Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Peri Kecil - Kuda putih


__ADS_3

Bayangan Anita, sosok wanita yang pernah mengisi hari-hari Gavin itu, terus saja berputar mengacaukan konsentrasinya. Berkas-berkas gawainya seakan berubah menjadi sebuah gambaran kenangan yang telah lama di hapusnya. Klise-klise bayangan tentang gadis itu, berantai memenuhi pikiran dan hatinya.


"Aaarrrgghh...!! Mengapa aku harus melihatnya lagi?!" Gavin mengacak rambutnya frustasi.


Nilam terpaku di ambang pintu. Nampan kopi dalam pegangan tangannya, terlihat bergetar. "Ga- gavin...."


Gavin yang baru saja menyadari kehadiran Nilam, melangkah menghampiri gadis berkerudung hitam itu. Tangannya terulur memanjang merampas nampan kopi dalam genggaman Nilam, lalu menaruhnya di meja mini yang terletak tak jauh dari posisinya. Pintu di tutupnya dengan keras kemudian dikuncinya.


Dengan kasar Gavin menarik lengan Nilam, merapatkan tubuh ringkih itu ke tubuhnya, mengikis jarak yang terbentang di antaranya.


Nilam di landa keterkejutan yang nyata. Apa yang akan di lakukan pria itu terhadap dirinya?


Gavin menatap wajah cantik alami tanpa pulasan make up tersebut. Perlahan telapak tangannya menarik simpul kerudung di bawah dagu gadis itu.


Setelah terbuka, ia menyibakkan kain penutup kepala Nilam itu perlahan, lalu melemparnya ke sembarang arah. "Kamu sangat cantik, Nuri," ucapnya parau.


Gemuruh menghantam keras di dada Nilam. Resah telah mencapai level tertingginya. Andai Inul Daratista mendengar, mungkin ia akan refleks bergoyang kala mendengar irama jantung Nilam yang berdentam sangat kencang. Ketakutan itu nyata adanya. "Gav... a- apa yang kamu lakukan?" tanya nya terbata.


Tanpa terusik, Gavin dalam irama terbuai. Wajah nan teduh itu seperti sebuah gendam yang menyihir kewarasannya. Ia mulai menyusur pipi halus itu dengan jari jemari kanannya. Sementara tangan lainnya merengkuh pinggang ramping sang penyihir yang kehilangan tongkat sihirnya.


"Gaa--" Sepasang benda pink nan kenyal milik Gavin itu lebih dulu membungkam suara protes yang baru saja hendak di utarakan Nilam. Bibir dari dua gender berbeda itu kini saling bertemu.


Mata yang sebelumnya berbalut amarah itu kini meredup perlahan. Menikmati sentuhan yang di ciptakannya sepihak. Telapak tangannya telah beralih pada tengkuk jenjang nan polos tanpa helai yang tergerai.


Namun lain dari padanya, Nilam dalam keadaan hati yang kacau berbalut resah. Kesadaran masih penuh di kuasainya. Kedua telapak tangannya di tempelkan pada dada bidang milik Gavin. Lalu dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh kekar itu, untuk mengembalikan jarak yang sudah terkikis itu.


Namun naas, sepertinya lelaki itu masih siaga dengan kekuatannya. Pinggang itu malah di rengkuhnya semakin kuat. Sentuhan halus bibirnya berubah menjadi energi liar. Sang indera pengecap mulai tersembul keluar. Menerobos masuk ke dalam mulut Nilam yang masih bertahan dalam katupnya.


Memaksa!


Mengikuti insting kelelakiannya, Gavin mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pangkuannya, kemudian menghempas bersamaan ke atas sofa yang telah siap menadahnya.


Nilam terus meronta. Meminta Gavin menghentikan aksinya yang terdorong nafsu itu.


Namun Gavin, dengan hati masih di liputi amarah, yang tercipta dari bayangan tentang Anita yang entah apa, hingga membuatnya sedemikian murka. Bodohnya, ia malah melampiaskan keresahannya pada gadis lugu itu.


Ia terus mengecap dan ******* bibir kecil itu kasar tanpa ampun. Namun seperti lampu merah yang menyetop laju kendaraan, Gavin melepaskan pagutan liarnya seketika. Ia duduk menegakkan tubuhnya yang membungkuk. Dan kalian tahu apa penyebabnya...?


Air mata!


Nilam mengeluarkan senjata andalannya. Ia menangis.

__ADS_1


"Kamu jahat, Gavin...!" suara itu keluar di sela isakannya. Ia memukul-mukul dada bidang itu penuh amarah.


"Nuri...." Gavin menatap wajah yang telah berurai air mata itu nyalang. Mulai kembali dari kembara jiwanya yang melayang di buai ego. "Maaf...." Raut penyesalan mulai di tampakannya.


Nilam menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangisnya semakin pecah tak tertahankan. Ia lalu bangkit dan berjalan meraih kain hitam penutup kepalanya yang tergeletak di lantai. Mengenakannya dengan asal-asalan. Lalu berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Gavin yang masih terpaku di tempatnya.


 


Ia terus berlari, tak peduli tatapan bingung orang-orang di dalam gedung kantor itu yang kebetulan melihatnya. Dan....


Bugghh!! Tabrakan antar tubuh tak terelakkan.


