
Braaakkk!!
Seseorang menendang pintu rumah itu keras.
Hana dan Kakeknya keluar dari kamarnya dengan tergopoh. "Ada apa ini? Siapa kalian?" tanya Kakek Usman kala melihat dua orang lelaki asing berada di dalam rumahnya.
"Mana wanita gila harta itu?!" tanya seorang lelaki berperawakan tinggi dan tegap.
"Siapa maksud Anda?" tanya Hana.
"Siapa lagi kalau bukan ibumu!"
"Ibu.... Untuk apa kalian mencari dia?"
Tak... tak... tak.... Suara derap langkah kaki perlahan mendekat ke arah mereka.
"Dahlan..." gumam Kakek Usman.
"Juragan Dahlan...." Suara Hana lirih. Namun sirat ketakutan nampak jelas diwajah manisnya.
Dahlan melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. "Hay, Manis." Tatapan matanya mengarah pada Hana.
Hana beringsut, menyembunyikan dirinya di balik tubuh renta sang kakek, seraya berucap pelan, "Aku takut, Kek."
"Tenang Hana," ucap kakek Usman. Lalu mengalihkan pandangannya pada Dahlan. "Apa maumu, Juragan?"
Dahlan tersenyum menyeringai. "Tenang saja, aku tidak akan menyakiti kalian. Aku hanya ingin bertemu Murni. Apa dia ada?"
"I- ibu... ibu... ibu tidak ada," jawab Hana terbata.
"Benarkah?" Dahlan tak percaya.
"Hana kenapa pintunya terbuk--"
Murni yang baru saja hendak masuk, seketika menghentikan ucapan dan langkahnya di ambang pintu yang menganga. Matanya membelalak sempurna. "Ju- Juragan Dahlan..." gumamnya.
Semua menoleh ke arahnya. Dahlan mulai berjalan ke arah wanita paruh baya itu. "Halo, Murni." Seringai iblis menghiasi wajah yang mulai menua itu.
Murni menundukkan kepalanya dalam. Mulutnya masih terkunci rapat. Mau apa dia ke sini? tanya hatinya.
"Hana, pergilah sejauh mungkin dari sini. Sebelum Dahlan menyadarinya. Kakek takut dia berbuat yang tidak - tidak padamu," bisik kakek Usman pada Hana.
"Tapi kemana, Kek?"
"Kemana saja. Cepat! Lewat pintu belakang. Sebelum Dahlan melihatmu."
"Baik, Kek." Hana berjalan mengendap meninggalkan tempat itu, melalui jalan belakang rumahnya.
Suasana tegang mulai melingkup di seluruh ruangan itu. Kakek Usman dalam harap cemasnya. Murni dalam ketakutannya. Dahlan dengan aura iblisnya, serta kedua anak buahnya yang siaga berdiri di dekat lelaki virulen itu.
"Aku kemari hanya ingin meminta uangku kembali. Bisa?" Suara tegas Dahlan.
Murni tersentak. "U- uang yang mana maksud Juragan?" tanya Murni dalam kepura - puraannya.
Prok... prok... prok.... Dahlan bertepuk tangan sambil melangkah mondar - mandir di depan Murni.
"Aktingmu bagus juga, Murni. Ku rasa Shinta putri ku yang seorang artis saja akan kalah olehmu." Ia menghentikan langkahnya tepat di depan Murni.
"Kau sudah menerima uang yang banyak dariku sebagai bonus karena memberikan Nilam padaku. Namun sekarang Nilam sudah pergi melarikan diri. Dan kau juga tidak mau memberikan anakmu padaku, kan? Berarti kau lebih memilih mengganti semua uang - uang itu?" Lanjutnya.
Murni terperangah. "Ta- tapi Juragan. Sa- saya tidak ada uang sebanyak itu."
"Itu urusanmu. Aku tidak mau tahu. Dan aku minta sekarang juga kau bayar semua uang itu, beserta bunganya."
"Tapi... Juragan... aku benar - benar tidak ada uang."
__ADS_1
"Kalau begitu berikan anakmu padaku."
"A- apa?!"
"Kalian berdua! Seret anaknya, dan masukkan ke dalam mobil!" perintah Dahlan tak terbantahkan.
