Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Jam makan siang


__ADS_3

Waktu bergulir semakin jauh, jauh... dan terus menjauh.


Satu minggu sudah Danu menggeluti pekerjaannya diperusahaan itu. Ia mulai mengenal banyak karyawan disekitarnya, termasuk Asty, sekretaris Gavin. Entah bagaimana awalnya, ia dan gadis itu mulai memperlihatkan keakrabannya.


Seperti hari ini, keduanya tengah makan siang disebuah kafe tak jauh dari kantornya.


"Umm ... Aku salut padamu."


"Salut kenapa?" Danu menyikapi kalimat Asty.


"Baru satu minggu bekerja diperusahaan, kamu sudah menunjukkan hasil yang ... wow ... hebat! Bos Gavin sampai angkat topi mengapresiasi kinerjamu." Seraya memasukkan makanan ke mulutnya.


"Kamu berlebihan. Aku tidak sehebat itu," kilah Danu. "Eh ... tapi, kan, Pak Gavin tidak pernah memakai topi." Dengan kening sedikit mengkerut menatap Asty.


"Dia meminjam topi si Jamal," ujar Asty santai tanpa menoleh.


Danu terkekeh. "Dasar!" Lalu mengasak gemas kepala gadis itu.


Asty ... cukup terkejut dengan perlakuan Danu. Wajah kepiting rebus itu menunjukkan sisi sensitifnya sebagai seorang wanita yang mendamba. Tuhan ... jantungku .... Namun tak cukup disadari lelaki itu.


"Oiya, Asty, apa kamu mengenal Nilam?"


Sedikit mendongak menatap wajah manis Danu. "Tentu saja, dia calon isteri Bos Gavin," jawab Asty seadanya.


"Oh, ternyata mereka masih bersama." Seulas senyum memulas ringan diwajah Danu. "Tapi kenapa aku belum pernah melihatnya datang ke kantor?" Sembari mengocek gelas berisi jus alpukat dihadapannya.


"Mungkin dia sedang sibuk mengurus pernikahannya."


"Begitu," balas Danu singkat. "Apa mereka tinggal dalam satu rumah?"


"Nilam dan Bos Gavin maksudmu?" tanya Asty.


"Ya ... mereka."

__ADS_1


"Jelas tidak. Nilam tinggal bersama keluarganya. Dirumah utama Bos Kenzie."


"Pak Kenzie? Tunggu, tunggu, maksudmu bagaimana?" Memiringkan sedikit kepalanya, Danu belum cukup memahami. "Apakah keluarga Nilam sekarang ada dikota ini, dan tinggal dirumah Pak Kenzie, begitu?" terkanya.


"Iya, Danu.... Nilam sudah pasti tinggal bersama keluarganya. Bos Kenzie, kan, kakak kandungnya."


"Apa?! Pak Kenzie ... kakak kandung Nilam?! Maksudmu?"


"Ya, dia adik Bos Kenzie yang hilang 22 tahun yang lalu, dan baru dipertemukan kembali beberapa waktu saja" Asty mulai bingung dengan percakapan itu. Wajah terkejut Danu lebih tepatnya. Hingga sesaat kemudian ia menyadari sesuatu. "Tunggu, Danu, kamu mengenal Nilam?"


Mendengar pertanyaan itu, ekspresi terkejut itu sedikit memudar. "Ya ... aku mengenalnya. Dia man--, oh ... maksudku temanku didesa. Ya, dia temanku." Kikuk.


"Oh, benarkah? Dunia ini sungguh sempit sekali." Asty geleng-geleng.


"Iya, Asty." Kemudian mulai bergelut dengan isi hatinya.


Nilam adiknya Pak Kenzie.


Eh, tapi tunggu! Kenzie ... nama itu... Bukankah...?


Ah, iya benar. Waktu itu Nilam mengatakan bahwa Kenzie yang menolongnya ketika pinsan diperkebunan. Nama itu juga yang membuatku akhirnya kehilangan dia, selamanya! Tapi bagaimana bisa mereka tiba-tiba menjadi saudara?


Sekelumit pertanyaan mulai menyerang pikiran Danu. Nilam ... mantan kekasihnya itu, hidupnya ... benar-benar penuh dengan teka-teki.


"Danu ...." Asty terus mengibas-ibaskan telapak tangannya didepan wajah lelaki itu.


Mengerjap kikuk. "Eh, iya, Asty! Ada apa?!"


"Apa yang kamu lamunkan?"


"Ah ... tidak ada. Maaf. Aku hanya masih tak percaya, Nilam adik kandung Pak Kenzie."


"Nanti aku jelaskan padamu semuanya," imbuh Asty. "Sekarang ayo kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir habis."

__ADS_1


Melihat jam dipergelangan tangannya. "Kamu benar. Ayo."


Usai membayar semua tagihan makanannya, kedua mulai melangkah menuju pintu keluar. Namun langkah kaki Danu tiba-tiba terhenti, ketika penglihatannya menangkap sosok familiar yang berjalan ke arahnya. "Sella ...."


Dan kedua mata itupun bertemu.


Melangkah dengan lenggokkan zigzag dari dada hingga ke pinggulnya, Sella mendekat ke arah Danu. "Danu, kamu disini?"


Asty hanya terdiam berdiri disamping Danu. Andai bisa di lihat, mungkin tumpukkan pertanyaan itu sudah memenuhi otaknya dari bagian terkecil hingga besarnya.


Tanpa menjawab, tatapan Danu beralih pada sosok tegap yang baru saja melingkarkan lengannya dipundak Sella.


"Ada apa, Beib?" tanya pria itu pada Sella.


"Oh, tidak. Aku hanya bertemu teman lamaku," jawab Sella tersenyum. "Kenalkan! Dia Danu. Umm, Danu ... ini Mark, suamiku!"


Suami? Hhuufft... Syukurlah ....


"Oh, hallo, Tuan Danu. Aku Mark." Menjulurkan telapak tangannya ke arah Danu.


"Hallo, Tuan Mark." Menyambut dengan senyuman.


"Umm, Danu ... dia?" Wajah Sella tertuju pada Asty


Mengikuti arah pandang Sella, Danu tersenyum. "Oh, dia ... dia tunanganku!" Meniru Mark, melingkarkan lengannya dipundak Asty.


DEG!


Mendengar itu, jantung Asty seakan melonjak hingga terlepas. Menginjak pedalnya keras dan berulang. Apa maksud lelaki itu?


"Oh, tunanganmu. Syukurlah," ucap Sella. "Apa kalian mau makan bersama kita?"


"Tidak, terima kasih. Kami baru saja selesai makan."

__ADS_1


__ADS_2