Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Oh Danu - Cemburu


__ADS_3

Di ruang tamu rumah megah itu, Anita duduk seorang diri. Pikirannya melanglang buana entah kemana dan apa yang terisi di dalamnya.


Bagaimana berbicara dengan Briana setelah sekian lama? Apakah akan terasa kaku? Mungkinkah itu ...?


Hingga suara hentak kaki melangkah membuyarkan apa yang ada di pikirannya. Ia melihat Briana yang berjalan anggun ke arahnya, lalu berdiri dengan sebuah senyuman penyambut di wajahnya.


...Senyuman penyambut? ...


...No!...


...Lebih tepatnya ... senyuman menjilat!...


"Madam ..." sapaan ramah Anita. "Apa kabar?"


"Baik." Jawab singkat Briana. "Ada keperluan apa kamu mencari saya?" Sejurus pertanyaan bernada sarkas membuat hati Anita sedikit berdesir perih.


"Umm ... aku ... aku hanya ingin bertemu Madam. Apa itu salah?"


"Setelah kamu menyakiti Gavin, apa kamu pikir saya bisa bersikap biasa saja padamu?"


Anita dalam perasaan tersentak. Jalan-jalan berdua, shopping, ke salon bersama-sama, menghabiskan uang wanita itu dan sebagainya, membayang kembali di pelupuk matanya. Dulu semua itu selalu di lakukannya dengan Briana hampir setiap waktu. Namun kini ....


Ah, sudahlah .... Semua terjadi karena kesalahannya.


"Maafkan aku, Madam. Aku benar-benar menyesal. Bisakah beri aku kesempatan sekali lagi? Aku ingin kembali pada Gavin. Ak--"


"Undangan pernikahanku dan Nilam sebentar lagi akan kamu terima!" pungkas Gavin yang berjalan mendekat ke arah dimana Anita dan Briana duduk berseberangan. Gandengan mesra di pinggang Nilam sengaja di perlihatkannya, untuk memutus telak harapan mantan kekasihnya itu.


Anita? Tentu saja tersentak. "Ga- Gavin ...."


Wanita itu, dia juga disini.


"Iya, aku dan Nilam akan segera menikah. Iya, kan, Ma?"


Briana tersenyum menyambut. "Iya, itu benar. Dan mohon maaf, Anita, itu artinya ... kamu tidak mempunyai kesempatan lagi," imbuhnya menekankan. "Kemari Sayang." Ia menepuk sofa di sampingnya meminta Nilam mendudukinya.


Dengan satu kali anggukan Gavin, Nilam mengikuti permintaan Briana.


"Bukankah dia sangat cantik, Anita?"


Diam tanpa menyahut, pertanyaan itu semakin memojokkan Anita. Wajah putihnya semakin terlihat memerah. Entah karena malu ... atau amarah. Semua tak peduli.


"Oya, Anita, kemana lelaki bule mu itu? Bukankah dia satu-satunya kekasihmu? Atau jangan-jangan, dia juga tak mau menikahimu?" Lagi. Pertanyaan bernada sarkas yang di lontarkan Gavin itu, semakin membuatnya kebakaran jenggot.


Padahal ia tak punya jenggot. Kalaupun punya, sudah pasti dia bukan wanita tulen. Serem ....


"Baiklah selamat untuk kalian. Aku permisi," ujarnya seraya berdiri, tanpa mengindahkan pertanyaan Gavin yang baginya sangat tidak mungkin untuk ia jawab. Ia menuntun langkahnya menuju pintu keluar. Meninggalkan senyuman puas di wajah Gavin dan Briana.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Nilam.


Membayangkan tentang rasa sakit yang di terima Anita saat ini, seketika membuatnya tertegun.


Danu ....


Tiba-tiba ia mengingat lelaki itu. Bagaimana perasaannya kini setelah ia memutuskan hubungan mereka sepihak? Apakah dia bahagia, ataukah tidak?


Raut penyesalan Danu pada saat percakapan terakhir dengannya, sungguh mengusik perasaan Nilam kini.


Tuhan ... maafkanlah aku. Jika bukan aku yang bisa membahagiakannya, maka kirimkan dia seseorang yang bisa memberinya kebahagiaan.


"Sayang ...." Usapan lembut Gavin di kepalanya, membuat Nilam mengerjap. "Ada apa? Kenapa wajahmu bersedih?" tanya Gavin khawatir.


Terdiam menatap manik mata Gavin bergiliran. "Gav ...."


"Ya ...?"


"Apakah itu tidak terlalu kejam untuk Anita? Dia pasti sangat terluka."


Gavin tersenyum, ia melirik Briana yang kini menatap takjub ke arah Nilam. "Dengar itu, Ma, dia bahkan masih perduli pada wanita itu. Bukankah seharusnya dia marah atau kesal setidaknya?"


Tak ada sahutan... namun yang terlihat adalah satu bulir bening yang menetes di masing-masing kelopak mata Briana. Tanpa ini dan itu, ia merengkuh Nilam ke dalam pelukannya. "Kamu memang gadis berhati malaikat. Andai Mama bisa sepertimu, Nak." Sebuah kecupan didaratkannya di pucuk kepala Nilam.


