
Pukul 10.30 malam.
Udara dingin sepertinya tak bisa menembus lapisan dinding hati Nilam saat ini. Duduk melipat lutut di balkon luar kamar apartemen, tampilan sembab nan pucat, menjadi riasan wajah ayunya malam ini.
Benarkah Gavin belum bisa melupakan wanita itu?
Mungkinkah ia hanya sebatas pelarian?
Tapi mata tulus itu ... ia bisa melihatnya ... juga merasakannya.
Suara-suara pergelutan dunia batinnya terus bergemuruh saling beradu.
Hingga sebuah sentuhan lembut di kepalanya, berhasil membuat perhatiannya teralih.
Nilam menoleh. "Gav ... kamu sudah pulang?"
"Iya." Lalu memposisikan dirinya ikut duduk di belakang Nilam, kedua kaki panjang dan lengannya menghimpit tubuh ramping itu.
Pelukan di pinggang serta kepala yang di letakkannya di ceruk nilam, membuat mata gadis itu terkatup. Menikmati hembusan nafas Gavin yang berpendar di wajahnya. Hangat ....
"Kenapa di luar? Sudah malam. Udara juga mulai dingin."
Mata sayu itu terbuka. "Disini menenangkan."
"Oh ya? Tapi kenapa aku malah merasa semakin kedinginan," ujar Gavin seraya mengeratkan pelukannya.
"Benarkah?" Nilam menoleh seketika.
Dan ... cup!
Bibir Gavin yang menggigil menjadi penyambut dari pergerakan yang di lakukannya.
Kedua bibir saling bertemu.
Terbuai ... Gavin mulai menuntun matanya untuk terpejam.
Lain halnya dengan Nilam, ia menarik diri dari sentuhan memabukkan itu. "Gav ... tubuhmu dingin sekali. Ayo masuk. Tidak baik untuk kesehatanmu."
Gatot sodara-sodara!
"Baiklah, ayo."
Keduanya bangkit kemudian masuk kembali ke dalam kamar.
"Sebentar, aku buatkan teh hangat." Nilam beranjak menuju dapur.
"Ya."
Beberapa saat kemudian ....
"Ini minumlah." Secangkir teh hangat di sodorkannya pada Gavin.
Tirai mata Gavin yang hampir tertutup, terbuka kembali. Ia bangkit dari baringnya. "Terimakasih, Sayang." Satu anggukan berhias senyum, menjadi sahutan Nilam.
__ADS_1
Ketika hendak menempelkan bibir gelas itu ke bibirnya, Gavin menyadari ada sesuatu yang janggal dalam pandangannya.
Kenapa ia baru menyadarinya?
Mata sembab Nilam. Ada apa dengan gadis kesayangannya itu?
Tatapan tajam penuh selidik menembus lurus ke wajah Nilam. "Sayang, ada apa?" tanyanya lembut.
"Hah?" Mata yang mengerjap itu memperlihatkan dengan jelas, bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya. "Kenapa, Gav?"
"Kamu melamun?"
"Ti- tidak." Sebuah jawaban kaku.
"Lalu wajahmu, terlihat habis menangis. Ayo jujur padaku, ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Berondongan Gavin.
Nilam membuang pandangannya ke sembarang arah. Mencoba menghindari tatapan penasaran kekasihnya itu. Tapi apa? Ia sama sekali tak pandai bermain peran. Bahkan mampu menghadapi Anita saja, itu sudah merupakan sebuah keajaiban untuknya.
Meletakkan cangkir tehnya ke atas nakas di sampingnya, Gavin meraih kedua pundak Nilam lalu menghadapkan ke arahnya. Menatap manik mata indah itu, untuk mencari kebenaran dari kecurigaannya. "Kamu tidak akan bisa berbohong padaku. Katakan, ada apa?" ulangnya.
Dalam mode bergeming, Nilam masih membisu. Entah suaranya yang tercekat, atau itu adalah sebuah bentuk usahanya untuk tidak mengungkit pertemuannnya dengan Anita di depan Gavin. Karena jelas, ia bukanlah seorang pengadu.
Melihat kediaman Nilam, kesabaran Gavin mulai terkikis. Ia bangun dari duduknya, melenggang keluar meninggalkan Nilam yang masih setia dengan diamnya. "Aku harus pastikan," gumamnya seraya berjalan menuju kamar lain di apartemennya itu.
Meraih kemudian membuka laptopnya dengan tergesa, Gavin mencari rekaman CCTV yang terjadi siang tadi sepeninggalnya. Kamar, ruang tamu, balkon, pintu luar apartemen, semua tak lepas dari sapuan penglihatannya. Dan .... "Ini dia!" Dapur.
Matanya tak teralih menatap layar ajaib itu. Pemandangan ketika Nilam menerima paket makanan, lalu mulai memakannya, membersihkan meja makan, dan tampilan ketika Nilam bernyanyi-nyanyi kecil di depan wastafel, membuat senyum di bibir Gavin mengembang seketika. "Merdu," ucapnya.
Tapi sesaat kemudian senyum itu perlahan memudar. Pendar cahaya bahagia di wajahnya seketika meredup. Ketika di tangkapnya sosok Anita yang tiba-tiba muncul di apartemennya itu.
