti ini? Apakah ini rumah kontrakan?" Nilam ingin tahu.
Gavin terkekeh. "Bukan, Sayang. Siapa yang akan mau mengontrak rumah di tempat terpencil seperti ini?"
"Lalu?" Nilam masih penasaran.
"Ini rumah singgah, untuk anak-anak yang terlantar di jalanan. Milik Kenzie."
"Benarkah?" Mata itu seolah mencari kebenaran.
"Iya, Sayang. Ayo masuk." Nilam mengangguk tersenyum.
Baru saja keduanya menyusun beberapa langkah, terlihat seorang lelaki keluar dari balik salah satu jejeran pintu.
Kaos oblong hitam serta celana pendek selutut membalut santai di tubuh yang tidak pendek dan tidak juga terlalu tinggi itu. Di telapak tangan kirinya sebuah cangkir bertelinga, dijewernya. Dan di telapak lainnya sebentuk telepon genggam dengan layar menyala, menjadi sejurus penglihatannya.
Tanpa menyadari kehadiran dua onggokkan daging yang melangkah ke arahnya, lelaki muda itu terus menatap layar ponselnya tak lepas. Tubuhnya telah terduduk sempurna di salah kursi yang terletak di teras bangunan itu. Cangkir yang entah apa isinya, sudah di letakannya diatas meja di sampingnya.
"Chaka!"
Tentu saja! Suara itu berhasil merebut perhatiannya. "Tuan Gavin." Ia sontak berdiri. "Anda disini?"
Semakin mendekat, langkah Gavin yang diiringi Nilam disampingnya, terhenti beberapa langkah di depan pemuda bernama Chaka tersebut.
"Iya, calon isteriku ingin jalan-jalan."
Jawaban ringan Gavin itu membuat Chaka menoleh pada gadis yang di maksud bosnya itu. "Malam, Nona. Selamat datang," sapanya ramah.
"Malam."
__ADS_1
Tarikan bibir membentuk senyuman itu, seakan mengangkat jiwa Chaka melayang. Tatapan penuh kekaguman menembus horizontal ke wajah calon isteri sang Bigboss. Dan ....
Satu toyoran telunjuk Gavin di keningnya, sukses membuat pemuda itu mengerjap. "Apa yang kamu lihat?"
"E- eh ... ti- tidak, Bos," jawabnya kikuk.
"Apa?! Bos?" Gavin mengernyit.
"Hehe ... iya. Tak apa, kan, jika aku merubah panggilanku untukmu, Bos?" Chaka ketar-ketir.
"Hmm ...." Bersidekap lengan, dengan wajah seolah berpikir. Dan sesaat kemudian .... "Boleh juga." Jawaban Gavin akhirnya.
"Yess!" Ckaha sumringah. "Silahkan masuk, Bos, Nona."
Seolah sulit untuk berpaling, dan lagi, Chaka memusatkan tatapannya pada Nilam.
"Jangan menatapnya lagi. Wajah kekasihku ini mengandung sihir." Gavin memperingatkan. Dan jelas itu hanya sebuah bualan konyol si bucin.
Dan Chaka jelas menyadari itu. "Iya, Boss. Maaf."
Sedikit tentang Chaka.
Pada awalnya ia hanyalah seorang tunawisma. Hidupnya terseok kesana kemari tanpa tempat kembali. Entah apa penyebabnya.
Bermodal petikan sebuah gitar lusuh, ia menyambung hidupnya dengan mengamen.
Kardus-kardus bekas menjadi alas tidurnya setiap kali kantuk menerjangnya.
Emperan toko, bawah pohon, tempat beribadah, dan dimana saja, tempat-tempat itu selalu bergilir dengan sabar, menunggunya yang siap membentang kardus, untuk menyambut alam mimpinya.
Hingga suatu waktu, Kenzie yang kala itu tengah menggelar kegiatan sosial bersama kedua orang tuanya di tempat dimana Chaka berada, memboyong setiap anak jalanan yang terlunta seperti dirinya.
Setelah melalui berbagai bimbingan, Chaka terlihat semakin menonjol. Banyak kemampuan tersembunyi yang di milikinya. Dan itu menarik perhatian Kenzie. Hingga ia menarik pemuda itu untuk berbagai tugas, termasuk mengurus salah satu usahanya.
