
Kelam langit menghias sore.
Menggantikan oranye dengan angkuhnya.
Biarlah ...
Karena semua ... masih tetap sama.
Gavin dan mobilnya baru saja tiba dikediaman megah Dahlan yang terletak di ujung desa Tegal Mayang. Bersama Shinta tentunya.
"Sayang ...." Sang ibu, Midar datang tergopoh menghampiri Shinta yang baru saja menapakkan kakinya diambang pintu. Dipeluknya anak gadis kesayangannya itu. "Kenapa lama sekali tidak pulang?"
"Ibu, aku sibuk," jawabnya ringan, seraya mengelus punggung sang Ibu.
Pandangan Midar jatuh pada lelaki muda dan tampan yang berdiri dan tersenyum dibelakang Shinta. Dilepasnya pelukan itu. "Siapa dia, Nak?" tanyanya pada Shinta.
Di ikuti Shinta kemana pandangan Midar terarah.
"Oh, dia ini...." Tersenyum senang. "Dia calon suamiku, Ibu. Tampan sekali, bukan?"
Midar mengangguk. "Tentu, kamu tampan sekali. Siapa namamu?" Tentu saja pertanyaan itu terjurus pada Gavin.
"Aku Gavin, Bu," jawab lelaki itu sopan.
"Gavin, nama yang bagus. Baiklah ayo masuk," ajak Midar.
Kedua sejoli dadakan itu mengangguk. Shinta sudah menggaet lengan Gavin, menuntunnya untuk berjalan menuju ruang keluarga.
Malam harinya.
"Bu, aku akan menemui ayah dipaviliun," ucap Shinta usai acara makan malam.
Ketiga isteri Dahlan beserta anak-anaknya berkumpul melingkar ditempat itu. Kecuali sang penguasa yang semakin betah menetap di rumah kecil dibelakang rumah utama.
Ada segaris tatapan kagum yang meninggi dari sepasang mata untuk Gavin. Rani, tanpa berkedip bertopang dagu, matanya terus menyapu setiap gerak-gerik lelaki itu.
Tuhan ... dia benar-benar seperti pangeran.
"Jaga matamu, Rani!" seru Shinta tak suka.
Dan Ranipun tersentak. "Apa sih, Kak? Aku kan cuma menatapnya, bukan ingin merebutnya dari Kakak," kicaunya.
"Tentu saja. Mustahil calon suamiku ini menyukai gadis jelmaan lelaki seperti dirimu," ejek Shinta mendelik sebal.
"Meskipun aku seperti ini, tapi hatiku tetap merah muda, Kak!" kilah Rani.
"Sudah, sudah, kalian tidak usah berdebat. Apa kalian tidak malu oleh Gavin?" lerai Midar. Kedua madunya hanya diam malas menanggapi.
"Baiklah, Bu. Ayo, Sayang. Kita temui Ayahku." Gavin mulai berdiri. Lengannya sudah tersangkut dilengan Shinta.
Tak lama....
__ADS_1
Di paviliun.
"Mana ayahku?" Pertanyaan bernada ketus itu, ditujukan Shinta pada kedua orang yang berjaga diteras depan bangunan kecil itu.
"Ada didalam, Nona," sahut salah satu diantaranya.
Tanpa membalas lagi, tak serta merta Shinta menerobos masuk melewati pintu yang tak terkunci itu.
"Ayah!" teriaknya memanggil.
Tak ada sahutan.
Gavin masih mengikuti tanpa kata.
Tempat ini ... kenapa aku merasa mengenal tempat ini? Pandangannya mengedar seluruh ruangan.
"Ayah!" ulang Shinta.
CEKLEK!
Pintu kamar itupun terbuka. "Shinta, kamu pulang, Nak?" Dengan suara parau khas bangun tidur. "Dan ini, Tuan Gavin. Anda ikut kesini?"
Gavin hanya tersenyum dengan angguknya. Entah kenapa, ada seberkas perasaan resah, sejak awal ia memasuki tempat itu. Benarkah ia pernah menginjakkan kakinya ke tempat itu? Tapi kenapa ia tidak bisa mengingatnya sama sekali?
"Iya, Ayah. Aku kesini untuk membicarakan pernikahanku dengan Gavin."
