Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Kembali - Cara murahan


__ADS_3

"Berterimakasihlah pada Nilam, Murni!" suara tegas Kakek Usman.


Membuyarkan penyatuan peluk kerinduan antar ibu dan anak tersebut.


"Maksud Bapak?"


"Jika saja Nilam tidak datang kemari membawa Gavin dan Kenzie, mungkin kamu akan selamanya menjadi budak di rumah Dahlan."


Terkejut? itu pasti. Kepala Murni bergerak menghadap ke arah Nilam. "Nilam ..." gumamnya.


Melihat tatapan Murni, Gavin melingkarkan lengannya di pundak Nilam. "Andai calon isteriku ini seorang pendendam, mungkin dia akan dengan senang hati membiarkanmu membusuk di neraka Dahlan itu, Nyonya."


"A- apa?"


"Ya, Anda cukup beruntung, karena gadis setulus Nilam ini yang Anda dzholimi. Orang lain mungkin akan menuntut perbuatan Anda. Termasuk sa--"


"Gav ... sudah," pungkas Nilam.


"Anda lihat. Bahkan untuk menghakimi Anda dengan ucapanpun, dia tidak mengizinkanku."


"Gavin benar, Ibu." Suara lembut Hana.


Murni terpaku. Seketika pikirannya mundur ke masa lalu.


Membiarkan Nilam untuk bekerja mencari nafkah seorang diri, lalu mengambil paksa upah hasil kerja kerasnya untuk kepentingan pribadinya dan Hana.


Menyuruh untuk membersihkan seluruh bagian rumah, memasak, mencuci dan segalanya di kerjakan Nilam seorang diri. Bahkan Hana pun tak di biarkannya untuk membantu.


Membentak, menampar, menjambak rambutnya, menghukum dengan mengurungnya di kamar mandi, demi kesalahan yang bahkan tak pernah di lakukan oleh Nilam. Dan yang lebih parahnya adalah ... menjualnya pada Dahlan.


Klise-klise bayangan seluruh perlakuan buruknya terhadap Nilam, terus berseliweran di otak besarnya.


Menyesal !


Matanya mulai berkaca-kaca. Kenapa ia harus menjadi manusia sejahat itu?


Perlahan Murni melangkah, menuntun kakinya ke arah Nilam. "Nilam ...."


"Bibi ...."


Seketika di raihnya tubuh Nilam ke dalam rengkuh peluknya. Melepas paksa lengan Gavin yang melingkar di pundak gadis itu. "Maafkan Bibi, Nak ... maafkan."


Nilam mengangguk-anggukan kepalanya dengan air mata yang sudah berderai. "Iya, Bibi. Aku sudah memaafkan Bibi. Maafkan aku juga, telah banyak menyusahkan Bibi selama ini."


"Tidak, Nak. Tidak sedikitpun kamu menyusahkan Bibi. Hanya Bibimu ini saja yang bodoh."


Hana tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya. Terimakasih, Tuhan. Akhirnya Ibu sadar.


Kring ... kring ... kring ....


Tiba-tiba, suara dering ponsel Gavin berbunyi.


"Ya, Chaka ... oke ... bawa saja mereka keluar dari kota ini terlebih dahulu ... oh, tidak, jangan. Jika langsung mengembalikan mereka pada keluarganya, itu sangat beresiko ... ya ... tampung saja dulu di tempatmu .... Oke nanti aku dan Kenzie ke menyusul."


Kenzie berjalan mendekat. "Bagaimana?"


"Chaka sudah menjemput gadis-gadis itu dari kediaman Dahlan."


"Lalu?"


"Kita harus segera pergi dari sini. Sebelum Dahlan menyadari ada kejanggalan."


"Kau benar. Bandot tua itu pasti menyuruh orang untuk mengikuti mobil Chaka."


