
Nafsu ... jangan biarkan terlalu liar menguasai diri yang rapuh.
Sapuan setitik kesabaran mungkin bisa menghalaunya menjauh.
Anita, gadis itu terus meronta dan berteriak, memukul-mukul jeruji besi yang kini mengurung tubuhnya.
Nasibmu ... kini kau menjadi seorang psakitan.
Langit mungkin menertawakan.
Bumi mungkin enggan untuk kau pijak.
Tak bisa menghindar dari segala kecaman.
Tak bisa lari dari penghakiman.
Kau ... harus siap di adili.
Malam itu juga.
Gavin berjalan dengan gagah didampingi seorang pengacara disampingnya, menuju sebuah ruangan didalam kantor kepolisian.
Keningnya sedikit berkerut, kala didapatinya seorang lelaki yang sangat dikenalinya, beserta dua orang lainnya yang juga berwajah tak asing dimatanya, sudah duduk dengan santai di dalam ruangan itu.
"Ken ... kau disini?"
"Hay, Gav .... Ya, seperti yang kau lihat," ujar Kenzie santai.
Ikut mendudukkan tubuhnya disamping sahabatnya, Gavin mulai menunjukkan rasa herannya. Diseberang mejanya, seorang petugas polisi sudah siap dengan komputer menyala dihadapannya.
"Ada urusan apa kau disini? Lalu Nilam ....?" tanya Gavin ingin tahu.
"Ada Chaka yang menjaganya."
"Selamat malam, Tuan-Tuan. Maaf, kami mengganggu waktu istirahat kalian," ucap polisi itu dengan nada tegasnya seraya memandang kedua lelaki itu bergiliran. Lalu berakhir pada Gavin. "Tuan Gavin, kehadiran Tuan Kenzie disini juga sangat kami butuhkan. Karena beliau adalah saksi kunci percobaan pembunuhan yang sekitar satu jam lalu, menimpa Nona Nilam."
Sontak! Gavin terperanjat. Mata bulat itu semakin membulat. Ia dilanda keterkejutan juga serangan rasa khawatir yang akut. "Sa-satu jam yang lalu??" Pandangan itu lalu beralih pada Kenzie. "Ken ...?" Meminta penjelasan.
"Iya, Gav ... Anita, dia otak dari segala kejadian ini. Tadi dia datang dan menyamar sebagai perawat. Dia mencekoki kedua orang suruhanku dengan obat tidur, untuk bisa leluasa masuk kedalam kamar rawat Nilam," ungkap Kenzie.
"Lalu bagaimana keadaan Nilam sekarang?" Gavin dirundung cemas.
"Dokter sudah menyatakan kondisinya baik-baik saja." Kenzie membalas singkat, tanpa menjelaskan secara rinci dan mengaku bahwa ia yang telah menyelamatkan gadis itu. "Maaf, tadi dua ban mobilku pecah. Jadi aku datang sedikit terlambat." Berhias raut sesalnya.
"Apakah itu juga bagian dari rencana Anita?"
Anggukan Kenzie jelas dimengerti Gavin. "Wanita terkutuk!!" serunya geram.
__ADS_1
Selanjutnya keduanya juga kedua lelaki suruhan Kenzie, yang bertindak sebagai korban dan saksi, memulai sesi interogasi dengan polisi dihadapannya.
Beberapa waktu kemudian.
Keenam lelaki termasuk polisi dan pengacara Gavin, sudah berdiri saling berjabat tangan.
"Terima kasih. Kesaksian Anda semua akan segera kami proses."
"Baik, Pak. Terima kasih juga atas bantuannya," ucap Kenzie sopan. "Kalau begitu kami permisi."
"Silahkan. Selamat beristirahat," balas kembali sang aparat.
Masih diparkiran kantor polisi.
"Ken aku ikut dimobilmu."
Mendengar kalimat Gavin, Kenzie yang baru saja hendak masuk kebalik kemudi mobilnya, urung.
"Ada apa?"
"Banyak ingin ku bicarakan denganmu."
"Baiklah. Ayo."
"Sebentar," sahut Gavin. "Kamu, siapa namamu?" Gavin bertanya pada salah seorang dari kedua anak buah Kenzie.
"Ya Anto, bisa tolong kendarai mobilku sampai dirumah sakit? Aku akan ikut mobil Kenzie. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya."
"Dengan senang hati, Tuan."
"Terima kasih. Ini kuncinya." Benda berbunyi kerincing itu, di lemparkan ke arah lelaki muda tersebut.
Dan kedua mobil itupun melaju beriringan. Sementara satu lainnya mengendarai motor sportnya.
Didalam mobil Kenzie.
"Ken ... terima kasih telah menyelamatkan Nilam dari Anita. Kalau saja kau tidak datang tepat waktu, mungkin kita sudah kehilangannya," ucap Gavin tanpa basa dan basi.
