
Pagi hari didalam kamar villa.
Menyangga kepala dengan sebelah telapak tangan dengan tubuh berbaring menyamping, Gavin terus menatap wajah cantik itu tak lepas. Wajah dengan mata terpejam. Yang didalamnya bersimbah kejujuran dalam kelelahan yang nyata. Nilam, terbaring manis dalam lelapnya.
Balutan gaun pengantin sudah digantikan piyama berlengan panjang. Namun cepol rambutnya masih belum berubah selain hiasan yang sudah dilepas
"Isteriku..." gumamnya tersenyum, seraya menyusur lembut paras cantik mahakarya Tuhan itu dengan sangat lembut. "Akhirnya ... milik akan tetap menjadi milik. Hak akan tetap menjadi hak. Hak dan milikku... adalah kamu!" Dengan gumpalan syukur tiada tara.
Hingga katup itu mulai terasa berat menjadi beban. Beban yang menuntut untuk tertutup.
Perlahan, sikut yang tertekuk itu melemas dan menurunkan kepalanya bersejajar dengan tubuhnya yang terbaring miring disamping Nilam. Gavin juga turut tertidur.
Pukul 13.30
Geliat tubuh Nilam mulai terlihat, juga katup rapat yang perlahan mulai terbuka. Menyadari ada yang berbeda, ia melirik ke samping kirinya...
Gavin!
Senyuman manis disunggingkannya lantas. Disentuhnya lengan kekar yang melingkar diperutnya. Sementara tangan lainnya membelai wajah tegas yang terlelap itu.
Sungguh mahakarya Tuhan yang sangat indah!
Iapun bangkit setelah berhasil menyingkirkan pelan lengan Gavin di perutnya. Laju berjalan menuju kamar mandi untuk sejenak menyegarkan tubuh yang terasa lengket.
Usai mengisi bathtub dengan air hangat, menuangkan sedikit chamomile essential oil kedalamnya, satu persatu busana mulai ditanggalkannya. Selanjutnya ia membenamkan hampir seluruh tubuhnya ke dalam bathtub tersebut.
Merasakan sensasi nyaman dari aromatherapy yang menenangkan, Nilam memejamkan matanya dengan kepala tersandar ke ujung bathtub yang menyangganya. Hingga sesuatu yang hangat dikeningnya berhasil membuatnya mengerjap dan tersentak. "Gavin ...." Lalu melirik pintu yang terbuka.
Tuhan... aku lupa mengunci pintunya.
Pria itu sudah berada disampingnya, berjongkok memandanginya dengan senyuman jahil usai mendaratkan kecupan hangat dikeningnya. "Kenapa tidak mengajak aku?"
"Eh?" Nilam refleks menarik tubuhnya. Dan tanpa sadar, kelakuannya itu malah membuat tubuh bagian atasnya terekspos dengan sangat jelas.
WOW!
Gavin semakin menunjukkan seringainya. "Aku suka itu. Boleh aku menyentuhnya?" Mengarahkan netranya pada dada polos dengan dua harta timbunan yang kini tersembul keluar dengan sempurna.
Mengikuti arah pandang Gavin, Nilam refleks menyilangkan kedua lengannya didepan dada. "Gav!"
"Kenapa ditutupi? Cepat ataupun lambat aku pasti akan melihat semuanya."
"Gaviiinnn...."
"Apa, Sayang?" Menaik turunkan alisnya menggoda.
"Keluarlah! Aku mau mandi." Seluruh tubuhnya sudah ia rendamkan kembali ke dalam air.
"Mandi saja. Aku akan menjagamu disini." Menopang dagunya dengan kedua lengan yang disanggakan pada tepian bathtub.
"Gaviin... bagaimana aku bisa melanjutkan mandiku, jika kamu disini? Aku malu." Memberengut lalu menunduk.
"Kenapa malu? Kita ini sudah menikah." Dengan nada santainya.
"Aku belum terbiasa, Gavin." Dengan raut memohon.
__ADS_1
"Dan buatlah terbiasa mulai sekarang!"
"Gaaa--"
Mulut mungil itu sudah terbekap. Dengan gerakan cepat Gavin menyumbatkan bibirnya ke bibir wanita itu.
