
Selepas kepergian Dahlan. Wajah Kenzie dan Gavin menyapu satu persatu deretan gadis-gadis yang berjejer di hadapan keduanya.
Kepala para gadis itu tertunduk dalam. Sangat terlihat jelas, ketakutan tengah menguasai diri mereka kini.
"Kalian semua sudah lama di sini?" Gavin melontarkan pertanyaan.
Hening ... tak ada sahutan.
"Jawab saja, tidak usah takut." Kenzie menimpali.
Salah satu gadis berbadan kurus sedikit mendongakkan kepalanya. Memberanikan dirinya menatap kedua pemuda dihadapannya. Niat hati memberikan jawaban, namun apa daya, matanya malah terhipnotis oleh kedua makhluk aneh yang berdiri berdampingan itu.
Aneh???? No .... Tampan!
Ya, Tuhan, mereka tampan sekali... Tentu saja, kalimat pujian itu hanya disuarakannya dalam hati.
"Ya, kamu." Tiba-tiba suara Gavin mengudara. Menciptakan sengatan mengejutkan dihati gadis tawanan itu. "Bicaralah."
"Sa- saya ... su-sudah dua bulan berada disini, Tuan," jawabnya kembali menundukkan kepala.
Siapa sebenarnya mereka?
"Dua bulan. Hanya seperti ini saja?" Kenzie dengan raut iba.
"Benar, Tuan."
"Kasian kalian."
Suara lembut Kenzie itu berhasil membuat semua gadis itu mendongak, menatap bergiliran kedua pria keren dihadapan mereka.
Ya Tuhan ... Ji chang Wook
Song Weilong
Robert Pattinson
Tampan sekali.
Seperti pangeran.
Kelihatannya dua pria itu bukan orang jahat.
Pria setampan mereka, kenapa mau berurusan dengan Dahlan?
Semoga saja mereka bukan orang jahat dan mau menyelamatkan kami semua.
Ramai kata terucap. Pujian mengalun indah. Beragam do'a mereka kembangkan. Tapi seribu sayang, semua kalimat itu hanya sanggup mereka utarakan dalam hati.
"Tuan, tolong keluarkanlah kami dari sini. Kami merindukan keluarga dan orang tua kami," pinta salah satu di antara mereka memberanikan diri.
"Ka--"
"Hentikan omong kosong kalian!" Bentakan Dahlan memungkas kalimat yang akan diucapkan Gavin.
"Tidak perlu bermimpi untuk bertemu dengan keluarga kalian lagi. Karena sebentar lagi, kalian harus bekerja untuk kami." Menujukan sorot pandangnya pada Kenzie dan Gavin. "Benar, kan, Tuan?"
"Tentu saja, Tuan Dahlan," sahut Kenzie tanpa ragu. "Dan kalian semua, sebaiknya mempersiapkan diri, karena kalian akan kami bawa sebentar lagi."
Gadis-gadis itu terperanjat saling menatap. Kita akan dibawa kemana? Seperti itulah kira-kira rangkuman isi hati mereka.
"Oiya, Tuan Dahlan. Mana wanita bernama Murni itu?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Ada diluar."
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengannya."
"Mari," ajak Dahlan. "Dan kalian semua diam! Jangan ada yang berani macam-macam!"
***
Kedua manik mata Murni membulat seketika.
Anak muda itu, bukankah yang menolong Hana waktu itu? Kenapa dia ada disini?
Kenzie hanya membalas senyum kala melihat tatapan tak percaya Murni.
Bibi Murni, wanita sumber kesengsaraan Nilam. Andai Nilam tak menyayangimu, dan Hana membutuhkanmu, aku sudah pasti akan melenyapkanmu!
Umpatan geram itu mengudara dihati Gavin.
"Ini dia wanita ular itu, Tuan-Tuan. Wajahnya sangat pas bukan, jika dia menjadi upik abu abadi?" ujar Dahlan dengan seringai yang menjadi ciri khasnya.
"Oh, jadi dia. Sangat cocok, Tuan Dahlan. Anda pintar sekali." Senyuman miring menghias wajah Gavin. Kemudian ia mulai melangkah mengitari tubuh Murni yang berdiri terpaku dan menunduk. "Tapi aku rasa, dia akan lebih cocok menjadi upik abu untuk calon isteriku."
"Benarkah? Kalau begitu Anda harus membayar mahal untuk ini," ujar Dahlan terkekeh. "Kau dengar itu Murni, sepertinya hidupmu akan lebih keras ke depannya. Selain kau harus mengurus gadis-gadis itu, kau juga harus melayani calon isteri Bos Besar Gavin."
Murni tersentak. "A- apa maksud Anda, Juragan?"
"Kau dan gadis-gadis itu, harus ikut dengan Tuan-Tuan ini."
"Ik -ikut kemana, Juragan?"
"Tidak perlu banyak bertanya! Kamu hanya harus tunduk, jika kamu ingin benar-benar selamat!" pungkas Gavin seolah mengancam.
Kenzie menepuk pelan pundak bidang Gavin seraya memasang senyum. "Kawan, kamu membuatnya takut."
Rasa penasaran semakin tertumpuk memenuhi hati dan pikiran Murni.
Siapa sebenarnya pemuda itu? Dulu dia menyelamatkan Hana, bahkan membawa Bapak ke rumah sakit. Tapi sekarang ... kenapa dia seolah berada dipihak Dahlan?
