
Tunggu! Sepertinya aku mengenali suara itu.
Seketika, mata Nilam membelalak.
"Anita!"
Pemilik wajah itu tersenyum. Lalu mulai membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya perlahan tapi pasti. "Sepertinya aku tidak membutuhkan benda ini lagi," ujar Anita dengan senyuman yang entah berarti apa.
Nilam bangkit beringsut, ia memundurkan tubuhnya hingga terpojok ke kepala ranjang yang didudukinya. "Ma-mau apa kamu, Anita?! Kenapa kamu memakai pakaian perawat?!" Sebaris tanya dalam ketakutannya.
Melihat ketakutan Nilam, sebenarnya Anita ingin terbahak, namun itu tak bisa dilakukannya, karena itu jelas akan memancing perhatian. Jadi hanya sebuah kekehan kecil yang tersembur dari mulutnya seraya menuntun tubuhnya untuk bangkit. "Nilam ... namamu saja sudah kuno, apalagi penampilanmu." Tersenyum kecut. "Aku tidak mengerti, apa yang Gavin lihat darimu selain wajahmu yang ... ya ... yang cantik dengan segala keterbatasan itu."
"Katakan apa maumu?!" To the point. Tanpa memperdulikan kicauan pipit sawah itu.
"Aku?" Anita menunjuk wajahnya sendiri, lagi-lagi dengan senyuman kecut. "Aku ... tentu saja akan menuntaskan rencana yang kemarin gagal itu." Nada geram dengan mata membola, Anita mengeluarkan sebilah pisau lipat yang sudah di bukanya, dan menodongkan ke arah Nilam.
Nekad!
Nilam tentu saja tersentak, terkejut, dan ... takut!
"Rencana kemarin?"
"Ya ... penembak bodoh itu aku yang menyuruhnya," akunya. "Aku ingin kau mati. Agar tidak ada yang menggangguku untuk mendapatkan Gavin."
"Apa?!" Menggeleng-gelengkan kepalanya, Nilam dalam ketidak percayaannya. Wanita ini ... psychopath.
"Iya, jika aku tidak bisa mendapatkan Gavin kembali, maka siapapun tak boleh ada yang memilikinya. Termasuk kamu, wanita sialan!!"
"Jangan Anita ... jangan lakukan ini. Kamu akan menyesal. Jangan rela dibutakan oleh perasaan cintamu, Anita. Sadarlah ...." Sebuah usaha pencegahan dari Nilam, karena Anita terus mendesak mengacungkan benda tajam itu ke arahnya.
"Aku sudah memiliki kesempatan sebaik ini. Mana mungkin aku menyia-nyiakannya. Dasar bodoh! Aku tidak peduli lagi dengan apapun. Yang penting tidak akan ada lagi wanita yang dicintai Gavin nantinya."
Nilam terus beringsut. Alat medis yang terpasang di lengannya cukup menyulitkannya untuk menghindar dan bergerak.
Anita kembali terkekeh. "Kau takut?" godanya.
Takut?
Nilam terdiam. Kata itu seperti sebuah sihir. Mengapa ia harus takut?
Mati, cepat ataupun lambat, kata itu pasti akan terjadi dan menimpanya, dan bukan lagi sekedar kata.
Berteriakpun akan jadi hal yang tabu saat ini. Karena saat teriakkan itu terlontar dari mulutnya, pisau itu mungkin sudah tertancap dibagian tubuhnya. Dan ia tetap akan mati.
Tuhan, inikah akhir hidupku?
"Baiklah Anita ... aku mengalah. Silahkan tancapkan pisau itu ke tubuhku." Sebuah perasaan ikhlas yang nyaris tak pernah ada. Namun Nilam memiliki dan melakukannya.
"Kau sangat pengertian sekali. Baiklah. Akan ku lakukan dengan senang hati."
Mata indah Nilam mulai terkatup perlahan. Seolah siap menjemput kematiannya.
Gavin, Kakek, Hana, Bibi, Didy, dan juga ... Kenzie.
Selamat tinggal ....
"Kau sangat siap sepertinya, Nilam. Baiklah aku akan memilih jantungmu untuk mempercepat kematianmu. Dan juga ... agar kau tidak terlalu lama merasakan sakit!"
Benda itu mulai terangkat keatas, dan siap ditancapkan.
Ngngng....
__ADS_1
BRAKK!!
Sebuah tendangan keras membuat pintu yang terkunci itu terbuka seketika.
Anita dan Nilam menoleh terkejut.
Kenzie, dengan langkah dan gerak cepat menahan laju pisau di tangan Anita.
Wanita itu sempat melawan. "Jangan ikut campur kau, Kenzie!!"
Tenaga yang tak sebanding membuat Kenzie dengan mudah merebut benda tajam itu dari genggaman Anita, lalu melemparkannya ke sembarang arah. "Jangan bodoh kamu, Anita!!"