Untuk sejenak Kenzie terdiam. Kita?
"Sudah seharusnya begitu, Gav." Kenzie dengan wajah tetap fokus pada kemudi dan jalanan.
"Semakin kesini, aku semakin berpikir, bahwa yang cocok dengan Nilam itu adalah dirimu, Ken." Tak ada raut bercanda diwajah Gavin kala mengucap kalimat itu.
CHIIITTTT....
Decitan suara itu berasal dari rem yang ditekan kaki Kenzie. Ia menginjak rem itu tiba-tiba. Kata yang tersusun dari mulut Gavin, benar-benar mengejutkannya. "Apa yang baru saja kau katakan?!"
__ADS_1
"Ya ... jika Nilam menginginkannya, maka aku akan relakan dia bersamamu. Karena kau lebih bisa menjaganya daripada aku."
"Jangan bodoh, kau Gavin! Apa pikiranmu sudah rusak?!" Kalimat sarkas itu terlontar dari mulut Kenzie dengan oktaf sedikit meninggi. "Nilam itu mencintaimu."
Menghempaskan tubuhnya ke kepala kursi, Gavin mengusap wajahnya kasar. "Aku tahu itu, Ken."
"Kau tahu? Tapi kenapa kau malah akan menghancurkan hatinya?!"
"Karena aku merasa bodoh, Ken!" Kembali menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah Kenzie. "Aku malah menyeretnya kedalam bahaya. Anita melakukan itu karena aku! Dan karena itu Nilam menjadi korbannya."
Menanggapi itu Kenzie hanya membuang muka ke lain arah. Senyuman miring berpulas terpaksa diwajahnya.
"Dia hampir saja mati terkena peluru, karena aku gagal menjaganya. Dan kau dengan ketegasanmu datang membopong dan membawanya ke rumah sakit, sementara aku hanya terinjak dalam kebodohanku. Bahkan darahmu juga yang menyelamatkannya dari maut. Dan malam ini, dia hampir melepas nyawanya di ujung pisau Anita, itu juga karena kebodohanku meninggalkannya. Dan lagi ... kau datang menjadi penyelamatnya," lanjut Gavin muram.
"Itu semua hanya hanya kebetulan, Gav. Tidak ada niat dari hatiku untuk menjadi hebat dimatamu atau siapapun. Aku hanya sedang berada dalam keadaan yang tepat. Bukan untuk melangkahimu sebagai orang yang dicintainya." Untaian kalimat itu sedikit ditekankan Kenzie.
"Tapi itu kenyataan, Ken. Kau lebih bisa menjaganya daripada aku. Dan kau juga mencintainya, kan?"
Menanggapi kicauan Gavin, wajah Kenzie mulai menunjukkan raut jengahnya. Ia mulai menginjak pedal gasnya kembali. "Nilam sudah menunggumu terlalu lama. Jangan buat ocehanmu menjadi kenyataan. Tetaplah berdiri di sampingnya sebagai lelaki yang dicintai dan mencintainya."
"Ken, aku...."
"Berhenti bicara, atau ku lempar kau ke danau buaya!"
Mengembuskan nafas kasar, Gavin kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Baiklah."
Bukan anak kecil yang takut dengan ancaman sekonyol itu, namun Gavin memahami, bahwa sahabatnya itu tak setuju dengan keinginannya melepas Nilam.
Bukan karena tidak mencintainya, tapi kegagalan melindungi sang gadis, membuatnya merasa kerdil sebagai lelaki dan juga pasangannya.
****
Kedua mobil itu sudah terparkir sempurna dihalaman ruman sakit besar itu.
"Kau tidak akan masuk, Ken?" Gavin sudah menyembulkan tubuhnya keluar dari mobil Kenzie. Dan melihat sahabatnya itu masih terdiam dikursi kemudinya.
"Tidak. Aku akan pulang ke rumah ibuku. Tolong panggilkan Chaka. Dia akan pulang bersamaku. Dan untuk kedua penjaga itu, biarkan mereka tetap bekerja selama Nilam masih dalam perawatan."
"Baiklah." Tanpa menyahuti lebih banyak, Gavin cukup mengerti. Ia mulai melangkah masuk ke dalam rumah sakit dimana Nilam dirawat.
Kenzie menatap punggung sahabatnya yang berjalan semakin menjauh.
"Jujur saja, Gav. Aku memang menginginkan Nilam, bahkan sangat mencintainya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Andai dia juga menginginkanku, mungkin aku akan dengan senang hati menyambutnya. Tapi kau sahabatku. Melindungi gadis itu, juga adalah bagian dari kepedulianku terhadapmu. Karena itu, aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu, Gav."
°°°°
__ADS_1
Berikan cinta kalian juga untuk cerita ini dengan sentuhan jejakmu, readersku Zeyeeenggg...❤❤❤