Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Gadis pengantar pesan


__ADS_3

Memarkirkan mobilnya serampangan, lalu keluar dan membanting pintunya keras. Kenzie berlari tergopoh memasuki kediamannya.


"Bu!" teriaknya, seraya menerjang tubuh memeluk sang ibu yang masih setia dengan tangisnya. Sementara Gavin terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Tenanglah, Bu. Aku sudah sudah mengirim orang untuk melacak mobil itu sesuai rekaman cctv yang dikirim Gavin."


"Ibu mohon, Ken. Cepat selamatkan adikmu."


"Iya, Bu. Kita akan berusaha. Untuk saat ini kita tunggu kabar dulu dari orang-orangku juga Om Gerry."


Waktu terus merangkak meninggalkan lalu, menjejak kini, dan menghadapi berikutnya.


Tak terasa, 30 jam sudah mereka bergelung dalam kecemasan. Tak ada kabar yang menenangkan, tak ada tindakan yang membuahkan hasil. Kosong!


"Orang itu benar-benar sempurna. Tak ada setitikpun jejaknya yang bisa kita lacak," ujar Gavin dengan wajah kusutnya. Mengapa lagi dan lagi serta lagi, ia dihadapkan pada situasi semacam ini. Tuhaaaann.... Mengusap wajahnya kasar.


"Kau benar, Gav. Dia bukan orang yang sembarangan. Perangainya sangat apik."


Keduanya kini duduk berdampingan di sofa melingkar masih di rumah utama Kenzie.


"Jangan berhenti. Kita harus terus melakukan pantauan disetiap sudut. Mobil itu memiliki kode plat kota ini. Jadi ada kemungkinan dia akan keluar diwaktu tertentu." Kevin yang baru saja bergabung menambahkan.


"Dan mungkin dengan plat yang berbeda." Menumpu kedua sikutnya diatas paha, dan telapak tangan yang bertaut menopang dagunya, sorot mata Kenzie tertuju pada satu titik yang entah apa.


Hingga suara bell pintu memecah bulatan keresahan itu.


"Biar aku yang buka, Om." Gavin mengambil langkah menuju pintu.


Setelah pintu itu disibaknya....


"Anda Tuan Kenzie?" Pertanyaan itu tercetus dari mulut seorang wanita muda dengan wajah terlihat ketakutan.


"Bukan. Aku Gavin," jawab lelaki itu apa adanya.


"Oh, Tuan Gavin. Syukurlah."


Gavin mengernyit heran. Ia mengikuti arah pandang wanita muda itu yang terus memutar kepala ke belakang seolah ada yang mengikuti. "Apa yang kau lihat?" tanyanya ingin tahu.


Lurus menatap Gavin. "Ti-tidak, Tuan. Boleh aku masuk?"


Gavin mengerutkan kening.


"Aku membawa kabar tentang Nona Nilam!" serunya menegaskan.


DEGG...

__ADS_1


"Apa katamu? Nilam?"


"Iya, Tuan."


"Dimana dia sekarang?!" Gavin tanpa sabar seraya mengguncang kedua bahu wanita itu.


"Tuan aku mohon biarkan aku masuk."


Menurunkan telapak tangannya cepat. "Ayo!" Lantas menarik lengan wanita itu laju memasuki ruangan dimana Kenzie dan Kevin berada. Dan kedua orang anak dan ayah sontak menoleh ke arah Gavin yang tengah melangkah mendekat di ikuti seorang wanita dibelakangnya.


"Silahkan duduk." Gavin mengarahkan telapak tangannya ke sofa kosong diseberang Kenzie dan Kevin yang diangguki wanita itu, lalu menyusul duduk disampingnya. "Sekarang jelaskan!" seru pria itu tanpa basa-basi.


"Begini, Tuan-Tuan ... saya seorang pelayan. Nona Nilam meminta saya menyampaikan pesan ini pada kalian," imbuhnya seraya merogoh saku bagian depan atasan yang dikenakannya.


Yang kemudian diambil dan dibuka Gavin dengan tergesa. Seketika itu!


Sepasang bola matanya 90 derajat melar melebar. Edrick ... bom."


Mendengar gumaman Gavin, Kenzie langsung merebut helai kertas itu lalu membacanya bersama Kevin, ayahnya. "Ya, Tuhaan.... puteriku!" pekik Kevin.


"Aku harus menghubungi Chaka!" Kenzie langsung bangkit dan mengambil tempat sedikit lebih jauh dari posisinya dengan ponsel dalam genggamannya.


"Lalu kamu, bagaimana caramu sampai ke tempat ini? Bukankah sangat beresiko untukmu?" Sejurus pertanyaan Kevin ditujukannya untuk wanita pembawa pesan tersebut.


"Aku ...."


Pagi kembali datang. Masih memangku segala misterinya hari ini


Nilam melalui waktu hampir dua hari ini dengan perasaan hancur. Wajah pucat dan bengkak bekas tangisan tanpa jeda itu masih terlihat jelas. Tak ada mimpi indah! Bahkan mata indah itu belum sempat dipejamkannya.


