Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Mustahil yang nyata


__ADS_3

Nilam terus menangis, ditatapnya tak lepas, tubuh Rani yang mulai kaku, yang kini tengah dimasukkan kedalam kantung jenazah oleh pihak kepolisian, yang kemudian di bawa oleh mereka. Dahlan sudah diboyong untuk disatukan dengan kawanan anak buahnya.


Kini hanya sisa ia, dan ketiga lainnya, Gavin, Kenzie dan Mona.


"Sudah, jangan menangis terus menerus." Mengusap basahan yang terus mengalir dipipi Nilam, seraya memeluk tubuhnya, dilakukan Gavin untuk menenangkan sang kekasih. "Kita do'akan yang terbaik untuk Rani. Aku juga mengenalnya, dia gadis yang ceria," tuturnya.


Nilam mendongak menatap manik mata pekat Gavin. "Kamu mengenalnya?" Dengan suara parau, khas orang menangis.


"Ya. Aku bertemu dengannya beberapa kali dirumahnya. Saat aku dalam pengaruh gendam Shinta."


"Sudahlah. Kita do'akan saja. Semoga Tuhan menempatkannya ditempat terbaik disisi-Nya," ujar Kenzie memungkas. "Sebaiknya sekarang kita pergi. Luka kalian harus segera diobati."


"Kakakmu benar. Ayo," imbuh Gavin mengajak.


Mengusap jejak air mata dipipinya, Nilam lantas mengangguk.


Namun baru beberapa jarak mereka berjalan, Nilam tiba-tiba menghentikan laju langkahnya.


"Ada apa?" tanya Gavin.


"Tunggu sebentar." Gadis itu berbalik badan dan berjalan kembali kebelakang, seraya mengedar pandang kesekeliling.


"Apa yang kamu cari?" Kenzie menghampiri ingin tahu.


"Aku ingat sesuatu." Masih terus berkeliling.


"Apa itu?" Gavin mulai bingung dengan tingkah kekasihnya tersebut.


"Nilam, apa yang kamu cari?" Kali ini suara Mona.


Tak ada jawaban. Nilam masih terus mengedar pandang. Menyapu setiap detail tempat itu seolah ada yang tertinggal.


"Mona, kau yakin tidak tahu apapun?" Pemilik nama itu hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Kenzie.


Ketiganya masih terus bersabar mengikuti Nilam yang masih dengan pencariannya, yang entah apa.


Suara gemerisik dedaunan kering yang terinjak-injak, menjadi nada pengiring yang selaras dengan suasana mencekam.


Hawa dingin mulai menyusup menembus lapisan kulit ke empat orang itu. Hingga Mona, wanita itu terlihat memeluk tubuhnya sendiri. Kejadian sadis yang menimpanya dan Nilam beberapa jam yang lalu, mulai memenuhi pikirannya. Terlebih ketika Rani sekarat, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan pembunuhnya yang tak lain ayah kandungnya sendiri.


Seketika, kengerian merayap menggoda titik lemah hatinya. "Ken, tidak bisakah kita pergi sekarang?"


Kenzie menoleh ke arah Mona yang berjalan dibelakangnya. "Sebentar, Mona. Kita lihat dulu apa yang sebenarnya dicari adikku."

__ADS_1


"Nilam, Sayang. Helli kita sudah menunggu. Lukamu harus segera di obati." Gavin berusaha mengingatkan, menyusul anggukkan Mona menyetujui.


"Sebentar, Gav."


Ketiga orang dibelakangnya saling beradu pandang, menggelengkan kepala, tak mengerti.


Hingga beberapa saat kemudian....


Nilam menghentikan laju edarnya. Ia mulai menurunkan tubuhnya didepan sebuah pohon tumbang seukuran paha orang dewasa, yang dipotong dua, tertumpuk menyilang. Dibawahnya ranting beserta dedaunan kering yang mulai lapuk, juga ikut menumpuk diri tanpa menuntut.


Sejenak terdiam memandangi, telapak tangan Nilam mulai terjulur untuk menarik kayu yang cukup berbobot itu, hingga ia kesulitan mengangkatnya.


Kenzie, Gavin dan Mona menghampirinya.


"Kamu mau apa, Sayang?" Gavin bertanya heran.


"Tolong bantu aku mengangkat kayu-kayu ini," pinta Nilam.


"Iya, tapi untuk apa?" Semakin tak mengerti, namun Gavin tetap menuruti permintaan gadisnya, disusul Kenzie yang juga turut membantu. Mona hanya berdiri memperhatikan dengan raut bingung.


Sedikit demi sedikit, tumpukkan kayu, ranting dan dedaunan kering itu mulai menipis, seiring semakin banyak yang menumpuk ditepian. Tanpa mereka sadari, tumpukkan itu mulai turun membentuk sebuah lombang yang cukup dalam.


"Ken, kenapa semakin dalam?" Mona bertanya seraya melongokkan wajah dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, untuk melihat kedalam lubang itu.


