
Bukan permainan, bukan pula memainkan, setulus perjuangan itu mungkin harus ada yang di tumbalkan. Sesakit goresan luka, seresah lautan lara. Biarkan terkorban untuk sebuah cahaya yang akan digenggam kemudian.
Gavin! Sakit dan lelahnya, kini terbayar lunas.
Di depannya, meskipun masih terbaring dalam katupnya, Nilam sudah dinyatakan selamat dari suramnya maut. Dan tentu saja menyelamatkan dirinya dari getirnya kehilangan dan perpisahan.
Dengan lembut, sebelah jejeran jemarinya tak henti menyapu seluruh wajah Nilam yang masih pucat itu. Satu tangan lainnya diusap-usapkannya dipucuk kepala gadis yang kini menjadi tunangannya.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku yang gagal menjagamu." Air mata sepertinya masih terproduksi lancar dikelenjarnya. Ia kembali menitikkan tangis kecilnya.
Tepukan penenangan dipundaknya membuat ia terdongak. "Ken."
"Sudahlah, Gav ... sebaiknya kamu istirahat. Tubuhmu pasti lelah."
"Tidak, Ken. Aku ingin tetap disampingnya. Kau saja yang istirahat. Aku rasa proses pengambilan darah itu cukup menguras energimu. Jadi pulanglah dulu seperti yang lainnya." Gavin kukuh dalam keinginannya.
Meskipun tak bisa dipungkiri, blackspot yang membingkai ditepian kelopak matanya cukup menjadi bukti keletihannya.
"Tapi, Gav. Ini sudah jam 09 pagi. Kau belum mengistirahatkan tubuhmu dari kemarin. Aku khawatir kesehatanmu terganggu. Apa kau mau, ketika Nilam terbangun, dia melihatmu masih dalam keadaan sekusut ini? Bukankah itu memalukan? Apa kau pikir, dia juga tidak akan terkejut, karena melihat bercakan darahnya dibajumu?" Kenzie terus berusaha memberi pengertian.
Mencerna setiap kalimat Kenzie, Gavin terdiam beberapa saat. "Iya, kau benar. Aku harus menghubungi Mama untuk membawakan pakaianku kemari."
"Hey! Apa kau ingin menjadi anak durhaka?! Mamamu dan semuanya baru saja pulang. Dia butuh istirahat."
Mendengar bentakan Kenzie, Gavin tersentak. "Iya, juga. Baiklah aku akan menghubungi Asty."
"Gav ... bukan hanya pakaianmu, tapi kau butuh istirahat dan tidur. Agar kau lebih terlihat segar ketika Nilam sadar nanti."
"Baiklah. Aku akan tidur disana." Menunjuk sebuah sofa dipojok ruangan.
"Ya, itu lebih baik," ucap Kenzie. "Oiya, aku juga harus pulang untuk melihat keadaan ibuku. Dan aku sudah meminta Chaka untuk datang kemari dan membawakan makanan untukmu. Dia sedang dalam perjalanan."
"Chaka? Untuk apa?" Ada kerutan tak setuju diwajah Gavin.
Kenzie menghembuskan nafas kasar. "Gav ... Nilam baru saja tertembak, dan pelakunya masih belum diketahui. Aku khawatir orang itu masih mengincar Nilam. Maka dari itu aku meminta Chaka datang kemari menjaga Nilam sementara kau istirahat, untuk meminimalisir kemungkinan terburuknya, Gav. Kau mengerti tidak?!"
Kecemburuan masih menempati tahta dalam diri Gavin. Namun kalimat yang dikatakan Kenzie, seluruhnya adalah benar. Bahaya masih mengincar gadis kesayangannya.
"Baiklah. Suruh dua orang lainnya untuk berjaga dipintu depan."
"Sebelum kau bilang, aku sudah melakukannya. Mereka sudah berdiri tegak disamping kanan dan kiri pintu," ujar Kenzie mendelik kesal.
Gavin memandang lucu sekaligus takjub pada sahabatnya itu. Ia bangkit dan menghantamkan tubuhnya memeluk Kenzie. "Terima kasih, Ken. Kau selalu menjadi sahabat hebatku."
"Ya ... ya ... ya .... Dan aku mulai jengah mengurusi kawan sekonyol dirimu," balas Kenzie seolah risih.
"Aku tidak perduli! Aku berterimaksih banyak padamu, karena kau sudah menyelamatkan Nilamku."
Menyembunyikan perasaan getir itu dibalik senyum tulusnya. "Aku senang melakukannya. Karena Nilam juga ... sahabatku."
Nilamku ...
Beginilah rasanya mencintai orang yang sama dengan yang dicintai sahabat sendiri. Bukan karena ia kalah, juga bukan karena ia tak mampu meraih hati Nilam. Tapi persahabatan bukanlah hal yang tepat untuk dikorbankan.
"Aku selalu percaya padamu, Ken."
__ADS_1
"Aku tidak sesempurna itu. Aku hanya melakukan apa yang mampu aku lakukan. Sekarang istirahatlah. Aku harus segera pergi."
"Baiklah. Titipkan salamku untuk ibumu."
Kenzie hanya mengangguk. Sesaat ia melirik Nilam yang masih terdiam tenang dalam pejamnya.