"Mana Tuanmu, Chaka?" tanya Gavin yang kini sudah merebah dengan santai di sebuah sofa dengan paha Nilam menjadi bantalan kepalanya.
"Bos Kenzie maksudnya?" Jawaban berupa pertanyaan, seraya meletakkan dua cangkir teh hangat di meja di hadapannya.
"Siapa lagi."
"Ada di kolam taman belakang."
"Sedang apa dia malam-malam begini?"
"Mungkin berendam." Jawaban datar itu tak sedikitpun bernada canda, ia tetap asyik dengan game di ponselnya.
Dasar anak buah kurang ajar!
Gavin menoleh pada si pemuda. "Kau pikir dia si Daslim, yang mau berendam dengan ikan-ikan gurame malam-malam begini?" Sarkas!
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Chaka dengan cengiran kudanya. "Hehe ... mungkin saja kan, Bos?"
"Ahh, kau ini." Gavin bangkit dari posisi wenaknya. Dan mulai melangkah menuju suatu arah di dalam ruangan itu. Namun seketika ia sadar, lalu berbalik badan dan berjalan kembali ke tempat asalnya. "Ayo ikut." Menarik lengan Nilam yang kebingungan. "Disini bukan tempat yang aman untukmu."
"Si Boss, memangnya aku ini gorilla?!" Chaka tak terima.
"Ongol-ongol!!" teriak Gavin samar karena tubuhnya dan Nilam mulai hilang di telan sebuah pintu yang mengarah pada halaman belakang.
__ADS_1
Di tempat itu.
Alunan suara gesekkan biola, terdengar syahdu dan mendayu.
Kenzie!
Dengan mata terpejam penuh penghayatan, duduk di sebuah kursi taman.
Di sampingnya sebuah kolam ikan menjadi teman.
Prok prok prok ....
Suara tepukan tangan itu, membuat katup matanya terbuka seketika. "Nilam ...."
"Kamu hebat, Ken," puji gadis itu.
"Jangan terlalu memujinya, nanti dia melayang seperti Chaka tadi." Suara Gavin, yang mulai berjalan ke arah sahabatnya itu. "Sepertinya kawanku ini sedang bersedih. Apa pekerjaan yang ku berikan terlalu membebankan?"
Kenzie memasang senyuman kecut. "Tidak, aku sudah terbiasa dengan titah bocah gemblung nan bucin sepertimu."
"Sialan kau!"
"Ada apa ke sini? Apa ada sesuatu yang penting?" Kenzie meletakkan alat musik kesayangannya itu disampingnya.
"Sebenarnya ada."
"Lantas?"
"Nanti saja kita bahas itu di ruang kerjamu."
"Apa salahnya kita bahas hal itu sekarang?"
Melirik Nilam yang kini tengah berjongkok menatap kolam dengan jari-jarinya sesekali disapukan halus ke permukaan air, Gavin tersenyum. "Aku takut dia bosan dengan pembahasan kita nanti."
Kenzie terkekeh. "Sepertinya serius sekali."
"Sangat."
"Benarkah?"
"Ya."
"Lalu kenapa kau tidak menidurkannya dulu. Memberinya susu ... atau membacakan cerita dongeng misalnya," canda Kenzie.
"Sialan! Memang kau pikir dia bayi yang baru bisa berjalan?!"
"Haha...."
Suara tawa keras Kenzie merebut perhatian Nilam. Gadis itu berdiri dan melangkah mendekati kedua pria yang duduk berdampingan itu. "Ada apa?" tanyanya ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Sini, kamu pasti kedinginan." Gavin menepuk bilah kursi yang masih di sampingnya.
"Tidak usah, Nilam. Kita masuk saja. Semakin malam udara semakin dingin," ujar Kenzie meraih biolanya kemudian bangkit dari tempatnya.
"Kau pikir aku obat nyamuk? Atau setan yang selalu menjadi orang ketiga."
"Hahaha ...." Mendengar kicauan Kenzie itu, tawa Gavin meledak keras. "Makanya kau cari gadis untuk mendampingimu. Agar kita bisa sering melakukan double date," ejek Gavin di sela tawanya.
__ADS_1
Nilam hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Akan ku dapatkan segera!"