Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Lagi-lagi Obsesi


__ADS_3

"Jadi Danu itu mantan kekasihmu?"


"Iya, Kak."


"Kenapa Kakak baru tahu?" seraya terus memutar bingkai stirnya.


Ya... Keduanya kini dalam perjalanan menuju rumah utama. Setelah melalui proses panjang, bersitegang dan adu sikut-sikutan dengan Gavin, Kenzie akhirnya pulang dengan kemenangan. Cukup menyenangkan mempermainkan sahabat sekaligus calon adik iparnya itu, pikirnya menggelitik.


"Tidak ada gunanya, Kak." Nilam mendelik.


"Kakak bisa meng-out nya dari perusahaan, jika kehadirannya mengganggu hubunganmu dengan Gavin."


"Kakak ...." Memelas. "Jangan! Kasihan.... Dia baru saja memulai kariernya disini."


"Ceritakan pada Kakak, kenapa kalian putus dulu? Apa dia menyakitimu?"


Terdiam. Tidak mungkin kan Nilam mengatakan iya? Kenzie bisa saja membuat perhitungan dengan mantan kekasihnya itu. "Tidak, Kak. Aku yang meninggalkannya."


Menoleh dengan mata terpicing. "Benarkah?" Ada nada tak percaya di balik bait pertanyaan Kenzie.


"Iya, Kak."


"Alasannya?"


Haduh! Bagaimana ya?

__ADS_1


Nilam cukup kebingungan. Hingga sebuah pemikiran muncul dikepalanya.


"Aku tidak bisa membiarkannya terancam. Disaat Dahlan terus saja mengusikku. Yang jelas, dia lelaki yang baik."


Kenzie manggut-manggut. Merima alasan yang mungkin ... yaa... cukup masuk akal.


Sementara dibalik kemudi lainnya, Gavin terus saja mengumbar umpatan kekesalan. "Kenzie sialaaann...!!! Aku kan ingin malam mingguan bersama Nilam. Dasar setan empang!! Ku bunuh kaaauuu...!! Lihat saja, aku akan membawa penghulu ke rumahmu besok untuk menikahi adikmu!" Memukuli stir meluapkan kekesalannya.


"Awww!" Dan si stir pun balik melawannya.


Naass....


...••••...


Duduk bersilang kaki disofa sebuah ruangan. Satu lengannya diletakkan memanjang disandaran sofa, dan segelas minuman berwarna merah pekat bertengger manja disela-sela jari dilengan lainnya. Musik klasik menjadi backsoud yang cukup sinkron dengan suasana hatinya saat ini.


"Dia ...," gumamnya tersenyum. "Aku benar-benar tidak bisa menghapus wajah itu dipikiranku." Meletakkan gelas ke atas meja kaca didepannya, lalu bergerak bangkit dan melangkah menuju jendela ruangan yang terbuka.


Berdiri menumpu kedua telapak tangan pada bingkai bawahnya. Dan nampaklah langit dengan jingganya. Orang-orang mungkin akan mulai sibuk dengan agenda akhir pekannya bersama keluarga atau mungkin pasangan. Namun ia .... umm ... cukuplah memeluk kesepiannya seorang diri.


Wanita ... selama ini belum seorangpun yang mampu menyentuh hatinya, atau membangkitan keinginannya untuk memperjuangkan. Bukan karena terlalu pemilih, namun setiap yang ditemuinya, selalu menunjukkan aura menjilat yang menjijikkan. Dan ia cukup merasa muak dengan itu.


Tapi tidak dengan dia ....


Hatinya selalu merasa hangat saat menatap wajah itu. Wajah teduh dengan pendar karisma yang tak biasa. Karisma seorang bidadari. Meskipun ia tak tahu seperti apa wujud bidadari sebenarnya. Mungkin tak akan jauh seperti yang diceritakan didalam sebuah cerita fiksi ataupun legenda. Cantik dan menawan.

__ADS_1


"Nilam ... aku menginginkannya." Kalimat singkat itu teriring kilatan tajam disorot kedua bola matanya. "Apapun caranya."


Ya ... dialah Edrick, anak tiri dari Kedasih, ibunya Didy. Seorang pria berwajah bule yang diwarisinya dari sang ayah. Pertemuan pertamanya di supermarket bersama Nilam membuatnya terpikat dan jatuh sedalam-dalamnya pada jurang cinta yang jelas dipenuhi duri dan kerikil.


"Gavin ... pria bodoh itu." Tersenyum remeh. "Aku akan merebut Nilam darimu. Kau lihat saja, apa yang aku lakukan untuk memisahkan kalian berdua. Kau bahkan tidak akan mampu melakukan apapun saat gadismu sudah dalam genggamanku." Menggulung keras telapak tangannya membentuk kepalan kuat, seolah apa yang direncanakannya sudah berada dalam genggamnya.


Lagi-lagi sebuah obsesi !


...-...


...Jangan memupuk percaya diri terlalu subur dan meninggi....


Ketika sebuah tekad semakin membaja, dan sebuah harapan nyaris dipeluk kenyataan, mungkin benar, keberhasilan akan didapat kemudian.


Tapi jangan lupakan!


Sejurus tujuan itu bisa saja membelok dari niatan arahnya, ketika Tuhan menutup jalan dengan cara-Nya. Bahkan mungkin hanya dengan satu kedipan saja. Meskipun hanya tinggal satu inci untuk meraih hasilnya. Yang jelas, tak akan ada yang mampu menandingi ketentuan-Nya. Meskipun dilakukan oleh seorang cenayang ataupun jenis kesaktian apapun didunia ini.


...Kita itu apa...


...Kita itu siapa...


...Dan darimana kita berasal...


...••••...

__ADS_1


__ADS_2