Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Lebih dari sekedar sakit


__ADS_3

Malam hari dirumah besar Gavin.


"Apa maksudmu, Gavin?!!" teriak Briana membahana. Ia yang semula duduk diatas sofa, sontak berdiri kala mendengar penuturan Gavin yang sangat mengejutkan. "Apa kamu sudah tidak waras, hah?! Yang akan kamu nikahi itu Nilam, bukan wanita ini!" tunjuknya pada Shinta yang duduk disamping puteranya itu.


Gavin ikut berdiri. "Ma, aku tidak mau menikah dengan gadis bernama Nilam itu! Aku tidak mencintainya sama sekali!"


"Persetan! Pernikahanmu dengan Nilam hanya tinggal menghitung hari ... jangan bodoh kamu, Gavin!" Masih dengan nada tingginya.


"Ma ... tapi hanya Shinta yang aku cintai. Aku sudah mengatakan pada wanita itu, bahwa aku tidak akan menikahinya." Gavin menekankan.


"Apa kamu bilang?! Jadi Nilam sudah tahu?" Tatapan tajam Briana beralih pada Shinta yang masih terduduk dalam harap cemas. "Apa yang kau lakukan pada puteraku ...?! suara geram Briana.


"A-ku ... ti- tidak ada, Nyonya," kilah Shinta. "Gavin sendiri yang memilihku. Aku tidak pernah memaksanya sedikitpun," kelakarnya.


"Bohong!!! Pasti kamu melakukan guna-guna padanya, kan?"


"Ti--"


"Stop, Ma!" pungkas Gavin. "Aku tidak suka Mama menuduhnyaseperti itu. Aku tetap akan menikahinya." Dalam kekukuhannya.


"Sampai matipun Mama ataupun Papamu tidak akan pernah merestui kamu dengan wanita ini. Cuma Nilam yang akan menjadi menantu di rumah ini. Dia yang paling sempurna!" seru Briana menggebu.


Shinta ikut mengangkat tubuhnya. "Memang apa yang salah dariku, Nyonya? Aku cantik. Aku juga seorang model. Dan karirku sangat cemerlang. Tidak ada yang kurang dariku!" tuturnya, merasa Briana terlalu merendahkannya.


"Diam kamu ..." geram Briana. "Sekalipun kamu adalah seorang puteri Raja, aku tetap tidak akan menerimamu!" Amarah Briana kian memuncak.


"Baiklah, kalau Mama ataupun Papa tidak berkenan atas aku dan Shinta, aku akan pergi dari rumah ini. Dan aku akan tetap menikahinya. Dengan atau tanpa restu kalian!" seru Gavin penuh ancaman. "Ayo, Sayang." Ditariknya lengan Shinta, lalu pergi meninggalkan sang ibu yang terpaku tak percaya.


"Gavin ... dia ...." Briana mulai menangis. "Kenapa anakku jadi seperti itu, Tuhaaann...?" keluhnya. Saat itu seketika, ingatannya beralih pada sosok Nilam. "Nilam ... tadi pagi dia pergi menemui Gavin ke kantornya." Cemas mulai merayapinya. "Tuhan ... apakah dia baik-baik saja? Lalu dimana dia sekarang?"


Briana melangkah tergesa, untuk mengambil telpon genggam didalam kamarnya dilantai dua.


Sesampainya. Setelah didapat apa yang dicarinya, ia mulai mengetukkan jari-jarinya pada layar benda pipih menyala itu. Dicarinya kontak bertuliskan nama 'Menantuku', lalu menekan tombol 'Calling'.


Tut ... tut ... tut ....


Pertanda sambungan terhubung.


Dihampir bunyi tutut itu berakhir, akhirnya sebuah suara yang terdengar parau, menyahuti dijauh sana.


"Hallo."


"Nilam, Nak ... kamu dimana, Sayang?" tanya Briana khawatir.


Hening ....


"Nilam ...." Briana mengulang dengan nada pelan.


"Ma ... a-aku ...."

__ADS_1


Suara tercekat itu sangat dimengerti Briana.


Gavin benar-benar membuatnya menangis.


"Kamu baik-baik saja, kan, Nak?" Sebuah pertanyaan memastikan. Meskipun ia sendiri tahu, bahwa gadis itu, jelas tidak sedang baik-baik saja.


"Iya, Ma. Aku ... aku tidak apa-apa."


"Beritahu Mama kamu dimana?" Briana tanpa menanggapi balasan ucapan Nilam.


"Aku ... aku dirumah singgah Kenzie, Ma."


"Oke. Mama tahu tempat itu. Kamu jangan kemana-mana. Mama kesana sekarang."


"Tapi, Ma--"


Tut ... tut ... tut....


Briana menutup panggilan itu sepihak, tanpa mendengarkan ucapan Nilam selanjutnya.