"Nilam...!" Kenzie bertanya khawatir seraya memegang kedua pundak gadis itu. "Hey, ada apa?!"


Nilam mendongak. Mata merahnya menatap netra coklat milik Kenzie. "Ken...." Tanpa ABCD, ia langsung berhambur ke pelukan lelaki itu. Menumpahkan segala kesedihannya.


Kenzie membalas pelukan penuh luka itu.


"Ayo, kita ke ruanganku. Kamu bisa menceritakan segalanya di sana." Ia menuntun langkah Nilam menuju ruang kerjanya.


Sesampainya di tempat yang di tuju, Kenzie mendudukkan gadis itu di atas sofa panjang yang tersandar pada dinding ruangan itu. Dan Nilam menurut tanpa berkata.


"Ini, minumlah." Kenzie menyodorkan segelas air putih yang baru saja di ambilnya. Nilam yang sudah terlihat lebih tenang itu menerima dan meneguknya setengah dari volume asalnya. "Sekarang katakan, apa yang telah terjadi padamu?" lanjut Kenzie penasaran.


Ia membekap mulutnya menggunakan sebelah telapak tangannya. Meminimalisir suara isakan tangisnya yang sebenarnya ingin di senandungkannya keras.


"Hey, tenanglah. Jangan menangis." Kenzie menarik tubuh itu ke dalam rengkuh peluknya. Mengusap pucuk kepala gadis itu lembut.


"Aku takut, Ken." Nilam mulai membuka suaranya.


"Apa yang membuatmu takut? Ceritakan padaku, Nilam."


"Aku ingin pulang saja, Ken. Aku rindu kakek, aku juga rindu Hana dan Didy. Antarkan aku ke Tegal Mayang, Kenzie. Aku mohon...."


Degg!!


Sekepal jantung tersentak luar biasa.


Sebentuk hati berdesir menahan perih.


Sepasang netra yang tersembunyi di balik pintu yang belum tertutup sepenuhnya itu, membelalak sempurna. "Nu- Nuri, Nilam..." gumam Gavin. "Bagaimana mungkin?"

__ADS_1


Tanpa berpikir lagi ia menerobos masuk ke dalam ruangan yang telah membuatnya di liputi perasaan cemburu yang entah sejak kapan di rasakannya, tatkala melihat gadis yang di kenalnya sebagainya Nuri itu, tengah menangis di pelukan sahabatnya sendiri. Dan yang lebih menyakitkannya lagi, penyebab tangisan itu adalah dirinya sendiri.


"Gavin...." Kenzie menatap sahabatnya yang kini sudah berdiri menjulang di hadapannya. Ia melepaskan perlahan pelukannya untuk Nilam.


Nilam yang tengah larut dalam gundah gulananya, tersentak manakala Kenzie menyebut nama orang yang telah membuatnya sedemikian bersedih itu. Ia mendongak menyadari ada sesosok tinggi nan tegap di hadapannya tengah berdiri menatap ke arahnya. "Ga- Gavin...."


"Nilam...." Suara Gavin terdengar berat dan parau.


"A- apa?!"


"Kamu Nilam.... Nilamku." Gavin dengan binar penuh harapan.


"Nilamku? Apa maksudmu?" tanya Nilam tak faham. Ia tidak lagi peduli dengan penyamarannya.


Gavin mendekat ke arahnya. Menatap wajah muram nan sendu hasil perbuatannya. Seketika ia memerosotkan tubuhnya, membungkuk di hadapan gadis itu. "Peri kecil..." ucapnya tanpa melepas tatapan matanya.


Degg!!


Nilam tersentak mendengar kata panggilan yang di ucapkan Gavin itu. Sebuah panggilan yang selalu ingin di dengarnya dari seseorang yang sangat di rindukannya. Ia menatap wajah Gavin lekat-lekat.


"Si- siapa ka- kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa tahu nama panggilan itu?" tanyanya ingin tahu.


Gavin tersenyum penuh haru. "Kuda Putihmu."


Deggg!!


Jantung Nilam berpacu dengan kecepatan tinggi. Terkejut, terperangah, tak percaya. Jangan tanya tentang bola matanya, tentu saja keduanya seakan ingin terlepas dari tengkoraknya.


"Ka- kamu...?"


Gavin langsung mengangguk sebelum Nilam melanjutkan kalimatnya. "Iya, peri kecil. Aku adalah Kuda putihmu."


"Benarkah?" Gavin kembali mengangguk, kali ini dengan sebuah senyuman. Senyuman bahagia.


"Kuda Putih...." Nilam menatapnya sesaat, kemudian berhambur ke pelukan lelaki yang telah lama di nantikannya. Ia tak peduli lagi tentang rasa kecewanya pada lelaki itu yang tercipta sesaat sebelumnya.


Pelukan kerinduan itu membuat seonggok raga menatap mereka penuh kegetiran.


Kenzie terpaku di tempatnya. Ia sudah tahu pasti, bahwa keadaan ini, cepat atau lambat akan terjadi. Dan inilah masanya, semua terjadi lebih cepat sebelum ia berhasil meraih hati Nilam untuk di genggamnya. Ia bangkit dan mundur perlahan. Lalu pergi meninggalkan dua insan yang saling melepas rindu itu sesegera mungkin.


Hatinya? Entahlah....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2