
"Wuaah ...." Kata pertama yang di ucapkan Didy, ketika pertama kali menapakkan kakinya di gedung pusat perbelanjaan itu. Wajahnya mengedar ke sekeliling dengan raut takjub. "Tempat ini lebih megah dari yang aku lihat di televisi di rumah Hamid."
"Siapa Hamid?" tanya Gavin seraya melingkarkan lengannya di pundak bocah itu.
"Hamid itu temanku di desa, Kak."
"Ouh," balas Gavin singkat. "Jadi ini pertama kalinya kamu ke tempat seperti ini?"
"Iya, Kak Gavin. Mana mampu aku ke tempat seperti ini. Untuk biaya ongkos perjalanannya saja, aku tidak punya."
Di zaman semodern ini? Ya, Tuhan....
Perasaan iba merayapi nurani Gavin. Kemudian wajahnya menoleh ke arah Nilam di belakangnya yang tersenyum-senyum. "Sayang, kamu kenapa?" Melepas rangkulannya di pundak Didy, lalu beralih menggandeng kekasihnya itu. "Jangan bilang, kamu juga baru pertama kali ke tempat seperti ini?"
Pukulan pelan didaratkannya di lengan Gavin. "Enak saja! Aku pernah ke tempat seperti ini!" serunya tak terima.
"Benarkah? bersama siapa?"
"Bersama Da--" Nilam menghentikan laju kalimatnya. Ia lalu menatap Gavin dengan raut canggung.
"Danu maksudmu?" sambung Gavin.
Hanya sebuah anggukan yang Nilam lakukan sebagai jawaban. "Tak apa. Tidak usah merasa tidak enak seperti itu." Mengasak pucuk kepala gadis itu. "Baiklah, hari ini kita habiskan waktu untuk bersenang-senang."
Didy terlonjak gembira. "Benarkah, Kak? Ditempat ini?"
"Iya. Sekarang kita cari makan dulu. Agar perjalanan panjang kita hari ini berenergi," tutur Gavin, seolah tak perduli. Padahal si merah kecil di kolong dadanya itu, sudah selayaknya remahan rengginang. Namun sikap munafik itu ia tunjukkan demi tak merusak suasana ceria hari ini.
Danu? Masa bodo, lah!
"Siap, Kak!" Didy antusias.
Benar, tanpa berpikir panjang, Gavin mengabulkan keinginan Nilam untuk membawa Didy bersama mereka. Sesaat mereka menyempatkan diri berkunjung ke rumah Kakek Usman sebelum akhirnya pergi kembali ke kota.
Di perjalanan Gavin mengajak Nilam dan Didy mampir ke tempat yang sekarang tengah mereka jejakki.
Ketiganya kini berjalan beriringan menuju sebuah Foodcourt di dalam gedung mall itu.
"Kalian mau makan apa?" tanya Gavin setelah mereka sampai di tempat yang di tuju, dan memilih satu bagian kursi yang melingkar yang tersedia di tempat itu.
"Apa sajalah terserah Kakak, aku tidak mengerti," imbuh Didy.
"Baiklah." Mengalihkan pertanyaan pada Nilam. "Sayang, apa ada makanan yang kamu inginkan sesuai seleramu?"
"Tidak ada, Gav. Aku ikut saja."
"Baiklah, kalian tunggu di sini. Aku pesankan sebentar." Nilam dan Didy hanya mengangguk.
__ADS_1
****
Selesai dengan sesi pengurukkan perut, ketiganya mulai berjalan menuju sebuah toko pakaian terbesar di dalam mall itu.
"Pilihlah semua yang kalian suka," ucap Gavin.
"Kakak serius?" Didy tak percaya.
"Iya, Dy, ayo pilihlah."
"Tapi, Kak. Harga makanan yang ku makan tadi saja, sudah sangat mahal, apalagi baju-baju ini. Aku takut uang Kak Gavin akan habis."
Wajah tak nyaman Didy itu malah menciptakan kekehan di bibir Gavin. "Uang Kakak masih cukup, Dy," imbuhnya.
Nilam menghampiri Didy yang takjub dengan kalimat Gavin. "Ayo, Dy. Kak Nilam carikan baju-baju yang bagus untukmu."
"Tapi, Kak ... uang Kak Gavin bisa terkuras."
Senyum dihadiahkan Nilam untuk bocah itu. "Uang Kak Gavin itu, tidak akan habis sampai sepuluh turunan sekalipun. Jadi kamu jangan khawatir. Harga baju-baju ini, tidak akan ada artinya untuk dia."
Kekehan kecil Gavin berpendar di wajah tampannya.
Terkadang gadis itu lucu juga. "Kak Nilam benar. Sana, beli apapun yang kamu suka."
Senyum Didy merekah seketika. Dengan semangat ia menarik lengan Nilam untuk membantunya memilah dan memilih busana yang di sukainya.
"Itu saja?" tanya Gavin.
