Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Lagi - Kejutan dari Tuhan


__ADS_3

Didy masih terduduk dengan setia menunggu kedua orang yang kini berperan sebagai kakaknya itu.


Sesekali wajahnya menoleh paperbag yang terjejer di sampingnya. Senyuman tersungging di bibir manisnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan hal seperti ini. Berbelanja, bermain game dan lain-lain. Huufftt ... sungguh langka!


Dan saat itu tiba-tiba ....


BRUK!


"Aww!!" Pekikan itu terdengar dari mulut seorang wanita paruh baya yang terjatuh terpeleset di ambang pintu masuk.


Tak serta merta, Didy yang posisinya hanya beberapa meter dari wanita itu, langsung bangkit untuk menolongnya. "Nyonya tidak apa-apa?" tanyanya seraya membantu wanita itu untuk berdiri.


"Aku tidak apa-apa." Namun ringisan di wajahnya jelas dilihat Didy. "Sepertinya aku menginjak lelehan eskrim," ucapnya kala melihat tetesan coklat yang tercecer di lantai sekitar tempat itu.


"Iya. Duduk dulu, Nyonya. Sepertinya kaki Anda terkilir," unjar Didy menyarankan. "Mari aku bantu."


"Iya. Terima kasih, Nak."


"Sama-sama, Nyonya." Didy menuntun wanita itu menuju sofa yang sebelumnya didudukinya.


Sembari memijit-mijit kakinya yang sakit, wanita itu menatap Didy yang juga menatapnya. Lalu menarik senyum. "Siapa namamu, Nak?"


"Namaku ...." Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya Nilam dan Gavin sudah tiba di hadapannya.


"Dy."


"Kak Nilam. Sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah," jawab Nilam, lalu pandangannya teralih pada wanita paruh baya yang duduk di samping Didy.


Mengikuti arah pandang Nilam, Didy tersenyum. "Nyonya ini tadi terjatuh di depan pintu kaca itu." Wajahnya mengarah ke daun pintu. "Dan aku menuntunnya ke sini. Sepertinya kakinya terkilir, Kak," bebernya.


"Apa? Benarkah?" Mata Nilam terarah pada kaki jenjang yang tengah di pijit-pijit sang empunya. "Nyonya tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Ia lalu bersimpuh di depan wanita itu. Menelisik kakinya yang mulai terlihat memar. "Sepertinya ini lumayan parah, Nyonya. Kita antar ke dokter, mau?"


"Iya Nyonya. Aku akan mengantarmu," timpal Gavin.


Wanita itu tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih atas perhatian kalian. Aku sudah mengirim pesan pada supirku di parkiran."


"Benarkah?" Nilam memastikan.


"Iya."


"Syukurlah."


"Baiklah kalau begitu, kita permisi dulu, Nyonya." Suara ramah Gavin.


"Iya. Silahkan."


Semua jinjingan belanjaan sudah ditangan Gavin. Tak lepas rangkulannya di pundak Nilam, keduanya mulai berjalan ke arah pintu keluar.


Namun Didy masih bergeming di tempatnya. Entah apa yang membuatnya tak ingin beranjak.


"Nak, kamu tidak ikut mereka? Bukankah mereka keluargamu?" Kalimat itu, kenapa terasa seperti sebuah usiran bagi Didy. Dan kenapa juga ada perasaan aneh dalam hatinya, yang bahkan tak mampu ia jelaskan.

__ADS_1


Pun dengan wanita paruh baya yang berpenampilan sosialita itu. Kenapa aku merasa tidak asing dengan anak ini?


"Didy!" suara panggilan Nilam yang kembali menghampirinya.


Apa? Didy? Seketika! Wajah yang semula melihat Nilam, kini beralih kembali pada Didy. Apakah dia Didy ...?


"Iya, Kak!" sahut Didy untuk Nilam.


"Kenapa masih di situ? Ayo!"


"Iya, Kak. Maaf," ucapnya lalu melirik wanita disampingnya, yang entah kenapa wajah itu kini berubah tegang. Dan tentu saja perubahan itu disadari Didy. "Nyonya, ada apa?" tanyanya heran.


"Namamu Didy, Nak?" tanyanya ragu.


"Iya."


"Darimana asalmu?"


Pertanyaan itu semakin membuat Didy bingung. Kenapa tidak sedari tadi tadi ia bertanya. "Aku ... aku dari Tegal Mayang."


DEG!


Irama jantungnya bertabuh kencang. Bulat matanya berubah melebar. Begitulah wanita itu kini. "Te- Tegal Ma- Mayang?"


"Iya, Nyonya."


"Ayo, Dy. Gavin sudah menunggu diluar," ulang Nilam mulai tak sabar.


"Baik, Kak," sahutnya. "Nyonya maaf, aku pergi dulu," pamit Didy seraya bangkit dan mulai berjalan menghampiri Nilam.


"Maaf, Kak." Didy menunduk sesal.


"Tidak apa-apa. Ayo."


Ketiganya mulai melangkah menuju pintu lift.


"Tunggu!"


Sukses! Teriakan panggilan itu membuat Didy, Nilam, dan Gavin menoleh.


