Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Segenggam tekad


__ADS_3

Entah berapa waktu lamanya mereka habiskan untuk kegiatan penyatuan itu.


Dahlan, pria 47 tahunan itu, tak pernah kehabisan tenaga untuk terus menggagahi Mona.


Wanita itu sudah terkulai dalam baringnya.


Lelap sudah menjemputnya hingga ke dasar. Dahlan benar-benar membuatnya terkapar.


Hingga sebuah suara ketukan dipintu, refleks membuat Dahlan menghentikan kesenangannya yang tengah asyik membelai wajah cantik Mona yang terlelap disampingnya.


"Ayah! Buka pintunya, Ayah!" Ketukan itupun mulai berubah menjadi gedoran. Dan suara teriakan itu jelas dikenali Dahlan.


"Shinta, tumben sekali anak itu ..." gumam Dahlan seraya bangkit dan turun dari ranjangnya, lalu mulai memunguti sisa busananya yang tercecer dilantai dan mengenakannya sesegera mungkin.


Daun pintu sudah disibakannya.


Menampakkan Shinta yang sudah dengan tampang kesalnya.


"Ada apa, Sayang? Tumben sampai menyusul Ayah kesini?" Sebuah kecupan dihadiahkan Dahlan dipucuk kepala puterinya tersebut


"Ayah, apa Ayah membawa wanita lagi ketempat ini?" Mona memajukan wajahnya kedepan, berusaha menjangkau pandangannya yang terhalang tubuh sang ayah, dimana Mona terlelap. Memastikan.


Namun dengan sigap Dahlan menutup daun pintu itu dari luar lalu menguncinya.


"Tidak ada. Ayah hanya sendiri," bohongnya. "Ayo ke ruang kerja Ayah."


"Kalau sendiri, kenapa Ayah mengunci pintu itu?" Shinta tetap penasaran.


"Didalam banyak berkas penting Ayah," kelakar Dahlan. "Sudahlah, ayo." Ditariknya lengan anak gadisnya, lalu berjalan menuju ruang kerjanya yang hanya tersekat satu ruangan, didalam rumah kecil itu.


Sebuah sofa menjadi pilihannya untuk mendengarkan keluhan sang puteri. Karena sangat dihafalnya, jika Shinta sudah memaksakan langkah menemuinya secara langsung, sudah pasti, ada sesuatu yang diinginkannya.


"Duduklah."


Masih dengan wajah masam, Shinta menuruti perintah sang ayah.


"Ayah, aku dengar dari Ibu, katanya akhir-akhir ini Ayah lebih sering menghabiskan waktu ditempat kecil ini?" Shinta bertanya ingin tahu.


Dahlan sudah duduk dengan santai disamping sang puteri. "Terlalu banyak pekerjaan yang harus Ayah urus. Dan disini tempat yang tepat untuk Ayah memusatkan konsentrasi," kilahnya.


"Benarkah? Ayah tidak sedang berbohong, kan?" Sedikit menyipitkan mata, gerak gerik sang Ayah cukup menimbulkan kecurigaan Shinta.

__ADS_1


"Tentu tidak, Sayang," ujar Dahlan meyakinkan. "Lalu, ada apa, puteriku ini tiba-tiba datang kemari? Bukankah kamu sangat sibuk dengan pekerjaan modelmu?"


Shinta melengos. "Aku memang sangat sibuk. Tapi demi lelaki itu, aku terpaksa menolak beberapa jobku, sengaja untuk menemui Ayah."


"Lelaki itu?" tanya Dahlan dengan kernyitan diwajahnya. Tangan terlipat didepan dada, dua kaki bersilang, dan wajah yang memberengut kesal milik Shinta, cukup dimengerti Dahlan. "Jadi kamu belum juga mendapatkannya?" Terselip nada mengejek dari pertanyaan itu.


"Iya, Ayah." Tautan dari lengan dan kaki Shinta, sontak terlepas. Beralih menggelayut manja dilengan sang ayah. "Padahal aku ini cantik, karirku juga cemerlang. Tapi tidak tahu kenapa, dia malah memilih wanita busuk dari kampung itu!"


"Benarkah, sesombong dan sebodoh itu, sampai dia mengabaikan anak Ayah yang sempurna ini?"


Gelayutan dilengan Dahlan dilepasnya, dan kembali menegakkan tubuhnya, dengan tetap menghadap ke arah sang ayah. "Ayah, bukankah waktu itu Ayah berjanji padaku, kalau Ayah akan mencarikanku dukun susuk yang paling jitu? Mana, Ayah ... mana?!!" Shinta menaikkan oktaf suaranya.


Entah mengapa melihat kekesalan puterinya, Dahlan malah menyuarakan kekehan kerasnya. "Maaf, Nak, Ayah terlalu sibuk. Ayah kira kamu sudah berhasil mendapatkan lelaki tak tahu diri itu."


