Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Romansa di villa putih


__ADS_3

Sudah habis kata terangkai, untuk melukiskan sang malam dengan segala bagiannya.


Namun dalam kepastian, malam ini ... sangat indah.


Beranda milik sang gelap ini sungguh mengesankan.


Bagaimana tidak, ada dua makhluk sempurna yang kini tengah berpacu dengan gelora perasaan cinta.


Nilam dan Gavin.


Berdiri saling memeluk di atas balkon kayu dilantai dua villa putih itu.


"Kamu suka tempat ini?"


"Selalu, Gav ... apapun itu asal bersamamu, aku selalu suka."


Senyum Gavin merekah seketika. "Kamu sudah pandai menggoda rupanya."


"Eh?" Nilam tersentak, didongakannya wajahnya menatap pria itu. "Gav ... aku tidak sedang menggodamu." Memberengut kesal.


Hey, wajah itu kenapa menggemaskan sekali?


"Lalu?"


"Aku hanya bicara sejujurnya."


"Baiklah. Aku percaya," ucap Gavin tersenyum. Dilepaskannya pelukan itu, lalu dipegangnya kedua pundak Nilam. Ditatapnya netra sayu itu lekat-lekat. "Nilam ... kita menikah saja."


Dag dig dug derrrr....


Irama didalam dada Nilam saling berdentam.


Lelaki ini ... sungguh penuh kejutan. "Apa kamu sedang melamarku?"


Gavin jelas terkekeh. Pertanyaan itu sungguh sangat lucu didengarnya. "Ya ... bisa dikatakan seperti itu." Dengan wajah beredar kesana kemari seolah mengejek.


"Jadi itu hanya bercanda?"


Masih belum disadari Gavin, bahwa wajah itu sudah berubah sendu dan muram. "Gav ...."


Dan berhasil. Suara pelan itu membuat wajah Gavin terjurus ke wajahnya. Dan tentu saja, kekehan pria itu sontak terhenti. "Sayang ... hey...." Menangkup kedua belah pipinya. "Kenapa menangis?" Dilihatnya kedua pipi itu, sudah basah tertimpa tetesan air matanya.


"Apa yang kamu tertawakan?" Tak ada raut bercanda dari pertanyaan itu.


Gavin terhenyak. Tuhan ... ternyata wanita ini merasa dipermainkan. Benar-benar sensitif. Apa mungkin ia sedang datang bulan?


Hmm ... entahlah.

__ADS_1


Paras Gavin sudah kembali serius. Dipegangnya kedua pundak Nilam. "Dengarkan aku ...." Beralih menggenggam kedua telapak tangannya. "Aku hanya merasa lucu dengan pertanyaanmu tadi. Tidak ada maksudku mengolok, apalagi mempermainkanmu. Nilam ... aku serius dengan ucapanku tadi."


Ditelusupkan telapak tangan kanannya ke dalam saku hoody yang dikenakannya. Dan nampaklah sebuah benda kecil berwarna merah, berbentuk kotak, berukuran sekitar 2,5 × 2,5 cm, ditelapak tangannya. Di bagian tengah benda itu terdapat sekatan bergaris disekeliling, dengan engsel kecil disalah satu bagian.


Kotak cincin!


Readers bertanya: Kenapa hanya untuk sebuah kotak cincin, deskripsinya sampai harus serumit itu?


Dan Author menjawab: Tuntutan dua ribu kata, Genkksss...! Wkwk.


Kembali pada Gavin dan Nilam.


Bertumpu pada kedua lututnya, Gavin menyimpuhkan diri dihadapan Nilam. Dengan kepala mendongak menatap mata indah itu. Kotak yang didalamnya berisi cincin emas 24 karat dengan hiasan sebutir kecil berlian, bertahta dengan angkuh dipuncaknya, dilayangkannya didepan wanita yang dicintainya itu.


Anggap saja alunan indah gesekkan biola, menjadi backsong di moment romantis itu.


"Nilam ... will you marry me?"


Menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya, Nilam dalam irama terharu dan tak percaya. "Gavin ...."


"Akan ku ulangi untuk meyakinkanmu," ucap Gavin. "Nilam, maukah kamu menikah denganku?"


Tak ada ragu, dan tak ingin membuat lelaki itu menunggu dan pegal dalam posisinya, Nilam akhirnya mengangguk dengan ritme sedikit lebih cepat. "Iya, Gav. Aku mau. Aku mau menikah denganmu."


