Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Rhesus langka - Kritis


__ADS_3

Daun pintu mobil itu baru saja ditutupnya.


Kenzie mulai melangkah menapakkan kakinya disebuah halaman rumah, bergaya klasik. Patung-patung berbagai bentuk menghias disetiap sudut.


Ting tong ... bell rumah mulai ditekannya.


Chaka sudah berdiri disampingnya.


Krek! Pintu terbuka.


"Tuan Muda."


"Ibu mana, Bi?" Kenzie bertanya seraya terus melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Ada dikamarnya, Tuan."


"Bagaimana keadaannya?"


"Masih dalam pengaruh obat bius, Tuan. Dokter Anwar bilang, beliau akan sadar beberapa menit lagi," tutur ART itu menjelaskan. "Tuan Muda mau minum apa? Atau mau makan?"


"Tidak, Bi. Saya akan langsung ke kamar Ibu. Oiya, ayah belum kembali?"


"Belum, Tuan Muda. Beliau masih sibuk diluar kota. Baiklah. Kalo ada perlu apa-apa, silahkan panggil saya. Saya ada dibelakang."


"Ya."


Kenzie dan Chaka mulai menaiki tangga, menuju kamar sang Ibu.


Sesampainya.


Pintu yang tak tertutup sempurna itu di sibakannya perlahan. Dengan tapak gontai seolah mengintai, ia mendekati ranjang dimana sang ibu berbaring dengan pejamnya.


"Ken." Suara Dokter Anwar yang masih setia menemani.


Bokong Kenzie sudah mendarat sempurna disamping ibunya. "Bagaimana bisa begini, Dok?"


"Aku juga belum mendapatkan jawabannya, Ken. Kenapa hypophrenia itu kembali menyerangnya. Padahal selama ini sudah membaik, dan bahkan tidak pernah terjadi lagi. Tapi aku rasa ada suatu hal yang mengganggunya."


"Makasudmu, Dok?" Kenzie ingin tahu.


"Seperti sebuah ikatan bathin. Awalnya aku mengira ada sesuatu yang terjadi padamu ataupun ayahmu. Tapi setelah dipastikan, kalian berdua baik-baik saja."


"Darimana Dokter mendapatkan kesimpulan seperti itu?" Kenzie mulai penasaran.


"Saat dia histeris, dia meneriakkan ... anakku ... anakku dan begitu seterusnya," jelas dokter 35 tahunan itu.


"Benarkah?"


"Ya, begitulah, Ken. Jadi dugaanku selanjutnya adalah ... ingatan tentang adikmu yang hilang itu kembali menguasai pikirannya."


"Tapi itu sudah lama sekali, Dok."

__ADS_1


"Ken ... lama atau sebentar, bahkan ratusan tahun sekalipun, seorang ibu, tidak akan pernah melupakan anaknya."


Chaka dalam mode terkejut.


"Jadi Bos Kenzie memiliki seorang adik? Dan adikmu itu hilang?"


"Ya, Chaka." Kenzie sudah berdiri di ambang jendela yang terhalang kaca. "Aku bahkan tidak tahu, adikku masih hidup atau tidak. Pencarianku dan ayah selama ini belum juga menemukan titik terang. Kasus penculikan itupun sudah ditutup setahun setelah hilangnya adikku. Karena polisi mulai angkat tangan dan menyerah."


"Ya, Tuhaan ..," keluh Chaka. "Adikmu itu perempuan atau laki-laki, Bos? Dan sudah berapa lama dia menghilang?"


"Dia ... perempuan," sahut Kenzie. "Kejadian itu sudah sangat lama Chaka. Bahkan sangat lama ...." Selanjutnya Kenzie menceritakan tragedi hilangnya adiknya itu. Dan dengan serius didengarkan Chaka dan juga Dokter Anwar.


"Jadi pada saat itu dia masih balita?"


"Iya, Chaka. Aku tidak mengerti, apa motif orang itu menculik Keny. Karena menurut cerita yang kudengar dari ayah setelah aku cukup mengerti dengan segala situasi, tidak ada ancaman atupun permintaan tebusan saat itu."


Kening Chaka berkerut dalam. "Kenapa ada kejadian seperti itu? Tidak ada ancaman ataupun permintaan uang tebusan."


"Aku rasa ada dendam dibaliknya." Suara Dokter Anwar mengudara.


Kenzie menoleh ke arah Dokter itu, "Tepat! Itu juga yang ada dalam pikiranku dan ayah."


"Tapi dendam karena apa, Bos? Apa saat itu keluarga kalian memiliki musuh?"


"Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti."


"Benar juga."


"Tapi melihat Ibu seperti ini ...." Kenzie kembali mendekati ibunya, betekuk lutut dibawah ranjangnya. Jemarinya membelai wajah teduh dan tenang itu. "Aku akan mulai mengusut kasus ini kembali."


"Terima kasih, Chaka."


"Jangan sungkan, Bos."


