Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Segaris asa didalam lara


__ADS_3

Perjalanan itu dilalui Kenzie dan Nilam dalam diam. Tak setitikpun kata terucap.


Nilam membisu dalam sendunya.


Jalanan dibalik kaca mobil itu terus berganti seiring perputaran roda dibagian bawah mobil milik Kenzie.


Setumpuk tanya kian menggunung,


Seuntai jawaban nyaris seutuhnya menciptakan luka.


Sampai disinikah akhir perjalanan cintanya dengan Gavin? Baru saja kemarin ia dan lelaki itu menghabiskan waktu didalam mall. Menonton film bioskop dan lain-lain bersama-sama. Sangat menyenangkan!


Tapi hari ini, segalanya berubah. Perubahan yang tidak dapat sedikitpun diterima oleh nalarnya.


Lelaki itu bersama wanita lain dan dengan mudah membatalkan pernikahan yang tinggal selangkah lagi itu.


Dibukanya tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana, untuk merogoh sesuatu didalamnya. Ponsel yang dibelikan Gavin beberapa waktu lalu itu, digenggamnya. Sebuah menu aplikasi berbalas chat dibukanya.


Aku menunggu makan siangku. Hasil buah tangan calon isteriku. Jangan membuatku kelaparan. Datanglah tepat waktu. Aku cinta kamu. 💞


Pesan itu baru dikirim Gavin tadi pagi.


Ditatap dan dielusnya layar ponsel yang menyala itu teriring senyuman getir.


Titik-titik air mata mulai berjatuhan.


Kenapa perubahan itu berlangsung tiba-tiba, tanpa berkompromi dengan waktu dan dirinya?


Setiap gerak-geriknya tak lepas dari sapuan mata Kenzie. Diraihnya telapak tangan berkeringat itu lalu digenggamnya. "Jangan menangis lagi," ucap lelaki penuh perhatian.


Ditatapnya bening mata Kenzie yang juga menatapnya. Semudah ucapan itu terucap, namun Nilam sungguh tak bisa. Itu terlalu sakit jika dilalui tanpa hujanan air mata. Ia tidak sekuat itu.


Gelengan kepala itu menjadi bukti ketidakmampuannya. "Aku tidak bisa, Ken. Aku tidak bisa."


Tak tahu harus apa dan bagaimana, Kenzie sangat mengerti perasaan wanita yang sebenarnya selalu dicintainya itu. Jika termasuk sebuah pilihan, maka ia akan memilih untuk membawa gadis itu pergi sejauh mungkin, untuk menghapuskan segala lukanya. Tapi itu tak mungkin dilakukannya, selain Nilam sudah pasti menolak, ia juga masih belum mempercayai perubahan Gavin yang tiba-tiba itu.


Beberapa waktu kemudian, mobil Kenzie sudah terparkir dihalaman sebuah bangunan, yang tentu saja dikenali Nilam.


Rumah singgah.


"Maaf aku membawamu kesini dan bukan kerumah kakekmu," ucap Kenzie hati-hati. "Karena jika kamu pulang kerumahmu, pasti akan menimbulkan kekhawatiran untuk keluargamu," jelasnya.


Nilam mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Ken. Ini pilihan yang tepat."


Kenzie tersenyum. "Baiklah, ayo masuk."


Keduanyapun mulai turun dari mesin pengangkut beroda empat itu.


Dalam hampa Nilam menuntun langkah. Wajah sembab nan basah itu diusapnya berkali-kali.

__ADS_1


Baru saja Kenzie melayangkan tangannya untuk mengetuk, pintu itu sudah terbuka lebih dulu.


Chaka!


Dia muncul dari baliknya. "Bos." Dan mata bulatnya mulai menyipit, kala dilihatnya wajah sembab Nilam. "Nona Nilam, kamu kenapa?" tanyanya ingin tahu.


"Jangan banyak bertanya dulu, sekarang ambilkan air putih untuknya." Kenzie memungkas jawaban. Ia lalu menuntun Nilam untuk masuk ke dalam rumah menuju sekelompok sofa diruang tamu.


"Iya, Bos." Pemuda itupun berlalu menuju dapur untuk mengambil apa yang dipinta Kenzie.


Tak lama.


"Ini, Bos."


Kenzie menerima segelas air yang disodorkan Chaka, lalu diberikannya pada Nilam.


"Minumlah dulu. Agar kamu tenang."


Hati yang tengah terluka tidak mungkin bersahabat dengan ketenangan, semudah kata itu terlontar dari mulut si penenang.


Sakit akan tetap sakit, selama masih ada alasan kongkrit yang mendukungnya. Dan itulah dia ... pengkhianatan.


Luka itu masih terlalu basah.


Sepabrik obatpun belum tentu mampu menyembuhkan lukanya.


Readers berdemo; Ya kali obat sepabrik, Thor. Kau mau buad orang dikubur saat itu juga. 'End' mendadak dong ceritanya?


