Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Pengakuan ditengah badai


__ADS_3

Rantai hari bergerak semakin jauh.


Langit cerah tetap hanya jadi sebuah topeng.


Semua masih sama.


Gavin, ia masih dalam pengaruh gendam cinta yang ditabur Shinta. Gerry yang mendengar kabar mengejutkan dari isterinya itu, langsung mengambil penerbangan kembali ke negara asalnya dimana anak dan isterinya itu berada.


Beberapa paranormal sudah dihadirkannya dan Briana untuk mengembalikan kesadaran Gavin seperti semula. Namun tak satupun ada yang sanggup melunturkan gendam itu dari tubuh putera mereka.


Nilam semakin rapuh. Waktu pernikahannya dengan Gavin tinggal hitungan H -5 saja. Tak ada lagi harapan. Angka lima itu sudah tak lagi berarti. Tak ada yang bisa dilakukan lagi.


Hari ini, ia mencoba datang ke kantor Gavin didampingi Kenzie, untuk memperjelas hubungan mereka. Namun pria yang sangat dicintainya itu malah mengusirnya tanpa perasaan. Hingga menimbulkan kemurkaan Kenzie.


Namun antisipasi yang disiapkan Gavin dengan menempatkan dua orang lelaki bodyguard didepan pintu ruang kerjanya, membuat Kenzie tak leluasa menghajarnya. Semua itu tentu saja dilakukan Gavin atas permintaan Shinta.


*****


Dengan langkah hampa berurai air mata, Nilam menapakkan kakinya turun dari dalam mobil Kenzie.


Ya ... mereka kembali ke rumah singgah.


Dengan penuh kasih, Kenzie memapah tubuh ringkih itu untuk masuk kedalam rumah. Namun Nilam menolak dan malah membelokkan langkahnya ke lain arah.


"Aku ingin ke taman belakang." Suara itu masih terdengar parau khas orang menangis.


"Baiklah. Ayo."


"Tidak, Ken. Aku ingin sendiri."


"Tapi ...."


"Ku mohon ...." Dengan wajah memelas.


Sesaat Kenzie terdiam. "Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Udara semakin dingin."


Hanya anggukkan kecil yang diberikan Nilam sebagai jawaban.


Ia pun mulai melangkah menuju tempat yang ditujunya. Tempat dimana ia melihat Kenzie memainkan biolanya dengan merdu kala itu.


Dan menitpun mulai merambat menjadi jam. Nilam masih bergeming ditempat itu. Dari jauh, Kenzie masih tetap menunggunya dengan sabar. Rasa iba terus meluap dalam dirinya. Hingga tiba-tiba sebuah pemikiran muncul dikepalanya. "Aku ... aku harus bisa mengembalikan senyumnya kembali."


Dihampirinya gadis yang masih asyik dalam lamunannya itu. "Nilam ... ayo masuk. Tubuhmu mulai menggigil," ajaknya.


Nilam mendongak, wajahnya masih tetap basah, dan entah sampai kapan. "Aku masih ingin disini, Ken."


Kenzie menurunkan tubuhnya, menyimpuhkan diri dihadapan wanita itu. "Berhentilah menangis," pintanya. Lalu diraihnya kedua telapak tangan yang terasa dingin itu. "Nilam ... bisakah mulai saat ini ... kamu lupakan Gavin." Ada keraguan menggunung dibalik permintaan itu. "Aku tahu itu sangat berat dam sulit untukmu, tapi ... belajarlah untuk bisa tanpanya. Ada aku. Aku yang akan selalu setia padamu."


Byuuurrrr...


Seolah disiram satu truk es batu. Nilam merasa perkataan itu begitu menusuk hatinya. Menusuk dalam arti bukan melukai. Namun ....

__ADS_1


Ahh ... entahlah.


"Aku mencintaimu," lanjut Kenzie sungguh-sungguh.


"Apa maksudmu, Ken?" Nilam terhenyak. Sebenarnya ia mengetahui perihal perasaan lelaki itu terhadapnya. Tapi ia tak menyangka seserius itu? Tak ada raut bercanda diwajah lelaki yang selalu dianggapnya sahabat itu.


"Benar Nilam. Aku mencintaimu. Bisakah beri aku kesempatan? Aku yakin, aku bisa memberikanmu cinta melebihi dari yang Gavin berikan untukmu."


DEGG!!


Ditutupnya mulut kecilnya dengan kedua telapak tangannya. Pundaknya kembali berguncang. Mendengar nama Gavin, seketika air mata itu kembali berurai. Gavin pernah memintanya untuk bersama Kenzie, karena baginya Kenzie lebih mampu melindungi dan membahagiakannya dibanding dirinya.


Apakah ini maksudnya? Apakah itu artinya ia dan Gavin benar-benar sudah berakhir?


Tanpa perduli apapun, ia berlari meninggalkan Kenzie yang masih terdiam dalam harapnya.


"Nilam ...!!" teriak Kenzie. Ia bangkit dari posisinya. "Apakah aku salah, menyatakan perasaanku padanya?" gumamnya penuh penyesalan. "Aaaarrrggghhh...!!" Dan mengacak rambutnya frustasi.


 


Nilam terus berlari menuju pintu gerbang utama. Entah kemana dia akan pergi. Namun ketika mulai medekati gerbang itu, tiba-tiba....


BRUK!