Nilam tentu saja terkejut. Mata bulatnya semakin membulat. Mengangkat lengannya untuk mendorong dada bidang itu menjauh. Namun sial, Gavin malah mengunci tengkuknya dengan kuat hingga tak sedikitpun ia mampu melawan. Hanya berakhir dengan pukulan lemah didada itu, yang tentu saja tak membawa pengaruh apapun.
Masih bergeming dalam posisi yang sama.
Akhirnya tubuh tegang Nilam mulai melemas. Merasakan itu, Gavin mengajak tubuhnya lebih maju ke depan. Lalu menarik tengkuk itu lebih dekat kearahnya.
Sepertinya jiwa kelelakiannya mulai menanjak ke puncak. Gelenyaran hangat menjalar seiring sentuhan yang menyenangkan diantara kedua bibir.
Ia mulai mengeluarkan bisanya menerobos ke dalam katup yang tidak cukup kuat itu. Sehingga mudah baginya menembuskan pengecapnya kedalam mulut Nilam yang kini sudah terbuka menerima. Benda jelly miliknya mulai bergerak mengeksplor seluruh bagian goa pengecap milik Nilam.
Gadis itu sepertinya belum terbiasa dan masih terlihat kaku untuk membalas. Atau mungkin ....
Belum tahu caranya!
Namun Gavin terus menyerang tanpa henti. Nafas rendahnya mulai berubah berat hingga semakin lama semakin memburu.
Melepas sesaat untuk mengambil nafas, Lalu dilanjutkannya kembali tanpa ampun dan jarak.
Entah sejak kapan jari jemarinya melepas kancing piyamanya, hingga terlihat balutan tubuh itu baru saja dilemparnya ke sembarang arah menggunakan sebelah lengannya, sementara tangan lainnya masih menahan tengkuk Nilam. Dan nampaklah tubuh putih dengan sobekan-sobekan macho dibagian perutnya.
Ciuman itu masih berlanjut.
DAMN! Ini memabukkan!
Mengikuti libido yang semakin kuat menguasai, Gavin akhirnya melepas sejenak pagutan mesranya, lalu menyusupkan tubuhnya ke dalam bak air itu bersama Nilam.
"Kita mandi bersama." Seraya mengangkat tubuh polos Nilam mengambil posisi dibawahnya. Selanjutnya ia mendudukkan tubuh isterinya diatas pangkuannya.
Dia mau apa? Nilam mulai memasang wajah cemas. Satu lengan Gavin sudah menyelinap ke bawah ketiaknya, yang kemudian mendarat sempurna diatas kedua gundukkan lembut miliknya. "Gav...."
Tak ada lagi konsentrasi ! Lengan lain Gavin meraih kembali tengkuk jenjang Nilam. Dan mulai melanjutkan misi tertundanya. Ia kembali menyerang Nilam dengan ciuman ganasnya.
Ganas yang memabukkan ... juga menyenangkan!
Hingga tanpa disadarinya, Nilam mulai terbawa didalam arusnya. Perlahan tapi pasti, lengan yang tersentuh didada Gavin itu kini mulai berpindah mengalung dilehernya. Ia mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang dilakukan Gavin.
Ini gila!
Kecupan itu semakin berubah memanas. Gerak demi gerak semakin menjadi gebu yang menyerang kewarasan. Nilam mulai terbiasa dan mampu menyesuaikan.
Dan tanpa melepas pagutannya, Gavin menurunkan satu lengan yang semula menahan tengkuk Nilam, kini memberinya tugas untuk menarik celana piyama yang masih menutupi bagian kakinya. Usai terlepas, kemudian di lemparnya kain yang sudah kuyup itu entah ke arah mana.
Dalam rendam air yang sesekali terdengar beriak, kegiatan saling kecup dan kecap itu semakin memanas, seiring air hangat yang kini menurunkan kadar suhunya.
Tak ada lagi kendali !
Gavin kini mengalihkan kecupnya pada dua gunduk kenyal berukuran mangkuk medium yang tertangkup milik Nilam.
Lolos!
