
"Tu-Tuan Edrick!" Refleks berdiri lalu menarik drinya menjauh dari lelaki itu, Nilam sudah menikmati kejutannya.
"Hay, Nilam. Bagaimana kabarmu? Kamu semakin cantik saja," ujar Edrick dengan senyumnya.
"Dimana Gavin?" Ya, jelas hanya nama itu yang Nilam ingat dalam memorynya.
Tanpa memudarkan senyumnya, menyelipkan sebelah telapak tangan ke dalam saku celananya, Edrick memajukkan perlahan langkahnya mendekat ke arah Nilam. "Sayangnya tidak ada Gavin disini."
"Jangan bercanda, Edrick!"
"Waw, panggilan itu ... aku senang mendengarnya. Sepertinya kamu mulai merasa dekat denganku." Candaan yang sama sekali tak membuat Nilam keluar dari ketar dan ketirnya.
Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Edrick yang muncul?
"Katakan dimana Gavin?" Mengulang pertanyaan. Meremas tali selempang didepan dadanya. Kakinya melangkah mundur dengan kaku dan sedikit gemetar, Edrick semakin mendekat ke arahnya.
"Aku sudah bilang, tidak ada Gavin disini. Mungkin sekarang dia sedang menikmati akhir pekan bersama keluarganya."
DUG
Finish! Tubuhnya sudah terdesak pada dinding dibelakangnya. "Jangan mendekat!" Melayangkan telapak tangannya ke depan sebagai bentuk membentengi dirinya.
"Hey! Aku tidak akan menyakitimu." Menarik tangan itu, lalu mengecupnya sekilas. "Ayo temani aku sarapan." Lalu menariknya menuju meja makan.
"Tidak, Edrick, biarkan aku pergi dari sini!"
Genggaman tangan lelaki itu, entah mengapa terasa aneh bagi Nilam. Perpaduan antara rasa takut, takut dan juga takut berbaur semakin kuat dirasakannya.
"Kita sarapan. Jangan biarkan perutmu kosong. Ya, aku akan membawamu padanya. Tapi sekarang makanlah dulu." Mendudukkan tubuh Nilam pada salah satu diantara dua kursi itu. Kemudian berputar mengambil posisi berseberangan.
"Kau bohong, kan? Tadi kau bilang Gavin tidak ada disini!"
Membalikkan piring dihadapan Nilam yang masih tertelungkup. "Dia memang tidak ada disini. Tapi aku akan mengantarkanmu padanya usai perutmu terisi," kelakarnya. Dan mulai memasukkan potongan telur berisi daging cincang dan sayuran itu keatas piring yang telah siap menadahnya. "Ayo, makanlah."
Intens, Nilam terus menatap gerak-gerik pria yang kini tengah mengoleskan selai berwarna merah pekat pada lembaran roti yang dipegangnya, terus menelisik mencari kebenaran.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa mau mengganti omelette itu dengan roti?" tanyanya dengan mulut yang mulai mengunyah.
Namun Nilam masih bergeming. Perasaan tak percaya masih terang menguasai.
__ADS_1
"Atau kamu mau menu yang lain?" Dengan kunyahan kesekian kalinya. "Aku akan suruh pelayan menggantinya sesuai apa yang kamu inginkan."
"Tidak! Ini cukup." Mengangkat pisau dan garpunya lalu mulai menyanyat makanan berbentuk bulan separuh itu kemudian menyantapnya pelan.
Dan itu menimbulkan satu tarikan senyuman diwajah Endrick. Manis sekali. Aku pastikan, kamu akan menjadi milikku mulai saat ini.
"Bagaimana, enak?"
Melirik sekilas lalu mengangguk tanpa kata, meskipun beragam tanya terus menjejal memenuhi pikirnya.
Setelah menghabiskan sehelai roti, meneguk separuh volume susunya, Edrick lalu bersandar tubuh bersidekap tangan, dan menyilang kaki. Ia terus menatap Nilam yang tengah bersantap dalam diam. Sungguh pemandangan pagi yang tak biasa. Dan itu ... menyenangkan!
"Aku sudah selesai. Biarkan aku pergi dari sini."
"Hey, kenapa harus terburu-buru? Ini masih pagi. Kita, kan, bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan dulu. Bermain piano misalnya." Seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Tidak! Aku ingin pulang!" tolak Nilam kukuh.
"Baiklah. Silahkan." Mengarahkan telapak tangannya ke arah pintu keluar seolah memberi izin beserta jalannya.
Tanpa babibu, atau berucap apapun, Nilam bangkit lalu berjalan cepat keluar dari dalam ruangan itu bersama sejuta harapnya.
"Edrick! Kenapa semua pintunya terkunci?!" Tepat! Nilam kembali datang dengan air mata yang sudah berderai menghias wajah.
Mendengar teriakkan itu, tentu saja Edrick merasa senang. Mulai mengangkat tubuhnya lalu berjalan mendekat ke arah gadis yang kini berdiri diambang pintu. "Apa? Dikunci? Benarkah?" Seolah merasa bersalah.
