Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Di rumah sakit - Welcome 2021


__ADS_3

"Bu, sudah. Aku tidak apa-apa." Nilam terus berusaha menenangkan Dalia, yang terus menangis kala melihat penampilan mirisnya, ketika turun dari helicopter di puncak gedung sebuah rumah sakit dikotanya.


Gaun yang terlihat lusuh penuh sobekkan, kedua lengannya berlumur darah yang sudah mengering, juga kaki jenjangnya, yang dipenuhi luka kecil akibat goresan ranting dan rerumputan liar di hutan itu, sungguh merobek hati Dalia.


"Maafkan kami, Nak. Untuk kedua kalinya, Ayah dan Ibu kembali gagal menjagamu." Kecupan bertubi-tubi dihadiahkan Kevin di seluruh wajah dan pucuk kepala Nilam.


"Tidak apa, Ayah. Seharusnya aku yang minta maaf, karena membuat kalian khawatir."


"Tidak! Kamu tidak pernah salah. Kami yang terlalu lalai menjagamu."


"Kak Nilam."


Suara itu membuat Nilam menoleh ke asalnya. "Hana."


"Kakak baik-baik saja, Kan?" Hana menghambur memeluk wanita kesayangannya itu.


"Kakak baik-baik saja, Hana," sahut Nilam, seraya mengelus punggung gadis yang tak lagi gadis itu. Ya ... karena Hana kini adalah kakak iparnya, yang juga tengah mengandung calon keponakannya.


Sedangkan Kenzie dan Mona baru saja turun dari dalam robot terbang itu. "Dia siapa, Ken?" tunjuk Dalia pada Mona yang berdiri disamping puteranya.


"Oh, dia temanku, Bu. Dia pemeran utama yang telah menyelamatkan Nilam dari Dahlan," tutur Kenzie dengan senyumnya seraya merangkulkan lengannya dipundak Mona.


Hey, kau tak sadar, Gan? ada hati yang meringis menahan perih . Berdiri membuang muka disamping Nilam. Hana! Adegan refleks Kenzie cukup melahirkan cemburu dihatinya. Pria itu ... tidak peka sekali!


Heeeyy, Hana, mungkin dia belum melihatmu!


"Benarkah?"


"Tidak seperti itu, Nyonya. Aku hanya melakukan hal yang tidak seberapa." Mona tersenyum simpul menanggapi.


"Sekecil apapun itu, terima kasih, Nak. Dalia menangkup wajah wanita barbar itu. "Wajahmu...?"


"Aku tidak apa-apa, Nyonya. Ini hanya luka kecil," balas Mona, cukup tak nyaman baginya dengan perlakuan lembut Dalia. Asing!


"Semuanya maaf, aku rasa Nilam dan Mona harus segera mendapatkan perawatan. Aku khawatir luka mereka akan menjadi infeksi karena terlalu lama dibiarkan," pungkas Gavin menyela.


"Ah, ya Tuhan, kau benar, Gav," ujar Dalia menyadari.


Dua buah kursi roda yang didorong oleh dua orang perawat, sudah menanti untuk membawa Nilam dan Mona menuju ruang perawatan.


"Ayo, Mona. Aku bantu." Kenzie menuntun wanita itu untuk menduduki kursi rodanya. Lalu mendorongnya beriringan dengan Gavin yang juga mendorong kursi beroda yang diduduki Nilam.


Perawat belum di butuhkan di moment itu. Mereka hanya berjalan mengikuti.


Hana mengikuti dengan wajah getirnya. Kenzie, apakah lelaki itu lupa, bahwa ia kini telah resmi menjadi suaminya? Aduhai Hana, satu hari itu masih bisa dilupakan. Penulis ngomporin. Biar begudar tu api. Hehe....


"Bu, bisa bantu Mona mendorong kursi rodanya," bisik Gavin ditelinga Dalia yang berjalan disampingnya. Sedangkan Kevin sudah lebih jauh didepan dengan ponsel menempel ditelinganya. "Ibu lihat wajah Hana."

__ADS_1


Dalia mengikuti ekor mata Gavin terarah. "Ya, Tuhan. Kau benar, Gav," ucapnya menyadari keganjilan itu. Lalu mulai melangkah menuju Kenzie dan Mona yang berjalan lebih dulu didepannya. "Sayang, Mona biar Ibu yang dorong. Kamu temani istrimu. Kasihan, dia sedang hamil." Dalia memelankan suaranya agar tak didengar orang disekitarnya termasuk Mona.


Isterimu?? Kata itu berputar dikepala Kenzie sembari menengokkan kepalanya ke belakang. Dan ....


"Hana," gumamnya nyaris tak terdengar. Benar, ia telah menikahi gadis itu kemarin. Kenapa ia bisa lupa? Bodoh!


Penculikkan Nilam sepertinya membuat otaknya tak menampung kisah lain untuk dicernanya. Terlalu sesak, hingga ia melupakan hal besar yang tak kalah penting dalam hidupnya. "Ini." Lantas menggeser tubuhnya untuk melempar alih dorongan kursi roda Mona, pada Dalia.


Bergerak mundur menghampiri Hana yang masih dengan wajah masamnya. "Hey."


