Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Dalam hantaman luka dan air mata


__ADS_3

Hati itu sudah tergores.


Meninggalkan luka yang dalam dan menganga.


Mengapa bilah sembilu itu tiba-tiba muncul dan merajam tanpa perasaan.


Nilam ... tubuhnya kini dibaringkan Kenzie disebuah sofa diruang kerjanya. Masih nampak jelas, sisa basahan air mata yang meleleh layaknya lahar dikedua belah pipinya.


Kenzie berjongkok disampingnya. Pipi itu diusapnya lembut. Wajah sendunya menatap Nilam dengan perasaan iba.


"Apa yang terjadi pada Gavin? Kenapa bocah itu tiba-tiba berubah?" Kenzie tak habis pikir. "Kasian kamu, Nilam."


Asty datang dengan tergopoh. "Bos Ken, hirupkan kayu putih ke lubang hidungnya. Agar dia cepat sadar." Sebuah botol kecil disodorkannya pada Kenzie.


"Terima kasih, Asty."


"Iya, Bos," sahut sekretaris Gavin itu. Ditatapnya sendu, iras yang terpejam penuh luka tak kasat mata itu. "Kasian sekali kamu, Nilam. Kenapa Bos Gavin jadi berubah seperti itu, ya?"


"Itu yang masih kupikirkan Asty." Kenzie menyahuti. "Dan sejak kapan Shinta berada diruangan itu?" Sejurus pertanyaan Kenzie ditujukannya pada Asty. Botol berisi cairan beraroma kayu putih itu di dekatkannya ke lubang hidung Nilam.


Asty menggerakkan kepalanya menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, Bos. Dari tadi pagi, aku berada di lantai dua, bersama anak-anak divisi satu. Sesuai perintah Bos Gavin."


"Ah iya, aku lupa," ujar Kenzie. "Yasudah Asty, kalau begitu kamu boleh lanjutkan pekerjaanmu. Nilam biar aku yang urus."


"Baiklah, Bos Ken. Semoga Nilam baik-baik saja,'' harap Asty.


"Iya, terima kasih, Asty."


"Sama-sama, Bos. Kalau begitu aku permisi."


"Silahkan."


Sepeninggal Asty.


Hirupan aroma kayu putih itu, belum berhasil menyadarkan Nilam dari pinsannya.


Dibening mata Kenzie, yang terus menatap gadis itu, ada kilatan amarah yang mulai menyeruak didalam dadanya. "Gavin bodoh!!" umpatnya geram.


Untuk beberapa saat, keadaan masih tetap sama, Nilam belum juga membuka katup matanya. Sedangkan Kenzie masih setia duduk berleseh diri di lantai tanpa alas disamping sofa dimana Nilam terbaring. Sesekali dielusnya rambut hitam yang terikat itu. Telapak tangan halusnya digenggam Kenzie tak lepas dengan tangan lainnya.


Dalam alunan menunggu, akhirnya tubuh itu bergerak. "Umm ... Gav ...."


Kenzie terlonjak. "Nilam, kamu sadar?"


Tak ada sahutan. Nilam masih membisu. Kedua bola matanya sudah terbuka. Namun tatapannya terjurus lurus ke atas langit-langit ruangan.


Terlihat sudut kelopak itu kembali mengeluarkan butiran yang kemudian bergaris memanjang kesamping wajahnya mengenai telinga. "Gavin...." Lagi, disebutnya nama itu kembali ditengah lara dalam isakkan yang mulai deras.

__ADS_1


"Tenanglah ... ada aku." Diangkatnya tubuh itu lalu direngkuhnya. "Jangan menangis."


"Ken ... kenapa Gavin begitu jahat padaku, Ken...!"


Dalam raungan memilukan, Nilam benar-benar terluka.


Kenzie menaikkan tubuhnya, lalu duduk disamping Nilam. Ditangkupnya wajah berurai air mata itu. "Aku yakin, ini hanyalah sebuah kesalah fahaman. Gavin tidak mungkin benar-benar berniat melukai hatimu." Berusaha menenangkan.


Diremasnya kedua pergelangan tangan Kenzie yang melayang didepan wajahnya, seraya menggeleng. "Tidak, Ken. Gavin benar-benar serius dengan ucapnnya. Tidak ada kebohongan dimatanya," ujar Nilam dengan hujanan tangisnya.


Perasaan Kenzie mencelos perih. Air mata itu, suara isak tangisnya, sungguh menusuk hatinya. Diraihnya Nilam kedalam dekapnya. "Semua akan baik-baik saja. Percayalah ...."


"Tapi bagaimana dengan pernikahanku dengannya, Ken? Hanya tinggal beberapa waktu saja!"


Entah jawaban apa yang bisa Kenzie lontarkan. Benar, kenapa sahabatnya itu seolah menistakan pernikahan yang sudah didepan mata? Benar-benar membuat kepalanya terasa pecah. "Kita pergi dari sini." Kalimat ajakan itulah yang akhirnya tersembur dari mulutnya.