"Baiklah, Tuan Dahlan ... Kami akan segera mengirim mobil untuk mengangkut gadis-gadis itu," ucap Gavin ingin segera mengakhiri drama menjijikkan itu.
"Baiklah, Tuan Gavin. Semoga kerjasama ini berbuah manis berbiji emas."
"Pasti, Tuan Dahlan," sahut Gavin tersenyum seraya menerima uluran jabat tangan Dahlan, di ikuti Kenzie. "Dan untuk wanita ini, saya ingin membawanya sekarang. Bisa, Tuan?"
"Tentu, bawa saja. Tapi Anda tentu mengerti prosedurnya bukan? Wanita ini berhutang banyak padaku."
"Oh, Tentu saja. Saya tidak mungkin memberikan Anda air mentah. Cukup Anda kirimkan nomor rekening Anda ke nomor ponsel sekretaris saya. Lalu secepatnya akan saya kirim."
Dahlan terkekeh. "Saya percaya pada Anda, Tuan. Silahkan bawa wanita busuk ini."
"Baiklah kami permisi."
"Silahkan."
*****
Didalam mobil. Kenzie berada di balik kemudi. Disampingnya, Gavin duduk menyandarkan kepala dengan mata terpejam.
Dikursi belakang, Murni duduk menunduk, dengan jari jemari yang saling tertaut. Gusar melanda jiwanya. Akan kemana orang-orang ini membawanya?
"Ma- maaf, ki -kita akan kemana, Tuan?" Seteleh mengumpulkan keyakinannya, akhirnya Murni memupuk keberaniannya untuk bertanya.
__ADS_1
Seketika Gavin membuka pejamnya. "Menurutmu?"
Terhenyak. "Sa -saya tidak tau, Tuan." Murni takut-takut.
"Bukankah kamu sangat pintar mengatur kehidupan orang lain? Lalu kenapa kamu tidak bisa mengatur kehidupanmu sendiri. Berontak dari kami misalnya." Suara sarkas Gavin.
"Ma- maksud Anda, Tuan?"
Gavin menegakkan sedikit tubuhnya. "Karena wajahmu terbilang masih menarik, kami akan membawamu ke sebuan proyek bangunan. Berhubung para pekerjaku banyak berasal dari luar kota, dan jauh dari isteri dan keluarganya, maka disana kamu akan ku jadikan pemuas para pagawai itu, agar mereka semangat kembali untuk bekerja."
Kejamnya ....
"A -apa?!!!" Murni dalam mode terkejut. Seketika perasaan takut bercampur ngeri melanda jiwanya. Membayangkan dirinya melayani para lelaki itu, membuat tubuhnya bergetar sangat hebat. Keringat dingin seolah menertawai nasibnya kini.
Kenzie terkekeh geli menanggapi ucapan Gavin. Dan Gavin sendiri .... membuang wajah menatap jalanan di balik kaca disampingnya. Wajahnya memerah menahan tawa. Rasakan kau!!
"Tuan ... aku mohon, lepaskan aku ... jangan bawa aku ke tempat itu," pintanya dengan derai air mata di pipiya. "Tuan Kenzie, bukankah Anda orang baik? Tolong selamatkan saya."
"Mohon maaf, Bibi Murni, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang berkuasa di sini adalah Boss Gavin, bukan aku," tutut Kenzie mendukung kekonyolan sahabatnya.
"Huu ... huu ... huu ..."
Suara tangis Murni semakin pecah.
Meloncat keluar dari mobil yang masih melaju itu? Tentu tidak bisa. Pintu itu sudah pasti di kunci Gavin.
Bunuh diri?? Tidak juga, jelas dia masih ingin hidup. Lalu bagaimana?
Hingga sesaat kemudian ....
"Turun!" perintah Gavin tegas.
Murni yang masih tenggelam dalam kebingungan dan ketakutannya tersentak.
"Cepat!" Lagi-lagi bentakan Gavin.
Tanpa menyadari lingkungan sekitarnya, dengan gontai Murni menjejakkan kakinya turun dari dalam mobil Gavin. Sekarang tamatlah riwayatku ....
"Ibu ...!!!"
Bugh!
Dengan semangat, Hana menubrukkan tubuhnya ke tubuh Murni. Memeluk wanita yang telah melahirkannya itu, erat. Tangis haru terpecah di antara kedua mata dan mengalir dipipinya.
Murni masih bergeming tak percaya. Tak bergerak ataupun membalas pelukan sang puteri.
"Hana ...." Matanya mulai menyapu sekeliling.
"Rumah? Ini rumahku." Dan seketika tertangkaplah oleh pandangannya, Kakek Usman dan Nilam yang berdiri berdampingan. "Bapak ... Nilam ... kalian ...?"
"Ibu ada apa?" tanya Hana melepaskan pelukannya yang tak bersambut.
Murni menatap kedua manik mata Hana. "Puteriku ... Hana .... Ya, Tuhan ...." Barulah, pelukan kerinduan itu di hadiahkannya pada Hana. "Ibu merindukanmu, Nak." Kecupan bertubi-tubi didaratkannya di seluruh wajah Hana.
"Aku juga merindukan Ibu. Ibu baik-baik saja, kan?"
"Iya, Nak. Ibu baik-baik saja."
"Berterimakasihlah pada Nilam, Murni!" Suara tegas Kakek Usman membuyarkan nuansa kerinduan ibu dan anak itu.
"Nilam?"
__ADS_1
Bersambung lageee ....