Seketika! Senyum di bibir pemuda itu mengembang dengan lebar. Ia mengambil cincin dan meletakkan kotaknya disamping kakinya. Lalu diraihnya telapak tangan Nilam, untuk memasang benda indah dan bundar itu dijari manisnya. Dilanjutkan dengan sebuah kecupan dalam di punggung alat penggenggam itu. "Terimakasih, Sayang."


Di balik sebidang jendela, dengan sehelai tirai yang menutupnya sebagian, Kenzie menatap kedua sejoli itu dengan perasaan getir dan terluka. Saliva ditelannya dengan susah payah.


Kenapa rasa sakit itu harus ada?


Kenapa Tuhan belum juga menghapuskannya?


Kenapa ia harus mencintai wanita yang jelas sudah dimiliki sahabatnya?


Berbalik badan, lalu berjalan menjauh dari pemandangan yang seharusnya tak ditontonnya hingga akhir. Hati ... sampai kapan kau akan terpenjara dalam cinta yang semu dan mustahil itu?


Tanpa disadarinya, Hana berdiri di balik sedaun pintu yang terhubung dengan sebuah kamar yang kini dipijaknya. "Kenzie ... ternyata kamu benar-benar mencintai Kak Nilam," gumamnya memandang lelaki yang kini sudah menuruni anak tangga itu dengan tatapan iba. "Andai aku mampu membuatmu jatuh cinta padaku, maka akan kubuat kamu tersenyum setiap waktu. Tapi sayang ... harapanku terlalu muluk. Dan kamu terlalu tinggi untukku gapai."


*****


Pagi harinya.


"Kak, kamu sedang memasak apa?" tanya Hana menghampiri Nilam yang sudah sibuk dengan pisau dan penggorengan.


"Nasi goreng telur. Kamu mau? Atau mau roti saja?" tanya Nilam hanya melirik gadis itu sekilas.


"Aku roti saja."

__ADS_1


"Baiklah. Nanti Kakak siapkan."


"Tidak perlu, Kak. Aku bisa sendiri," tolak halus Hana. "Apa ada yang bisa ku bantu, Kak?"


Untuk sejenak Nilam berpikir. "Umm ... tolong potong-potong sayuran ini, bisa?"


"Kakak mengejekku?" Pertanyaan itu diiringi dengan wajah memberengut.


Nilam terkekeh. "Tidak ada yang mengejekmu. Kakak hanya khawatir, kamu terkena pisau. Kamu, kan, belum terbiasa dengan pekerjaan semacam ini."


"Aku bisa, Kak. Lihat saja," ujarnya, seraya membawa pisau dan keranjang sayuran itu ke arah meja.


" Baiklah. Kakak percaya padamu. Kakak tinggal ke toilet sebentar."


"Iya, Kak." Sepeninggal Nilam, Hana mulai siap dengan pisaunya. Sebatang wortel menjadi pilihan pertama hunusan benda tajam itu. Dan ketika itu tiba-tiba....


"Aww ...!!" pekik gadis itu.


"Ada apa, Hana?!" Kenzie yang baru saja tiba ditempat itu langsung berhambur ke arahnya.


Dilihatnya jari telunjuk Hana sudah berlumur darah segar yang keluar akibat goresan pisau.


Tanpa babibu, diraihnya jari penuh darah itu lalu di hisapnya, guna memutus laju cairan merah itu terus mengalir.


Hana tercengang. Kenzie ... dia ....


Seketika irama jantungnya berdentam sangat kencang. Lelaki itu, kenapa muncul disaat perasaannya dalam keadaan sakit karena cinta bertepuk sebelah tangannya?


Oh hati... kapan rasamu akan bersambut?


Sehelai kain hasil robekan yang entah dari mana didapat Kenzie, langsung ia balutkan pada bagian jari Hana yang terluka itu dengan sigap. "Sudah."


"Te-terimaksih, Ken."


"Sama-sama, Hana. Lain kali berhati-hatilah," ujar lelaki itu.


"Iya." Hana menunduk. Sungguh, wajah itu sama sekali tak ingin ditatapnya. Ia akan menjadi bodoh bila mata mereka saling bertemu. Dan Kenzie, pasti akan mengulang kembali kalimat yang pernah dilontarkannya dulu ketika didesa.


Jangan jatuh cinta padaku, Hana.


Oh, Tuhan ... kalimat itu seperti sebuah petir yang menyambar hatinya hingga hangus terbakar.


Romance in the white house...❤❤


¤¤¤¤¤


Jangan lupa jejakmu ....

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2