
Hari-hari berlalu ....
Kedekatan Nilam dan keluarga Gavin semakin intim.
Briana semakin memperlihatkan rasa sayangnya pada calon menantunya itu.
Kebaikan, kecerdasan, juga ketulusan Nilam mampu meluluhkan hati wanita itu hingga benar-benar luluh.
Sesekali agenda wanita dan segala urusannya mereka lakukan bersama-sama, termasuk urusan pernikahan yang akan mereka gelar sekitar dua mingguan lagi.
Seperti hari ini.
Keduanya tengah memasak bersama didapur rumah besar Gavin.
"Kamu benar-benar calon mantu idaman. Semua yang kamu olah dengan tanganmu, pasti rasanya sangat enak," puji Briana dengan senyuman puas, usai mencicipi ayam sambal matah buatan Nilam.
"Mama terlalu berlebihan." Nilam dengan suara lembutnya, sembari memasukkan beberapa makanan yang diolahnya kedalam wadah bekal.
"Tidak, Sayang. Ini benar-benar enak. Gavin pasti suka."
"Semoga, ya, Ma," ucap Nilam. "Kalau begitu aku siap-siap dulu untuk pergi ke kantor Gavin." Dilepasnya apron dari tubuhnya.
"Iya, Sayang. Biar Pak Kus mengantarkanmu."
"Tidak usah, Ma. Aku naik taksi saja. Pak Kus itu, kan, sedang sibuk," tolak Nilam halus.
"Tidak bisa. Mama tidak mau calon mantu Mama ini sampai kenapa-kenapa. Terlalu berbahaya jika kamu naik angkutan seperti itu. Bagaimana kalau supir taksi itu punya niatan buruk terhadapmu?"
Nilam menggeleng melihat keposesifan Briana. Namun ada rasa syukur yang tak bisa dipungkirnya.
Dan benar, ketika api berhadapan dengan angin, maka ia akan semakin mengundang kobar. Jadi cukuplah ia menjadi air, walaupun hanya tertuang dalam sekecil cawan, namun mampu memadamkan sang raja dari panas yang membakar, hanya dengan satu siraman penuh kasih.
Tak banyak bicara lagi, akhirnya ia hanya bisa mengangguk. Berdebat dengan sebuah keposesifan, tak akan berujung kemenangan.
"Baiklah, Ma. Aku mau diantar Pak Kus."
"Begitu lebih baik." Senyuman puas diwajah Briana. "Kalau begitu cepatlah pergi, sebelum jam makan siang datang. Gavin pasti sudah menunggumu."
"Iya, Mama benar. Baiklah, aku pamit."
Dipeluknya Briana sekilas. Lalu diraihnya kotak makanan yang telah siap dikemasnya.
"Hati-hati, Sayang."
Nilam yang sudah melangkah sampai ke ambang pintu, menoleh kembali. Sebuah anggukkan berpulas senyum dihadiahkannya pada Briana.
"Iya, Ma. Terima kasih."
•••••
Beberapa waktu kemudian, Nilam sudah sampai di kantor milik Gavin. Usai mengucapkan terimakasih pada laki-laki bernama Pak Kus itu, ia mulai melangkah memasuki gedung. Di telapak tangannya terayun dengan gembira kantong kertas yang berisi kotak makanan untuk calon suaminya tercinta.
Seperti biasa, ia selalu terlihat mempesona dimata seluruh karyawan Gavin. Dress polos selutut berlengan tanggung, berpadu sepatu tepleknya, serta rambutnya yang diikat seluruhnya ke belakang, menjadi busananya kali ini. Sebuah tampilan sederhana yang tetap memukau.
__ADS_1
"Nona Nilam, selamat siang," sapaan wanita yang berdiri dibalik meja resepsionis.
"Siang." Senyuman manis, dengan tubuh sedikit membungkuk, selalu menjadi balasan setiap sapa yang tertuju padanya. Tak ada kepalsuan apalagi menjilat. Sangat tulus.
Dan itulah yang membuat orang-orang dikantor Gavin, tak pernah berhenti mengagumi dan mensyukuri. Bahwa kelak calon isteri sang bigbos adalah seorang wanita sederhana dengan sejuta kebaikan dan kelebihannya.
"Pak Gavin ada diruangannya?" lanjut Nilam bertanya.
"Ada, Nona."
"Baiklah, terimakasih."
"Sama-sama, Nona."
Dan Nilam pun mulai berjalan menuntun langkahnya menuju sebuah pintu lift. Menekan tombol dan memasukkan tubuhnya pada benda kotak bergerak itu.
Sesampainya.
Dengan langkah ceria penuh harap, Nilam berjalan percaya diri menuju ruangan Gavin berada. Diangkatnya kantong berisi makanan itu, lalu tersenyum. "Semoga Gavin menyukainya." Diliriknya meja sang sekretaris yang kosong. "Kemana Asty?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Lalu mengembalikan fokus dan niatnya pada ruang kerja Gavin. Ia memutar knop pintu itu perlahan, tanpa ketukan. Karena ia tahu, semenjak berhubungan dengannya, Gavin tak pernah mengunci pintu itu saat jam kerja.
Disibaknya perlahan. Dan ....
PRAANGG!!
Kotak makanan itu terlepas dari lengannya. Seketika matanya membola. Kala dilihatnya, seorang wanita berpakaian cukup terbuka, tengah duduk dengan manja dipangkuan Gavin disofa. Rengkuhan mesra lengan Gavin di tubuh wanita itu, benar-benar membuat hati Nilam bak dihujam seribu anak panah. Sakit! "Gavin ...."
