Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Kejutan dipagi hari


__ADS_3

Suara khas si ayam jantan yang menyembur membusung dada, menandakan hari mulai menjejak pagi. Angin tipis menyelinap sesekali menggoda seonggok tubuh yang baru saja membuka mata.


Nilam. Menyilang lengan memeluk tubuhnya sendiri. Berjalan menuruni setiap bilah anak tangga dirumah utama.


Waktu menunjukkan jam lima pagi.


"Nona Muda mau kemana?" Seorang wanita berpakaian emban menghampiri ketika Nilam menuntaskan jejak di anak tangga terakhirnya.


"Aku ingin menyiram bunga, Bik."


"Tapi diluar masih gelap, Nona."


"Tak apa. Lampu-lampu itu tidak mati, kan, Bik?" Tersenyum ringan, melingkarkan lengan dipundak sang upik abu, seraya melangkah menuju arah yang ditujunya.


"Ya, tidak, Nona."


"Baiklah, kalau begitu tidak masalah, kan?"


"Tapi udara cukup dingin, No--"


"Cardigan ini cukup hangat. Sudah, Bibik masak saja. Aku ke halaman dulu," sergah Nilam. Kemudian melangkah meninggalkan wanita paruh baya itu.


Tak lama, ia sudah berdiri didepan halaman yang ditumbuhi beragam jenis bunga. Mulai dari jenis aglo, anggrek, mawar berbagai warna, sampai veitci si raja anthurium yang menjuntai manja di pojok halaman dengan ukuran daun nyaris menyamai tubuhnya. Sangat rapi dan terposisi dengan apik. "Umm .... sejuk." Menghirup udara sedalam-dalamnya dengan tangan merentang.


"Aku benar-benar rindu desa," ucapnya menerawang.


Ketika selang air baru akan diraihnya, sang emban datang kembali dengan tergopoh. "Nona ada yang mencarimu."


Nilam menoleh. "Siapa, Bik?" Kernyitan dahinya menandakan keheranan. Sungguh tak biasa, tiba-tiba saja ada yang datang mencarinya disuasana yang masih temaram.


"Saya tidak tahu. Dia seorang perempuan," terangnya.


"Perempuan...?" Menaruh kembali selang air itu ke tempatnya semula. "Siapa ya?" gumamnya.


Lalu melangkah untuk memastikan, diikuti sang emban dibelakangnya.


Sesampainya dipintu utama yang sudah terbuka itu. Seorang wanita dengan setelan celana hitam yang dipadukan t-shirt abu polos berkerah, dengan rambut panjangnya yang dimasukkan seluruhnya ke lubang belakang topi yang dikenakannya, berdiri memunggunginya didepan teras.


"Maaf, Anda mencari saya?" tanya Nilam dengan wajah menelisik.


Mendengar suara lembut itu, si wanita membalik tubuh menghadap Nilam. "Halo, Nona Nilam. Maaf mengganggu Anda dipagi-pagi buta seperti ini," ucapnya dengan senyuman.


Nilam dan Bibik saling bertukar pandang, lalu menatap wanita muda yang berusia mungkin tak jauh berbeda dengannya, berpulas raut ingin tahu.


"Apa Nona mengenalinya?" tanya Bibik.


Menggeleng. "Tidak, Bik."


"Tentu Anda tidak akan mengenali saya. Saya hanya pesuruh yang di utus seseorang untuk menyampaikan ini kepada Anda." Ia menyodorkan secarik kertas berbentuk amplop dengan pita merah yang tersimpul mengelilingi bagian tengahnya.


Yang lantas diterima Nilam dengan ragu. "Apa ini?" Membolak-balik benda tipis tersebut.


"Silahkan Anda buka sendiri isinya," ucapnya. "Kalau begitu saya permisi." Membungkuk tipis.


"Oh, iya, silahkan. Terima kasih."


"Sama-sama, Nona."

__ADS_1


Selepas kepergian wanita pesuruh itu, dengan hati-hati Nilam membuka simpul pita yang mengikat amplop berwarna biru tersebut. Lalu dengan perlahan menarik keluar apa yang terdapat didalamnya.


Selembar surat!


Dandanlah yang cantik.


Jam tujuh pagi ini, aku akan mengutus seorang supir untuk menjemputmu.


Jangan mengirim pesan atau menelponku.


Sebuah kejutan menantimu....


^^^Salam sayang....^^^


^^^Gavin ❤^^^


Membaca bait-perbait tulisan itu, Bibir Nilam tertarik kesamping membentuk senyuman menggelitik.


"Siapa, Nona?" Kepo si Bibik yang masih setia berdiri disampingnya.


Meliriknya sekilas seraya melipat kertas itu. "Gavin, Bik."


"Oh, Tuan Muda Gavin." Bibik manggut-manggut. "Pantas saja, Nona tersenyum-senyum seperti itu," cebiknya.


"Bibik bisa saja," ucap Nilam terkekeh. "Ya, sudah, Bik, aku kembali ke kamar dulu."


"Nona tidak jadi menyiram bunga?"


"Tidak." Membalik badan lalu masuk dengan bibir terkekeh.


Bibik hanya geleng-geleng. "Anak muda kalau sedang jatuh cinta, kadang suka aneh-aneh," gumamnya.


Dengan masih menggunakan kimono mandi, serta rambut basah yang dibungkus handuk, Nilam tengah memilah dan memilih baju di dalam lemari, hingga bertumpuk teracak diatas ranjangnya.