"Siap Juragan!" Keduanya berbalik badan dan mengarahkan langkahnya ke tempat kakek Usman dan Hana berada sebelumnya. Namun sial, mata anak buah Dahlan itu, tak menangkap setitikpun sosok Hana yang sedari tadi berdiri di belakangnya. "Mana dia?" tanya salah satunya pada kakek Usman.
"Aku tidak tahu," jawab kakek tua itu enteng. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, rasa cemas tengah bergolak kuat, sekuat hantaman badai. Semoga mereka tidak bisa menemukan Hana. Ya, Tuhan... jagalah cucuku.
"Jangan bohong kau Kakek Tua!" bentak lelaki itu, seraya terus mengedar langkahnya menyusur ke seluruh detail rumah itu mencari keberadaan Hana.
"Aku benar - benar tidak tahu," kilah kakek Usman dalam kekukuhannya.
"Gadis itu tidak ada, Juragan," lapor sang bawahan ke hadapan sang Tuan.
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya dia melarikan diri."
Murni dalam sejuta kecemasannya.
Hana pergi...? Pasti Bapak yang menyuruhnya. Terimakasih, Pak. Tolong jaga anakku, Tuhan....
"Persetan!" seru Dahlan dalam amarahnya. "Kau benar - benar mempermainkanku Murni!" serunya geram. "Kalian! Seret wanita ini dan bawa masuk ke dalam mobil."
"Baik Juragan!" Dua lelaki pesuruh itu dengan sigap berjalan ke arah Murni. "Ayo. Kau ikut kami!"
"Jangan! Aku tidak mau! Bapak... tolong aku!" teriak Murni histeris berusaha melepaskan cengkraman dua lelaki bertubuh tegap itu.
"Murni..." suara kakek Usman khawatir. "Jangan bawa anakku Dahlan!" teriaknya seraya berjalan mengejar Murni.
"Aku hanya memberikan pelajaran padanya. Dia akan ku jadikan pembantu di rumahku tanpa upah, sebagai ganti uang yang telah ku berikan padanya," ucap Dahlan tegas. Ia lalu berjalan menyusul sang ajudan ke dalam mobilnya, dengan membawa Murni bersamanya.
Kakek Usman menjatuhkan lututnya. Ia menangis dalam balutan kekalutan dalam hatinya.
****
Hana terus berlari sambil sesekali menengok ke arah belakang. Khawatir Dahlan dan anak buahnya akan bisa mengejarnya.
Hingga tiba - tiba....
Buggh!! Ia menabrak tubuh seseorang.
Terkejut? Tentu saja. Ia mendongak perlahan, memastikan siapa pemilik dada bidang yang telah di tabraknya.
"Hana...." suara orang itu.
"Danu..." balasnya lirih. Lalu secepat mungkin menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu.
"Kenapa kamu berlari - lari ketakutan seperti itu?" tanya Danu.
"A- aku...."
"Ada apa, Hana?" Danu memegang kedua pundak Hana. "Apa ada yang mengejarmu?"
"Danu tolong aku, Danu. Aku takut." Hana mulai menitikkan air matanya.
"Baiklah, aku antar pulang, ya."
Hana langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, aku tidak mau pulang ke rumah dulu. Lelaki tua itu pasti masih ada di rumah."
Danu mengernyit heran. "Lelaki tua? Siapa maksudmu?"
"Juragan Dahlan."
__ADS_1
"Dahlan?"
Hana mengangguk. "Iya."
"Baiklah, kita ke rumahku saja. Kamu bisa bersembunyi dan menenangkan diri untuk sementara waktu di sana." Danu mulai mengerti situasinya.
"Baiklah."
Ya, Danu adalah orang yang tepat bagi Hana untuk menjadi wadah kegusarannya kini.
----
"Dahlan.... Aku tidak mengerti, kenapa bandot tua itu tak pernah berhenti mengganggu keluargamu," ucap Danu geram setelah mendengar penjelasan Hana tentang kejadian hari ini di rumahnya. "Nilam sudah pergi entah kemana. Dan sekarang Dahlan mengincarmu juga. Ya, Tuhaaannn...." Danu mengusap wajahnya kasar.