Tubuhnya terpental kebelakang. Sebuah mobil mewah baru saja memasuki area itu dan menabrak Nilam yang berlari tanpa konsentrasi.


"Siapa itu, Pak?!" Suara seorang wanita paruh baya yang berada didalam mobil itu.


"Tidak tahu, Nyonya," jawab lelaki supir itu seraya melepas safetybeltnya. Ia mulai membuka pintu mobilnya lalu turun dari dalamnya. Diikuti sang Nyonya yang juga melangkah keluar dari bagian kursi belakang.


"Seorang gadis, Nyonya," ungkap supir itu memberitahu. Ia sudah berjongkok disamping Nilam.


"Benarkah? Siapa dia?" Wanita itu mulai memasang wajah cemasnya.


"Nilam...!" Kenzie datang tergopoh. "Apa yang terjadi padanya?!" Dalam teriaknya ia bertanya. Diangkatnya kepala gadis itu dan diletakkan diatas pahanya yang tertekuk. "Nilam ... bangun Nilam!" Dalam rasa khawatir, Kenzie menepuk-nepuk pipi Nilam tanpa perduli dengan kedua orang yang berada didekatnya.


"Ken ...."


Seketika ia mendongak... "Ibu ...."


Wanita itu tak lain adalah ibunya Kenzie. "Ibu disini?"


"Jangan banyak bertanya, cepat angkat wanita ini, dia butuh pertolongan."


Kenzie menyadari kebodohannya, wajahnya langsung beralih kembali menatap gadis dipangkuannya itu. "Benar. Ayo tolong bantu aku mengangkatnya ke dalam."


"Apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, Ken," saran sang Ibu.


"Sepertinya ini hanya luka kecil, Bu. Kita bawa ke dalam saja," sahut Kenzie.


"Baiklah. Pak tolong bantu Kenzie membopongnya."

__ADS_1


"Iya, Nyonya."


Didalam rumah. Nilam sudah dibaringkan diatas sebuah ranjang dikamar tamu.


Dengan sangat telaten dan hati-hati, Kenzie membersihkan luka dipelipisnya, lalu membalutkan plester ke titik luka itu sendiri.


Dalia, itulah nama sang ibu. Wanita paruh baya itu terus menatap Kenzie berpulas senyum. Sepertinya puteranya itu sangat mengagumi juga menyayangi gadis yang kini dalam perawatannya.


"Bu, aku titip Nilam sebentar."


"Kamu mau kemana, Ken?"


"Aku mau ambil air putih."


"Baiklah." Kemudian pandangan Dalia teralih pada Nilam yang mulai menunjukkan pergerakkan. "Ken, sepertinya dia mulai sadar."


Kenzie yang baru saja hendak keluar, langsung membalikkan kembali badannya, dan cepat menghambur ke arah Nilam. "Nilam, kamu baik-baik saja? Mananya yang sakit?" tanyanya masih dengan raut cemasnya.


Mencoba mengangkat tubuhnya dengan wajah meringis, Nilam memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Namun pergerakkan itu ditahan Kenzie.


"Jangan dulu bangun, kalau kepalamu masih sakit," ujarnya menyarankan.


"Aku tidak apa-apa, Ken," ucap Nilam.


"Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja menabrak Anda," ucap sang supir dengan wajah menunduk.


"Apa?! Jadi Nilam tertabrak?!" Kenzie dalam kagetnya.


"Benar, Tuan Muda. Maafkan saya." Dengan segala sesalnya.


"Ta--"


"Ken ... sudah. Aku tidak apa-apa," pungkas Nilam. Lalu mengalihkan pandangannya pada lelaki supir tersebut. "Maafkan aku ya, Pak. Karena tadi aku yang tidak lihat-lihat jalan. Jadilah aku tertabrak," ucapnya tulus penuh penyesalan.


Semua tentu saja terkejut. Gadis itu baru saja celaka, dia tertabrak. Hukum manapun pasti akan menyalahkah si penabrak. Tapi dia ... hhuufffttt.


Jika hati seperti itu banyak dijual ditoko, sudah dipastikan, tidak akan ada manusia yang miskin akhlak. Dengan memanfaatkan kesalahannya menjadi kelemahan. Hingga terlihat memprihatinkan dimata orang lain.


"Tidak, Nona saya yang salah, hingga membuat Anda jadi seperti ini," ucap si supir masih dengan rasa tidak nyamannya.


Nilam yang masih terbaring itu, menggeleng. "Sudah ya, Pak. Jangan diperpanjang lagi. Lagipula ini hanya luka kecil saja."


"Kalau begitu, terimakasih, Nona."


"Iya." Nilam dengan senyumnya.


Dari senyum itulah, tercipta sebuah gelenyar aneh yang menyusup ke dalam hati Dalia, ibunya Kenzie. Ia menatap wajah Nilam lekat. "Gadis ini ... senyumnya ... kenapa aku begitu bahagia melihat senyumnya itu." DEGG. Dan jantungnyapun tiba-tiba berdentam sangat kencang. Ditempelkannya telapak tangannya ke dadanya. Tuhaan ... perasaan apa ini?


°°°°°


Jangan lupa dukungan jempol merahmu .....

__ADS_1


Kalau suka dari hati, vote juga tidak ku larang. Wkwkwk.. ❤❤❤


Luviuw....😘


__ADS_2