Gavin mengangguk membenarkan. Lalu melirik ke arah Nilam yang juga menatapnya dalam sirat ingin tahu. "Sayang, aku harus segera pergi. Tidak apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Ak--"


"Tidak, Gav. Nilam harus ikut kita. Akan sangat beresiko kalau dia kita tinggalkan di sini."


"Tapi kalau dia juga ikut kita ke tempat Chaka, itu juga bukan pilihan yang bagus."


"Kau ini .... Bawa dia ke apartemenmu, bodoh!"


Gavin terdiam sesaat. "Benar. Apartemen. Baiklah."


"Tapi, Gav aku masih ingin di sini. Aku belum sempat menemui Didy." Nilam memelas.


"Tidak, Nilam. Anak buah Dahlan bisa saja memergokimu ada sekitar sini. Dan itu akan sangat berbahaya."


"Kenzie benar, Nak. Sebaiknya kamu ikut mereka saja," timpal Kakek.


"Tapi, Kek ...."


"Demi keselamatanmu, Nak. Kakek mohon."


Gavin mendekat ke arah Nilam. Memegang pundaknya dan menatap manik mata pekat itu lekat. "Sayang, kita pasti akan menemui Didy. Tapi tidak sekarang. Aku dan Kenzie harus menyelamatkan gadis-gadis itu dulu."


"Gadis-gadis?" Nilam tak mengerti.


"Iya. Dahlan menyekap belasan gadis di rumahnya sebagai alat jaminan hutang orang tua mereka. Dan sekarang gadis-gadis itu, sudah ada padaku. Kita harus mengamankan mereka terlebih dahulu."


"Benarkah? Kalau begitu aku ikut."


"Kamu memang akan ikut. Tapi tidak untuk menemui mereka. Kamu akan aku antarkan ke apartemenku."


"Kenapa?"


"Karena Dahlan bisa saja membuntuti mobil yang membawa para gadis itu." Kenzie mengambil jawaban.


"Apa?"


"Iya, Nak. Demi keselamatanmu. Karena Kakek yakin, Dahlan pasti masih menginginkanmu."


"Bapak benar, Nilam. Sampai sekarang Dahlan memang masih menggerakkan anak buahnya untuk mencarimu. Dan dia tidak akan pernah berhenti, sebelum berhasil menemukanmu." Murni menambahkan.


"Kamu dengar itu, Sayang? Di sini bukan tempat yang tepat untukmu. Suatu hari, setelah masalah ini selesai, aku pasti akan menemanimu menemui Didy."


Nilam menatap manik mata Gavin bergiliran. "Baiklah. Aku ikut," jawabnya kemudian.


"Syukurlah. Kalau begitu kita pergi sekarang."


"Sebentar Gav," tahan Kenzie. "Untuk Bibi Murni, aku minta sebisa mungkin jangan pernah keluar dari rumah ini. Karena itu bisa berbahaya untuk kami."


"Iya, aku mengerti."


"Baiklah kita pergi dulu." Sesaat Kenzie menatap Hana yang juga menatapnya. "Aku pergi, Hana. Jaga ibumu dan juga Kakek."


Hana mengangguk. "Pasti, Ken." Lalu membuang pandangannya ke sembarang arah. Terlalu sakit baginya jika terlalu lama menatap mata pria itu.


Setelah menyalami ketiga orang penghuni rumah itu satu persatu, Nilam mulai masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di sibakkan Gavin.


"Kita pamit, semuanya," ucap Gavin sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kursi kemudi mobilnya.


Kedua mobil mewah itu mulai melaju meninggalkan halaman rumah Kakek Usman.


Di balik sebuah pohon yang berdiri menjulang tak jauh dari tempat itu, seseorang menyembunyikan tubuhnya.


Danu. Dengan sirat sendu, menatap punggung mobil Gavin yang bergerak semakin menjauh.


Dan pada akhirnya, cinta miliknya harus rela kandas dan tak ada harapan. Nilam sudah di miliki orang lain, seorang lelaki tampan dan kaya raya. Sangat jauh di banding dirinya yang hanya seorang pemuda kampung biasa.

