
Malam ini terasa berbeda bagi Nilam.
Air mata yang selalu menemaninya hampir setiap waktu selama keterpurukkannya karena ulah Gavin, kini tak terlihat.
Hanya sedikit pulasan sembab diwajahnya sisa tetesan penuh luka itu.
Dalia, wanita paruh baya itulah penyebab moment langka ini terjadi. Kehadirannya di kamar seluas tiga kali tiga meter itu, membuat Nilam sedikit melupakan perasaan kacaunya.
Tivi yang menyala didinding ruangan hanya hiasan. Obrolan ringan dengan wanita paruh baya itu lebih menyenangkan baginya. Duduk berkerumun diatas ranjang terasa begitu hangat, dan Kenzie juga terlibat didalamnya.
Namun pria itu hanya menimpal seadanya. Sangat berbanding terbalik dengan sang ibu yang ceria. Candaan dilayangkan lelaki itu, hanya ketika bersama Chaka dan Gavin saja.
Mungkinkah kedua orang itu jelmaan badut baginya? Hhuufftt ... ngawuurr!!!
Ada binar bahagia diwajah Kenzie, kala melihat senyuman yang nyaris tak pernah terlihat beberapa waktu belakangan itu. Tetaplah seperti itu.
Sang Ibu yang melihat iras tampan anaknya yang terus menatap Nilam tak lepas itupun, menyunggikangkan senyuman. Ada binar cinta dimatanya untuk gadis itu. "Ken ...."
Dan Kenzie pun mengerjap. Di tolehnya wajah sang Ibu. "I-iya, Bu."
Dalia terkekeh. "Kenapa sekaget itu?" tanyanya.
"Ti-tidak, Bu," jawabnya kaku. "Oiya, Ibu tumben sekali datang ke sini? Biasanya, kan, Ibu kemari hanya ketika hari raya saja."
Sungguh aneh! Pria dengan karakter cerdas seperti Kenzie, tiba-tiba menjadi kaku hanya karena seorang Nilam.
Aduhaaii cintaaa... mengapa sebodoh itu?
Dalia sedikit mendelik. "Kamu sepertinya tidak suka, Ibu datang kesini?"
"Tidak seperti itu, Bu. Aku hanya heran saja. Tidak biasanya."
Dari wajah yang mulai menunjukkan garis penuaan, namun tetap tak hilang aura kecantikannya itu, segaris senyum tersungging melengkung. "Ibu juga tidak tahu, Ken. Tiba-tiba saja Ibu ingin kesini." Lalu menuntun kepalanya mengahadap ke arah Nilam. "Mungkin karena disini ada Nilam," candanya.
"Ibu bisa saja. Tubuhku tidak memiliki magnet apapun, sampai menarikmu kesini." Nilam terkekeh.
Pulas bahagia berbalut senyum itu, terus menatap Nilam tak lepas. Hingga tanpa sadar, mulutnya mengeluarkan sebuah gumam. "Aku rindu tawa itu."
Sontak, kalimat singkat dan halus yang tercetus dari mulut Kenzie itu, membuat Nilam dan Dalia menoleh kearahnya.
"Ken ...." suara sang Ibu, tak sedikitpun mampu mengusiknya. Lalu di ulanginya kembali. "Ken!"
"Eh." Mengerjap ."I-iya, Bu."
Senyuman Dalia terlihat lebih merekah. Dialihkan wajahnya ke arah Nilam. "Kamu lihat, kan, Nilam, Kenzie saja sampai tersihir olehmu."
"Kenapa Ibu tiba-tiba jadi penggoda seperti itu?" sergah Kenzie memberengut.
"Ibu tidak menggoda, Ken. Terlebih jika kalian benar-benar bersatu."
__ADS_1
"Ngng...." Kenzie mengernyit. Juga Nilam.
"Iya, kalian itu sangat cocok. Ibu akan sangat bahagia, jika kalian menikah," ucap tulus Dalia.
Tak ada sahutan. Nilam dan Kenzie hanya saling beradu pandang dalam diam. Bergelung dengan perasaannya masing-masing.
Luka yang diciptakan Gavin, entah atau disengaja atau tidak, masih terlalu basah terasa. Dan jelas itu belum mampu dihapuskan Nilam. Lalu sekarang, bebannya bertambah. Pengakuan cinta Kenzie, juga ... harapan yang baru saja terlontar dari mulut Dalia. Bukankah ini memusingkan?
Sedangkan Kenzie....
Itu juga yang aku harapkan, Bu.
Lalu dialihkannya pandangannya kelain arah. Terlalu sakit jika ia terus menatap wanita itu. Terlebih jawaban 'tidak' yang mungkin akan didengarnya sesaat lagi. Sungguh ia tak siap.
"Aku serahkan semuanya pada Tuhan, Bu. Jika Kenzie adalah jodohku, maka kita pasti akan bersatu." Suara lembut Nilam terucap dalam ragu.
JRENG!
Kalimat itu, apakah termasuk sebuah harapan?
Kenzie menatap Nilam sekilas. Entah ekspresi seperti apa yang harus dipasangnya kini.