"Iya, Danu. Aku takut terjadi sesuatu pada ibu dan kakek di rumah." Hana menunduk muram.
"Minumlah, tenangkan dirimu," ucap Danu seraya menyodorkan satu gelas air putih ke tangan Hana yang kini duduk di sebuah sofa di kediamannya. "Kita tunggu sampai Dahlan dan orang - orangnya pergi. Baru kamu ku antar pulang."
Hana mengangguk mengiyakan sembari meneguk air putih yang di sodorkan Danu.
Tok... tok... tok....
Suara ketukan pintu rumah Danu itu berhasil membuat tubuh Hana bergetar ketakutan. "Siapa itu, Danu? Aku takut...."
"Tenanglah, Hana. Biar aku lihat dulu." Danu melangkah perlahan menuju daun pintu rumahnya yang cukup besar itu. Ia menyibakkan sedikit gordeng berwarna coklat yang menutupi kaca jendela yang terletak di samping pintu.
"Sella..." gumamnya setelah memastikan siapa sang pengetuk pintu yang membuat Hana ketakutan.
Ceklek ( Danu membuka pintu ).
"Danu." Tanpa aba - aba, gadis bernama Sella itu langsung berhambur memeluk tubuh Danu erat. Dan tentu saja tanpa balasan.
"Sella, jangan begini. Malu di lihat orang," ucap Danu merasa risih. Ia lalu mendorong tubuh wanita itu menjauhkan dari tubuhnya.
" Kenapa, Danu? Aku merindukanmu," ucapnya dengan wajah memelas.
"Masuklah. Banyak tetanggaku yang memperhatikan kita." Danu menarik lengan Sella masuk dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Usai pintu itu di tutup Danu, Sella menarik tubuh lelaki berwajah manis itu dan merapatkan ke tubuhnya, lalu mengalungkan kedua lengannya dileher lelaki itu. "Kenapa menghilang? Aku merindukanmu." Seperti singa yang kelaparan, Sella meraup bibir Danu menggunakan bibir berlapis lipstik merah tebal miliknya.
Tanpa di sadari, ada seonggok raga dengan sepasang matanya menatap ke arah mereka berdua. Ya, Hana menatap dua onggokan daging itu dengan tatapan tak percaya. "Danu.... Siapa wanita itu?" gumam Hana.
"Sella, lepaskan. Apa - apaan kamu ini?" Danu berusaha menjauhkan tubuh wanita itu dari tubuhnya yang kini tak berjarak.
Namun Sella dengan libido yang sudah menjalar ke sekujur tubuhnya, enggan melepaskan lengannya yang melingkar semakin kuat di leher lelaki itu. "Kenapa? Bukanlah semua laki - laki menginginkan dan menyukai ini. Aku bisa menyenangkanmu. Ayolah Danu, kita lakukan," ujarnya dengan suara resah berbalut nafsu.
Akan tetapi....
Bruukk! Tubuh Sella terpental jatuh ke lantai. Danu mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Pergi dari rumahku sekarang." Danu mengarahkan sebelah lengannya ke arah pintu yang menjadi saksi bisu keliaran gadis itu.
"Ta- tapi Danu, bukankah kau mencintai aku?" tanya Sella dengan lelehan air mata yang sudah tergaris lurus di kedua belah pipinya.
"Sekarang!" bentak Danu mulai kehilangan kesabarannya.
Merasa terhina, Sella dengan wajah memerah nan geram, bangkit dari posisinya. Ia mendekat ke arah Danu, dan....
Plakk!! Satu tamparan keras melesat di pipi Danu.
"Dasar laki - laki sialan! Tak tahu di untung! Awas kamu...."
"Pergi!" Amarah Danu sudah berada di ubun - ubunnya.
Sella menatap tajam lelaki di hadapannya, kemudian berbalik badan, dan berlari keluar dari rumah itu, dengan telapak tangan menutupi mulutnya.
__ADS_1
Menangis? Tentu saja. Sungguh, perasaan terhina bergejolak memenuhi dadanya. Dasar lelaki bodoh! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal setengah mati karena mempermainkan dan menolakku. Sella mengumpat dalam hati disela langkah cepatnya.
😂😂😂