"Benarkah, kalau begitu ayo kita bicara diruangan Ayah," ajak Dahlan seraya menuntun langkah.
"Ayah terlalu lelah Shinta," jawab Dahlan enteng. "Umm... Mona!" teriaknya memanggil.
Shinta mengernyit. "Mona? Mona siapa, Ayah?"
Ketiganya sudah mengambil posisi duduk disebuah sofa berbentuk L.
"Dia sekretaris Ayah yang membantu mengelola perkebunan."
"Sekretaris? Sejak kapan Ayah memakai jasa sekretaris?" tanya Shinta heran.
Dan munculah Mona dengan setelan formalnya. Kemeja putih berpadu celana hitam panjang membalut tubuh tingginya yang ramping. Sebuah tampilan mengecoh, untuk mengahapus kecurigaan Shinta. "Selamat malam Nona, Tuan."
"Malam," sahutan dari suara laki Gavin.
Dan tentu saja menimbulkan gurat tak suka diwajah Shinta.
"Tolong buatkan minum untuk Shinta dan calon suaminya," titah Dahlan dengan satu kode membentuk kedipan.
"Baik, Tuan."
Dan Mona pun mulai berbalik badan menuntun langkahnya menuju sebuah ruangan dapur.
"Laki-laki itu, bukankah dia yang ada difoto itu?" Mona bertanya pada dirinya sendiri. "Benar, dia sahabatnya Kenzie. Gavin," ujarnya seraya menuang sirup ke dalam gelas-gelas kosong itu. "Aku harus melaporkannya pada Kenzie.
Bebepa saat kemudian ....
__ADS_1
"Silahkan diminum, Tuan."
"Terimakasih, Nona," ucap Gavin.
"Ya sudah. Cepat pergi sana!" usir Shinta ketus.
"Baik, Nona. Saya permisi."
Selepas kepergian Mona.
"Jadi kapan rencananya kalian akan melangsungkan pernikahan itu?" Dahlan membuka pertanyaan.
Diliriknya Gavin disampingnya. "Aku ingin secepatnya, Ayah. Aku juga ingin pesta yang megah dan meriah," ujarnya. Disandarkannya kepalanya kepundak Gavin. "Iya, kan, Sayang?"
Gavin hanya mengangguk. "Aku terserah kalian saja."
"Terserah kami?" Dahlan mengernyit heran. "Lalu orang tuamu? Apakah mereka tidak ingin berembuk dengan kami tentang hari pernikahan itu?"
Gavin terdiam. Bayangan penolakkan Briana dan amukan Gerry, seketika membuat kepalanya terasa pusing.
Dan itu cukup difahami Shinta. "Tidak, Ayah. Aku dan Gavin akan menikah tanpa melibatkan keluarganya. Kita adakan pesta disini saja." Shinta menegakkan kepala dengan sorot mata penuh kebencian.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Mereka tidak menghendakiku menjadi menantunya, Ayah!"
Gavin menunduk terdiam. Lalu diraihnya telapak tangan Shinta, dan ditatapnya mata wanita itu penuh sesal. "Maafkan aku. Maafkan orang tuaku."
Mendapatkan tatapan itu, tentu saja Shinta merasa senang dan menang. "Tentu, Sayang. Asalkan tetap bersamamu. Yang lain aku tidak perduli."
Sekilas kecup dihadiahkan Gavin di punggung tangan wanita itu. "Terima kasih sudah mengertiku."
Dahlan tersenyum puas.
Tidak sia-sia aku mengeluarkan uang banyak untuk gendam itu. Dukun sialan itu benar-benar hebat.
"Baiklah. Ayah dan Ibumu akan mengurus pernikahan kalian secepatnya."
"Iya, Ayah. Aku senang sekali."
•••••
Full dialog. Udah berasa baca Chat Story aje yeee?😂 Ada masanya ketika narasi atau deskripsi itu tidak terlalu dibutuhkan.
Part ini tidak sampai seribu kata.
Akhir2 ini aku nulis sering banyak typo, dan alur yang mungkin bikin gabut. Tidak melahirkan greget, juga membosankan. Tapi inilah sulitnya menjaga konsistensi dalam kejaran waktu didunia nyata.
Jadi, harap dimaklumi.
Penulis receh ini butuh support kalian, Genggss.
IluViu😙
__ADS_1