Kenzie dan Gavin saling bertukar pandang menanggapi ucapan Mona.


Nilam membalas tatapan Gavin yang diserang penasaran itu. "Tadi sebelum Juragan Dahlan berhasil mengejar kami, aku bertemu Nenek Samiah," ungkapnya.


Semua mengernyit.


"Nenek Samiah?" Gavin semakin terheran. "Aku merasa pernah mendengar nama itu."


"Iya, Gav. Dia adalah sosok Nenek yang selalu datang dalam mimpiku. Nenek yang telah menolong dan menampungku digubuknya, saat aku tersesat didalam hutan ini, setelah berhasil melarikan diri dari rumah Dahlan, saat itu."


"Lalu apa hubungannya dengan lubang ini? Dan kemana nenek itu sekarang?" cecar Kenzie dengan kerutan bingung diwajahnya.


Ditatapnya wajah kakaknya itu lekat, lalu menunduk. Tetesan bening disudut matanya kembali terjun, jatuh menimpa telapak tangannya yang saling meremas. "Dia menghilang."


"Maksudmu?"


"Tubuhnya tiba-tiba memudar, dan semakin lama, semakin menghilang." Ketiga orang disekitarnya, dibuat terperangah dengan penjelasannya.


Sungguh tidak masuk akal!

__ADS_1


"Nilam, sepertinya kamu sangat kelelahan. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini," ujar Kenzie menyarankan.


"Kalian semua tidak percaya padaku?" Ditatapnya satu persatu orang didekatnya itu.


"Tidak, Sayang. Tidak begitu." Gavin berkilah. Akan sangat sensitif, jika ia mengatakan, bahwa Nilam hanya berhalusinasi.


"Lalu?"


"Nilam ... Kenzie dan Gavin benar, kita harus segera pergi dari sini, hari mulai sore," ujar Mona menimpali.


"Tidak! Aku akan tetap memastikan. Bahwa ada sesuatu di lubang ini," kukuh Nilam. Matanya menatap lubang dihadapannya, yang didalamnya masih dijejali dedaunan dan ranting. "Nenek menunjuk arah ini, sesaat sebelum tubuhnya menghilang. Dia meminta tolong padaku untuk menyempurnakan penguburan jasadnya."


"Apa?!" Mona tersentak, tak terkecuali Gavin dan Kenzie. "Jadi maksudmu, Nenek yang kamu temui tadi itu, sudah meninggal?" tanya Mona memastikan.


Sejenak Nilam terdiam. Lalu mengangguk lemah sesaat kemudian. "Iya."


"Ya, Tuhan ... aku bisa gila!" Mona mengusap wajahnya kasar. Memundurkan tubuhnya sedikit menjauh ke belakang.


"Kita gali lagi, Gav." Kenzie cukup penasaran. Otak besarnya memaksa untuk mengikuti ucapan-ucapan Nilam, meskipun semua itu tidak cukup masuk akal menurutnya. Ia mulai mengambili dedaunan dan ranting didalam lubang berdiameter seukuran perigi itu. Menghamburkannya ketepian.


Gavin cukup mengerti. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kenzie. Dan setelah beberapa waktu....


"Ya, Tuhan, Ken!" pekik Gavin. Refleks menarik tubuhnya, karena terkejut.


"Ini...." gumam Kenzie memandangi ke bawah kakinya, dengan mata terbelalak.


Ya, Ia dan Gavin sudah turun kedalam lubang sedalam kurang lebih 1,7 meter itu. Keterkejutan mereka dihasilkan dari sebuah pemandangan tak lazim, tengkorak lengkap dengan tulang-belulangnya, yang mulai rapuh terpisah-pisah.


Mendengar itu, Mona yang masih tak habis pikir, mendekat penasaran. "Astaga!"


"Nenek ...." Nilam mulai terisak.


"Gav, hubungi polisi-polisi itu sekarang juga," pinta Kenzie usai menaikkan tubuhnya kembali ke atas.


"Iya, Ken," sahut Gavin seraya mengeluarkan Handy Talky yang dipinjamkan polisi itu dari sarung yang dikaitkannya pada lubang gesper dipinggangnya.


"Kenzie mendekati Nilam yang tengah menangis dipelukan Mona. "Sayang, Nilam." Di tariknya tubuh itu kedalam dekapannya. "Sudah. Jangan menangis."


"Kak ... ternyata dulu selama tiga minggu lamanya aku berada dihutan ini, aku tinggal bersama seorang arwah. Arwah Nenek Samiah."


Dipeluknya tubuh Nilam erat. "Begitulah Tuhan dengan segala ketentuan-Nya, Adikku. Ia bisa membuat yang mustahil menurut kita, menjadi nyata, dan bahkan sangat mudah menurut-Nya."


"Iya, Kakak benar."

__ADS_1


Mona menatap gadis dalam pelukan Kenzie itu, takjub. Gadis ini luar biasa.


...••••••...


__ADS_2