Nilam mendongak. "Iya, Edrick, tolong bukakan pintunya."
Lagi-lagi tersenyum. Seolah menemukan mainan baru yang menyenangkan. Namun tak lama senyuman itu malah memudar perlahan. Edrick kini memasang sepulas ekspresi aneh. Dan Nilam mulai menyadari keganjilan itu. Seluruh darah didalam tubuhnya mulai merangsek pada titik kelemahannya. Mendidih. Bukan karena amarah, namun lebih pada ketakutan yang kini membuat tubuhnya bergetar.
"Sayangnya aku tidak bisa mengabulkan itu, Nilam." Ditariknya dagu dengan belahan manis itu, hingga sang durja pemilik simbol kecantikan melengak menghadap tepat didepan wajah tampannya.
"Lepaskan!" Menepis tangan itu kasar. "Edrick aku mohon, bebaskan aku ...."
"Kalau aku bilang tidak mau?!"
Terdiam, terinjak, terhempas. "Lalu apa maumu?" Pertanyaan ke sekian yang membuat Edrick menyuarakan tawanya keras hingga menggaung diseantero ruangan.
"Hahaha .... Pertanyaan yang bagus, Nilam." JEB ! Tawa itupun terhenti seketika. "Aku ..." Mendekatkan wajahnya ke telinga Nilam. "Aku hanya ingin kamu," bisiknya nyaris seperti desisan.
__ADS_1
Nilam beringsut mundur. "Tidak, Edrick. Aku tidak mau. Biarkan aku pergi dari sini." Deraian demi deraian sudah jatuh mewakili segala perasaannya.
"Tidak, kau sudah disini. Mana mungkin aku lepaskan begitu saja. Ayolah Nilam. Aku ini tak kalah tampan dari Gavinmu itu. Aku juga kaya. Aku bisa memberimu kebahagiaan melebihi yang dia berikan padamu."
"Jangan bodoh, Edrick! Kamu pikir semua hal bisa kau ukur dengan hal-hal yang kau sebutkan itu, hh? Tidak!" Kekuatan misteri itu mulai menyapa Nilam. "Aku bersama Gavin karena cinta itu datang karena terbiasa. Bukan dari pandangan semacam itu!"
"Dan mulai sekarang buatlah terbiasa itu bersamaku! Karena aku ... tidak akan pernah membuatmu kembali pada pria bodoh itu! Pria yang tak mampu menjagamu dan membiarkanmu disiksa oleh psakitan semacam Dahlan! Apa masih pantas dia menerima cintamu?!" Nada itu cukup tinggi untuk sebuah pembicaraan normal.
"Kau salah! Dia datang menyelamatkanku!"
"Tapi setelah kau hampir mati, kan?!" Sarkas! "Sadar Nilam, dia terlalu lemah untuk kau jadikan pelindung!" Seraya mengguncang kedua bahunya.
Wajah-wajah itu kini hanya berjarak sejengkal saja. Nilam menggeleng disertai isakkan. "Tidak, Edrick! Aku tulus mencintainya, bukan hanya mencari perlindungan," kilahnya.
"Hh!" Tersenyum kecut. "Tapi aku tidak perduli dengan itu! Yang terpenting ...." Menyapukan jari telunjuknya ke pipi Nilam lembut. "Kamu sekarang dalam genggamanku. Jadi tetaplah diam."
"Tidak! Aku tidak mau. Biarkan aku pergi, Edrick. Ku mohooonn...."
"Menarik! Teruslah memohon!" Lalu melangkah mengambil sesuatu didalam salah satu jejeran laci yang terpasang dipojok ruangan. "Kau tahu apa ini?" tanyanya usai kembali mendekat, seraya menyodorkan sebuah benda kecil persegi panjang berwarna hitam. Bentuknya hampir menyamai remot AC.
"Apa ini?"
Menyeringai. "Ini adalah sebuah remot control. Yang gunanya ...." Edrick kembali menggantung kalimatnya dengan sengaja, seolah memberi teka-teki. "Untuk meledakkan bom waktu."
DEG
"B-bom waktu?" Kedua mata Nilam sudah membelalak menyeimbangi degupan jantungnya yang bermaraton.
"Ya," jawabnya. "Kau lihat tombol merah ini?" Menunjuk bagian dari benda itu. "Jika aku menekannya dengan jarak kurang lebih 20 meter saja dari titik dimana bom itu ditaruh, maka... DUAR! Bangunan itu akan meledak dan hancur seketika. Haha...."
"Dimana kau tanam bom itu?" Dengan nada bergetar.
Mengganti tawanya dengan seringai senyuman licik. "Kantor kekasihmu."
"Apa?!" Menutup mulutnya tak percaya. "Gavin."
"Dan masih ada tiga remot lainnya." Diam sesaat. "Rumahmu, rumah besar kekasihmu, juga rumah singgah milik kakakmu."
^^^Bersambung.....---^^^
__ADS_1