"Iya, Kak. Ini juga sudah cukup," jawab Didy tersenyum. Seketika itu ia mengingat sesuatu. "Kak, baju-baju ini untukku semua. Lalu Kak Nilam?"
"Eh?"
Senyuman Gavin menyiratkan sesuatu. "Untuk Kak Nilam sudah Kakak taruh di kasir." Tentu saja, jawaban itu membuat kedua manusia satu desa itu melongo. "Sudah, ayo kita bayar semuanya." Dirangkulnya pundak Nilam yang masih dengan wajah kaget itu.
"Jadi selama aku dan Kak Nilam memilih-milih baju untukku, Kak Gavin mencari baju untuk Kak Nilam?" Didy tak habis pikir.
"Iya," jawab gavin ringan.
"Umm Gav ... baju seperti apa yang kamu pilihkan untukku?" Nilam penasaran.
"Yang pasti aku memilih sesuai porsi tubuhmu ..." Jeda sesaat. " Juga seleraku tentunya." Sebuah senyuman nakal tergaris di wajahnya. "Ayo kita bayar semuanya."
Kemudian ketiganya berjalan menuju meja kasir. Nilam masih penasaran dengan pakaian-pakaian jenis apa yang di belikan Gavin untuknya. Hhufftt.
Tapi sudahlah. Toh sing penting grentongan. Wkwk.
Beranjak dari tempat itu Gavin mengajak Didy dan Nilam ke arena timezone. Disana berbagai game mereka mainkan dengan ceria dan penuh tawa.
__ADS_1
Hingga tak terasa, waktu bergulir sangat cepat. Dan tempat terakhir yang akan mereka kunjungi kini, adalah sebuah toko perhiasan yang letaknya di lantai lima. Seperti sebelumnya, Didy selalu takjub dengan apapun yang di lihatnya di gedung itu.
"Dy, kamu duduk disini dulu, sambil mengistirahatkan kakimu." Sebuah sofa di tunjuk Gavin didalam area itu. "Kakak dan Kak Nilam kesana sebentar."
"Iya, Kak."
"Baiklah. Ayo, Sayang?"
"Gav ... untuk apa kita ke sini?" Nilam dalam kebingungan.
"Tentu saja mencari perhiasan."
"Perhiasan, untuk siapa?"
"Untukmu."
"Untukku ...?" Nilam menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya."
"Tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pegawai toko berjenis kelamin perempuan. Ya, Tuhan ... mereka benar-benar pasangan serasi.
"Iya, saya mencari cincin," sahut Gavin melirik Nilam dengan senyuman terbaiknya.
"Oh, saya mengerti. Sebentar saya ambilkan." Sesaat kemudian .... "Ini, Tuan. Silahkan Anda pilih." Ia menyodorkan beberapa cincin dengan variasi mode yang berbeda-beda dan dengan bandrolan harga yang fantastis tentunya.
Gavin mulai memilih. "Umm ... Sayang kamu suka yang mana?" Meminta pendapat Nilam.
Sebait kata terasa sulit di ucapkan Nilam. Lelaki itu baginya sangat penuh dengan kejutan. Cinta yang di dapatkannyapun sudah sangat besar. Dan itu sungguh lebih dari cukup.
Lalu hari ini, baju-baju yang meskipun model dan jenisnya masih rahasia, namun ia tahu, Gavin pasti membelinya bukan dari kalangan harga menengah apalagi rendah. Di tambah sekarang, sederetan cincin indah terjejer di hadapannya. Tidakkah ia terlalu serakah?
"Sayang ... kamu kenapa?" Tentu saja Gavin terkejut. Karena tetesan-tetesan bening itu keluar dari mata indah milik Nilam. "Hey, ada apa?" ulangnya seraya mengusap lelehan itu dari pipinya.
Tubuh tinggi Gavin, membuat Nilam medongak untuk bisa menatapnya. "Gav ... ini terlalu berlebihan untukku. Semua yang kamu lakukan sudah lebih dari cukup."
"Ya,Tuhan ...." Hembusan nafas kasar Gavin. Selalu, sebuah pelukan pasti di hadiahkannya setiap kali gadis itu bersedih. "Bagaimana tidak aku tergila-gila padamu." Satu kecupan dalam mendarat di kening Nilam.
Dan sungguh, siapa yang tidak iri melihat adegan romantis itu. Semua orang yang menyaksikannya di buat melayang. Membayangkan seandainya itu terjadi pada mereka.
Wanita muda pegawai toko yang sebelumnya melayani Gavin itupun, sampai menopang dagunya di atas talase di hadapannya. Aduhaaii ... manisnya.
"Mbak ...." Gavin mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah gadis pegawai toko itu. Dan ....
PUK!
Satu tepukan Gavin di pundaknya berhasil menyadarkannya. "Eh, iya, ada apa ganteng?"
__ADS_1
Ambyaarrrr....