*****


Di rumah sakit


"Apa?! Rhesus A negatif?!" Gavin mengedar pandang ke sekeliling, ditatapnya satu persatu orang yang berada ditempat itu untuk meminta pertolongan. Namu sayang, semua menggeleng. Tak ada satupun yang memiliki rhesus darah yang sejenis dengan Nilam. Termasuk dirinya.


"Apa rumah sakit ini benar-benar tidak bisa mengusahakan?"


"Mohon maaf, Tuan Gavin. Sayang sekali rumah sakit tidak memiliki golongan darah yang sama dengan yang dimiliki Nona Nilam. Karena rhesus A negatif itu termasuk jenis rhesus minoritas didunia dan langka ke empat di Asia."


"Jadi maksud Anda ...."


"Benar, Tuan. Operasi pengambilan peluru tidak bisa kami lakukan tanpa darah itu," tutur Dokter wanita itu menyayangkan.


Mendengar kalimat itu, semua tersentak. Raut kecemasan menjadi tampilan masal diseluruh wajah-wajah yang mencintai Nilam tersebut.


"Cucuku ...." Kakek Usman memegang dadanya dengan tubuh terhuyung. Hana dan Murni dengan sigap menahan tubuh renta itu.

__ADS_1


"Kalau begitu kami akan segera mencarinya ...." Gerry meyakinkan. Yang kemudian diangguki Gavin dan Briana.


"Silahkan Tuan, saya do'akan. Tapi saya ingatkan, darah itu harus didapatkan secepat mungkin. Karena semakin lama, kondisi Nona Nilam semakin memburuk dan kritis. Dan kemungkinan terburuknya .... nyawanya tidak akan tertolong."


"Apa?!" Tubuh Gavin bergetar hebat. Sakit yang teramat sangat mulai menyerang dadanya. "Tidak! Nilam tidak boleh pergi!" Sejurus kemudian ia berlari bak turbo, meninggalkan semua orang yang juga dilanda ketakutan yang sama.


"Mama tunggu disini. Papa akan kejar Gavin," ucap Gerry memegang kedua pundak sang isteri.


"Iya, Pa. Semoga kalian berdua berhasil."


"Iya. Kalian semua, jangan pernah berhenti berdo'a."


Ucapan Gerry diangguki semua orang. Ia kemudian berlari mengejar sang anak, yang entah akan kemana tujuannya.


Sepasang telapak tangan muda, menempel di kaca yang memperlihatkan Nilam yang terbujur tak berdaya di dalamnya. "Kak ... jangan tinggalkan aku ya, Kak. Aku sayang Kak Nilam." Tangis Didy pecah tak tertahankan.


"Sayang. Kak Nilam pasti sembuh. Seperti katamu, dia wanita yang kuat dan tangguh. Yakinlah ... Tuhan pasti memberinya kesembuhan." Kedasih menenangkan sang anak.


"Iya, Bu. Ibu benar. Kak Nilam perempuan yang kuat."


"Iya, Sayang." Satu kecupan dikepalanya cukup membuat Didy tenang. "Ibu juga sudah menghubungi Edrick untuk membantu mencarikan darah untuk Nilam."


Didy tersenyum. "Terima kasih, Bu."


"Sama-sama, Nak."


*****


"Apa?! Nilam kritis?!" Kenzie yang masih menunggu sang ibu tersadar seketika tersentak, kala mendengar suara penuh sesak milik Gavin dibalik line telepon. "Baiklah, aku kesana sekarang." Tanpa mendengar kalimat Gavin selanjutnya, ia menutup panggilan tanpa wujud itu sepihak.


"Ada apa, Bos?!"


"Nilam kritis, Chaka. Aku harus segera kesana."


"Aku ikut."


"Tidak! Aku minta, kau gantikan aku, jaga ibu disini."


Tak lagi bisa membantah, Chaka hanya menganggukan kepalanya pasrah. Meskipun dalam hatinya, ia juga sangat mengkhawatirkan gadis yang beberapa malam lalu berkubang dikolam gurame dengan ceria bersamanya. "Hati-hati, Bos. Jangan kebut-kebutan," pintanya.


"Aku tidak janji. Baiklah aku pergi." Kemudian beralih pada Dokter Anwar. "Tetap pantau ibuku."


"Iya, Ken. Berhati-hatilah mengendarai mobilmu."


Tanpa berkata lagi, Kenzie langsung melesat keluar. Menghampiri mobilnya yang sudah berkedip layaknya Hurby, siap dipacu sang Tuan, membelah jalanan kota tengah malam ini.


"Tuhan ... aku mohon lindungilah Nilam. Aku sungguh menyayanginya." Bergumam seraya terus memutar stirnya. Berpacu dengan waktu, untuk sesegera mungkin mencapai rumah sakit.


¤¤¤¤¤¤


Buad yang masih setia membaca, tetap tunggu kelanjutannya, yooo... Karena ke depannya bakalan banyak chapter yang berasa kek Nano-nano. RAMAI RASANYA!

__ADS_1


Jan lupa jempol merahnya.


Sama Vote juga dong..🤓 Kasih hadiahlah, buad cerita receh yang masih bertengger di rangking ribuan ini. 😂😂 NGAREP


__ADS_2