Matanya terus mengawasi tak lepas. Raut wajahnya berubah-ubah. Dari mulai geram, hingga senyum yang terlahir dari perasaan bangga, karena Nilam mampu membungkam Anita yang pada dasarnya sangat pandai berkelit.
Namun last part usai kepergian Anita, Nilam yang menangis melumbrukkan tubuhnya di lantai, seketika membuat hatinya mencelos sakit.
Menutup laptopnya segera, Gavin berlari kembali ke arah kamar yang di tempati Nilam.
Namun sesampainya di tempat yang di tujunya, wajah Gavin terseok mencari, Nilam tak ada disana.
"Kemana dia?" Mengedar langkahnya ke kamar mandi dan balkon, kemudian beranjak ke ruang tv, ruang tamu dan lain-lain. Namun nihil. Nilam tak juga di dapatinya. "Ya, Tuhan ... kemana dia?" Gavin mulai panik.
Melangkah tergesa menuju pintu keluar, seperti waria yang di kejar Satpol PP, Gavin berlari dengan wajah yang sesekali menengok ke sana-kemari. Menyusur setiap detail bangunan megah itu. Ia lalu menekan lift, dan lantai dasar menjadi tujuannya.
Setengah jam berlalu....
Rasa lelah mulai menghantam kekuatan fisik Gavin. Semua orang yang di temui dan di tanyainya, tak ada satupun yang melihat Nilam. Hampir seluruh tempat telah di susurnya, kecuali ....
Ia melesat bak roket, usai mengingat sebuah tempat yang belum sempat di datanginya. Dan ....
Benar saja!
Di samping sebuah kolam ikan kecil, yang terletak di di samping gedung itu, Nilam tengah duduk bersila sambil memegang sesuatu di telapak tangannya.
"Sayang ...." Gavin menghampiri perlahan.
__ADS_1
Nilam menoleh ke asal suara. "Gav .... kamu disini?"
"Ya, Tuhaaann ...." Tanpa babibu, Gavin langsung melesat meraih tubuh gadis yang sedari tadi di khawatirkannya itu, menariknya ke dalam pelukannya. "Kamu sedang apa disini? Dari tadi aku cemas mencarimu." Kecupan bertubi-tubi di daratkannya hampir di seluruh bagian wajah Nilam.
"Gav ...." Wajah penyesalan di tunjukkan Nilam.
"Iya, Sayang?"
"Maaf .... Aku membuatmu cemas."
"Tidak apa-apa. Menemukanmu saja aku sudah bahagia. Aku benar-benar takut kehilanganmu." Kali ini sebuah kecupan dalam di kening Nilam di daratkannya penuh rasa syukur.
Ya, Tuhan ... masih pantaskah aku meragukan cintanya terhadapku?
Sebulir bening jatuh dalam hantaman penyesalan. Perlahan tapi pasti, Nilam membalas pelukan lelaki itu erat. "Maaf."
"Sssttt ... jangan bicara apapun lagi. Aku yang seharusnya minta maaf."
"Kenapa?"
"Aku akan mencarikan tempat tinggal baru untukmu. Agar Anita tak bisa lagi mengganggumu. Dan untuk passcode pintu itu, aku memang belum sempat menggantinya. Tapi itu bukan karena aku masih mengingat wa--"
"Kamu tahu?"
Gavin mengangguk. "CCTV."
"Oh. Aku mengerti. Maafkan aku, karena perasaanku sempat goyah. Tapi kamu tenang saja, sekarang aku sudah yakin, dengan apapun yang ada padamu, dan apapun yang kamu lakukan untukku."
Gavin tersenyum senang. "Terimakasih, Sayang. Aku menyayangimu ... lebih dari apapun." Melepaskan pelukannya dan beralih menangkup kedua belah pipi gadis itu.
Satu balasan senyum di berikan Nilam. "Aku juga. Terima kasih sudah mau mencintai aku."
"Karena kamu pantas di cintai."
"Benarkah? Apakah itu termasuk sebuah rayuan?"
"Tidak. Itu kenyataan," jawab Gavin jujur. "Sebentar. Aku ingin bertanya, kenapa kamu tiba-tiba keluar dari apartemen dan memilih berdiam di tempat ini?" tanyanya penasaran.
"Itu ..." tunjuk Nilam pada seekor anak kucing yang berada di sampingnya.
"Anak kucing?" Gavin mengernyit bingung. "Lalu?"
Nilam mengangkat anak kucing itu ke atas pangkuannya. "Tadi saat di balkon, aku melihatnya hampir terserempet motor. Aku kasihan, lalu aku turun untuk mengambilnya. Lihatlah, Gav ... bukankah dia sangat lucu?" Rekahan senyumnya seraya mengelus-elus tubuh mungil si anak kucing.
"Ya, Tuhan ... hanya demi seekor anak kucing, kamu sampai menumbalkan perasaanku." Gavin tak habis pikir.
"Maksudmu?"
"Tidak. Dia sangat lucu."
Lebih lucu lagi, anak kucing itu penyebab aku hampir gila karena terlalu takut kehilanganmu.
"Benarkah? Kalau begitu, apa boleh aku merawatnya?" Nilam penuh harap.
__ADS_1
Gavin tersenyum. "Tentu. Ayo kembali, ini sudah hampir tengah malam," ajaknya.
"Baiklah. Terimakasih, Gav."