Hana mendongak kesampingnya. "Ken."


"Kamu baik-baik saja, kan, hari ini?" tanya Kenzie, seraya merangkulkan lengan dipundak isterinya.


Isteri lagi? Fffttt... kenapa penulis cengklek ini yang geli, sih?


"A-aku ... aku baik-baik saja?" Membuang muka kesamping lainnya, berusaha menyembunyikan raut anehnya. Blushing!


"Syukurlah. Maaf ya, maafkan aku yang terlalu sibuk."


"Ti-tidak, tidak apa-apa, Ken." Aduh kenapa aku jadi kaku begini, sih? Lagi-lagi Hana meringis, menahan gejolak aneh didalam dadanya. "Keselamatan Kak Nilam jauh lebih penting."


"Terima kasih atas pengertianmu."


"Sudah seharusnya, Ken."


Hingga dua orang lelaki berpakaian dokter berdiri menyambut didepan sebuah ruang perawatan. "Silahkan, Nona. Untuk keluarga, silahkan tunggu diluar," tutur salah satu dokter itu.


"Baik, Dok."


Dalam hening semua menunggu dibaris kursi yang berjejer didepan ruangan. Tak ada percakapan.


Kenzie sudah membungkam mulutnya bercakap ria dengan Hana yang terduduk manis disampingnya.


Hingga sebuah suara membuyarkan keheningan itu.


"Kak, bagaimana keadaan Kak Nilam? Apa dia baik-baik saja?" Didy, datang tergopoh dengan raut cemas. Ia datang ditemani Edrick tanpa Kedasih, usai mendapat kabar kepulangan Nilam dari Hana.


Gavin mengangkat tubuh menghampiri bocah remaja itu. "Kak Nilam baik-baik saja, Dy. Hanya ada beberapa luka kecil. Sekarang sedang ditangani dokter."


"Syukurlah."


"Selamat malam, Tuan Gavin." Edrick! Menjulurkan telapak tangannya dengan senyuman manis berpulas diwajah baratnya.


"Malam." Gavin membalas singkat seraya menerima jabatan tangan pria itu dengan ekspresi datar.


"Bagaimana Nilam?" tanya Edrick.

__ADS_1


"Bukankah tadi sudah ku jelaskan."


Edrick terkekeh, dengan kepala mengangguk kecil. "Kau benar. Aku gagal fokus rupanya."


Bodoh! Umpatan hati Gavin.


Lalu memusatkan tatapannya pada Didy. "Dy, bisa kita bicara?"


"Bicara apa, Kak?"


"Kita bicara disana." Gavin menunjuk sejejer kursi tunggu kosong yang terletak di ujung koridor. Yang kemudian diangguki bocah itu.


Tak lama, kedua lelaki berlainan generasi itu, sudah duduk berdampingan layaknya adik dan kakak.


"Apa yang ingin Kakak bicarakan?"


Sejenak Gavin terdiam. Lalu mulai membuka katup mulutnya setelah untaian kata terangkai dalam pikirnya untuk diutarakan pada remaja itu. "Begini, Dy...."


Seterusnya Gavin menceritakan beberapa kejadian yang menimpa Nilam selama dalam kembara sanderaan Dahlan, termasuk perihal penemuan jasad Nenek Samiah yang kini tengah ditangani pihak forensik untuk proses autopsi dan pengembangannya.


Gavin juga menjelaskan perlahan, kenyataan bahwa jasad dalam bentuk kerangka itu tak lain adalah Nenek kandungnya, yang sontak membuat bocah itu tercengang tak percaya.


"Ibu memang pernah menceritakan padaku, kalau Nenek sudah meninggal. Tapi dia tidak menceritakan bahwa Nenek meninggal karena dibunuh." Menunduk dengan muram dan air mata yang mulai menetes mengiring keterkejutannya. "Dan kenapa musti Juragan Dahlan pembunuhnya?"


Gavin mengangkat telapak tangannya ke balik tubuh Didy, melakukan gerakan mengusap di punggungnya, memberi penenangan. "Kamu harus bisa menerimanya, Dy. Temuilah Ayahmu. Dia sekarang berada dipenjara. Menunggu keputusan hukumannya."


...•••••...


...Hallo .. Holla ... semuanya.....👋👋...


...HAPPY NEW YEAR!!! 🎉🎉🎉🎆🎆...


...Selamat menyongsong tahun baru 2021 !!...


...Hindari kerumunan. Rayakan dengan cara menyesuaikan. Tetap jaga kesehatan....


...Berhubung pandemik blum udahan, musim hujan juga iya, mending gak usah keluar rumah. Becek-becekan kagak enak. Bukannya happy, yang ada ditampol polisi. Kita ramaikan di zona aman. Bakar apa aja yang bisa dibakar. Tapi awas jan ampe salah bakar. Apalagi ati yang lagi gusar, gegara liat dedemenan boncengan ame orang laen!😂...


......MODYAR bin AMBYAR......


...Bakar yang bisa dimakan! Singkong, ubi, Jagung, ikan paus, ikan tjoepunk, sikaaatttt....!!!...


...Ok !!...


...GOOD LUCK !!...


...Love You All😙😙...

__ADS_1


__ADS_2