"Dia harus mati!!!" teriak Anita histeris.
Dan sukses, teriakkan itu mengundang orang-orang untuk menghampiri tempat itu. Termasuk kedua lelaki yang telah dicekoki Anita dengan susu yang mengandung obat tidur.
"Ada apa, Tuan?!" tanya salah satu lelaki penjaga itu.
"Seret wanita ini ke kantor polisi, dia mencoba membunuh Nilam dengan pisau itu." Kenzie menunjuk benda kecil yang tergeletak dilantai.
Kedua orang itu saling beradu pandang. Mereka merasa tak asing dengan kedipan mata milik Anita. "Bukankah kamu, suster yang memberi kami susu?"
Selintas Kenzie mulai mengerti sesuatu.
"Oh, jadi kamu mencekoki mereka dengan obat tidur terlebih dahulu, Anita? Kamu juga yang membuat ban mobilku pecah? Dan kamu juga orang dibalik pelemparan gas beracun dirumah Gavin? Iya?" Gempuran pertanyaannya.
Anita terdiam dengan tatapan bencinya.
" Ya, aku yang melakukan semua itu!" akunya tanpa ragu. "Dan aku juga orang dibalik penembakan wanita itu kemarin!" lanjutnya. "Sekarang kau puas, Kenzie??!!"
"Seret dia ke kantor polisi!" titah Kenzie tegas pada kedua orang suruhannya.
"Siap, Tuan!"
Semua orang menatap sinis ke arahnya.
"Dasar wanita gila!" teriak mereka mengolok.
"Diam kalian!!"
Sepeninggal Anita.
Nilam sudah berada dalam pelukan Kenzie.
"Tidak apa-apa. Tenanglah, ada aku disini...."
"Terima kasih, Ken."
"Iya. Kamu aman sekarang." Kecupan bertubi didaratkan Kenzie dikepala gadis itu.
"Mohon maaf, atas kelalaian penjagaan kami, Tuan, Nona," ucap seorang dokter datang menghampiri.
"Iya, tidak apa-apa, Dok. Kejadian ini memang sudah terencana. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan kinerja rumah sakit."
"Terimakasih atas pengertian Anda," ucap dokter itu. "Bisa saya periksa Nona Nilam terlebih dahulu?"
Dekapan itupun terlepas. "Silahkan, Dok," jawab Kenzie. "Tidak apa-apa, biarkan dokter memeriksamu dulu."
Nilam mengangguk. "Iya, Ken."
Beberapa saat kemudian ....
__ADS_1
"Syukurlah Anda baik-baik saja, Nona," ujar sang dokter berjenis kelamin wanita tersebut usai memeriksakan seluruh fisik dan keadaan Nilam.
"Syukurlah." Kenzie menimpali dengan raut lega.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
*****
"Gav ...." suara lirih Briana memanggil.
Dan Gavin langsung berhambur mendekat ke arah sang ibu yang masih terbaring.
"Iya, Ma? Apanya yang sakit?" tanya pemuda itu cemas.
"Mama tidak apa-apa, Sayang."
"Iya, Tuan Gavin. Beruntung orang tua Anda cepat di larikan kesini, sebelum racun-racun gas itu menyebar ke seluruh tubuh mereka," ungkap dokter menjelaskan.
"Jadi bagaimana keadaan mereka sekarang, Dok?"
"Syukurlah, tidak ada yang serius. Baiklah kalau begitu saya permisi."
"Iya, terima kasih, Dok."
"Gav ... bagaimana keadaan Nilam?" Gerry yang terbaring diranjang bersebelahan dengan isterinya membuka suara.
"Dia baik-baik saja, Pa."
"Kamu tinggalkan dia sendiri disana?" Timpalan pertanyaan Briana.
"Aku meminta Kenzie untuk menjaganya."
"Syukurlah kalau begitu."
"Apa Papa tahu siapa pelempar bom asap itu?"
Gerry menggeleng. "Belum, Gav. Polisi sedang menangani. Kita tunggu saja hasilnya."
"Iya, Pa."
Saat itu seorang pria paruh baya datang menghampiri keluarga tersebut. "Permisi, Tuan Muda."
Gavin menoleh. "Pak Kus, ada apa?"
" Anu, Tuan. Diluar ada polisi ingin bertemu Tuan Muda."
"Baiklah, sebentar," ucap Gavin. "Pa, Ma, aku keluar sebentar."
"Iya, Gav."
Diluar.
"Selamat malam, Tuan Gavin." Dengan telapak tangan kanan diujung pelipisnya membentuk hormat.
"Malam."
"Kami dari pihak kepolisian. Ingin memberi Anda kabar. Bahwa pelaku utama pelemparan gas beracun itu, sudah kami tangkap."
__ADS_1
"Benarkah? Siapa dia, Pak?"
"Nona Anita."