Semoga cepat pulih, gadis hebat.
Kita memiliki jenis darah yang sama.
Tapi sayang, persamaan itu bukan ditakdirkan untuk bersatu.
Jarak itu terlalu kuat untuk terkikis.
Aku mencintaimu ... Nilam.
Ia lalu melangkah meninggalkan tempat itu dengan perasaan getir.
Dan Gavin ... jelas menyadari itu. Ditatapnya pintu yang baru saja menelan tubuh Kenzie dibaliknya.
"Ken ... maafkan aku .... kau boleh mengataiku kejam dan egois. Tapi aku tak mungkin melepaskan Nilam untukmu, semudah pengorbanan yang kau lakukan untuknya. Aku terlalu mencintainya. Maaf."
Beginilah, ketika cinta ... berlabuh di tempat yang sama.
*****
Tok tok tok ....
Gavin yang baru saja menutup kelopak mata dan merebahkan tubuh lelahnya di sofa, seketika mengerjap. "Siapa?!"
"Masuk."
Ceklek!
Pintu tersibak perlahan. "Permisi, Bos. Ini saya bawakan baju sesuai permintaan Bos." Sebuah paperbag berwarna coklat terkait di jari-jemarinya.
"Berikan!"
Asty berjalan mendekat ke arah Gavin. "Ini, Bos." Seketika itu, mata Asty terpaku pada satu titik.
Nilam! Gadis yang diketahuinya sebagai Nuri itu, tergolek lemah di atas brangkar itu. "Umm, Bos ... Nuri kenapa?"
Arah pandang Asty tentu saja diikuti pula oleh Gavin. "Dia ditembak orang misterius."
"Apa, Bos?! Tertembak?!" Tersentak bukan kepalang.
Gavin berjalan mendekati Nilam yang masih dalam kembara jiwanya. "Ya." Sesaat kemudian tatapan itu berubah tajam. "Aku pastikan, manusia itu akan mendapatkan balasan yang setimpal.
"Aku setuju, Bos!"
"Apa kamu bilang." Gavin mengernyit heran. " Bos?"
"E-eh itu ... i-iya, Bos." Asty dengan cengiran kikuknya.
"Kenapa tiba-tiba merubah panggilanmu?" tanya Gavin seraya bangkit dari tempatnya. Mata elang itu sudah meredup.
__ADS_1
Bukannya menjawab, fokus Asty malah tertuju pada setelan yang dikenakan Gavin, dengan wajah sedikit meringis. "Bos, bajumu, apakah itu darahnya Nuri?"
"Huhh, kamu ini mirip sekali dengan Chaka," ujar Gavin mendelik. "Kalau saja kamu datang ke acara Bosmu ini semalam, kamu pasti tahu kejadiannya!"
Wajah heran Asty berubah tak enak. "Maaf, Bos. Aku sedang sakit bulanan. Jadi tidak bisa datang ke acara Anda."
"Sakit bulanan?" Memberengut. "Aku baru dengar. Seperti apa wujudnya?" Gavin jelas tak mengerti.
"Ha...?" Asty dalam mode melongo.
Sepertinya aku salah bicara. "Nanti kalau Bos menikah dengan Nuri, Bos pasti tahu apa itu sakit bulanan."
"Benarkah? Apa semua wanita mengalami?"
Waduh. "Sudahlah, Bos. Tidak penting!"
"Tidak penting, kenapa kamu tidak datang semalam?"
SKAKMAT!
"Hehe ...." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sudahlah, Boss. Cepat mandi. Nuri biar aku yang jaga."
"Namanya Nilam. Bukan Nuri!" seru Gavin mengingatkan.
Lagi-lagi. Mungkinkah sekarang ia berada dalam film Jumanji atau mungkin Zatura? Hhufft ... penuh kebingungan. "Kenapa tiba-tiba namanya berubah?"
"Tidak ada yang berubah. Namanya tetap Nilam. Nuri itu hanya salah satu caranya menghindari bahaya."
What??!!
Apa lagi itu?
"Sudahlah, tidak ada tugas untukmu memikirkan ini. Aku mau membersihkan diri. Kamu jaga Nilam sebentar."
"Baik, Bos."
Nilam. Namanya Nilam. Kenapa hidupnya penuh teka-teki. Bahkan dia sampai ditembak seperti ini.
Siapa sebenarnya dia?
****
"Dasar bodoh!! Membunuh satu wanita lemah saja kamu tidak becus!! Bukankah kamu ini penembak jitu? Kenapa wanita itu tidak langsung mati?!!"
"Maaf, Nona. Pergerakan orang-orang berdansa itu cukup menyulitkan saya. Bisa menembus perut sampingnya saja itu sudah beruntung."
"Beruntung katamu ...? Dia masih hidup dan selamat! Kamu masih bilang itu beruntung?!!"
"Maaf, Nona!!"
"Dasar tidak berguna!!! Pergiiii...!!"
Sang pesuruh bangkit dari simpuhnya, lalu pergi meninggalkan orang yang di panggilnya Nona itu dengan tergesa.
"Sepertinya aku harus turun tangan dan bergerak sendiri. Wanita busuk itu harus mati ...!!"
__ADS_1