Gavin dalam guratan senyum kebahagiaan.


Ada kepuasan yang bahkan tak bisa di jelaskannya.


Semua menoleh ke arah pria 50 tahunan yang masih tampak gagah itu.


"Tidak apa-apa, Pa. Mama hanya bahagia, Nilam ... di lihat dari sisi manapun, dia memang sangat sempurna," ujar Briana bangga.


"Benarkah, kalau begitu kita memang sangat beruntung bisa menjadikannya menantu di rumah ini," ujar Gerry seraya menepuk-nepuk pundak Gavin.


"Iya, Papa benar," balas Briana lagi.


"Tidak. Kalian terlalu memujiku. Aku tidak sesempurna itu," kilah Nilam tak enak hati.


Akhirnya, hari itu mereka lalui dengan penuh cinta dan kehangatan.


*****


Keesokan paginya.


Berbekal harapan, Nilam memutuskan pulang ke Tegal Mayang untuk menemui Didy. Dan tentu saja, Gavin juga ikut besertanya.


Mobil mewah Gavin melaju kencang membelah jalanan beraspal itu. Ia memilih cuti sementara dari kantornya dan mempercayakan tugas-tugas pentingnya pada Kenzie.

__ADS_1


Setelah memakan waktu beberapa jam lamanya, akhirnya mereka mulai memasuki jalanan menuju Tegal Mayang. Tetesan demi tetesan air dari langit mulai berjatuhan menimpa apapun yang berada di kolongnya.


"Gav ... berhenti," pinta Nilam tanpa menoleh. Wajahnya terpaku pada satu titik di pinggir jalanan yang tidak terlalu besar itu.


"Ada apa?" Gavin ingin tahu. Kemudian menginjak pedal remnya.


Tanpa mengindahkan pertanyaan Gavin, Nilam yang sudah melepas safety beltnya, turun dari dalam mobil itu.


"Sayang mau kemana?!" tanya Gavin setengah berteriak. Ia kemudian keluar menyusul kekasihnya dengan tergopoh.


Di bawah pohon rindang itu, Gavin tersentak melihat seorang pria yang tergolek tak sadarkan diri dengan banyak luka lebam di wajahnya. Dan Nilam terduduk tepat di hadapannya dengan raut panik.


"Danu ... bangun Danu, apa yang terjadi padamu?!" Telapak tangan Nilam menepuk-nepuk pipi Danu, lalu beralih mengguncang-guncang tubuh pria itu.


Gavin ikut menyamakan posisinya dengan Nilam. "Sayang, kamu kenal pria ini?"


Nilam mengangguk dengan air mata yang sudah berderai. "Dia ...." Jeda sesaat. "Dia temanku, Gav. Tolonglah dia, aku mohon ...."


Nilam ... kenapa dia sekhawatir itu? Lalu mengalihkan wajahnya pada Danu yang tergolek lemah. Dan siapa lelaki ini sebenarnya?


"Gav ... aku mohon, cepat tolong dia!"


Gavin mengerjap. "I- iya, Baiklah." Tak dipungkirinya, perasaan cemburu mulai merayap seiring berbagai pertanyaan yang sudah menumpuk dalam benaknya.


Ia mengangkat tubuh lemah Danu ke dalam gendongan punggungnya, di bantu Nilam. Karena tempat itu cukup sepi, hingga tak satupun orang yang bisa di mintai bantuan.


Gavin menggendong Danu menuju mobilnya dengan langkah cepat, karena hujan mulai turun dengan deras.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat, Wajah Nilam tak lepas dari raut kepanikan. Menoleh lagi dan lagi pada Danu yang di baringkan di kursi belakang mobil itu. Dan sungguh, itu membuat level cemburu Gavin semakin meningkat ke posisi puncak. Sial !


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Gavin itu telah terparkir sempurna dihalaman sebuah rumah sakit. Nilam turun lebih dulu untuk meminta bantuan pada petugas untuk mengangkat tubuh ringkih Danu dari dalam kendaraan tersebut.


Tak lama dua orang petugas laki-laki datang mendorong sebuah brangkar untuk membawa Danu ke dalam ruang penanganan. Dan...


Singkat cerita.


Di deretan kursi tunggu.


Sirat kekhawatiran masih terhias apik di wajah Nilam. Tak sedikitpun ia menggubris Gavin yang duduk di sampingnya dengan aura cemburu yang kental.


"Dia akan baik-baik, saja. Percayalah ...."


Berhasil! Ucapan Gavin itu membuat Nilam menoleh ke arahnya. Dan seketika, ia tersadar dengan sikap berlebihan yang di tunjukannya. "Gav ... maafkan aku. Dia hanya temanku."


"Teman? Benarkah?" Gavin tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"I -iya, Gav. Dia memang temanku di desa."

__ADS_1


• • • •


Sampe sini dulu ye.. Kang ketiknye mulai ambyar...🤓


__ADS_2