Dengan menyeret sebelah kakinya yang pincang, wanita itu berjalan cepat menuju ketiga orang itu berdiri.


"Bukankah wanita itu yang tadi di dalam toko perhiasan? Mau apa dia?" Gavin terheran.


Dan Nilam hanya menggeleng.


Setelah semakin mendekat.


"Jika kamu benar dari Tegal Mayang, apakah kamu mengenal Mbok Sarmi?" sejurus pertanyaan itu di tujukannya pada Didy.


"Mbok Sarmi ...?" Ketiga orang itu saling melempar pandang.


"Apa maksud Nyonya Mbok Parmi?" Nilam memastikan.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk cepat. "Iya, iya betul, itu maksudku. Mbok Parmi, iya, Mbok Parmi."


"Nyonya mengenal Nenekku?" Melangkahkan kakinya selangkah lebih dekat dengan wanita itu, Didy dalam sirat tak percaya.


Nenek, dia memanggil Mbok Parmi nenek. Sekarang aku yakin, dia benar-benar Didy anakku.


Setelah beberapa saat berargumen dengan pikirannya sendiri, ia lalu mengangguk. "Iya, Nak. Ibu mengenal Mbok Parmi." Air mata tanpa pagar itu mulai terjun membentuk garis lurus di kedua belah pipi wanita paruh baya yang belum di ketahui namanya itu.


Gavin dan Nilam saling melempar pandang.


Keduanya masih memperhatikan, tanpa berniat menimpali apapun.


"Nak, maaf sebelumnya, apakah kamu memiliki tanda kecil berwarna kebiruan di pundakmu?"


"Tanda?" Didy mengernyit heran. Perlahan ia menyibakkan sedikit kerah kaos yang di kenakannya. Dan ....


Tepat!


Tanda kecil kebiruan itu benar-benar ada di pundak kiri Didy. "Darimana Nyonya tahu ada tanda di pundakku?" Didy semakin di buat bingung.


Tak ada jawaban. Hanya tatapan dengan binar bahagia, yang diiringi tangisan haru yang terpampang di wajah wanita itu. Lalu tanpa babibu, ia menghambur memeluk Didy. Sangat erat ....


Gavin memicingkan mata.


"Apa Anda Nyonya Kedasih?" terka Gavin, ia mengetahui nama itu dari cerita Danu ketika di rumah sakit. Dan Nilam tersentak. Pemikirannya juga sama persis seperti calon suaminya itu.


Ya ... begitulah hati jika sudah terpaut semakin jauh.


Akan sinkron tanpa perlu memaksa apapun untuk saling terhubung.


Tak terkecuali Didy. Perasaan tak ingin menjauh dari wanita yang kini memeluknya, ketika di dalam toko itu, benarkah itu adalah sebuah kekuatan cinta dari seorang anak dan ibunya?


Masih menunggu jawaban!


Sontak! Wanita itu melepas pelukannya kala mendengar pertanyaan Gavin. Sebuah anggukan cepat jelas menjadi sebuah jawaban yang membuat ketiga pemuda di hadapannya terkejut dengan mata terbelalak. "Iya, aku Kedasih. Kamu tahu aku?" Matanya terjurus lurus ke arah Gavin.


"Anda benar-benar Nyonya Kedasih? Anda tidak hanya mengaku-ngaku, kan?" selidik Gavin memastikan.


Wanita itu menggeleng. "Aku benar-benar Kedasih. 15 tahun yang lalu aku melahirkan Didy. Dan satu tahun kemudian ... aku menitipkannya pada Mbok Parmi karena satu hal. Dan itu demi keselamatannya." Lalu menunduk dengan isak tangisnya.


Gejolak di hati Didy semakin tak terkendali. Ia sangat yakin bahwa wanita itu ....


"Ibu ...." Ia tak bisa lagi menahan perasaannya.


Kedasih menoleh seketika. Tangisnya semakin pecah tak terkendali. Telapak tangannya perlahan menyusur garis tegas pipi Didy.


"Didy ... anakku ...." Lagi, pelukan itu terjadi kembali. Pelukan kedua setelah hampir empat belas tahun lamanya tak mereka lakukan selayaknya anak dan ibu. "Ibu merindukanmu, Nak." Hadiah berupa kecupan bertubi-tubi di daratkannya hampir di seluruh bagian wajah Didy.


"Aku juga rindu Ibu."


Perpisahan selalu menjadi benteng yang paling menyakitkan. Menghadirkan luka yang terkadang sulit terobati. Menumpuk kerinduan yang semakin lama semakin membuatnya usang dan merapuh. Dan akhirnya hancur tak bersisa.


Tapi kini berbeda, kerapuhan itu sepertinya enggan untuk menyapa. Benteng itu telah hancur lebur menjadi debu, yang kemudian berubah menjadi pendar kebahagiaan yang nyata.

__ADS_1


Lagi ... kejutan dari Tuhan, selalu lebih indah dari rencana yang bahkan belum sempat kita rancang.


Nilam menangis terharu di pelukan Gavin. Bocah lelaki yang selalu dianggapnya adik itu, kini telah berlabuh pada pelabuhannya. Ibu ....


__ADS_2