Pilihan yang tepat. Karena ada kemungkinan lagi Nilam akan kembali melihat adegan bodoh Gavin dan Shinta, jika Nilam terus berada didalam lingkungan kantor itu.


Ya, Kenzie harus membawanya sesegera mungkin.


Di raihnya kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja kerjanya, lalu menghampiri Nilam yang masih terdiam. "Ayo, lebih baik kita pergi dari sini."


Nilam mengangguk pasrah. Benar ... ia memang harus menenangkan diri terlebih dahulu.


Dipapahnya langkah lemahnya menuju menuju pintu keluar. Dan tentu saja dalam rangkulan Kenzie dipundaknya.


"Pak Kenzie, apa yang terjadi pada Nona Nilam?" Salah satu karyawan wanita memberanikan diri bertanya dengan raut khawatir.


"Tidak apa-apa. Hanya masalah kecil."


"Tapi kenapa wajah Nona sampai sembab begitu?" Yang lainnya menimpal dengan segala kekepoannya.


"Lanjutkan saja pekerjaan kalian." Menghindari pertanyaan yang terlalu banyak, Kenzie memapah Nilam terus melangkah menjauh dari orang-orang haus gosip itu.


Sebuah jawaban menggantung, yang tidak sesuai harapan orang-orang itu. Mereka dengan segala argumentnya diterpa rasa penasaran yang membuncah. Saling melempar pandang berkicau-kicau layaknya burung.


Tiba-tiba...


TAK TAK TAK!


Suara derap langkah yang tak hanya berasal dari sepasang kaki itu, terdengar kian mendekat.


Gavin.


Lengan yang dilingkarkannya dipinggang ramping Shinta, sukses membuat semua pasang mata yang belum membubarkan diri itu terbelalak sempurna.


Kedatangan Shinta ke kantor itu, yang semula mereka kira hanya sekedar untuk urusan pekerjaan, ternyata jauh dari perkiraan. Gavin merangkulnya sedemikan mesra.

__ADS_1


Apakah ini penyebab Nilam menangis? Begitulah kurang lebih isi pikiran mereka.


Andai tak dijaga kelopak, mungkin semua bola mata bening itu, sudah berserak menggelinding dilantai.


Mereka dalam keterkejutan yang nyata.


"Pak Gavin...." Suara mereka nyaris bersamaan.


"Apa yang kalian lihat? Kenapa semuanya berkumpul disini?! Tidak ada aturan kalian boleh bergosip disaat jam kerja seperti ini!!"


Ketegasan itu memang milik Gavin. Tapi Shinta ...?


Semua semakin penasaran. Apa yang terjadi pada hubungan bos mereka dan Nilam ... juga Shinta dan Kenzie? Rumit!


"Baiklah, Pak. Maaf," ucap mereka dan mulai berhambur kembali ke tempat masing-masing.


Dan sontak, suara seruan itu membuat langkah Nilam dan Kenzie yang belum jauh itu, terhenti. Dan keduanyapun menoleh kebelakang.


Kenzie mengangkat telapak tangannya untuk menutupi mata Nilam, mencoba mencegahnya untuk melihat pemandangan menjijikkan itu.


Namun terlambat. Mata bening Nilam sudah terlanjur melihatnya.


Dan lagi ... air mata tak berbendung itu, kembali mengalir deras. Ia menutup mulut, menahan suara isakannya.


Dalam senyum puas dan mengejek, Shinta berjalan mendekat kearah Nilam. "Sudahlah, Nona Nilam. Gavin sudah menentukan pilihannya," ujarnya. "Dan dia memilih aku, bukan dirimu." Penuh percaya diri.


"Tutup mulutmu!!!" sergah Kenzie keras. Lalu menjuruskan wajahnya pada Gavin yang sudah berdiri dibelakang Shinta. "Bukalah matamu, sebelum kau menyesal, Gavin! serunya memperingatkan. "Ayo Nilam, kita pergi dari sini."


Namun tak disangka, Nilam malah membatu dengan tatapan lurus ke arah calon suaminya. "Gav ... apa kau sungguh-sungguh akan membatalkan pernikahan kita?" Dalam luka ia bertanya.


"Ya. Aku bahkan tidak mengerti, kenapa tiba-tiba kita akan menikah. Padahal sudah jelas, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu."


DUAAAARRR....


Kalimat itu ....


Nilam mulai sesenggukan. Seiring hantaman keras yang meninju hatinya kian membiru.


Urat-urat diwajah Kenzie mulai menegang. Kepalan telapak tangannya mengeras. "********, kau Gaviiiinnnn!!!


Namun laju langkah yang berniat menghajar Gavin itupun terhenti. Nilam lagi-lagi menahannya. "Sudah, Ken. Ayo kita pergi."


Dengan nafas terengah, Kenzie menurut. "Awas kau!!!" geramnya untuk Gavin. Lalu di rengkuhnya kembali pundak Nilam. Berbalik badan kemudian pergi meninggalkan sahabatnya yang masih terdiam dengan wajah datarnya.



👇👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2