Bayangan pernikahannya dengan Edrick menjadi salah satu penyebab air mata itu mengubang. Namun yang paling, paling dan paling membuatnya lebih dari sekedar sakit ialah... perpisahannya dengan Gavin.


Terlampau menyakitkan!


Setelah pembicaraan terakhirnya dengan Edrick, perihal permintaan nikah yang dilayangkannya. Lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya, usai mengabulkan permintaan Nilam untuk membiarkannya sendiri didalam kamar.


Duduk lemas menatap kosong pada jendela kaca yang sudah terbuka, Nilam benar-benar terlihat depresi.


"Nona, makanlah dulu. Dari semalam perut Nona belum terisi apapun." Seorang pelayan mencoba membujuk. Ditaruhnya nampan berisi berjenis makanan serta minuman yang melengkapi angka kecukupan gizi itu, diatas nakas disamping kepala ranjang.


"Aku tidak lapar." Sangat pelan dan tanpa menoleh.


"Nona aku mohon ... Tuan bisa marah padaku kalau aku gagal membujuk Nona."


Dan sukses! Suara memelas itu membuat perhatian Nilam teralih. "Kamu... apakah kamu bebas keluar masuk di tempat ini?" Entah apa tujuan dari pertanyaan itu.

__ADS_1


Melihat wajah Nilam yang hampir menyerupai hantu Jeruk Purut itu, wanita pelayan itu cukup terkejut. "Nona Anda pucat sekali."


"Jawab saja pertanyaanku." Buliran bening dikedua matanya kembali berjatuhan, dengan sebab yang entah apa. Entah banyangan pernikahan atau mungkin perpisahan.


"Aku ... ya ..." Kikuk. "Aku keluar jika ada yang dibutuhkan. Aku sudah cukup lama bekerja disini. Dan sekarang Tuan mempercayakan segala kebutuhanmu dirumah ini padaku."


"Benarkah?" Mata sendu Nilam berbinar penuh harapan. Namun seketika rona itu ia redupkan kembali, kala ia menyadari, bahwa diruangan itu terdapat kamera cctv yang bertengger di sudut langit-langit, memantau setiap gerak, gerik dan garuknya. Kecuali .... "Bisa antar aku ke kamar mandi, aku tak mampu menopang tubuhku. Rasanya lemas sekali."


"Ouh... baiklah, Nona. Tapi selepas itu Anda harus makan," bujuk gadis pelayan itu lagi.


"Baiklah. Siapa namamu?" tanya Nilam seraya meraih uluran telapak tangan wanita itu.


"Panggil aku ... Hera."


"Oh, Hera. Nama yang cantik." Mulai memapah langkah menuju kamar mandi.


Usai mengeluarkan beban kandung kemihnya, membasuh muka, kemudian menggosok giginya, Nilam sudah terlihat sedikit lebih cerah dari sebelumnya.


"Mari, Nona."


"Tunggu!" Menarik lengan Hera si pelayan yang hendak membuka pintu, membawanya kembali ke sudut ruangan lembab itu.


"Ada apa, Nona?"


"Hera ... bisa bantu aku?" Dengan sorot mata penuh permohonan.


"Maksud, Nona?"


"Hera, aku tahu kamu orang baik, kan? Kamu tentu tahu aku berada disini karena sebuah kebohongan. Aku tidak ingin disini. Tapi ... janjiku pada Tuanmu, juga ancamannya ... memaksaku untuk tetap tinggal. Tapi ... jika Gavin dan kakakku bisa mengatasi peledak-peledak itu lebih dulu sebelum Edrick menikahiku. Maka aku rela menjadi manusia paling munafik didunia, dengan melanggar janjiku."


Hera menunduk. Semua yang dikatakan Nilam ia tahu betul tentu adalah benar. Jauh dalam lubuk hatinya, rasa tak tega mulai menyelinap mengetuk perlahan dinding kemanusiaannya. "Nona ingin aku melakukan apa?"


Mendengar itu, Nilam menyunggingkan senyumnya. "Katamu kamu bisa bebas keluar dari penthous ini?"


"Ya."


"Tolong, bantulah aku menyampaikan sesuatu pada keluargaku."


"Tapi, Nona... itu terlalu berbahaya. Tuan Edrick bisa mekukaiku jika aku melakukan kesalahan. Aku hanya akan pergi ke pasar atau ke supermarket saja. Itupun di antar supir."


"Ku mohon ... lakukan cara apapun. Kamu akan mendapat perlindungan kuat dari kakakku. Jadi jangan takut. Asalkan kamu bisa sampai ke tempat yang aku tulis nanti untuk menyampaikan pesanku. Maka kamu akan aman." Menggenggam kedua telapak tangan itu meyakinkan.


Cukup lama Hera terdiam. Bermain di antara keyakinan dan keraguannya. Hingga akhirnya, sebuah anggukkan dilayangkannya sebagai balasan. Teriring rasa iba yang lebih kuat melewati rasa takutnya terhadap sang Tuan. "Baiklah, Nona, aku akan siapkan kertas dan bolpennya dulu. Nona tunggu disini."


Nilam mengangguk berpulas senyum. "Sebelumnya terima kasih, Hera."

__ADS_1


"Sama-sama, Nona."


FLASHBACK rebes yoww!


__ADS_2