"Jangan memanggilnya seperti itu, Ayah! Dia hanya sedang tak sadar, karena ulah wanita busuk penggoda itu!"


Uwu uwu!!


"Baiklah, maaf, Ayah hanya bercanda," ujar Dahlan. "Siapa sebenarnya lelaki itu, dan apa kelebihannya, sampai membuat puteri Ayah ini kelimpungan?"


Shinta merogohkan telapak tangannya kedalam tas jinjing yang dibawanya. Sebuah ponsel bergambar pisang sisa gigitan George, menjadi tangkapannya dalam tas kecil itu. Lalu mulai mengotak-atik benda itu. Dan sesaat kemudian ...


Pikirannya? Tentu saja membayangakan senyuman manis si pemilik wajah tampan. Gavin!


Dan untuk beberapa saat, Dahlan menelisik foto yang tertera dilayar benda pintar milik Shinta itu. Semakin lama, wajahnya semakin mengkerut dalam. "Gavin Paradana."


Dan sontak, Shinta pun tersentak. "Ayah mengenal dia?"


Gerakan naik turun kepalanya, dijadikan Dahlan sebagai jawaban awal. "Iya, Sayang. Dia rekan bisnis Ayah, direktur utama perusahaan Pradana.


"Iya, Ayah, Ayah benar. Itu memang dia!" Shinta bersorak penuh semangat. "Kenapa aku baru tahu, kalau Ayah punya kerjasama bisnis dengan Gavin?"


"Karena kamu tidak bertanya. Dan bukankah anak Ayah ini pernah bilang, kalau kamu tidak pernah mau tahu urusan bisnis Ayahmu ini?" ejek Dahlan dengan senyuman miringnya.


"Ah, Ayah ...." Wajah manja itu kembali diperlihatkan Shinta. "Lalu bagaimana menurut Ayah, apa aku cocok bersama Gavin?" tanya Shinta meminta pendapat.


Ditatapnya mata anak gadisnya itu intens. "Sangat cocok." Dahlan tersenyum tipis. "Dan Ayah akan pastikan, Gavin akan bertekuk lutut dihadapanmu," ujar Dahlan penuh tekad.


*****


Dikediaman Gavin.

__ADS_1


"Ya, Tuhan, Gav ... Mama sangat senang mendengarnya. Akhirnya kamu akan menikah juga!" seru Briana girang. "Pokoknya Mama ingin pesta pernikahanmu itu digelar semewah mungkin."


Begitulah ekspresi senang Briana, ketika didengarnya dari mulut Gavin, bahwa puteranya itu akan merealisasikan niatnya untuk menikahi Nilam dalam waktu dekat ini.


Melihat kebahagiaan sang Mama, Gavin memulas senyum. "Aku serahkan semua urusan pernikahan ini pada Mama."


"Tentu, Sayang. Mama akan mengatur semuanya sesempurna mungkin," ujar Briana penuh semangat. " Dan Mama juga harus bicarakan ini segera pada papamu."


"Terserah Mama saja. Tapi jangan sekarang. Papa pasti masih sibuk dengan pekerjaannya di LN sana."


"Iya, Sayang. Kamu benar."


"Ya sudah, Ma. Aku istirahat dulu."


Briana mengangguk dengan senyuman.


Dikecupnya kening sang Mama sekilas. Lalu mulai melangkah menuntun kakinya menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya dilantai dua rumah megah itu.


Beberapa saat setelahnya.


Balkon kamar menjadi pilihannya untuk bersantai usai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Secangkir teh hijau panas, sudah tersaji diatas meja disamping kursi yang di dudukinya.


Ponsel sudah dalam genggamannya.


Menu galery menjadi pilihan penglihatannya. Ditatap dan digesernya satu persatu hasil jepretannya bersama Nilam di Villa Putih.


"Tak akan lama lagi ... kamu akan menjadi milikku seutuhnya." Jari-jarinya menyisir lembut salah satu potret yang menampakkan wajah Nilam dengan senyumnya yang mengembang. Dan senyum itupun sudah tertular padanya. "Aku sungguh mencintaimu, Nilam."


Seketika bayangan ketika Nilam berdiri membelakanginya di ujung balkon itu, menggelitik perasaannya. Hingga membuatnya terlihat konyol dengan tawa-tawa kecilnya. Sungguh lucu, saat itu Nilam berperan sebagai Nuri. Nuri yang berpenampilan sangat aneh. Dengan kerudung hitam lusuhnya.


"Ya, Tuhan ... dibalik sulit dan terjalnya pertemuanku dengan dia, berilah kemudahan untuk kami bersatu ... dalam ikatan suci pernikahan."


♡♡♡♡


Akankah harapan Gavin itu terkabul???😐


Kita aminkan saja ya Genggzz.... 🤓


Kutunggu slalu jejakmu❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2