Sepasang alis yang hampir terbentur seiring kerutan di kening Dalia, menunjukkan seberkas rasa heran atas kekakuan yang terpasang diantara kedua muda-mudi itu. Ditatapnya wajah keduanya bergiliran. "Kalian berdua, apakah sedang ada masalah?"
Wajah Kenzie sontak terjurus ke arah sang ibu. "Tidak, Bu. Tidak ada apa-apa. Kami baik-baik saja." Dalam rasa tidak nyamannya.
"Iya, Bu," sahutan dari bibir Nilam.
Ada tinjuan keras di dadanya, kala mendengar untaian kalimat yang di ucapkan Dalia, yang kini sudah berlalu dari ruangan itu.
'Ujian'? Mungkinkah yang terjadi padanya dan Gavin saat ini hanyalah sebuah ujian? Setitik asa kembali mencuat menggelitik perasaannya.
Mungkinkah harapan itu masih ada?
Tatapannya nyalangnya terjurus kesembarang arah.
Kenzie, jelas mengerti guratan diwajah Nilam itu. Kemampuannya menganalisa ekspresi orang lain, membuatnya dengan mudah memahami isi pemikiran gadis itu.
Perih dan tersayat-sayat ... entah sampai kapan akan terus menggoda ketegarannya?
"Nilam."
Panggilan lembut Kenzie berhasil mengeluarkan Nilam dari diam dan angannya. Ia mengerjap. "Iya, ada apa, Ken?"
"Tidurlah. Sudah malam. Besok kita jemput Kakek, Hana dan juga Bibimu."
Nilam, tentu saja terheran. "Jemput? Maksudmu?"
Kenzie menuntun tubuhnya untuk berdiri. "Bukankah kamu bilang, ingin membawa mereka pindah dari rumah pemberian Gavin itu?"
__ADS_1
Sungguh Nilam terhenyak dan tertegun. Benar, ia pernah mengucapkan itu pada Kenzie. Dan tentu itu atas permintaan Kakek Usman dalam ketidaknyamannya. Karena Gavin sudah memutus hubungannya dengan dirinya. Jadi tak ada alasan lagi bagi keluarga itu untuk tetap tinggal. Terlalu malu.
Tapi kenapa ada rasa tak yakin yang mulai merangsang kembali perasaan Nilam. Apa karena ucapan Dalia tadi? "I-iya, Ken." Sebuah jawaban yang terdengar kaku untuk meyakinkan seorang Kenzie.
Dan lelaki itupun sedikit berkerut kening. "Jika masih menganggap rumah pemberian Gavin itu adalah sebuah harapan untukmu, maka jangan lakukan. Biarkan mereka tetap disana."
Sontak! Nilam dan hantaman rasa yang entah apa. Terlalu kejam jika ia mengakui bahwa harapan itu memang masih tersimpan teguh dalam lubuk sanubarinya untuk Gavin, sementara lelaki itu baru saja menyatakan cinta padanya.
Tapi ... benarkah asa itu masih ada?
"Tidak, Ken. Aku akan pulang membawa mereka ke Tegal Mayang."
"Tidak! Mereka akan aku bawa ke sini!" sergah Kenzie tegas.
"Ke sini?"
"Ya. Sangat riskan membawa kalian pulang kesana. Karena Dahlan sudah berhasil menemukanmu, Nilam."
"Apa?!" Nilam dalam kagetnya.
Kenzie menuntun langkah menuju jendela yang masih belum tertutup tirainya itu. "Iya, aku menaruh orang dirumah Dahlan. Dan darinya pula aku mengetahui bahwa kamu, aku dan Gavin saling mengenal."
Nilam terdiam. Tak tahu lagi kata apa yang harus ia tambahkan. Seketika rasa takut mulai merayapinya. Bayangan ketika Dahlan menyeret dan menyekapnya mulai merayapi pikirnya memupuk resah.
"Nilam ... ada apa?" Kenzie mendekati tubuh gemetar itu.
"A-aku takut, Ken." Wajahnya mendongak menatap Kenzie.
"Tak apa, aku sudah menempatkan beberapa orang untuk menjaga rumah itu."
"Benarkah?" Dan Kenzie pun mengangguk berpulas senyum. "Jadi bagaimana, apakah kamu ingin mereka tetap disana ... atau dibawa kesini?"
"Tapi, Ken, jika mereka disini, apakah tidak akan merepotkanmu? Dan tempat ini...?"
Didaratkan kembali bokong itu disamping Nilam. "Tak apa. Tempat ini masih memiliki beberapa kamar kosong dibagian paling ujung. Mereka bisa tinggal disana."
Ada raut kelegaan terpancar dari durja ayu itu. Ditatapnya Kenzie penuh rasa syukur. "Terima kasih, Ken."
"Sama-sama, Nilam. Aku senang melakukan ini untukmu."
Nilam ... hatinya mulai gusar. Setulus segala hal yang dilakukan Kenzie untuknya, masih pantaskah ia meninggikan egonya untuk tetap mengaharapkan Gavin yang telah beralih hati? Sedangkan dihadapannya, ada lelaki yang begitu mencintainya dengan tulus.
Tuhaaannn .... apakah hatinya mulai goyah?
*****
Lagi ada kesibukan didunia nyata... Jadi gak bisa up banyak dan teratur.
Kalian jangan tinggalkan aku yaaa..😂❤
__ADS_1