Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Pernikahan


__ADS_3

Hiasan beberapa jenis bunga segar terpajang disetiap sudut.


Kain-kain berwarna biru melambai-lambai ikut bergaya. Kursi-kursi tamu berdadah-dadah meminta segera disinggahi.


Singgasana dengan background yang juga dipenuhi bunga-bunga berhias tumblr berwarna-warni, siap diduduki sepasang pengantin yang hari ini akan melakukan penyatuan dan janji suci dihadapan Tuhan.


Benar, hari ini adalah hari pernikahan Gavin dan Shinta. Sebuah hari yang membahagiakan bagi keluarga Dahlan.


Namun Gavin ... ahh, entahlah.


Perhelatan itu digelar di aula pribadi Dahlan, yang terletak didekat perkebunan teh miliknya.


Dan saat ini, semua masih bersiap-siap.


"Pastikan tidak ada satupun wartawan yang datang." Suara bariton itu adalah suara milik Dahlan. "Aku tidak ingin hubungan Shinta dan Tuan Gavin tercium oleh media."


"Baik, Juragan," angguk sang pesuruh. "Tapi kalau boleh saya tahu, apa alasan Anda melakukan semua ini? Bukankah akan sangat bagus kalau media tahu. Tuan Gavin itu adalah pengusaha sukses, akan sangat baik untuk karir Nona Shinta."


"Tidak! Terlalu beresiko. Aku khawatir orang-orang gila berita itu akan menemukan keganjilan dibeberapa bisnisku. Karena dari yang ku tahu, rekan-rekan bisnisku hancur karena orang-orang itu. Dan itu pasti akan berimbas juga pada karir Shinta."


"Tapi--"


"Tidak usah banyak bicara. Aku tidak butuh pendapat apapun darimu. Jalankan saja!"


"Baik, Juragan!" Dalam tunduk tanpa bantah, lelaki bertubuh jangkung itupun berlalu layaknya seekor ayam yang terusik dengan gerak manusia. Kocar-kacir.


 


Saat yang dinantikanpun tiba.


Maxi dress berwarna biru membalut indah ditubuh Shinta, dengan hiasan mahkota kecil diatas kepalanya dengan riasan rambut yang tersanggul apik. Berpadu tuxedo berwarna senada yang dikenakan Gavin. Sangat kontras dengan nuansa yang juga biru menghias sekeliling.


Berjalan bak Raja dan Ratu menuju tempat perjanjian dan penyatuan dengan kedua pendamping pengantin yang mengiring dibelakangnya. Mereka adalah Rani dan Yudi, anak dari isteri kedua dan ketiga Dahlan.


Sudah berdiri Juragan teh itu beserta ketiga isterinya, juga beberapa orang dari Kantor Urusan Agama, di tempat yang sudah ditentukan.


Setelah mendekat, Dahlan mengulurkan tangannya menyambut Shinta. Senyum tak henti berhias diwajah wanita itu. Bagaimana tidak, sesaat lagi, ia dan lelaki yang menjadi titik obsesinya, akan resmi menyandang gelar suami-isteri.


"Baiklah, semua siap?" tanya seorang lelaki paruh baya yang bertugas sebagai penghulu.


"Sangat siap." Shinta percaya diri.


Raut tidak sabar juga dipasangnya. Dan Gavin, hanya senyuman tipis tersungging dari bibirnya.


"Baiklah. Kita segerakan saja." Masih suara si penghulu. Beberapa do'a terpanjat dari bibirnya, sebelum acara inti, yakni ijab kabul. "Tuan Gavin, ulurkan tanganmu." Gavin mengangguk patuh. Diraihnya tangan Dahlan yang berperan sebagai wali sah dari Shinta.


"Tunggu!!"


Dan sukses. Teriakkan itu membuat semua orang menoleh ke arahnya, tak terkecuali Gavin. "Mama ... Papa ... Asty ... kalian datang?"


