
...Cinta ... akan mengalir, dimana air tak bisa melaluinya....
...Cinta ... bukan tak bisa untuk di gapai,...
...tapi terkadang, ia akan mendekat, ketika kita mencari jalan yang lebih jauh....
****
"Jadi kamu yang bernama Kenzie?" Pertanyaan Kakek Usman.
"Benar, Kek. Aku Kenzie." Sebuah senyuman mengiringi jawabannya.
"Ternyata kamu tak kalah tampan dari Gavin," puji si Kakek.
"Yang pasti lebih tampan aku, Kek," pungkasan Gavin mengundang kekehan Kakek dan Kenzie.
"Tentu saja," sahut Kakek.
"Sungguh percaya diri yang hakiki," umpat Nilam.
"Hey, aku mendengarnya. Seharusnya kamu bangga memiliki calon suami setampan dan sekeren aku!"
"Ya, ya baiklah. Aku BANGGA memilikimu." Kalimat bernada terpaksa itu, sedikit di tekankan Nilam.
Gavin mengasak pucuk kepala gadisnya. "Terpaksa pun aku tetap suka." Di tutupnya dengan sebuah kekehan.
Ada yang lain dari canda gurau yang sedang berlangsung di ruang tengah rumah itu.
Hana, bibirnya yang terkatup rapat, durja yang terpasang muram, serta sorot mata yang melukiskan kesedihan, di sadari Kenzie.
Ada sebersit perasaan bersalah dalam hati lelaki itu. Menatap wajah manis yang semula ceria ketika menyambut kedatangan Nilam tadi, kini berubah 360 derajat, muram! Seharusnya aku tidak berkata sekasar itu. Ya, Tuhan, maafkan aku.
"Hana, bisa temani aku melihat kebun sayuran Kakek di belakang? Aku penasaran. Nilam selalu senang ketika membicarakan kebun itu." Sebuah cara Kenzie untuk mengalihkan perhatian. Sebelum Gavin, Nilam dan Kakek menyadari keganjilan sikap Hana yang di sebabkannya.
Tak terdengar jawaban. Hana masih bergeming.
"Hana." Tepukan halus telapak tangan Nilam, berhasil merebut perhatiannya. "Ken memintamu menemaninya ke kebun belakang."
"A- apa?!" Seketika! Wajahnya menancap lurus ke arah lelaki yang baru saja di sebutkan Nilam.
"Hana, apa sedang kamu pikirkan? Sepertinya fokusmu sedikit melayang." Nilam dengan wajah khawatirnya. "Apa karena Bibi Murni?"
Tepat! Seperti mendapat angin segar, Hana langsung menganggukan kepalanya. Pertanyaan Nilam sungguh sangat membantunya, untuk menutupi alasan sebenarnya, yakni karena ucapan Kenzie beberapa waktu lalu. "Iya, Kak. Kapan kalian akan membantu membebaskan Ibu dari Juragan Dahlan?" Terimakasih Kak Nilam.
"Secepatnya, Hana. Kamu tenang saja. Kita akan berusaha sebisa mungkin," suara Gavin menenangkan. "Sekarang, temanilah dulu sahabatku ini ke kebun belakang." Seringai senyumannya di tujukan ke wajah Kenzie.
"Eh?"
"Iya, sana. Antarkan." Dorongan telapak tangan Nilam di lengannya, semakin membuatnya bingung.
"Ayolah, Nak. Antarkan Kenzie," timpal Kakek.
Setelah setumpuk keyakinan untuk menghindar dan menghapus perasaannya pada Kenzie, ia susun dalam kediamannya sedari tadi, kini buyar kembali. Kenapa malah lelaki itu memintanya ke kebun belakang? Apa yang akan di katakannya? Apakah untuk menambah kepingan luka di dalam hatinya?
Tuhan ... aku harus apa?
"Ayo, Hana."
__ADS_1
Oh shit!
Uluran tangan Kenzie itu semakin membuat perasaannya seperti tepung yang di hambur-hamburkan. Haduh!
"Baiklah." Dalam raut pasrah ia menyambut uluran tangan pria itu. Mulai mengangkat tubuhnya mengimbangi Kenzie yang sudah berdiri memintanya untuk melangkah.
"Bersenang-senanglah!" Seruan suara Nilam sepertinya malah terdengar seperti sebuah ejekan bagi Hana. Dasar Kak Nilam!
Beberapa detik kemudian, ia dan Kenzie sudah berdiri berdampingan dengan tiga jengkal jarak di antaranya. Menghadap sepetak kebun, yang di dalamnya tumbuh dengan subur beberapa jenis sayuran hasil tangan dingin Kakek Usman.
"Maafkan aku, Hana." Pembukaan percakapan itu di ucapkan Kenzie tanpa menoleh. Sungguh tidak sopan!
Mendengar kalimat singkat Kenzie itu, Hana terhenyak. "Kenapa minta maaf padaku?" lagi-lagi tanpa menoleh.
Sepertinya sayuran-sayuran itu sungguh memiliki daya pikat yang luar biasa. Hingga tak satupun di antara keduanya ada yang berani menghadap.
"Karena ucapanku tadi. Aku sungguh tidak bermaksud menghalau perasaanmu. Aku hanya--"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan perasaanku sejauh itu. Aku tahu kemampuanmu membaca mimik wajah orang lain itu sungguh hebat. Tetapi kamu salah kali ini. Aku hanya kagum padamu. Kagum pada kemampuan dan kebaikanmu. Tidak lebih, hanya itu saja, Kenzie."