Dengan tergesa ia meraih dompet yang tergeletak diatas nakas, lalu pergi dari ruang kamarnya itu sesegera mungkin.


"Pak Kus ...!!!" Teriaknya sembari menuruni tangga. "Pak Kus...!!!"


Yang dipanggilnya itu datang tergopoh. "Ada apa, Nyonya?"


"Baik, Nyonya!" Sigap tanpa membantah.


*****


TOK TOK TOK !!


Ketukan itu terdengar berkali-kali dan tak sabar.


CEKLEK !


Dan benda besar dan pipih persegi panjang itupun terbuka.


"Madam." Kenzie terkejut. Ini sudah hampir lewat tengah malam. Sosok Briana sudah berdiri didepan pintu yang baru saja dibukanya itu.


"Dimana Nilam, Ken?"


Dan Kenzie pun mulai faham. "Ada dikamar tamu, Madam."


Tanpa menyahuti lagi, Briana menerobos masuk kedalam rumah itu melewati tubuh Kenzie yang berdiri diambang pintu. "Tunjukkan dimana kamarnya."


"Iya, Madam. Mari." Pria muda itu menuntun langkah lebih dulu. Keduanya mulai menaiki sebuah tangga yang terbuat dari kayu-kayu yang tersusun apik dengan model klasik dan minimalis.


Sesampainya.

__ADS_1


Tanpa mengetuk, Briana langsung menyibak daun pintu pelan namun terlihat tidak sabar.


Dari sana, terlihat gadis cantik itu, terdiam dalam muram dan diamnya. Nilam, berdiri dibingkai jendela , menatap sendu pemandangan langit malam yang terpampang dibaliknya.


"Nilam ... kamu belum tidur, Nak?"


Suara lembut itu berhasil membuat Nilam menoleh.


"Mama ...." Tak bisa menyembunyikan apalagi menahannya, air matanya mulai kembali berjatuhan.


Dari hati yang saling mengerti, keduanya langsung berhambur saling memeluk.


"Maafkan Mama, Nak. Maafkan anak Mama ... Maafkan karena dia telah menyakitimu." Briana penuh penyesalan.


Tak ada kata yang tepat bagi Nilam, untuk membalas kalimat Briana.


Maaf??? Ia bahkan selalu menuangkan maaf itu untuk siapapun.


Tapi kali ini ... terlalu sakit rasanya.


Kenzie... Disusupkan kedua telapak tangannya kedalam saku celananya. Cukup sakit baginya melihat pemandangan itu. Diedarkan wajahnya ke sekeliling ruangan, sebagai bentuk pengalihan atas kesedihan dan keresahannya.


Gavin bodoh! Lelaki itu telah sukses membuat kedua wanita yang begitu menyayanginya itu, terluka dan menangis. Andai Nilam tak mengahalanginya tadi, maka sudah dipastikan pria bodoh itu sudah masuk ke ruang IGD.


Kalo Aut nulis lubang kubur, terlalu sadis. Takut dilemparin tomat apkir sama kalian yang baca. Belum tentu Gavin salah juga, kan?? He...


"Madam, dimana Gavin sekarang?" Kenzie membuka pertanyaan yang sedari tadi melayang di otaknya. Dan pertanyaan itupun sukses membuat pertautan peluk antara kedua wanita beda generasi itu, terlepas.


Briana mengusap sisa basahan dipipinya. "Tadi dia sempat pulang ke rumah, dan dia juga membawa wanita model itu."


DEG!


Mendengar kabar itu, jantung dan hati Nilam seolah terlonjak. Sakit!


Gavin ... dia bahkan sudah membawa Shinta ke rumahnya. Deraan air mata terus membanjiri pipinya.


Inikah akhirnya??


"Tapi dia kembali pergi, dan entah kemana. Karena aku menolak permintaan restunya untuk menikahi wanita sombong itu!" Ada raut kebencian diparas Briana kala mengutarakan kalimat itu.


"Apa?!" Kenzie tentu saja terkejut. "Gavin bahkan membawa wanita licik itu kerumah?" Pertanyaan berbalut ketidak percayaan.


Ya ... tapi itulah kenyataannya.


"Iya, Ken. Bahkan anak itu mengancam, akan tetap menikahi wanita itu, dengan atau tanpa restu dariku dan suamiku."


Kenzie menghembuskan nafas kasar. Rasanya tak ada lagi kata untuk melukiskan kekecewaan dan kemarahannya pada sahabatnya itu.


Dan Nilam, pundaknya sudah berguncang. Tangis itu mulai berubah sesenggukan. Ditutupnya mulutnya itu dengan kedua telapak tangannya. Sungguh ... ini lebih dari sekedar sakit!

__ADS_1


__ADS_2