
Telah habis kata dan umpama untuk gelap yang kini telah kembali menyambut.
Namun jelas, malam ini udara dingin terasa menusuk hingga ke pori-pori kulit terdalam ketiga makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna itu.
Nilam, Gavin, dan juga Didy kini tengah duduk melingkar di sebuah ruangan yang entah di sebut apa. Tak ada empuknya sofa, mereka bertiga duduk beralas sebuah tikar yang bahkan sebagian ujungnya telah habis di grogoti Jerry.
Di atas langit-langit ruangan yang hanya di tutupi oleh sehelai polibag hitam yang di gunting dan di bentangkan melebar, sebuah lampu kecil dengan pendaran cahaya berwarna kuning meremang yang hanya berdaya lima watt saja, tergantung dengan percaya diri.
Di sinilah Didy menitipkan hidupnya, di gubuk kecil peninggalan Mbok Parmi, seorang diri. Seandainya Dahlan tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya, mungkinkah ia akan membawa Didy pada gelimang harta yang kini sedang di nikmati oleh ketiga anaknya yang lain, Shinta, Rani, dan Yudi?
Semoga.
"Bagaimana, apa ikan bakarnya enak?" tanya Nilam pada Gavin dan Didy yang tengah asyik menyantap ikan hasil tangkapan Didy sore tadi. Dan tentu saja telah di masaknya.
Masa iya tu lele di telen idup-idup. Limbad aja mikir seratus kali kayaknya. Wkwk.
"Tentu saja, aku rasa bahan makanan apapun jika tanganmu yang mengolahnya, sudah pasti akan terasa enak," puji Gavin seraya memasukkan cubitan demi cubitan ikan bakar itu ke mulutnya.
"Kamu berlebihan, Gav. Aku tidak sehebat itu."
"Kak Gavin benar, Kak. Ini memang sangat enak. Apalagi sambalnya." Didy mengangkat jempolnya. "Aku jadi menyesal tidak menangkap lebih banyak lagi."
"Besok kita tangkap sebanyak-banyaknya," ujar Gavin.
"Boleh, Kak."
"Dy ... dia itu hanya memainkan komputer dan setumpukkan kertas setiap harinya. Mana bisa dia menangkap ikan? Yang ada dia akan menyusahkanmu nantinya," ejek Nilam terkekeh.
"Benarkah itu, Kak?"
"Iya, Dy. Kamu liat saja nanti sendiri. Pasti bajunya basah kuyup karen ia tak bisa berjalan dengan baik di atas bebatuan."
"Lalu aku terpeleset ke sungai, begitu maksudmu? Enak saja. Kalian lihat nanti. Paus pun bisa ku taklukkan, apalagi cuma ikan-ikan kecil seperti ini." Gavin mengangkat tulang belulang lele yang baru saja di santapnya.
Nilam mendelik. "Lihatlah, Dy. Betapa sombongnya dia. Mana ada ikan paus di sungai."
"Haha ...." Didy terbahak. "Ada, Kak."
"Ha?!"
__ADS_1
"Iya, ada."
"Paus apa yang ada di sungai?" Nilam mengeryit.
"Pausiah, Kak. Anaknya Pak RT. Dia kan suka sekali mandi di sungai, sambil membawa bakul cucian."
"Itu Fauziah, Didy ...." Nilam mencubit pelan lengan bocah itu.
"Haha ...." Gavin melayangkan tos pada Didy. " Kamu pintar Bocah!"
"Kalian ini, sama saja!" seru Nilam sembari membereskan piring-piring kotor di hadapannya lalu melenggang menuju dapur yang hanya tersekat sebuah tripleks, bersisian dengan ruangan yang kini diduduki mereka.
Beberapa saat kemudian, Nilam sudah kembali bergabung dengan kedua lelaki berbeda usia itu. Didy tengah asyik memainkan game di ponsel yang baru saja di keluarkan Gavin dari dalam saku hoody yang di kenakannya. Dan tentu saja pria itu mengajarkannya lebih dulu.
Mungkin sekarang saat yang tepat mengajak Didy bicara. Sebelum ia tertidur. Batin Nilam.
Menyusun segenap kata dalam otaknya, sepertinya Nilam mulai siap melontarkan berbagai pertanyaan yang telah menumpuk sejak lama di hati dan pikirannya. Ia melirik Gavin sejenak, meminta pertimbangan. Hanya dengan kode tatapan seolah meminta persetujuan, langsung di mengerti Gavin. Tak lama ia mengangguk tanda setuju.
Nilam menarik nafas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. "Umm, Dy. Boleh Kakak bertanya sesuatu padamu?"
Didy mendongak. Raut serius di wajah Nilam membuatnya faham, bahwa ia harus meng-game over-kan secara paksa permainan di ponsel milik Gavin yang tengah dimainkannya tersebut. Cukup pandai dan pengertian. "Memangnya apa yang ingin Kakak tanyakan? Sepertinya serius sekali?"