"Ya, Gav. Mana mungkin Mama dan Papa tidak hadir ke acara pernikahan putera kesayangan Mama ini." Dipeluknya putera semata wayangnya itu erat. Air mata sudah tergaris dikedua belah pipi Briana. Entah perasaan apa yang menyerang dadanya kini. Bahagiakah?


Dahlan berdiri. "Selamat datang, Tuan dan Nyonya." Diulurkannya telapak tangannya ke arah kedua orang tua Gavin itu.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Terimaksih," sahut Gerry, seraya menerima uluran itu.


"Bos ...." Kali ini suara Asty mengudara. Dan untuk perasaannya. Tentu saja sangat kacau. Kenapa semuanya jadi begini? Nilam ... bagaimana dia sekarang? "Selamat, ya, Bos." Terucap tanpa ketulusan.


"Terima kasih sudah datang Asty." Gavin dengan senyum tulusnya.


Merasa terabaikan. Tak ada pelukan, juga tak ada senyuman untuk Shinta dari keluarga Gavin itu, Gadis itu memasang wajah masamnya. "Bisa kita mulai. Ini sudah terlalu siang," ujarnya mulai tak sabar.


"Benar yang dikatakan Shinta. Sebaiknya kita segerakan acaranya." Dahlan menimpali. Terselip perasaan khawatir dalam hatinya, dengan kedatangan orang tua Gavin tersebut yang sudah jelas tidak merestui pernikahan Gavin dan puterinya.


"Semuanya silahkan duduk. Kita mulai sekarang." Sang penghulu kembali bersuara.


Baru saja telapak tangan Gavin terjulur untuk menjabat tangan Dahlan, seketika itu tiba-tiba, ekspresi tenang dengan senyuman di parasnya berganti ringisan tajam. Urat-urat di wajahnya menunjukkan diri dengan jelas dengan rona berubah memerah. Bukan merah karena malu ataupun tersipu, melainkan sebuah ekspresi menahan sakit yang teramat sangat. Dipegangi kepalanya yang terasa di rajam tombak itu.


"Gavin, ada apa denganmu?!" teriak Briana khawatir.


"Sayang kamu kenapa?" Shinta tak kalah cemas. Di peganginya tubuh Gavin yang kini mulai terguling ke lantai.


"Sakiiitttt...!!!" Erangan kesakitan Gavin mengundang orang-orang berkerumun mendekatinya. Gerry dan Briana sudah duduk dengan cemas disamping puteranya itu.


Dan Asty ... mulai menangis. "Bos, kamu kenapa, Bos?"


Dahlan dalam gusar yang hakiki. Apa yang terjadi pada pemuda itu?


Terjangan rasa sakit yang teramat sangat dikepalanya, kini mulai menjalar ke sekujur tubuh Gavin. Ia berguling tak terkendali. Seluruh urat-urat tubuhnya menegang.


Tangis Briana sudah pecah menggema. Gerry telihat menghubungi seseorang dengan ponselnya yang entah siapa. Namun yang pasti, sesekali bentakkan keras dilayangkannya pada orang dibalik line telponnya. "Cepat!" .


Hingga beberapa saat kemudian ....


"Kita bawa kerumah sakit sekarang!" ujar Gerry tegas.


"Tapi ... tapi bagaimana dengan pernikahanku?" Shinta dalam kebingungannya.


"Kau ini calon isteri macam apa?! Anakku kesakitan, bisa-bisanya kau memikirkan obsesimu sendiri?!" Briana dalam kungkungan amarah dan cemasnya.


Midar menghampiri Shinta. Dipeluknya pundak anak gadisnya itu. "Benar, Nak. Gavin butuh pertolongan. Kita tunda acara ini, sampai dia membaik. Oke?"


"Tapi, Ibu ...."


"Sudahlah Shinta. Ibumu benar. Kita pasti akan lanjutkan setelah calon suamimu sadar." Dahlan menambahkan.


