
Di rumah utama Kenzie.
"Ibu mau kemana?" tanya Kenzie dengan secangkir kopi di telapak tangannya.
Tas jinjing dengan setelan formal Dalia, memperlihatkan, bahwa ia akan pergi saat ini. "Ibu akan ke butik untuk mengambil seragam keluarga yang akan kita kenakan di acara pernikahanmu dan Nilam. Tapi sebelum itu, Ibu akan menemui Kakeknya Nilam juga bibinya dirumah singgah. Karena kita akan memperkenalkan mereka pada keluarga besar ayahmu nanti malam," jelasnya.
"Seperti itu. Apa mau ku antar?"
"Tidak perlu, Ken. Ibu diantar Pak Rosad. Kamu temani saja Nilam."
"Nilam?"
"Ya, tadi pagi dia dijemput Pak Rosad kerumah singgah. Ayahmu akan pulang nanti siang, dan ia ingin Nilam sudah berada disini."
"Lalu dimana dia?"
"Sedang menyiram tanaman di halaman." Dalia tersenyum." Sana, temani calon isterimu."
"Tentu, Ibu."
"Oh, Ken... Ibu masih tidak percaya, bahwa kamu akan segera menikah, Sayang." Dipeluknya putera satu-satunya itu penuh kasih.
"Ibu, kopiku bisa tumpah kalau seperti ini."
"Umm, dasar. Kamu memang terlalu kaku. Padahal Ibu sangat ingin memanjakanmu." Dalia memberengut dengan peluk yang sudah dilepasnya.
"Yang terpenting cinta si kaku ini untuk Ibu tiada tandingannya."
"Umm, benarkah? Ibu tidak percaya."
"Kenapa?"
"Karena sekarang cintamu terbagi untuk Nilam," goda Dalia seraya melenggang cepat meninggalkan sang putera yang tersenyum menggeleng-geleng.
"Dan Ibu benar."
*****
Satu jam kemudian.
Mobil yang ditumpangi Dalia sudah terparkir sempurna dihalaman besar rumah singgah.
Ia turun dan berjalan menuju salah satu bangunan paling ujung yang ditempati Kakek Usman beserta anak cucunya.
Pintu mulai diketuknya.
Dan mulai terbuka tak lama kemudian.
Kakek Usman muncul dari baliknya.
"Nyonya Dalia."
__ADS_1
"Siang, Pak Usman."
"Siang, Nyonya," sahut Kakek sopan dengan sedikit tubuh membungkuk. "Maaf ada apa, ya? Apa ada hal penting, sampai Anda merepotkan diri datang kemari?"
"Ada sedikit yang ingin saya bicarakan."
"Oh. Kalau begitu, silahkan masuk."
"Terimakasih, Pak." Dalia pun mulai melangkah mengikuti Kakek yang berjalan didepannya.
Setelah keduanya terduduk diatas sofa.
"Umm ... Nyonya Murni dan Hana, kemana, Pak?" Kepala Dalia mengedar sekeliling ruangan.
"Oh, mereka sedang kepasar, Nyonya. Biasa, membeli bahan-bahan makanan untuk anak-anak."
"Benarkah?" Dalia tersenyum takjub. "Apa mereka juga membantu memasaknya?"
"Begitulah, Nyonya. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain membantu seadanya."
"Tidak apa-apa, Pak. Begitupun kami sangat senang. Itu artinya anak-anak itu akan semakin terawat dengan bantuan yang kalian berikan," ujar Dalia penuh syukur. Kemudian matanya tertuju pada satu kotak berukuran sekitar 30×30 cm yang terletak diatas meja dihadapannya. "Umm, ini apa, Pak?" tanyanya ingin tahu.
Mengikuti arah pandang Dalia, Kakek tersenyum. "Oh, ini ...." Dielusnya kotak persegi itu. "Ini adalah baju kecil Nilam. Baju yang ia kenakan saat pertama kali ia ditemukan. Saya membukanya kembali karena merasa tak percaya karena bayi kecil terlantar itu, sudah akan menikah." Disusul seulas senyum.
Dalia tersentak. "Di temukan? Bayi kecil terlantar? Maksud Pak Usman?"
"Iya, Nyonya. Nilam bukan cucu biologis saya. Hampir 22 tahun yang lalu, Almarhum menantu saya, Wisnu, menemukannya tergelatak diatas keranjang dipinggir jalan menuju kota. Entah dia dibuang orang tuanya, atau bagaimana, saya tidak tahu. Saat itu kami tidak berpikir tentang asal-usulnya. Yang kami pikirkan hanya menyelamatkan dan juga merawatnya," terang Kakek seraya menerawang ke masa itu.
"Betul, Nyonya. Maaf, saya baru menceritakannya." Kakek penuh sesal.
"Tidak apa-apa, Pak. Tapi maaf, tadi kata Pak Usman, Nilam ditemukan berapa tahun yang lalu?" Dalia mulai penasaran.
"22 tahun yang lalu, Nyonya."
"22...?" gumam Dalia. "Lalu kira-kira berapa sekarang usia Nilam?"
"Saat kami menemukannya, sepertinya ia masih berusia kurang dari satu satu tahun. Dia baru bisa merangkak."
"Merangkak, itu artinya dia sudah bisa duduk?"
"Benar, Nyonya."