"Haduh, pakai yang mana, ya? Kenapa baju-bajuku modelnya seperti ini semua?" Seraya menjembreng sehelai gaun dengan kedua lengannya.


Terus dan terus, hingga....


"Ini dia. Sepertinya cocok."


Akhirnya pilihannya jatuh pada sehelai t-shirt dress berwarna mocha berlengan sesikut, memayung kebawah dengan panjang sedikit melewati lutut.


Usai mengeringkan rambut basahnya, dicubitnya sedikit bagian depan menggunakan sebuah jepitan hitam yang nyaris tak terlihat, karena menyamai pekat rambutnya. Lalu sisanya ia biarkan tergerai begitu saja.


Untuk alas kaki ia memilik sepasang sepatu teplek berwarna abu dengan simpul melingkar yang terkunci dengan pengait di bagian mata kakinya.


Berputar-putar gembira memandangi penampilannya disebuah cermin lonjong seukuran tubuhnya yang terpasang dipojok ruangan.


"Baiklah, Gavin, tunggu aku," ucapnya tersenyum. Wajah alami tanpa riasan make up berlebih itu tampak cerah dengan segala kelebihannya.


Meraih tas selempangnya lalu keluar dari kamar pribadinya tersebut.


"Sayang, kamu mau kemana, sudah cantik sepagi ini?" cegat Dalia yang baru saja muncul dari balik pintu kamarnya.


"Bertemu Gavin, Bu."


"Bukannya kemarin kalian sudah bertemu?" goda Dalia.

__ADS_1


"Ibu ...." Memberengut.


Dalia terkekeh. Dikecupnya pucuk kepala puterinya itu. "Ya, sudah. Sana pergi."


Nilam mengangguk tersenyum. "Aku pergi ya, Bu. Sarapannya nanti bersama Gavin saja."


"Ya, sudah, hati-hati."


"Iya, Bu." Mengecup sekilas pipi sang ibu, lalu melenggang dengan langkah gembira penuh semangat.


Dalia hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menyunggingkan senyum melihat tingkah manis puteri semata wayangnya itu.


...•••...


Sesuai yang tertera didalam surat yang diterimanya, Nilam kini berada didalam sebuah mobil yang menjemputnya. Senyuman tak lepas menghias wajah cantiknya. Tak banyak bertanya, yang ia yakini, Gavin sudah mempersiapkan sesuatu yang special untuknya.


Hingga beberapa saat kemudian....


"Sudah sampai, Nona."


Mengerjap. "Benarkah?" Mengangkat tubuhnya yang semula tersandar.


"Iya, Nona. Silahkan turun. Tuan sudah menunggu Anda didalam sana," terang sang supir.


"Iya, Pak." Lalu mulai menyembul keluar dari pintu yang sudah disibak. Menjejakkan tapak kakinya di alas beraspal itu. Sesaat mengedar pandangannya ke sekeliling. Tempat itu sungguh terasa asing baginya.


Sebuah Penthous.


Tak ada keraguan!


Ia melangkah dengan segala keyakinannnya. Tak sabar untuk mengetahui kejutan apa yang akan diberikan Gavin untuknya.


Dilihatnya dua orang lelaki bertubuh tegap dengan kaos hitam ketat membalut tubuh keduanya, sudah berdiri disisi kanan dan kiri pintu utama bangunan yang hampir tiga perempatnya terdiri dari lembaran kaca yang entah berapa inci ketebalannya.


"Silahkan masuk, Nona." Salah satunya mempersilahkan.


Nilam hanya mengangguk mengiyakan.


Setelah melewati pintu transparan itu, sejenak mengedar pandang ke sekeliling. Nuansa bening yang elegant sungguh membuat matanya takjub dan tersihir. Kagum!


"Gavin ... sebenarnya kejutan apa yang akan dilakukannya ditempat ini?" Cukup membuatnya heran, pasalnya ia tak pernah mengetahui tentang aset semacam ini dimiliki Gavin. Juga dua penjaga yang berdiri tegak didepan pintu, kekasihnya itu bahkan selalu merasa risih dengan jenis pengawalan lebay sedemikian.


Kemudian dilihatnya seorang wanita berpakaian pelayan mendekat menghampirinya. "Mari, Nona ikut saya."


"Eh? Iya." Sekilas mengangguk. Lalu diikutinya gadis pelayan yang berjalan lebih dulu darinya itu.


Melewati beberapa petak. Akhirnya keduanya sampai disebuah ruangan yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Dengan jejeran bunga-bunga tulip yang terpajang disetiap sudut. Juga diatas meja yang sudah terhidang apik di atasnya beberapa jenis makanan pembuka pagi. Mulai dari roti dan selainya, omelette, susu dan juga buah-buahan segar yang turut melengkapi.


"Silahkan duduk, Nona." Ditariknya salah satu kursi yang memang hanya berjumlah dua buah saja. "Tuan akan datang sebentar lagi," terangnya.


"Ya. Terima kasih."


Menatap punggung pelayan yang mulai ditelan pintu itu, hati Nilam mulai bertanya-tanya. "Kenapa tak satupun dari mereka menyebut nama Gavin?"


Beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga tak disadarinya, seseorang sudah berdiri menjulang dibelakangnya.


"Gavin!" pekiknya. Refleks memegang kedua pergelangan tangan kekar yang menutupi matanya dari belakang. Kemudian sontak mendongak saat telapak tangan itu mulai terangkat. Dan kejutan itupun berlaku saat ini!

__ADS_1


"Tu-Tuan Edrick...."


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2