__ADS_1


Sudahlah ....


Waktu ... jika tak mungkin lagi bersambut dan bersatu, maka biarkan cinta ini terhapus dari hatiku.


Dengan gontai ia memapah langkahnya. Berbalik badan meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba ....


Bugh!


Bruk!


Seketika! Tubuh Danu tertelungkup dan terkapar di atas tanah.


"Bawa dia ke tempatku!"


"Baik, Nona."


Bebepa jam kemudian ....


"Aww! Pundakku."


Setelah beberapa waktu tak sadarkan diri, Danu terbangun dalam keadaan sakit di bagian punggung atasnya. Memijit-mijitnya seraya mengedar pandangannya ke sekeliling. "Dimana ini?"


Ceklek! Seorang wanita muncul dari balik pintu yang baru saja di bukanya itu.


"Sella ...." Kedua bola mata Danu membulat seketika.


"Hay, Sayang. Bagaimana, apa pundakmu masih sakit?" tanya Sella seraya berjalan mendekat ke arah Danu yang terduduk di atas sebuah ranjang.


"Apa maumu?" Pertanyaan Danu langsung.


Seperti biasa, busana minim dan terbuka selalu menunjang penampilan Sella. "Sederhana saja. Aku ... menginginkanmu," imbuhnya ringan dengan kerlingan nakalnya.


"Hanya karena itu, kamu sampai harus melakukan cara murahan seperti ini?"


"Aku tidak peduli. Yang terpenting aku bisa memabawamu kemari. Aku mencintaimu, Danu ..." ungkap Sella sungguh-sungguh.


Tanpa menyahuti lagi, Danu bangkit dari tempatnya.


"Mau kemana, kamu?" Sella menarik lengan Danu yang baru saja hendak melangkah menuju ke arah pintu keluar.


"Aku ingin keluar dari tempat ini."


Sella berdiri di hadapan lelaki itu. "Tidak bisa! Kamu belum menunaikan kewajibanmu."


Danu mengernyit heran. "Kewajiban? Kewajiban apa maksudmu, Sella?"


Sella tersenyum. "Kewajiban sebagai seorang kekasih." Lalu medekatkan wajahnya ke telinga Danu seraya berbisik, "Memuaskanku di atas ranjang ... kita sambung kegiatan waktu itu yang tertunda, karena ulah mantan kekasih bodohmu itu."


"Apa?" Danu menjauhkan tubuhnya dari Sella. "Kau sudah gila Sella. Kita bahkan belum menikah!"


"Maka dari itu, nikahi aku!"


Menggelengkan kepala ." Tidak! Aku tidak bisa."


"Tapi waktu itu kamu bilang, kamu cinta padaku, Danu. Apa semua itu hanya bualan?"


"Ya! Saat itu aku sedang patah hati, karena mengira kekasihku berselingkuh. Tapi ternyata penilaianku salah, malah aku yang bodoh, dengan melampiaskannya padamu," tutur Danu penuh penyesalan.


Sella tersenyum kecut. "Jadi aku hanya pelarianmu saja, begitu?"


Danu meliriknya. "Maafkan aku."


Namun di luar dugaan, Sella malah mengangkat lengannya. Menyusur setiap inci dada bidang Danu yang berbalut kaos itu dengan jari-jarinya. "Tidak apa-apa. Kamu datang pada orang yang tepat. Aku pasti bisa meringankan beban patah hatimu." Deru nafasnya mulai terdengar berat. "Setiap sentuhanku adalah obat. Ayolah Danu, kita lakukan ...."


"Tidak Sella. Ini tidak benar!" Menjauhkan tubuh gadis itu. "Aku harus pergi." Danu melangkah tergesa keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa kemana-mana, Danu. Kamu itu milikku. " Sella menyeringai.


Bersambung....


__ADS_2