"Umm ... begini, Dy. Kakak ingin tahu. Benarkah penyebab kamu tak bisa bicara, adalah karena kamu menyaksikan secara langsung, kejadian pembunuhan yang menimpa kedua orang tua Kakak tiga tahun yang lalu?" tanya Nilam hati-hati.
"Dy ...." Nilam mulai khawatir. Ada raut penyesalan di wajahnya karena melontarkan pertanyaan itu.
Gavin memegang kedua bahu Didy. "Tenanglah. Jangan takut. Ada Kak Gavin disini."
Didy memusatkan tatapannya pada Gavin. "Aku benar-benar takut, Kak."
"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja." Gavin memberi penenangan. "Begini, Dy. Kita sangat membutuhkan informasi ini dari kamu. Agar kedua orang tua Kak Nilam mendapat keadilan, dengan tidak membiarkan para penjahat itu berkeliaran dengan bebas diluar sana."
Didy masih terdiam, mencerna setiap kata yang di ucapkan Gavin.
"Kamu lihat Kak Nilam." Mengarahkan tatapannya pada si mpunya nama, kemudian di ikuti Didy. "Dia sangat menderita karena kehilangan kedua orang yang di sayanginya. Juga Kakek Usman, Bibi Murni dan Hana. Mereka semua kehilangan. Tapi orang-orang jahat itu masih tenang berkeliaran bebas di luar sana. Tolong, Dy ... bantu kami. Ceritakan kejadiannya. Karena kamu adalah satu-satunya saksi kunci dari kejadian naas itu," lanjut Gavin panjang kali lebar.
"Gav ... sudahlah. Jangan paksa dia lagi." Hati lembut Nilam mulai tak tega melihat Didy yang masih terlihat ketakutan.
"Tidak apa-apa, Kak. Kak Gavin benar. Kakak butuh keadilan. Dan juga aku tentunya." Sekilat tekad tergaris tajam di mata Didy. "Waktu itu ...."
__ADS_1
Flashback on
Tiga tahun lalu ....
Siang itu.
Matahari baru saja melewati sepuluh derajat dari titik teriknya. Dengan kekuatan kaki kecilnya, Didy terus berlari menerjang apapun yang ada di hadapannya. Sesekali kepalanya mendongak menatap satu titik di atas langit.
Layang-layang!
Ya, Didy yang kala itu masih berusia dua belas tahun, tengah asyik mengejar layang-layang yang sudah terputus dari benangnya.
Ia terus berlari tak kenal lelah. Jauh dan semakin jauh dari desa. Namun karena hembusan angin yang cukup kencang, layang-layang itu terus mengudara tanpa terlihat akan tersangkut ataupun mendarat.
Hingga akhirnya titik lelahnya mulai tiba. Langkah cepatnya mulai melemah. Layang-layang itu sudah terbang entah kemana. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon rindang untuk menetralkan nafasnya yang memburu.
Di edarkannya pandangan kesekeliling. Pohon-pohon besar berjejer menghitarinya. Seketika ia tersadar dan tersentak. "Aku dimana?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia berdiri dengan sisa tenaganya. Dan mulai memapah langkahnya gontai.
"Sepertinya aku dihutan," lanjutnya bergumam.
"Jangan! Jangan bunuh suamiku!" Teriakan itu sampai di telinga Didy. Bahkan terdengar sangat jelas, meskipun dari kejauhan.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia terus melangkah mendekati asal suara teriakan itu.
Semakin dekat dan semakin dekat. Dan .... itu mereka!
Ada sekitar enam orang yang terlihat berkumpul ditempat itu. Didy menyembunyikan tubuhnya dibalik pohon. Seperempat wajahnya di gunakannya untuk mengintip.
"Kamu memang biadab, Dahlan!" Teriakan itu berasal dari suara Marni. Ia duduk bersimpuh di hadapan seorang lelaki yang tergolek sekarat dengan lumuran darah di sekitar perutnya. Lelaki itu adalah Wisnu, suami Marni sendiri.
Pasangan suami isteri itu tak lain adalah orang yang telah menemukan, merawat dan membesarkan Nilam dengan penuh kasih sayang.
"Salahmu sendiri karena menolakku, Marni," suara seorang lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Dahlan itu, berbicara santai seolah tanpa dosa. Padahal ia baru saja menancapkan sebilah pisau, tepat di tengah-tengah perut Wisnu.
"Itu, kan Bibi Marni," gumam Didy. "Dan lelaki dihadapannya ...? Paman Wisnu! Ya, Tuhan ...."
"Setan kau Dahlan!" teriak Murni lagi. Air matanya mengalir semakin deras. "Mas ... bangun ... jangan tinggalkan aku...." Ia terus mengguncang tubuh Wisnu yang sepertinya telah ditinggalkan jiwanya.
__ADS_1
*****
👇👇👇👇