Tanpa perduli lagi dengan perdebatan antar keluarga itu, Gerry sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mengangkat tubuh Gavin dan membopongnya menuju mobilnya yang terparkir dihalaman aula.


Sesampainya dirumah sakit terdekat.


Tubuh Gavin sudah dibaringkan diatas brangkar disebuah ruang perawatan. Ia kini dalam penanganan dokter.


Di luar, Briana, Asty, Gerry dan juga dua orang anak buahnya masih menunggu dengan cemas. Hingga terlihat Shinta dengan gaun pengantin birunya, didampingi kedua orang tuanya diikuti Rani, datang menyusul ke tempat itu.


"Bagaimana keadaan calon suamiku?!" Entah pada siapa pertanyaan Shinta itu terjurus. Raut cemas masih terpulas diwajahnya.


Briana dan Gerry dalam enggannya. Mereka terdiam tak menyahuti. Hingga Asty yang memilih memberi jawaban. "Masih dalam pemeriksaan dokter, Nona."

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" Shinta tak memiliki kesabaran sepertinya. Hiks.


"Nona, Anda baru saja tiba." Asty mendelik.


Shinta dengan pikiran kacaunya terus berjalan mondar-mandir dengan telapak tangan yang saling meremas.


Hingga beberapa waktu kemudian, pintu yang tertutup itu mulai tersibak. Dan menampakkan seorang wanita berseragam dokter dari baliknya.


Semua berhambur menghampiri dengan tak sabar.


"Bagaimana keadaan puteraku, Dok?" Pertanyaan dibuka Briana.


Dokter itu menggeleng. "Saya tidak menemukan penyakit apapun dari tubuh anak Anda, Nyonya. Semua organ tubuh luar dan dalamnya termasuk bagian kepala, dalam keadaan sehat tanpa keluhan penyakit apapun. Mungkin hanya kelelahan saja. Sekarang dia sudah sadar."


Semua saling beradu pandang dalam helaan nafas lega. Shinta dengan senyuman bahagianya.


"Boleh kami masuk?" tanya Briana.


"Tentu. Silahkan. Saya tinggal dulu."


"Iya, Dok. Terima kasih."


Semua masuk keruangan itu bergerombol.


"Gav ... Sayang ... kamu baik-baik saja, Nak?" Dikecupnya kening Gavin penuh kasih.


"Iya, Ma. Aku baik-baik saja." Gavin menyusur setiap wajah yang berada disekelilingnya satu persatu, seolah mencari.


Dan ketika itu, tanpa babibu, Shinta menubrukkan tubuhnya memeluk tubuh Gavin yang terbaring. "Sayang ... aku senang kamu baik-baik saja," ujarnya sumringah.


Tanpa diduganya, Gavin malah mendorong dan menjauhkan tubuh Shinta. "Nona Shinta, sedang apa Anda disini?"


DEGG!!


Mulut menganga, mata yang membola, menjadi wakil dari segala keterkejutan Shinta. "Gav ... aku ini calon isterimu. Kita akan menikah hari ini."


"Apa?! Aku? Menikah denganmu? Mana mungkin." Gavin tersentak tak percaya.


"Iya, Gavin ... kamu lihat, gaun yang aku kenakan, juga tuxedo yang terbalut ditubuhmu? Kita benar-benar akan menikah hari ini." Shinta terus berusaha meyakinkan.


Semua masih memperhatikan.


"Mungkinkah Gavin mulai sadar, Pa?"


"Papa pikir begitu, Ma."


"Iya, Madam. Sepertinya Bos Gavin melupakan pernikahannya dengan Nona Shinta."


Argument antara Briana, Gerry dan juga Asty. Ada setitik senyum harapan berhias diwajah ketiganya.


Apakah pemuda itu mulai sadar? Dahlan berbalut gusar dan cemas. Bagaimana ini?


"Tidak." Gavin menggeleng. "Tidak mungkin. Aku hanya akan menikah dengan Nilam. Bukan denganmu!"

__ADS_1


DUAAARRRR....


__ADS_2