Daaann ... akhirnya, penuturan Hana itu berhasil meraih perhatian Kenzie. Wajah tampan itu, kini menghadap lurus ke arahnya.
"Benarkah?"
Sial! Kenapa lelaki itu malah melontarkan pertanyaan singkat seperti itu? Hhuufft....
"Benar. Anggap saja aku hanya seorang fans yang mengagumi idolanya. Jadi kamu tak perlu risau dengan perasaanku. Karena seorang fans tidak akan pernah mengharapkan balasan untuk kekagumannya." Hana ikut menolehkan kepalanya, menghadap Kenzie.
Telak! Wanita itu ... sungguh membuat perasaan Kenzie menjadi kerdil. Mungkinkah kali ini ia keliru dalam memanfaatkan ilmu psikologinya? Atau ... gadis itu terlalu cerdas menyembunyikan perasaannya. Entahlah.
"Syukurlah kalau memang itu kenyataannya. Aku hanya takut, aku menyakiti perasaanmu karena ucapanku tadi."
"Dari kediamanmu."
"Ketika di dalam tadi?"
Kenzie mengangguk singkat. "Ya."
Seulas senyuman kecut tersungging di bibir Hana. "Bukankah tadi aku sudah bilang, aku ingin ibuku segera kembali."
Lain halnya dengan Hana, Kenzie malah menghadiahkan sebuah senyuman tulus. "Aku pasti membantumu. Bersabarlah ... fansku."
Degg!!
Kali ini, ucapan akhir Kenzie itu malah membuat hatinya sedikit tergores perih. Benar, ia hanya seorang pengagum. Pengagum yang harus tahu dimana tempatnya.
Jarak mereka kini memang hanya sejengkal, tapi hatinya, di sekat luasnya pasifik.
Aduhai cinta. Enyahlah dari hati ....
****
"Doakan kami agar berhasil membawa bibi Murni pulang secepatnya." Sebait kalimat Gavin di tuturkannya seraya membuka pintu mobilnya.
"Iya, kalian berhati-hatilah," sahut Kakek Usman penuh harap dan do'a.
"Baiklah kami pergi dulu," pamit Kenzie.
__ADS_1
"Sayang, tunggu ya, aku tidak akan lama." Satu kecupan hangat di daratkan Gavin di kening Nilam.
"Iya, hati-hati."
"Tentu." Kemudian mengalihkan pandangannya pada Hana dan Kakek yang berdiri berdampingan. "Hana, Kakek ... aku dan Kenzie pamit. Do'akan kami berhasil."
"Iya, Gavin. Terimakasih. Dan bawalah ibuku segera," ucap Hana penuh harap.
"Pasti!"
Kedua lelaki itu mulai memasuki mobil yang sama, yakni mobil Gavin. Karena terlalu risih jika harus membawa kendaraan masing-masing.
Dan seolah akan pergi ke medan perang, kedua cucu dan kakeknya itu, melepas kepergian dua pahlawan yang belum tentu berhasil itu, dengan penuh haru di iringi selipan kekhawatiran. Lebay bukan? Author tepuk Jidat.
Beberapa waktu kemudian, Kenzie dan Gavin sudah terduduk santai di sofa mewah di kediaman Dahlan.
"Tuan Gavin, Tuan Kenzie. Sebuah kehormatan besar Tuan-Tuan mau datang ke rumah kecil saya." Sikap merendah berbalut kesombongan, begitulah cara penyambutan Dahlan.
"Tuan Dahlan," sahutan dengan senyuman di berikan Gavin.
Kedua lelaki tampan itu berdiri seraya menerima uluran tangan Dahlan. Mereka saling bersalaman bergiliran.
"Silahkan duduk kembali," pinta Dahlan sopan. "Hal apa yang membawa Anda berdua sampai mau repot-repot datang kemari?" Dahlan membuka percakapan.
Gavin dan Kenzie saling melempar senyum.
"Tidak ada yang spesial Tuan. Kami hanya ingin bersilaturrahmi pada rekan bisnis penting seperti Anda. Kami juga biasa melakukan ini pada rekan bisnis kami lainnya." Gavin dengan nada santainya.
"Benarkah? Pantas saja, perusahaan Anda berkembang sangat pesat. Ternyata sikap dan perlakuan Anda ini, yang menjadi pemicu orang-orang seperti saya mau menerima kerjasama ini dengan senang hati."
"Anda terlalu berlebihan, Tuan Dahlan."
"Selain itu, kami juga ada keperluan lain, pada Anda Tuan." Kali suara Kenzie.
Dahlan mengernyit. "Kira-kira apa itu, Tuan Kenzie?
"Begini, Tuan. Saya dengar, Anda memiliki banyak wanita yang Anda sekap sebagai jaminan?" Kenzie sedikit merendahkan volume suaranya.
Duarrrrr!
Dahlan tersentak. "Apa maksudmu, Tuan?!"
Darimana mereka mengetahuinya?
"Tenang, Tuan Dahlan. Anda jangan tersinggung dulu. Kami juga pelaku bisnis. Tentu Anda tahu perangai orang-orang seperti kami. Kami juga punya banyak koleksi wanita simpanan," ucap Kenzie terkekeh.
"Apa keinginan kalian sebenarnya?"
"Begini, Tuan. Selain kerjasama perusahaan, kami juga ingin menawarkan kerjasama yang lain." Masih suara Kenzie.
"Maksud Anda?" Dahlan ingin tahu.
Gavin memajukan sedikit tubuhnya, mendekat ke arah Dahlan. Kemudian berbisik, "Kita bisnis jual beli wanita. Bagaimana?"
__ADS_1
Ou, Wuawww!!!
¤¤¤¤¤¤