
Diruang kerja Gavin.
Nilam, gadis itu terduduk menunduk diatas sofa. Sementara Gavin, berdiri membelakanginya disudut ruangan menghadap kaca besar yang menyekat antara udara luar dan dalam. Kedua telapak tangannya terselip di dalam masing-masing saku celananya. Ekspresi wajahnya ...
Entahlah!
Mengumpulkan segenap keberanian, Nilam mulai bangkit dari duduknya dan dengan lamban berjalan mendekat ke arah Gavin, nyaris tanpa suara hentakkan kaki. Sejenak memaku diri dibelakang tubuh kekar yang kini tak lagi berbalut jas. Hanya sisa kemeja abu-abu yang lengannya sudah digulung hingga ke sikut dan bagian pinggang yang sudah terlepas dari selipan celananya.
Menatap punggung tegap itu nanar. Rasa bersalah sudah berjalar menguasai. Lalu dengan perlahan mengangkat kedua lengannya, menyusupkan ke sela pinggangnya, sampai akhirnya melingkar dengan sempurna, membentuk sebuah pelukan dari belakang. Wajahnya sudah menempel menyamping. "Maaf." Suara Nilam itu terdengar lirih.
Gavin... inisiatif Nilam itu sepertinya cukup ampuh merubah suasana hatinya. Terlihat dari kepalanya yang menunduk menatap telapak tangan yang menyimpul di perutnya, seraya memasang senyuman. Gadis nakal!
"Gav ... aku mohon jangan marah ... jangan diamkan aku." Semakin merekatkan pelukannya. Diamnya Gavin semakin membuatnya merasa bersalah.
Menanggapi itu, sudut bibir Gavin semakin tertarik lebar kesamping, membentuk sabit senyuman senang. Mulai tak tahan dengan ego pura-puranya, dilepasnya pertautan telapak tangan Nilam cepat. Lalu membalik tubuhnya menghadap ke arah sang pujaan.
"Ini untuk marahku." Mencium bibirnya.
"Ini untuk kecewaku." Beralih pada pipinya.
"Ini untuk cemburuku." Kedua matanya.
"Dan ini ...." Kecupan dalam dikeningnya. "Untuk rasa cintaku."
Mendapat perlakuan refleks namun menggemaskan itu, Nilam tersenyum bahagia. Di belainya kedua pipi tegas Gavin. "Sudah tidak marah lagi, kah?"
"Umm ...." Menatap langit-langit ruangan, seolah berpikir. "Sepertinya tidak. Tapi dengar, aku tidak ingin lagi melihatmu berdekatan dengan dia, atau dengan lelaki manapun! Mengerti?"
"Iya. Tapi tadi kan, aku tidak sengaja, Gav. Kakiku terpeleset."
"Kali ini aku maklumi," imbuh Gavin. "Tidak ada lain kali."
Sebenarnya ada banyak yang ingin Nilam tanyakan tentang kehadiran Danu ditempat itu. Namun urung, karena sudah pasti, hasilnya akan semakin merusak suasana hati Gavin yang masih bertanduk. Nanti saja ia tanyakan pada Asty, pikirnya. "Jadi aku dimaafkan atau tidak?"
"Hmm... karena kamu memelukku dari belakang."
"Karena itu?"
"Ya."
Nilam terkekeh.
"Kenapa tertawa?"
__ADS_1
"Tidak."
"Jangan berbohong!"
"Tidak!"
"Mau ku makan?"
"Hh??"
Gavin menarik tubuh ramping itu dan menempelkan ke tubuhnya. Satu lengannya melingkar mengunci pinggang Nilam dan tangan lainnya ia tempelkan ditengkuk jenjang nan polos tanpa helai hitam yang tergerai.
Kedua wajah berhadapan itu kini hanya berjarak beberapa inci saja. Hembus hangat dari nafas masing-masing saling berbagi bertukar tuan. Semakin dekat.
Mengikuti alunan syahdu yang diciptakan oleh makhluk merah bertanduk itu, tirai kedua pasang mata itu mulai terkatup berat. Semakin dekat ... semakin intim. Hingga ketika kedua pasang belahan kenyal itu mulai saling beradu ....
"Kalian menikahlah dulu!"
DAMN !!!
Kenzie!
Datang layaknya seorang penyihir. Tiba-tiba muncul tanpa tanda dan suara. Benar-benar tidak sopan!
Sontak! Kedua sejoli itu saling melepas diri.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu lebih dahulu?! Apa tanganmu terlahir tanpa tulang?" Sarkas!
"Haha...." Kenzie yang sudah terduduk manis bersilang kaki diatas sofa, terbahak. "Tungkai lenganku sedang istirahat," jawabnya asal.
Nilam hanya membuang muka. Cukup memalukan. Meskipun dilihat oleh kakaknya sendiri.
"Benar-benar Gollum kau! Penguntit!" seru Gavin seraya menoyor kening Kenzie. Lalu menepuk sofa disampingnya meminta Nilam mendekat.
"Aku bukan Gollum. Aku Sauron! Aku bisa menangkap gerak-gerikmu setiap saat," kelit Kenzie santai.
"Untung saja kau kakaknya calon isteriku. Kalau bukan sudah ku colok mata dan bibir cablakmu!"
"Haha...." Kembali tergelak, seraya menarik lengan Nilam lalu mendudukannya disampingnya.
"Hey! Dia calon isteriku, kenapa kau tarik?!"
"Dia adikku! Kau baru boleh menyentuh sekecil apapun bagian darinya, setelah kau menikahinya."
__ADS_1
"Hey, Tuan! Kau saja menyentuh seluruhnya milik isterimu sebelum kalian menikah!!"
"Itu berbeda! Aku mendapatkan jackpot! Dan kau tidak." Kenzie tetap dengan santai dan seringai mengejeknya.
"Heyyy ... memangnya siapa yang mengajakmu main domino sampai kau memenangkan jackpot?"
"Setan."
"Pantas saja. Semoga anakmu terlahir tidak seperti gondoruwo!"
"Anjimm!!" Sebuah tinjuan yang meleset, karena Gavin berhasil mengeles lebih dulu. Melenggang bangkit lalu tertawa sekencang-kencangnya hingga menimbulkan gema diruangan itu. "Anakku pasti sekeren aku!"
"Wooo... sejak kapan kau menjadi narsis, Bro?"
"Sejak saat ini, Bodoh!!"
Akhirnya ... kedua lelaki itu terlibat baku hantam. Saling menendang, saling menjambak, saling mencubit, saling meninju dan saling menghempaskan diri, karena sampai pada titik lelahnya.
Hmmm....
Nilam cukup terhibur. Tingkah dua sahabat itu seolah menjadi pertunjukkan gratis yang membuatnya tertawa. Meskipun tanpa gelak.
...••••...
...Persahabatan itu ......
...Bukan tentang menang atau kalah....
...Bukan tentang tinggi ataupun rendah....
...Bukan tentang kuat ataupun lemah....
...Dan bukan tentang harta yang berlimpah....
...Persahabatan itu ... seperti pernikahan....
....... Sakral .......
...Saling mengisi...
...Saling berbagi...
...Saling menguatkan...
__ADS_1
...Juga saling mengingatkan...
.......Berbahagialah .......