"Nilam...." Gavin menatapnya. Juga wanita itu. "Ada apa, Nilam?"
Degupan didalam dada Nilam semakin mengencang. Gavin ... kenapa dia bertanya sesantai itu? Dan senyuman diwajah wanita yang duduk dipangkuannya ...?
Ya, Tuhan! Gavin ... Nona Shinta. Apa yang sedang mereka lakukan?
Jelas Nilam tak mengerti dengan situasi ini. Gavin tak pernah menggubris wanita manapun selama bersamanya. Bahkan ia terkesan ketus dan sombong, pada siapapun wanita yang mencoba merebut perhatiannya.
"Gav ... apa yang kamu lakukan? Kenapa Nona Shinta ada disini?" Tanpa beranjak dari tempatnya, Nilam menguatkan hati untuk bertanya. Dalam harapnya, semoga ini hanya kesalahan.
Satu kecupan didaratkan Gavin dipipi lenong Shinta. Dan tentu saja menghasilkan senyuman puas penuh kemenangan yang di juruskan wanita itu pada Nilam.
Pemandangan itu membuat air mata Nilam mulai menyeruak deras.
"Kamu lihat sendiri, aku sedang bersama kekasihku."
BUGGHH!
Ada hantaman keras dihati Nilam. Kekasih? "Apa maksudmu, Gav?"
"Sayang, turunlah dulu, aku ingin bicara sebentar dengannya," ucap Gavin pada Shinta.
"Iya, Sayang."
Apa-apaan ini? Sungguh Nilam tak bisa lagi mengatur perasaannya ataupun menelaah keadaan ini. Perasaan terluka di dalam hatinya mulai berdarah-darah. "Apa maksud semua ini, Gavin?"
__ADS_1
Dan pria itu memasang senyuman. "Aku sudah menemukan cintaku yang sebenarnya," ujarnya santai seraya menoleh kearah Shinta berpulas senyum. Dan wanita itu sudah bergelayut manja dilengannya.
"Gavin ... tapi bagaimana dengan pernikahan kita?" Nilam berujar disela tangisannya.
"Pernikahan katamu?" tersenyum kecut. "Tidak akan pernah ada pernikahan diantara kita."
"Apa maksudmu, Gavin?!!" Suara geram itu berasal dari Kenzie yang tiba-tiba muncul dari balik pintu yang belum sempat ditutup itu, diikuti Asty dibelakangnya.
Melihat Shinta yang berdiri dalam rangkulan lengan Gavin, juga airmata Nilam, sungguh membuat emosi Kenzie berada dipuncak.
"Seperti yang kau dengar, Ken. Tidak akan ada pernikahan antara aku dan wanita ini." Wajahnya tertuju pada Nilam. "Aku hanya akan menikah dengan Shinta," tutur Gavin ringan tanpa beban.
"Kurang ajar kau, Gaviiinn!!!"
Dan ....
BUGH!
"Aaaarrgghh...."
Teriak ketiga wanita itu, seiring satu bogeman mentah dari kepalan tangan Kenzie, mendarat sempurna diwajah Gavin.
"Ken ... jangan!" cegah Nilam, kala pukulan kedua kembali dilayangkan Kenzie. Ditahannya tubuh lelaki itu.
"Dasar laki-laki bodoh!" seru Kenzie dengan amarahnya.
Gavin yang sempat terhuyung mulai menegakkan tubuhnya kembali. Diusapnya segaris cairan kental merah disudut bibirnya. "Apa urusanmu, Ken? Kenapa kau semarah itu?"
Pertanyaan konyol macam apa itu? Kenzie semakin naik pitam. "Kau akan menikahi Nilam dua minggu lagi. Jangan coba-coba kau menghancurkan semuanya!"
"Aku, menikahinya?" ucap Gavin menatap Nilam seolah jijik. "Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tekankan sekali lagi. Aku ... hanya akan menikah dengan Shinta!" seru Gavin menggebu. Tak ada raut bercanda sedikitpun diwajahnya.
Kenapa Bos Gavin tiba-tiba menjadi seperti ini? Pertanyaan batin Asty, seraya merangkul tubuh Nilam yang bergetar karena ulah lelaki itu.
Nilam semakin terisak. Tak ada kalimat ataupun kata, yang keluar dari mulutnya. Rasa sakit yang teramat sangat dalam hatinya, membuat laju lisannya menjadi kelu dan tercekat.
Hingga tiba-tiba ....
BRUUKK!
Tubuh itupun limbung dan terjatuh.
"Bos Kenzie!" Asty berteriak kaget. Nilam jatuh tak sadarkan diri.
"Nilam!" teriak Kenzie. Ia berjongkok, lalu direngkuhnya tubuh lemah itu. Diangkatnya dalam gendongan bridal style. Sejenak ia melirik Gavin. "Kau akan menyesal, pria bodoh!" Lalu mulai menuntun langkahnya keluar dari tempat itu dengan perasaan kacau.
Asty, ditatapnya wajah bosnya. "Kamu jahat, Bos," ujarnya. Kemudian mengikuti kemana Kenzie membawa Nilam.
••••
Btw, nggemeshin ndak, sih?! Hehe....
Oke... Jangan lupa berikan cinta kalian untukku...
__ADS_1
Luviuw😘😘😘