__ADS_1
Satu desah merdu mengalun indah dari mulut Nilam. Dan tentu saja, suara itu membuat Gavin menyunggingkan senyuman. "Tidak usah di tahan. Lepas saja. Tidak akan ada yang mendengar." Seraya memainkan si kembar kenyal milik isterinya itu dengan remasan-remasan lembut.
Wajah Nilam yang memerah semakin terlihat menggoda didalam basah. Anak-anak rambut yang membingkai teracak ditepian wajahnya, membuat wanita itu semakin menunjukkan karismanya dimata Gavin. "Kamu cantik."
Lalu kembali menyantap bibir pink nan ranum itu dengan kecapan-kecapan liarnya. Laju terus bergeser bertamasya menuju bagian-bagian lainnya.
Nilam sudah luwes menerima. Sesekali erangdesah menyembur merdu menjadi backsound yang membuat Gavin semakin menggila. Raja sensitifnya sudah berdiri tegak sedari awal kegiatan itu berlangsung.
"Mainkan milikku," bisik Gavin dengan nada beratnya.
Mengikuti alir libido yang juga sudah memuncak menguasai, tanpa menyahut kata, Nilam menuntun lengannya untuk menyentuh bagian ajaib milik sang suami. Lalu mulai menggerakkan naik dan turun, memutar dan mengusap.
"DAMN IT!"
YaLord.... ini semakin gila!
"Aaarrrggghh." Gavin mengerang dalam irama keneekmatan yang hakiki. Laju menggerakkan lengannya menyentuh titik sensitif milik Nilam.
"Aahh..." Cukup singkat Nilam mengambil ekspresi. Selebihnya ia nikmati dengan derudesah dan hm hm ria.
Semakin terjangkit nafsu, Gavin membawa Nilam mengangkat tubuh untuk berpindah ke lain tempat.
Dibawah guyuran shower!
Gavin memilih area itu untuk melengkapi tema basah dan desahnya.
Saling menyentuh saling meraba dan saling mengusap. Merekat peluk diposisi yang masih tegak berdiri, namun meliuk gerak kesana dan kemari menggelinjang.
"Boleh?" Sejenak menghentikan aksinya, Gavin meminta dalam getar penuh harap dan beerahi. "Ku susupkan sekarang?" lanjutnya.
Nilam cukup kaku menanggapi. Lengannya yang mengalung erat dileher Gavin, sedikit melonggar. Ditatapnya manik mata itu intens, lalu mengangguk sesaat kemudian.
Mendapat angin segar, Gavin menurunkan tubuhnya dan Nilam menuju baring dalam guyuran air yang memancar terpisah-pisah dilantai putih itu. Mengungkung tubuh polos isterinya. "Sekarang."
Dan lagi Nilam mengangguk dalam irama pasrah yang didalamnya terselip gebu libido yang tak kalah memuncak.
Perlahan Junior ajaib milik Gavin mendekat mencari sarang di balik kedua kaki Nilam yang sudah refleks tersibak. Sangat siap!
Dan ....
Ssssrrrrttt ... JLEB!
Nilam melengak. Wajah mendongak berpulas ringisan kecil, menandakan bahwa si tumpul sakti milik Gavin baru saja menjebol dinding selaput daranya.
"Aarrrggghhh...." Pria itu mengerang dalam lingkup keperkasaan. Tanpa syalalala, ia laju melanjutkan aksi gilanya. Menaik turunkan pinggul seraya mengeksplor bagian lain dihalusnya tubuh Nilam. Kecap dan kecup dengan mata memerah, meregangkan urat-urat kejantanannya.
Dibawah kungkungnya, Nilam bergelinjang ria, meliuk wajah kesana dan kemari, dengan erang tertahan. Mencakar dan meremas punggung Gavin diatasnya. Ritme gerak pinggul Gavin yang semakin cepat, membuat desah dan desihnya semakin meracun dalam kenikmatan yang hakeke.
Dan ....
"Aaarrrggghhh...."
Terkulai!
Semburan hangat krim mayonaise milik sipejantan halal yang meleleh dipuncaknya, menandakan akhir pergulatan yang berlangsung disiang hari itu.
__ADS_1
...••••...
...🙈🙈🙈🙈🙈...