Back to story.


Bayangan kemesraan Gavin dengan wanita model itu, terus melingkar menjadi roll klise yang terus berputar menghitari pikiran dan hati Nilam yang mulai berkabut.


Kelenjar air mata masih lancar dengan produksinya. Dan hati ... jangan tanyakan lagi. Segetir kisah ini, sepahit itu pula yang dirasakannya.


Rasanya tak ada lagi perumpamaan untuk melukiskan rasa sakitnya.


Terlalu sakit!


Kenzie dan Chaka saling melempar pandang. Rasa iba dan tak tega mulai mencuat berkuasa dalam titik kelemahan.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Bos?" Chaka mulai penasaran.


Kenzie bangkit dari duduknya.


Ia menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas, penyebab tangisan pilu Nilam.


"Ya, Tuhan ... kenapa bisa begitu, Bos?!" Chaka dalam kejutnya. "Sedikitpun aku tidak percaya, Bos Gavin tega melakukan hal bodoh itu. Dia sangat mencintai Nona Nilam. Dan itu jelas!"


"Awalnya aku juga berpikir sama sepertimu, Chaka. Tapi ini kenyataan. Tidak ada kebohongan ataupun canda yang terlihat dari sorot matanya." Kenzie mulai resah.

__ADS_1


"Benarlah seserius itu? Tapi aku tetap tidak percaya, Bos. Mungkin saja dia benar hanya bercanda, kan? Membuat kejutan untuk Nona Nilam misalnya." Tanggapan Chaka.


"Tidak ada candaan yang membuat wanita sampai terluka begini, Chaka!" seru Kenzie tak setuju.


"Benar juga, ya, Bos."


Nilam masih bergeming. Adu argumen antara Chaka dan Kenzie dihadapannya sama sekali tak mengusik diamnya. Matanya menatap kosong pada satu arah.


Namun air luka itu terus meleleh tak mau berhenti.


Usai adu pendapat itu terhenti, perhatian Kenzie kembali pada Nilam. Ia bersimpuh dihadapan gadis itu. Diraihnya kedua telapak tangan yang nyaris tak bertenaga itu. Wajahnya terdongak menghunus lurus ke wajah sembab yang berhias basahan luka.


"Tolong jangan keluarkan lagi air matamu. Aku mohon ... Apa kamu tahu, hatiku ikut sakit melihatnya." Kenzie dalam durja sendunya.


Wajah sedih itu ... terlihat jujur. Mungkinkah Bos Kenzie juga menyukai Nilam? tanya hati Chaka menilai.


Nilam mulai terusik. Dihadapkan wajahnya ke wajah Kenzie yang terus menatapnya. "Aku tidak bisa, Ken. Hatiku terlalu sakit."


Pikiran Nilam bergerak mundur. Seolah dejavu, kejadian yang sama pernah dialaminya sebelumnya. Saat Danu juga mengkhianatinya kala itu. Namun kenapa, rasanya berbeda? Saat itu perasaannya tidak sesakit ini.


Apakah kekuatan cinta dalam dua masa itu, berbeda?


Apakah cintanya pada Danu tidak sebesar cintanya pada Gavin saat ini?


Entahlah.


"Apa yang akan aku katakan pada Kakek dan yang lainnya, kalau pernikahanku dan Gavin benar-benar batal?"


Kenzie sungguh terhenyak. Benar, pernikahan itu bukan perkara dua orang yang menjadi tokoh utamannya saja. Tapi ada dua keluarga besar yang juga terlibat didalamnya. "Kita pikirkan nanti. Sekarang kamu istirahatlah dulu."


"Ken ... kenapa hidupku selalu begini? Kenapa kebahagiaan itu hanya datang menyapa lalu pergi begitu saja? Membunuh semua harapan yang sudah tersusun menumpuk dalam hatiku. Apakah aku tidak pantas bahagia ...???!!" seru Nilam tanpa menghiraukau ucapan Kenzie sebelumnya.


"Sstttt ...." Ditutupnya mulut itu dengan jari telunjuknya. "Jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang tidak pantas untuk bahagia. Hanya saja waktu yang masih merahasiakan kapan sejatinya itu akan datang padamu. Aku yakin ini hanya bentuk cobaan dari Tuhan untukmu. Karena kamu kuat ...." Suara Kenzie melembut.


"Bos Kenzie benar, Nona. Pasti ada hikmah dibalik semua ini," timpal Chaka. "Aku masih yakin, kalau Bos Gavin tidak sungguh-sungguh seperti itu."


Nilam menatap kedua lelaki itu bergiliran. "Semoga itu benar."


Sedalam itu cintamu pada Gavin.


"Iya. Sekarang istirahatlah. Aku antar kamu ke kamar tamu."


"Iya."


°°°°°°


Author kepo.


Ada yang baper gak, sih???😅

__ADS_1


Tunjukkan jejakmu❤❤


__ADS_2