"Lalu kenapa Pak Usman bilang, dia ditemukan dalam keadaan tergeletak."
"Bidan desa bilang, dia terkena pengaruh obat bius, Nyonya."
"Apa?! Obat bius? Sekejam itu?!" Dalia miris. Kemudian matanya terjurus kembali pada kotak itu dan menatapnya lekat. "Boleh saya lihat seluruh isinya, Pak?"
Ekspresi tegang Dalia cukup menimbulkan keheranan Kakek Usman. "Silahkan, Nyonya." Dosodorkannya benda itu mendekat ke hadapan wanita itu
Dengan hati-hati, dibukanya kotak itu perlahan. Disentuh dan ditariknya setelan baju mungil yang terlipat rapi didalamnya, lalu di bentangkannya. "Ini .... Baju ini... aku mengenalinya." Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Usman selain baju ini, apakah ada benda lain yang melekat ditubuh Nilam saat itu?"
__ADS_1
Kakek mengernyit. "Benda lain?" Memaksa pikirnya untuk bekerja. Hingga di bongkarnya kotak itu untuk memastikan sesuatu didalamnya, dan.... "Ini, Nyonya." Sebuah gelang emas sederhana berlapis dua dengan dua mutiara dibagian ujung yang saling bertemu, sudah berada ditelapak tangannya.
Dengan gemetar Dalia meraih benda melingkar itu dari telapak tangan Kakek Usman. Diputar-putarnya pelan menelisik sekelilingnya. Hingga kelopak matanya mulai melebar. Sebuah susunan huruf terukir cantik dibagian dalam gelang kecil itu membentuk nama 'Kenny', membuat jantungnya seketika berdentam hebat. Ia menangis sesenggukkan.
Kakek tentu saja terkejut. "Nyonya, ada apa?" ia mulai khawatir.
Suara yang tercekat ditenggorokannya, membuat Dalia tak bisa melontarkan jawaban apapun. Ini terlalu mengejutkan untuknya.
"Nyonya tenanglah, sebentar saya ambilkan air putih." Dengan gerakan cepat, Kakek melangkah menuju dapur.
Air mata Dalia semakin menyeruak. "Pu-puteriku ...." Disela isaknya.
"Ini, Nyonya, minumlah." Segelas air putih diterima Dalia dari tangan Kakek Usman. Lalu diteguknya sedikit.
Kakek sudah duduk kembali ditempatnya semula. "Bisa jelaskan pada saya, Nyonya?"
Dalia mengangguk. Emosi dari ketegangan dan keterkejutan, sudah mampu dikendalikannya. Ditaruhnya gelas itu di atas meja dihadapannya. "Pak Usman ... Nilam dan Kenzie ...." Kembali tak mampu menahan tangisnya. Ditutupnya mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, dengan sebelah lainnya masih meremas baju dan gelang kecil milik Nilam.
"Ada apa dengan Nilam dan Kenzie, Nyonya?" Kakek semakin tak faham dengan situasi yang dihadapinya.
"Nilam dan Kenzie ... mereka tidak akan bisa menikah, Pak Usman."
"Apa?!" Kakek tersentak. "Maksud Anda, Nyonya?"
"Iya, Pak Usman. Mereka tidak boleh sampai menikah. Karena mereka berdua bersaudara."
DUAAARRR....
Mata Kakek membulat sempurna. "Apa katamu, Nyonya? Mereka bersaudara?" tanyanya tak percaya.
Dalia mengangguk membenarkan. "Nilam adalah puteriku yang hilang 22 tahun yang lalu."
Satu kejutan lagi untuk Kakek. "Ni-Nilam ... pu-puteri Anda...??"
"Benar. Anda lihat ini Pak Usman." Di tunjukannya ukiran nama didalam gelang itu. "Kenny. Dan Kenny itu adalah nama puteriku yang hilang itu, Pak Usman. Dan baju mungil ini, aku masih ingat, suamiku yang membelikannya saat itu." Masih disertai isakkan.
"Kenny," gumam Kakek dalam kejutnya.
"Nama itu aku yang memberikannya. Tak jauh berbeda dengan Kenzie. Sama-sama diawali dengan hurug K dan E didepannya. Mengikuti nama suamiku, Kevin," jelas Dalia.
"Ya, Tuhan ... rencana apa yang sebenarnya sedang Engkau rancang?" keluh Kakek menengadahkan wajahnya ke atas.
"Iya, Pak Usman. Aku juga percaya, bahwa Nilam adalah Kenny ku yang hilang."
Nafas kasar terhembus dari mulut Kakek. "Maaf, Nyonya Dalia, kalau saya boleh tahu, kenapa Nil-- oh, maksud saya puteri Anda itu bisa hilang?"
Pikiran Dalia beringsut mundur ke masa lalu. "Dia diculik seseorang, Pak. Kami sudah melaporkannya ke pihak berwajib, namun tak pernah menemukan titik terang. Hingga kasusnya terpaksa ditutup. Penculik itu tak pernah diketahui. Hingga kami hanya bisa pasrah pada rasa kehilangan."
Kakek tersenyum. "Dan sekarang anak itu ada didekatmu, Nyonya."
"Iya, Pak Usman. Aku bahagia." Dan garis senyuman diwajah Daliapun tiba-tiba memudar dan berganti dengan pulas ketegangan. "Dan pernikahan itu....?"
__ADS_1
°°°°°°